
Marsha keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai baju tidurnya. Matanya menatap ke sekeliling kamar, dan tak menemukan keberadaan sang suami. Lalu, tatapannya beralih menatap ke arah pintu balkon yang terbuka. Marsha pun memutuskan untuk berjalan menuju ke balkon kamarnya, karena berpikir suaminya ada di sana.
Sesampainya di balkon, benar saja. Nathan sedang duduk di kursi yang ada di balkon. Di sela jari tangannya, terselip sebatang r0kok. Kening Marsha mengerut dalam ketika Nathan menghembuskan asap dari nik0tin itu.
"Sayang." Panggil Marsha.
Nathan tersentak kaget, dia buru-buru mematikan rok0knya saat Marsha berjalan mendekatinya.
"Ada apa? Kamu bukan orang per0kok, kenapa sekarang kamu mer0kok?" Tanya Marsha dengan lembut.
"Kemarilah!" Panggil Nathan.
Marsha mendekati Nathan, dirinya terkejut saat Nathan menarik pinggang nya. Sehingga, Marsha terjatuh di atas p4ha Nathan.
"Nathan!" Kesal Marsha sembari memukul bahu pria itu.
Nathan terkekeh, dia meng3cup pipi Marsha. Istrinya benar-benar menggemaskan ketika kesal padanya. Tangan putih Marsha terangkat dan mengelus pipi Nathan yang di tumbuhi oleh bulu-bulu halus. Yang membuat pesona pria itu terlihat semakin kuat.
"Ada apa? Sejak tadi kamu merenung, bahkan kamu tidak keluar untuk makan malam. Apa karena persoalan Aizha hm? Biasanya kamu hanya marah sebentar saja, kenapa sekarang lama sekali?" Tanya Marsha dengan lembut.
Terdengar, helaan nafas dari Nathan. Dia berdecak pelan, lalu menatap mata sang istri dengan sendu.
"Aizha mau menikah." Ujar Nathan langsung ke intinya. SOntak, Marsha membulat kan matanya.
"Wah! Benarlah?! Apa Aizha mau di jodohkan dengan keluarga ...,"
"Dengan pilihannya, bukan pilihanku." Sela Nathan dengan cepat.
"Apa?!" Pekik Marsha dnegan tatapan tak percaya.
"Aizha punya kekasih?! Kapan?! Dia tidak menceritakannya padaku?!" Seru MArsha dengan heboh.
"Aku juga tidak tahu, aku memergokinya sedang ada di rumah sakit. Dia tengah menemani seorang pria yang sepertinya baru mengalami kecelakaan. Mereka mengaku, jika keduanya sudah saling mencintai. Aizha bahkan ingin menikah dengan pria itu." Terang Nathan.
Marsha terdiam, dia sedang memikirkan sesuatu. Aizha bukan anak yang penutup, dan semua anak-anaknya selalu menceritakan hal apapun. Bahkan, sendal mereka yang putus pun mereka ceritakan pada orang tua mereka. Apalagi persoalan cinta. Marsha tentu paham bagaimana watak Aizha yang tidak mau ribet terlibat dengan perasaan.
"Apa ... sayang yakin kalau pria itu adalah kekasih Aizha?" Tanya Marsha sembari menatap lekat mata suaminya.
"Tidak. Aizha punya komitmen, dia tidak ingin pacaran. Dia inginnya langsung menikah, kamu pasti ingat keinginannya bukan?"
Marsha mengangguk mendengar penjelasan suaminya. Mereka menanamkan pada anak-anak mereka. Pacaran hanya membawa dampak buruk bagi kehidupan mereka. Jika mereka mencintai seseorang, Nathan meminta mereka untuk mengatakan langsung padanya.
"Terus bagaimana?" Tanya Marsha tentang solusi yang akan Nathan katakan.
"Ya mau gimana lagi? Dari pada mereka pacaran gak jelas. Ujung-ujungnya putus. Mending putus, bagaimana kalau mereka sudah melakukan hal yang kelewat batas? Zaman sekarang itu rawan sayang, aku takut Aizha melewati batasnya. Walaupun sejak kecil kita sudah mendidiknya dengan baik. Tapi pergaulan sekarang, sangat menyeramkan."
"Kau benar." Sahut Marsha yang setuju dengan penjelasan suaminya.
Nathan terdiam cukup lama, dia menyandarkan kepalanya pada d4da sang istri. Marsha dengan setia mengelus rambut suaminya dan menyisirnya perlahan. Elusan Marsha membuat Nathan sedikit tenang.
"Aku sudah menembak mahar yang akan laki-laki itu berikan untuk Marsha," ujar Nathan
"Oh ya? Mahar apa?" Tanya Marsha dengan santai.
"Tanah seluas dua ratus hektar."
"APA?!"
Seketika Marsha menjauhi kepala Nathan darinya, matanya melotot ke arah oria itu. Wanita itu sungguh terkejut dengan apa yang Nathan katakan barusan.
"Dua ratus hektar. Tanah?! Bukan dua ratus meter loh! Emangnya kamu tahu dia kerja apa? Kalau memberatkan dia dan keluarganya bagaimana?!" Seru Marsha dnegan tatapan tak percaya.
