
Aizha kembali ke rumah sakit, dia membawa dua porsi ketoprak untuk paman tersayangnya itu. Sesekali, dia menganggukkan kepalanya saat berpapasan dengan perawat yang ia kenal. Sampai akhirnya, dirinya tiba di ruangan Javier.
Cklek!
Terlihat, Javier tengah fokus menatap selembar kertas, bahkan kedatangan Aizha tidak di gubrisnya.
Srekk!!
"Nah! Ketoprakmu." Seru Aizha sembari menaruh bungkusan ketoprak itu di atas meja kerja Javier.
Javier tersentak, bibirnya melengkungkan sebuah senyuman lebar. Di raihnya bungkusan ketoprak dan dia mengintipnya.
"Widiiihh makasih yah, memang keponakan terbaik kamu ini." Puji Javier.
Aizha mengangguk lesu, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan meja Javier. Javier menangkap raut wajah Aizha yang seperti biasanya, wajah keponakannya itu tampak lesu.
"Ada apa? kenapa wajahmu di tekuk macam kaki kodok." Celetuk Javier yang mana membuat Aizha menatap sinis padanya.
"Om gak usah buat aku kesal deh! Mood ku sedang buruk saat ini." Desis Aizha.
"Ada apa memangnya? Apa papa mu menjodohkanmu lagi hm?" Tanya Javier sembari membuka bungkusan ketoprak yang Aizha belikan untuknya.
Aizha mengangguk lesu, melihat itu Javier tersenyum tipis. Tanpa berkata apapun, dia melahap ketopraknya.
"Ku kasih tahu yah, bapakmu itu gak akan pernah berhenti sebelum kamu menikah. Entah apa ketakutannya, padahal umurmu juga masih muda." Sahut Javier dengan pipi menggembung karena ketoprak.
"Itu lah dia! Aku heran, kenapa papa ngebet sekali ingin aku memiliki pasangan. Sedangkan Yara dan Nadira tidak. Huftt. .. padahal aku yang paling kecil di antara dua saudara kembarku." Seru Aizha.
Javier meminum airnya untuk menetralkan rasa yang ada di tenggorokannya. Selesai minum, Javier menatap Aizha yang tengah menatap ke sudut ruangan.
"Terus, apa lagi rencanamu kali ini?" Tanya Javier, dia seperti sudah tahu isi otak dari ponakannya itu.
"Apa lagi? Aku akak membuat perjodohan itu batal. Terserah kalau papa mau marah padaku, aku lelah." Jawab Aizha.
"Setelahnya, papamu pasti akan menjodohkan mu lagi bukan? Menurutku, lebih baik kamu cari saja pasangan. Biar papa mu tidak lagi menjodohkan mu." Seru Javier.
Mendengar itu, Aizha menyandarkan tubuhnya dengan helaan nafas pasrah. "Haahh ... dimana dapetnya? Memangnya cari pasangan seperti mencari batu di jalan. Eh ... tunggu!"
Javier terkejut lantaran Aizha menegakkan duduknya, raut wajah gadis itu terlihat berbinar. Javier yang sedang menyendokkan ketoprak ke mulutnya mengerut bingung.
"Si Ervin! Dia masih menganggap ku istrinya kan!" Seru Aizha.
"Terus?" Bingung Javier sembari menguyah makanan di mulutnya.
"Aku bawa dia pada papa saja! Dan bilang kalau dia calonku!"
"UHUK!! UHUK!!" Javier tersedak, dia langsung meraih gelas air putihnya dan meminumnya. Mukanya terlihat sangat memerah.
"Apa kau gila?! Pria tu bisa di gantung oleh papa mu! Asal usulnya saja tidak jelas, bagaimana mau di jadikan pasangan." Seru Javier dengan kesal.
"Makanya asal usulnya gak jelas, aku bisa membuat asal usulnya yang baru. Cukup mudah, tinggal katakan saja jika orang tua Ervin sudah tiada. Ervin bekerja sebagai karyawan kantor, dia pria yang baik. Sudah kan? Papa pasti percaya!" Seru Aizha.
Javier menggelengkan kepalanya, ide Aizha tidak masuk akal. "Tidak sesederhana itu Aizha, percaya sama om. Kau akan semakin menambah masalah." Ujar Javier.
Aizha beranjak berdiri, "Terserah! Yang penting, papa gagal menjodohkan ku dengan pria mana pun sampai ... aku menemukan pangeran impianku sendiri!" Seru Aizha dan berbalik. Berniat untuk pergi.
Saat Aizha akan meraih gagang pintu, Javier kembali membuka suara.
"Memangnya pangeran impianmu seperti apa huh?" Tanya Javier.
Aizha kembali berbalik, "Pangeran impianku yang jelas ... Baik, tampan, mapan, lembut, perhatian, penuh cinta, dan yang pasti. .. seorang miliarder." Seru Aizha dengan semangat.
