
Pekan ini, Marsha berniat akan keluar bertemu dengan teman-temannya. Dia sudah berjanjian dengan Aurel dan juga Siska.
Sesampainya di kafe, tempat janji temu mereka. Marsha pun menunggu keduanya datang, sembari menikmati segelas coklat dingin.
"Hai bestiee!!"
"Oh, Hai!" Marsha menyambut Aurel dan Siska yang datang secara berbarengan.
"Semakin cantik yah bumil." Puji Aurel.
"Terima kasih." Sahut Marsha.
Marsha sudah memberi tahu pada kedua sahabatnya tentang kehamilannya, keduanya pun sempat syok dan merasa bersalah. Namun, Marsha berkata jika tidak ada yang di salahkan. Karena, semuanya sudah terjadi. Sifat pemaaf Zeva, menurun padanya.
"Gue syok loh pas tau dia berhasil buat lo bunting dalam sekali tembak," ujar Aurel tanpa di saring.
"Lo kalau ngomong di saring coba Rel." Tegur Siska.
"Ya maaf, emang mulut gue lemes banget." Ringis Aurel.
"Gue juga gak nyangka sih, gue mikirnya juga cuman sekali. Mana mungkin hamil, tapi nyatanya ... jadi." Celetuk Marsha.
"Lo udah cek ke dokter kandungan?" Tanya Siska.
Marsha menggeleng, "Belum, rencananya sih besok." Terang Marsha, dan mendapat anggukan dari Siska.
Aurel dan Siska pun memesan makanan, keduanya sangat lapar siang ini. Sembari menunggu pesanan mereka jadi, keduanya sibuk berbincang.
"Lakik lo namanya siapa?" Tanya Aurel.
"Nathan, kenapa?" Sahut Marsha.
"Gue pernah kiat dia jalan sama cewek di rumah sakit, kayaknya habis dari dokter kandungan." Terang Aurel.
Marsha terdiam, melihat itu. Aurel menjadi tergagap. "Eh, sorry Sha. Gue gak maksud buat lo kepikiran, cuman kali aja cewek itu saudaranya." Aurel menepuk mulutnya yang terlalu ceplos itu.
"Gue gak tau dia punya saudara, yang gue tau ... dia anak tunggal," ujar Marsha.
Siska mengerutkan keningnya, lalu dia menepuk tangan Marsha. "Sha, setau gue ... suami lo punya kakak deh. Namanya Claudia, dia sering tampil di acara pertemuan bisnis. Kan gue sering ikut bokap gue, sering tuh gue ketemu dia." Jelas Siska.
"Mungkin aja, gue gak tanya banyak hal sama dia. Dia juga gak menerangkan tentang kehidupannya seperti apa."
Tak lama, makanannya pun datang, ketiganya tak lagi mengobrol dan hanya sibuk untuk memakan pesanan mereka.
"Lo pesen mi itu?" Tanya Aurel pada mi yang menurutnya sangat pedas.
"Iya, gue lagi pengen aja. Mungkin, namanya ngidam kali yah." Canda MArsha.
"Gue cobain yah Sha." Pinta Siska.
Marsha mengangguk, dia menyerahkan piringnya pada Siska. Siska mulai menyendokkan mi itu ke dalam mulutnya. Belum juga menggigit, Siska sudah memuntahkannya.
"Pedes banget, lo makan mie apa cabe hah?! buang! bayi lo kepanasan nanti." Pekik Siska.
"Eh! jangan!!" Seru Marsha saat Siska ingin menyingkirkan piringnya.
"Gue lagi pengen makan ini."
Sontak Aurel dan Siska menjatuhkan rahang mereka, keduanya menatap Marsha dengan tatapan tak percaya.
Marsha melahap mie nya tanpa kerasa pedas, membuat keduanya meringis melihatnya.
"Bawaan bayi emang aneh yah?" Bisik Aurel.
"Kayaknya si gitu, mami gue bilang. Pas hamil gue dulu, dia ngidam makan kertas." Bisik Siska.
"Segitu parahnya?!" KAget Aurel.
"Hm, Marsha masih tergolong normal."
Akhirnya, keduanya tak lagi menghiraukan makanan Marsha. Keduanya pun menikmati makanan mereka.
Hingga rombongan siswa SMA memasuki kafe yang sama dengan mereka. Membuat Siska mengalihkan pandangannya.
"Dia Nathan bukan yah? Apa cuman mirip doang?" Batin Siska, sembari mengucek matanya.
