Find Me Daddy

Find Me Daddy
Bawa menantu dan cucu mamah pulang!



Semua krang sibuk memandang laptop, hingga akhirnya semuanya bersorak karena sudah menemukan titik keberadaan Zeva.


"KETEMU!" Seru Raihan.


Raihan dan tim IT lainnya menunjukkan sebuah titik, "Kak Zeva sudah masih berada di negara ini, dia ada di pulau pribadi milik keluarga Evandra. Aku kenal pulau ini, memang pulau ini sangat di sembunyikan. Bahkan sangat jarang kapal melintasinya." Terang Raihan.


Senyum Aaron terbit, netranya berkaca-kaca. Sebentar lagi, dia akan menemukan istrinya.


"Segera bersiap! kita akan menyusul istriku!" Titah Aaron.


Raihan mengangguk, dia bergegas pergi ke kamarnya untuk menyiapkan keperluannya.


Tanpa mereka duga, Marsha mendengar semuanya. Mata anak itu terlihat bengkak, dan jiga hidungnya yang sangat memerah akibat nangis semalaman.


"Bunda dah ketemu, Malcha mau ikut pokokna!"


Maesha bergegas ke kamar si kemnar, dia megambil tasnya dan mengisinya dengan barang yang ia peelukan. Smenetara si kembar, masih tidur karena ini hari libur.


"Eh, nanti nda boleh daddy. Malcha halus apa?" Marsha mengetuk jarinya di dagunya, netranya melirik ke kamar Raihan.


Kaki mungilnya mengarahkan dirinya memasuki kamar om nya itu, ternyata Raihan menyiapkan tas besar yang berisikan laptop, kamera dan lainnya. Sementara orang yang di bicarakan, sedang berada di dalam kamar mandi.


"AAAHA!!" Marsha melihat sekilas ke kamar mandi, di rasa aman MArsha segera membuka tas itu. Dia mengeluarkan


laptop dan kamera milik Raihan dan menyembunyikannya di kolong tempat tidur.


Marsha memasuki tas itu, entah bagaimana tas itu bisa cukup di masuki oleh Marsha.


Ckelk!


Buru-buru Marsha bersembunyi di dalam tas itu, dirinya merasa jika Raihan mendekat dengannya.


Srek! srek!


Raihan menutup resleting tasnya. Lalu, dia mengangkat tas itu ke gendongannya.


"Ughh!! kok berat banget? perasaan isinya cuman laptop sama set kamera gue. Kok bisa seberat ini yah, kayak bawa si Marsha." Omel Raihan


Sedangkan di dalam tas, MArsha menutup mulutnya. Hatinya mengomeli Raihan yang mengatainya berat.


"Awc aja nanti, liat aja. Perhatikan kamalmu becok, hancul cama Malcha pacti." Batin Marsha.


"Hais, sudahlah. Mungkin banyak barang yang aku bawa," ujar Raihan tak peduli.


Raihan pun bergegas menyusul yang lainnya.


Aaron dan Jacob akan memasuki mobil, tetapi beberapa mobil hitam memasuki pekarangan rumah mereka.


"Itu mobil penjagaan keluarga Rafassyah, ada apa mereka kesini?" Tanya Jacob pada Aron.


Aaron menggeleng, dia juga tidak tahu dan merasa hubungannya dengan keluarga Rafassyah sudah selesai.


"Selamat pagi, kami di perintah langsung oleh tuan Andre untuk membantu mencari istri anda." Ujar salah satu dari para pengawal itu pada Aaron.


"Tuan Andre yang mengirim kalian?" Tanya Jacob dengan ragu.


"Benar sekali!"


Jacob dan Aaron saling pandang, ini seperti mimpi bagi mereka. Secara Andre benar-benar tak ingin berurusan lagi dengan keluarga Smith.


"Yasudah, kita akan ke pulau keluarga Evandra. Istri saya di sekap di sana," ujar Aaron.


"Kalau begitu, kami sudah siapkan pesawat pribadi di bandara. Apa kita langsung ke bandara saja?"


Lagi-lagi Aaron dan Jacob di buat syok, mereka berpikir akan menyewa pesawat. Tapi keluarga Rafassyah malah memberikan jet padanya.


"Terima saja Aar, kita tidak mungkin bawa helikopter dengan banyak orang seperti ini." Bujuk Haikal.


"Baiklah, kalian ikuti kami dari belakang." Titah Aaron.


Aaron berbalik menatap Laras yang berdiri di ambang pintu, dia mendekati sang ibu dan memeluknya.


"Doakan Aaron yah mah, semoga Aaron bisa membawa Zeva."


Laras mengangguk dengan air kata yang mengalir di pipinya. "Bawa menantu mamah dan cucu mama pulang dalam keadaan baik yah nak."


Aaron mengangguk, pelukan mereka terlepas. Laras menatap kepergian mereka yang akan berjuang menyelamatkan Zeva.


