Find Me Daddy

Find Me Daddy
Sikap aneh Zeva



Keringat Zeva bercucuran, bahkan berkali-kali dia mengusap keringat nya. Aaron yang merasakan gelagat aneh istrinya pun kembali bertanya.


"Jawab, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?"


"Eng-enggak." Gugup Zeva.


Aaron menghela nafas pelan, dia semakin mendekatkan tubuhnya pada sang istri. Seketika Zeva menutup mata, ketika tangan Aaron terangkat menuju kepalanya.


Puk!


"Kalau perut kamu sakit, bilang. Jangan kayak tadi, mas takut."


Seketika Zeva membuka matanya dengan landangan bingung. "Perutku, sakit?" Batin Zeva.


Tangan Aaron beralih pada perut Zeva, dia mengusap perut sang istri yang kini kembali mengandung benihnya.


"Kalau kamu merasa perutnya sakit, mual, bilang sama aku. Aku khawatir, apalagi saat kamu mengunci pintu. Semisal kamu pingsan gimana? apalagi, kamu baru aja kena insiden. Dokter bilang, jika kamu merasakan keram perut yang sangat. Harus di bawa ke rumah sakit." Terang Aaron dengan penuh perhatian.


Zeva menghela nafas lega, senyumnya terbit di bibir pucatnya. Dia balik mengelus tangan Aaron yang berada di perutnya.


"Aku gak mau kamu khawatir mas, hanya mual biasa. Mungkin aku kurang suka dengan makanan yang ada di meja makan," Ujar Zeva.


"BUNDAA!! BONEKA BEL BEL PUNA MALCHA MANAA!!"


Marsha berteriak dari dalam kamarnya, sepertinya anak itu kesal karena mainannya tak kunjung ketemu.


"Mas, aku samperin Marsha dulu." Pamit Zeva sembari mengelus lengan suaminya.


Aaron tersenyum dengan mengelus bahu Zeva, lalu dia menatap kepergian istrinya ke kamar putri mereka.


Ketika Zeva menghilang dari pandangannya, senyum Aaron luntur. Wajahnya berubah menjadi datar dan dingin.


Sementara di kamar Marsha, anak itu sudah hampir menangis karena mainannya tak kunjung di temukan.


"Mana cih, nda ketemu telus. Di cali nda ada, di anggulin ada. Kayak cetan aja." Imel Marsha.


"Kenapa sayang?" Tanya Zeva menghampiri putrinya yang berada di rak boneka.


"Boneka bel bel Malcha nda ada," ujar Marsha dengan suara bergetar.


Zeva menghela nafas pelan, dia turut mencari boneka putrinya. Beberapa lama mencari, ternyata boneka itu berada di pojok lemari pakaian.


"Nih, bonekanya." Unjuk Zeva setelah mengambil boneka itu.


Marsha mengembangkan senyumnya, dia mengambil boneka itu dan segera memeluknya erat. Zeva turut tersenyum, dia mengusap rambut putrinya.


"Lain kali, jangan teriak seperti tadi. Samperin bunda, dan di sertai dengan kata tolong. Tolong carikan boneka Marsha bunda, atau bunda ada lihat boneka Marsha? jangan berteriak seperti tadi, oke anak manis."


Zeva selalu mendidik putrinya dengan baik, ketika Marsha salah. Dia akan menegurnya, tak memandang jika putrinya masihlah berumur 3 tahun.


"Heum, maaf bunda." Cicit Marsha.


"Tidak papa, sana bermainlah." Sahut Zeva.


Marsha keluar menghampiri si kembar yang ada di ruang tengah, dia ingin menunjukkan boneka beruang yang merupakan pemberian Haikal itu lada keduanya.


***


Malam hari, rumah Aaron kembali sepi. Semua keluarga sudah pulang sore tadi, dan saat ini sudah waktunya untuk tidur.


Zeva sudah merebahkan dirinya, tetapi Aaron belum kembali ke kamar karena harus menemani putri mereka dulu.