"Lo kenapa?" Tanya Aurel, menyadari keanehan Siska.
"Lo liat anak SMA itu?" Unjuk Siska pada sekumpulan anak SMA itu.
"Ya kenapa?" Aurel belum menyadari ada dua orang yang mereka kenal.
"Itu suami Marsha bukan si?"
"Ngaco lo! masa masih bocah SMA," ujar Aurel.
"Eh iya! Sha! suami lo!" Pekik Siska dengan yakin.
"HA?" Marsha menatap tempat yang Siska tunjuk, terlihat Nathan sedang mengobrol bersama para temannya. Dan, ada satu perempuan yang duduk di sebelahnya.
"Itu suami lo kan?" Tanya Siska dengan ragu.
Marsha menatap Siska dan tersenyum tipis, Siska yang mendapat senyuman dari Marsha langsung heboh.
BRAK!!
"OOH MY GOOD! LO NIKAH SAMA BERONDONG!!!"
Kehebohan Siska, membuat pelanggan seisi Kafe menoleh pada mereka. Termasuk Nathan, dia baru menyadari kehadiran istrinya di sana.
"Than, istri lo tuh." Bisik teman Nathan berambut merah.
Tatapan Nathan dan Marsha bertemu, tetapi Marsha memutuskan tatapan mereka lebih dulu.
"Heboh banget lo! gue yang malu!" Kesal Aurel.
"Ya maap, namanya juga kaget. Eh, gue kira Nathan udah seumuran kita. Abis, tinggi banget. Udah gitu, mukanya gak ada bocil-bocilnya." Heboh Siska.
Marsha hanya diam, dia kembali menikmati makanannya yang tersisa setengah porsi.
"Nathan, kamu mau kakan apa?" Tanya Perempuan di sebelah Nathan.
Nathan tak fokus pada pertanyaan temannya itu, dia malah menatap Marsha Yang tak lagi menatapnya.
"Samperin gih, ngambek kayaknya ngeliat lo sama Gita." Bisik temannya.
Nathan ragu ingin menghampiri Marsha, terlebih disini banyak teman SMA nya. Akhirnya, dia memilih unyuk mengacuhkan kehadiran istrinya.
"Kok dia gak nyamperin lo si Sha?" Geran Aurel.
"Iya, lakik lo cuek banget." Cetus Siska.
"Di sana ada teman-temannya, kalian tau sendiri kan kalau pernikahan kami masih menjadi rahasia? Apa kata temannya nanti? gue gak mau buat Nathan malu," ujar Marsha.
.
.
.
Selang beberapa lama, makanan Marsha sudah habis. Dia beranjak untuk ke toilet sebentar.
"Gue ke toilet dulu." Pamit Marsha.
Marsha memasuki toilet, karena di kafe itu hanya ada toilet umum. Dia pun memasuki toilet itu.
Setelah beres, Marsha keluar dari bilik toilet dan mencuci tangannya di wastafel. Saat asik mencuci tangan, tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya.
"Bagus yah, pergi gak izin ke aku hm?"
Degh!!
Jantung Narsha berdegup kencang, setelah menyadari pemilik suara berat itu. Dia mengangkat wajahnya, pandangannya dan orang itu saling bertemu.
"Nathan! kamu ngapain disini!" Pekik Marsha, buru-buru melepas tangan Nathan dari pinggangnya.
"Ngapain? aku nyamperin istri aku, apanya yang salah?" Nathan menunjukkan raut wajah sepolos mungkin, membuat Marsha sangat kesal.
Marsha menatap sekitar dengan gelisah, dia takut ada orang yang melihat keduanya mojok di luar toilet.
"Dasar! gak tau tempat! ini toilet umum!" Kesal Marsha.
"Yang bilang ini toilet rumah kamu, siapa?"
Marsha sungguh geram dengan Nathan, dia meninggalkan Nathan begitu saja di toilet setelah berhasil terlepas dari sang suami.
"Apa-apaan dia? biarpun dia suamiku, tapi dia harus tau tempat." Gerutu Marsha sambil melangkah pergi.
Karena tak terlalu fokus pada jalan, Marsha tak sengaja menyenggol seseorang.
Brugh!!
"Eh, maafkan aku." Pekik Marsha.
"Tidak pa ... MArsha?"
Marsha mengangkat wajahnya, netranya membulat saat tahu siapa yang dirinya senggol.
"Pak Mario?"