"Haahh, semoga saja. Mudah-mudahan, mereka semua selamat. Kasihan Marsha, eh ... dimana anak itu?" Laras baru menyadari ketidak hadiran cucunya.


"Mungkin sama Adinda kali yah,"


.


.


.


"Apakah mas Aaron bisa sampai lebih cepat? aku tidak mau menikah dengan RIo. Walau hasilnya pernikahan kami tidak sah, tapi tetap sajam AKu tidak mau." Gerutu Zeva.


Zeva memutar otak, dia harus mengulur waktu. Netranya melihat kenop pintu yang berputar, dirinya bergas ke kamar mandi dan menguncinya.


Cklek!


"Zeva, ayo cepat! kita akan segera menikah sayang!"


Di dalam kamar mandi, Zeva panik setelah mendengar suara Rio. Dia menggigit jarinya, berusaha mendapatkan ide.


Akhirnya, ada satu ide yang terlintas di otak Zeva. Dia memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga menyentuh tenggorokannya.


"HUWEK!! HUWEK!!


Zeva berharap rencana kali ibi berhasil, dan benar saja. Rio langsung khawatir.


TOK! TOK! TOK!


" SAYANG! SAYANG!! ARE YOU OKAY?! BUKA PINTUNYA!! "


Kali ini Zeva mual beneran karena panggilan sayang dari Rio, mungkin calon anaknya tidak suka dengan panggilan Rio.


"HUEWEK! HUEWEK!"


BRAK!!


Rio mendobrak pintu, netranya terbelalak lebar saat melihat Zeva yang hampir tumbang karena lemas.


"Anya!!"


Rio memapah Zeva keluar dari kamar mandi. Kemudian, dia segera membawa Zeva ke ranjang.


"Sebentar, aku akan meminta bibi buatkan teh hangat untukmu."


Rio benar-benar panik, pria itu merasa khawatir dengan Zeva. Sebenarnya cinta pria itu tulus, hanya salah jalan saja.


Tak lama, Rio datang dengan segelas teh, dia menyodorkan gelas itu tepat di depan bibir Zeva.


Zeva meminum teh itu dengan perlahan, perutnya benar-benar sakit. Padahal, tadinya dia berniat pura-pura.


"Sudah, mendingan?" Tanya Rio setelah Zeva menghabiskan tehnya.


"Badanku sangat lemas, perutku juga mual. Rasanya, aku ingin pingsan." Lirih Zeva.


"Apa? tolong jangan pingsan, sebentar lagi dokter akan datang." Pinta RIo.


Ruo bergegas pergi, Zeva yang melihatnya pun menghela nafas lega.


"Semoga dengan mengulur waktu, mas Aaron bisa sampai lebih cepat." Lirih Zeva.


Seorang wanita paruh baya datang dengan membawa secangkir jahe di tangannya, dia berjalan mendekat pada Zeva.


"Ini non, jahe anget. Di minum, biar mualnya ilang."


Zeva terkejut, dia tak menyadari kehadiran wanita paruh baya itu sebelumnya.


"Eh iya bu, terima kasih " Ujar Zeva sembari mendudukkan dirinya.


"panggil bibi saja, saya pembantu disini." Ujar wanita paruh baya itu.


Zeva meraih cangkir jahe itu, setidaknya perutnya sedikit merasa enak.


"Saya sudah bekerja disini selama dua puluh lima tahun, sejak kecil mas Rio di asuh sama saya."


Zeva kembali meletakkan cangkir jahe itu, dia penasaran dengan cerita pembantu Rio tersebut.


"Orang tua mas Rio meninggal saat mas Rio berumur sepuluh tahun, karena kecelakaan. Sejak kecil, dia kekurangan kasih sayang. Hanya bibi yang bisa merawat dia, jadi bibi tahu bagaimana sikapnya,"


"Mas Rio itu sebenarnya baik non, hatinya lembut. Hanya saja, dia merasa kecewa sana non dan suami. Kalian seakan mempermainkan hatinya, dia cinta sama non dari kalian kuliah."


"Hah?!" Zeva baru tahu fakta ini, dia benar-benar terkejut. Bahkan, dirinya mengenal Rio setelah menikah dengan suaminya.


"Dia cuma kesepian non, dia gak ada maksud buat nyakitin non. Saat sama non, dia lebih banyak tersenyum. Perhatian yang dia inginkan, bisa dia dapatkan dari non. Makanya dia kekeuh banget mau nikah sama non, karena takut kehilangan alasan dia tersenyum." ujar pembantu itu.


Zeva menggeleng, cinta Rio sudah salah. Rio sudah terobsesi dengannya.


"Enggak bisa bi, saya sudah menikah. Dan saya sedang hamil, saya harus kembali. Saya tidak bisa menikahi ...." Ucapan Zeva terhenti, jantungnya seakan terlepas dari tempatnya saat melihat kilat marah seseorang yang berdiri di ambang pintu.


"Oh, jadi kamu berpura-pura sakit agar pernikahan kita batal?!"