
Marsha memegang sebuah buku, mencari sang daddy. Langkah kakinya menuju ke ruang kerjanya sang daddy. Dan tanpa pikir panjang, Marsha membukanya.
Cklek!
"Daddy, boleh Malcha macuk?" Izin Marsha sebelum masuk.
"Boleh sayang, sini masuk." Jawab Aaron.
Marsha memasuki ruang kerja daddynya, tak lupa dia menutup pintu kembali. Aaron bergerak menjauhkan tubuhnya dari meja, menyambut putrinya yang datang kepadanya.
"Ada apa sayang? kok jam segini belum bobo, hm?" Aaron membawa Marsha ke pangkuannya.
"Malcha mau tanya ini,"
Marsha menyerahkan bukunya, di sana terdapat pertumbuhan manusia dari usia 0- 7 tahun.
"Iya, terus?"
"Anak bayi itu, acalna dali mana?" Tanya MArsha dengan pandangan polosnya.
Aaron hampir tersedak ludahnya sendiri, dia pun menggaruk kepalanya lantaran bingung ingin menjawab apa.
"Dari ... dari atas," ujar Aaron.
"Kok Valo munculna dali pelut bunda? macukna, lewat mana?" Tanya Marsha kembali, membuat Aaron bingung mengambil jawaban.
"Eum ... itu dari ... dari ... ekhem."
Aaron membenarkan duduknya, dia tengah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan putrinya.
"Itu karena bunda dan daddy, saling mencintai. Jadi, kita bisa punya Varo." Ujar Aaron.
"Eum ... macukinna gimana? kok bica ada di dalam pelut?" Tanya MArsha.
"Ada selangnya, yang bawa Varo masuk ke perut bunda." Jawab Aaron sekenanya.
"Celangna becal?" Tanya Marsha dengan wajah penasaran.
"Iya, besar. Terus di tiup, jadi deh melendung."
Marsha membulatkan mulutnya, pertanda jika dirinya mengerti.
"Daddy daddy." Panggil Marsha.
"Hm." Sahut Aaron, dia kembali menatap layar laptopnya.
"Minggu itu canday,"
"Hm, terus?" Sahut Aaron, dia masih fokus pada laptopnya.
"Cenin itu monday." Lanjut Marsha.
"Kalau daddy ... hencem evlyday."
Senyum Aaron mereka, dia kembali menatap putrinya yang juga tengah menatapnya.
"Belajar gombal dari mana hm?" Aaron benar-benar gemas dengan putrinya.
"Dali Aa Lai," ujar MArsha.
Aaron menghela nafas pelan, Raihan benar-benar meracuni otak putrinya. Sepertinya, dia harus menjauhkan Marsha dari Raihan. Bisa-bisa, putrinya menjadi playgirl saat besar nanti.
"Daddy, Malcha boleh punya pacal nda?" Tanya MArsha.
Kening Aaron mengerut, dari mana putrinya tahu tentang pacar? Hais, pastilah Raihan yang meracuninya.
"Tidak! kau tidak boleh berpacaran!" Ketus Aaron.
Marsha sontak langsung terdiam, "Kenapa?" Tanya nya.
"Enggak boleh! besar nanti, daddy akan memberikanmu pada pria yang tepat," ujar Aaron dan mencubit pelan pipi putrinya.
"Plia cepelti daddy?" Tanya Marsha.
Bukannya mengangguk, Aaron justru menggeleng. Dia tahu bagaimana perangainya, bagaimana dia memperlakukan istrinya dulu. Aaron tidak mau, Marsha turut merasakan seperti apa yang Zeva rasakan.
"Tidak, kau tidak boleh mendapatkan suami seperti daddy. Daddy akan memberikanmu pada pria yang penuh kasih sayang, yang sabar, dan memberikan cinta sepenuhnya untukmu. Marsha itu berlian daddy, tidak akan sembarang orang yang bisa bersama Marsha," ujar Aaron dengan tegas.
Walau belum mengerti, Marsha merasakan jika perkataan sang daddy menunjukkan rasa sayang.
Sejam telah berlalu, Zeva yang merasakan suaminya tak kunjung kembali ke kamar pun segera menyusulnya.
Cklek!
Terlihat, sang suami tengah sibuk mengetik laptopnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya, sedang menahan tubuh putrinya. Sesekali, Aaron menggerakkan kursi putarnya untuk mengayunkan putrinya.
"Sayang." Lirih Aaron saat menyadari kehadiran istrinya.
Aaron melirik ke arah putrinya, Marsha tertidur di pangkuannya setengah jam yang lalu.
"Marsha kok bisa disini mas? ku pikir, dia sudah tidur." Ujar Zeva dengan suara lirih.
"Lagi mau manja sama daddy nya kali." Canda Aaron.
Perkataan suaminya membuat Zeva tersenyum, dia mengelus pelan rambut putrinya yang mulai memanjang kembali.
"Belakangan ini kamu kan sering main sama Varo, mungkin dia merasa mulai kurang waktunya bersama kamu mas," ujar Zeva.
Aaron tersenyum lalu mengangguk. Dia memutuskan untuk menutup laptopnya dan beranjak untuk tidur.
"Bawa ke kamar aja mas, kasihan tidur sendirian terus," ujar Zeva.
Aaron mengangguk, dia menggendong putrinya dengan hati-hati. Mereka berdua pun kembali ke kamar mereka.
Cklek!
"Hoayaa!!"
"Eh? Varo kok bangun?" Zeva terkejut saat sampai di kamar, putranya malah terjaga.
"Kakak." Panggil Varo saat melihat Marsha yang di tidurkan di sebelahnya.
"Iya, kaka. Ayo, bobo. Kakak sudah bobo tuh." Ajak Zeva.