"Heleh, yang jdi OB pun gak mau sama kamu. Mimpi suami miliarder rupanya." Ejek Javier.
Aizha menggembungkan pipinya, dia menatap tajam Javier yang tengah menahan tawa akibat perkataannya tadi.
"Lihat saja nanti! Aku akan menemukan pria miliarder, dan aku yang akan berbalik menertawakan Om! Ingat itu." Seru Aizha dan langsung berbalik. Aizha bahkan lupa jika dia belum membuka pintu, jadilah dia menabrak pintu ruangan itu
"Awww!!"
"HAHAHAHA!! BAHKAN PINTU TAK MERESTUI IMPIANMU HAHAHA!!"
.
.
.
Aizha menyuapi Ervin makan, tampak Ervin makan dengan lahap dengan senyum mengembang. Pria itu seakan senang sekali ketika Aizha menyuapinya. Namun, Aizha tampak biasa saja.
"Ervin, apa kau tidak mengingat sama sekali tentang dirimu?" Tanya Aizha
Kunyahan Ervin terhenti, keningnya menatap Aizha dengan tatapan bingung. "Tidak, aku hanya tahu kau adalah istriku," ujar Ervin dengan santai.
Aizha menghela nafas sejenak, dia kembali menaruh piring makanan Ervin kembali ke atas nakas. Lalu, dirinya menatap Ervin dengan tatapan lekat.
"Ervin, kita bukan suami istri. Saat itu, aku hanya asal bicara saja agar aku bisa mengetahui kondisimu. Kita tidak memiliki buku nikah, jangankan buku nikah. Bahkan, kau belum bertemu dengan papa ku. Jadi stop, menyebutku sebagai istrimu," ujar Aizha dengan serius.
Ervin mengerjapkan matanya, lalu dia menunduk seakan tengah berpikir. Sementara Aizha, dia masih menatap Ervin dengan tatapan serius. Tak lama, Ervin kembali mengangkat pandangannya pada Aizha.
"Kalau begitu, aku ingin menemui papa mu." Ujar Ervin yang mana membuat Aizha seketika membulatkan matanya.
"Untuk apa?!" Pekik Aizha.
"Aku ingin menikahimu." Ujar Ervin yang mana membuat pipi Aizha memerah. Baru kali ini, Aizha merasakan debaran aneh pada jantungnya ketika seorang pria ingin melamarnya. Sebelumnya, Aizha hanya biasa sajan Bahkan, dia menjadi tak suka melihat orang itu.
"Ervin ...."
Ervin meraih tangan Aizha, tatapan keduanya terkunci. Keduanya bahkan lupa jika tak ada ikatan yang sah, hingga membuat mereka berpegangan tangan seperti ini.
Cklek!
"AIZHA!"
Aizha dan Ervin tersentak kaget, keduanya beralih menatap ke arah ambang pintu. Betapa terkejutnya Aizha saat melihat Nathan berdiri di sana sembari menatap tajam ke arahnya.
"Papa." Lirih Aizha.
Nathan bergerak maju, dia menatap tajam tangan Ervin yang menggenggam tangan Aizha. Tanpa berkata apapun, Nathan melepaskan genggaman Ervin pada tangan putrinya.
"Aww!!" Pekik Aizha yang merasa kesakitan.
Ervin khawatir, dia menegakkan duduknya dan berniat ingin menanyakan kabar Aizha. Namun, belum sempat dia berkata. Nathan meraih kerah baju Ervin dan mencengkram nya kuat.
"BERANINYA KAU MENYENTUH PUTRIKU!!"
"PAPA!!" Pekik Aizha dengan panik.
Di saat itu pula, Javier datang dengan wajah paniknya. Dia bergegas menghampiri Nathan dan memisahkannya dari Ervin.
"Bang lepaskan!" Sentak Javier
"Lepaskan bang! Dia pasien Vier!" Terpaksa, Nathan melepaskan cengkeramannya. Dia beralih menatap Aizha dan menyorotnya dengan tatapan tajam.
"Bukankah Papa sudah bilang padamu kemarin. Jangan buat malu papa!! Kenapa kamu tidak datang ke pertemuan dua keluarga hah?! Kamu mau buat malu Papa?!" Sentak Nathan dengan mata memerah menahan amarah.
"Aizha gak mau di jodohkan pa! Aizha punya pilihan Aizha sendiri!" Sentak Aizha.
"Aizha! Papa berbuat begini karena papa sayang kamu! Papa gak mau kamu di jodohkan oleh kakekmu dengan pria yang ...,"
Bentakan Nathan terhenti saat seseorang memegang lengannya, Nathan menoleh dan mendapati Ervin yang sudah berdiri di belakang nya sembari menatap tajam padanya.
"Saya calon suami Aizha, Om."