"Dia setuju, dan aku gak peduli. Kalau dia tidak mampu, mau tak mau Aizha harus dengan pria pilihanku." Ujar Nathan dengan santai.
"Sayang! Itu terlalu berlebihan!" Marsha seperti nya tak setuju dengan apa yang Nathan putuskan.
"AKu sengaja mengatakan itu. Agar, pria itu mundur dari niatannya untuk menikahi putri kita. Aizha, harus menikah dengan pria yang sudah aku pilihkan untuknya."
Marsha menatap Nathan sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ternyata itulah alasan suaminya, mengapa oria itu menembak mahar dengan nominal yang sangat besar. Marsha tak yakin, jika pria yang akan menikah dengan putrinya mampu memberikan tanah dua ratus hektar sebagai mahar.
Seperti biasa, Aizha selalu terlambat bangun. Terlihat, pintu kamarnya terbuka. Seorang bocah menggemaskan berjalan ke arahnya dengan botol susu di pelukannya. Mata bulat bocah itu mengerjap pelan, menatap kakaknya yang seperti putri tidur di dunia dongeng.
"Kaaaakk!! Bangun kata mama." Seru bocah menggemaskan itu yang tak lain adalah Mylo.
Bukan Aizha namanya jika dia di panggil sekali, langsung terbangun dari tidurnya. Gadis itu sangatlah sulit di bangunkan.
"Kaaakk." Panggil Mylo kembali.
Mylo ingin menaiki ranjang Aizha. Akan tetapi, ranjang itu terlalu tinggi untuk ia naiki. Mylo berpikir keras bagaimana dia bisa membangunkan Aizha.
"Kaaakk!! Banguuunn!! Kebo kali tidulna. Halus apa Mylo ini." Gumam Mylo.
Tatapan Mylo beralih menatap botol susunya. Seketika, ide brilian pun muncul dalam otak kecilnya.
"Di cilam cucu, bial cegel matana. Bukan calah Mylo, calah kan kakak yang cucah di bangunkan." Celoteh Mylo sembari mengarahkan ujung dot botol susunya ke arah wajah Aizha.
Mylo menekan botolnya, tepat di saat itu air susu dalam botol itu keluar dan mengenai wajah Aizha. Membuat gadis itu langsung kelabakan di buatnya.
"AAA!! BOCOR!! BOCOR!!" teriak Aizha sembari beranjak duduk dan menutupi wajahnya.
Mylo melempar botolnya, dia berlari keluar sebelum terkena amukan sang kakak.
"Ihh!! air apa ini." Gumam Aizha sembari menciumi rambutnya yang basah setelah terkena susu Mylo.
"Hwek!! Air susu. Susu dari mana?" Gumam Aizha.
Aizha menatap sekelilingnya, dia mencari dari mana air susu itu berasal. Tatapan matanya terjatuh pada botol susu yang tergeletak di lantai. Saat dia tahu itu milik siapa, Aizha memejamkan matanya sembari mengepalkan kuat tangannya.
"MYLOOO!!!" Teriakan Aizha menggema hingga ke ruang makan.
Nathan beserta yang lain pun sampai tersentak kaget saat mendengar suara teriakan. Aizha. MArsha sudah hafal mengapa putrinya bisa sekesal itu. Matanya beralih menatap sosok gembul yang sedang memegangi kakinya.
"Mylo apakan kakak nya hm?" Tanya Marsha. Seketika, tatapan Nathan dan anak-anaknya langsung beralih pada si kecil.
Mylo menunduk, dia memilin dress yang Marsha kenakan dengan tangan gembulnya.
"Nda Mylo apa-apain tadi. Cuman Mylo cemplot pake cucu bial bangun. Cucah kali di bangunin na. Ampe celak cuala na." Cicit Mylo yang mana membuat Naufan tertawa lepas.
"HAHAHAH!! SEHARUSNYA DI SIRAM PAKE AIR CABE! BIAR KAPOK SEKA ...,"
BUGH!!
"AWW!!"
Naufan memegangi pipinya yang terasa linu karena habis di pukul benda yang keras. tatapannya jatuh pada botol susu Mylo di pangkuannya. Benda itu yang tadi melayang tepat di pipinya.
"KAK AIZHAAA!!" Teriak Naufan yang mana membuat Aizha yang sudah berada di ujung tangga kembali berlari naik untuk menghindari kejaran Naufan.
Nadira dan Nayara menatap kedua saudara mereka dengan mata mengerjap pelan.
"Cepelti tompelet meleka." Gumam Mylo yang dapat di dengar oleh yang lain.
"Tomp3ret?" Tanya Nadira dengan kening mengerut.
Mylo beralih menatap sang kakak, "Itu loohh!! Kayak di pilem, ada kucing cama tikus na." Seru Mylo.
"Oohh!! Tom and jerry!" Seru Nayara yang mengerti maksud adiknya.
"Nah itu! Cama caja, nda ada bedana. Cetipis ticu bedana, altina cama aja kok ya." Seru Mylo tak terima di salahkan
"Heleh. Sama rupanya? Beda jauh artinya. Tomp3ret, apa itu Tomp3ret." Celoteh Nadira.