Bukannya menurut, Varo malah mengusap-usap wajahnya. Tak lama kemudian, dia rewel dengan menduselkan wajahnya pada d4da sang ibu.
"Ekhe! ekhee!! nen! nen!" Rewel Varo.
"Nyusu mulu! tidur!" Omel Aaron.
"Mas." Tegur Zeva.
"Stok susu kamu udah habis, tinggal buat daddy yang itu!" Aaron meledek putranya sambil mencolek pipi gembulnya.
"HUAAA!!!"
"MASS!!"
***
Keadaan rumah sedang sunyi saat ini, karena Marsha sedang di ceramahi oleh Zeva akibat anak itu telah berani memukul temannya.
"Gak boleh pukul temen begitu, kalau dia masuk rumah sakit gimana?"
"Kan nda macuk lumah cakit bunda, cuma macuk luang kecehatan cekolah doang!" Seru Marsha sembari mengerucutkan bibirnya.
Zeva menahan nafasnya, bahkan ibu murid itu memarahinya karena di kira tak becus mengurus putrinya hingga sang putri berani main tangan.
"Marsha, memukul itu bukan perbuatan baik," ujar Zeva.
"Kata daddy, kalau ada anak nakal. Pukul caja, janan di lepac," Sahut Marsha.
"Tapi bukan begitu maksudnya sayang. Marsha, lain kali. Gak boleh seperti itu," kali ini, rait wajah Zeva terlihat sangat tegas. Membuat Marsha merasa tersentil.
Anak itu menunduk, matanya kini berkaca-kaca. Dia kesal dengan Zeva , mengapa bundanya malah membela anak orang lain.
"Bela teluc, anakna bunda itu dia apa Malcha cih!" Kesal Marsha dnegan suara bergetar.
Zeva menghela nafas pelan, "Marsha, harus berapa kali bunda katakan. Memukul itu, bukan perbuatan baik. Apakah Marsha mau di pukul orang? kalau dia tidak memukul, kau tidak boleh memukulnya," ujar Zeva dengan suara lebih rendah.
"Dia ngatain Malcha dentut! pendek! jelek! mulutna halus di hajal!" Seru Marsha dengan kesal.
"Hiks ... Malcha nda dentut, malah di bilangna dendut. Malcha cuman kebanyakan lemak na doang."
Bukannya meredakan tangis sang putri, Zeva justru tertawa. Membuat Marsha yang sudah menangis, tambah di buat menangis.
"Hiks ... HUAAA!! MAU DADDY! MAU DADDY!!" Pekik Marsha.
"Nih nih, telpon daddy nya." Zeva memberikan ponselnya yang sudah terhubung dengan suaminya.
"Halo istriku? ada apa sayang?"
"Ini anak na, bukan ictlimu." Ketus Marsha dengan kesal.
"Oh, bayinya daddy. Kenapa nak? kok suaranya bergetar gitu?"
Marsha menceritakan tentang apa yang terjadi, Zeva hanya cuek dengan apa yang putrinya itu adukan.
"Bunda itu sayang sama Marsha, dia gak pengen Marsha kena masalah." Ujar Aaron dengan lembut.
"TUH KAN! NDA ADA YANG CAYANG MALCHA!" Kesal Marsha.
"Daddy sayang sama Marsha," ujar Aaron.
"Malcha di omelin ictli daddy, galak kali. Macam halimau betina." Ujar Marsha dengan melirihkan suaranya, sembari matanya mencuri pandang pada sang bunda.
Terdengar, gelak tawa Aaron dari sana. Dia tahu, istrinya sangat tidak suka kekerasan. Namun, kesabaran putrinya juga hanya setipis tisu.
"Tunggu Malcha becal teluc puna uang, Malcha bantu daddy ganti ictli."
Aaron tertawa sumbang, sedangkan Zeva. Wanita itu sudah menatap tajam putrinya. Memangnya dia apa seenaknya di ganti.
"Apa bunda ada di sana?" Tanya Aaron, tapi Marsha tak menjawabnya.
"Bunda itu baik, cantik, daddy sangat mencintai bunda. Tidak akan pernah ada wanita yang bisa menggantikan bunda di hati daddy," ujar Aaron membuat Zeva tersipu malu.
"Daddy lebih cayang bunda?" Tanya Marsha dengan suara bergetar.
"Ehm ...." Aaron bingung ingin menjawab apa.
Zeva langsung mengambil ponsel itu dari Marsha. "AKu juga mencintaimu mas, mwah!!"
Tangis Marsha pecah, dia menidurkan badannya di karpet sembari bergerak seperti cacing kepanasan.
"HUAAA!! NDA ADA YANG CAYANG MALCHAA!!"
.
.
.
Setahun kemudian, Raihan melamar Ayla. Mereka merencanakan akan menikah setelah keduanya lulus kuliah. Raihan ingin mengikat Ayla agar dirinya tak khawatir Ayla akan bersama dengan yang lain.
Sementara Rio, dia membawa Mentari berobat ke singapura. Bisnisnya sedikit demi sedikit kembali seperti dulu, walau tak sebesar yang sebelumnya.
Keadaan Mentari, sudah menunjukkan keadaan yang jauh lebuh baik. Dimana, wanita itu sudah melewati masa kritisnya. Rio dengan sabar menunggu Mentari kembali sadar dan berniat akan merajut rumah tangga dengan ibu dari anaknya tersebut.
_____
Katanya masih ada yang kangen, jadi author buatin satu ekstra part🥳🥳🥳
S2 nya nanti disini juga yah, enggak buat baru. Karena masih ada sambungannya sama konflik disini🤭
S2 LANJUT DI SINI YA, UP BESOK😆