Pikiran Zeva tak tenang, dia merasa cemas. Kali ini, mungkin Aaron tidak mengetahuinya. Tapi, bisa jadi lain kali Aaron akan mengetahuinya.


Zeva tidak tahu sampai kapan dia menutupi semuanya dari sang suami.


"Pernikahan kami baru saja membaik, aku tidak ingin mas Aaron meninggalkanku lagi. Apalagi kalau membawa Marsha. Aku taku."


Zeva trauma, ketika Aaron mengetahui tentang dirinya dan Rio, pria itu akan memutuskan untuk bercerai dengannya.


Jika dulu, Zeva masih bisa terima. Karena belum ada anak di antara mereka. Tapi kini, Marsha lah yang menjadi alasan terberat Zeva untuk kembali bersama suaminya.


Cklek!


Aaron baru saja masuk ke kamarnya, netranya melihat Zeva yang tidur membelakanginya. Aaron tentu tahu, jika istrinya itu belum tidur.


Tanpa suara, Aaron menaiki ranjang dan masuk ke dalam selimut. Dia melirik punggung istrinya sejenak.


Lalu, Aaron memutuskan untuk memiringkan tubuhnya menghadap punggung Zeva. Dia mendekatkan tubuhnya, kemudian tangannya terangkat memeluk perut Zeva.


"Tadi, daddy mengusulkan sesuatu padaku," ujar Aaron.


"Dia menyarankan kita tinggal kembali di kediaman Smith. Bagaimana menurutmu?" Tanya Aaron.


Zeva terdiam, dia memikirkan bagaimana baik dan tidaknya jika dia kembali tinggal di kediaman Smith.


"Terserah kamu saja mas, aku hanya mengikuti mu." Jawab Zeva.


Aaron mendekatkan kepalanya pada leher sang istri, sehingga Zeva dapat merasakan deru nafas suaminya.


"Kalau aku, setuju dengan saran daddy. Kamu sedang hamil muda, aku gak bisa dua puluh empat jam menjagamu. Ada saatnya aku ke kantor, aku gak tenang ninggalin kamu di rumah bersama orang lain," ujar Aaron.


Zeva menghela nafas pelan, sebenarnya dia lebih nyaman di rumah sendiri. Namun, dia paham kekhawatiran suaminya.


"Marsha juga gak akan kesepian, dia punya teman bermain. Aku kerja juga jadi tenang, apalagi ada kak Adinda yang akan menemanimu. Kalian bisa berbagi cerita kehamilan kalian, dan lebih saling mengerti." Lanjut Aaron.


Akhirnya Zeva menyetujuinya, tangannya mengusap tangan Aaron yang mengusap perutnya.


"Baiklah, jika memang itu yang terbaik." Ujar Zeva membuat Aaron tersenyum.


.


.


.


Bi sri, sudah kembali ke bandung pagi tadi. Begitu pun dengan Ayla yang ingin membereskan berkas pengajuan kuliahnya. Sehingga, di rumah hanya ada Zeva berserta Marsha.


Siang ini, seperti biasa jadwal Marsha tidur siang. Anak itu sudah pulas tertidur di kamarnya. Sementara Zeva, dia tengah berada di halaman belakang sedang membakar sesuatu.


"Jangan mencoba mengancamku Rio, tidak akan ku biarkan lagi kamu masuk ke dalam rumah tangga kami." Batin Zeva menatap satu foto yang berada di tangannya.


Zeva menatap kobaran api yang melahap kotak serta isinya, lalu .. Zeva melemparkan foto terakhir itu ke dalam kobaran api.


"Sayang, kamu sedang bakar apa?"


DEGH!!


Zeva segera berbalik, netranya terbelalak kaget saat melihat suaminya yang datang menghampirinya.


"Ma-mas, kamu sudah pulang? tu-tumben, jam segini kamu pulang?" Tanya Zeva, buru-buru dia cepat menghampiri Aaron sebelum suaminya itu mendekati api.


Aaron terhenti, netranya masih menatap kobaran api yang kecil itu. Aaron berniat akan beranjak mendekat, tetapi Zeva malah menahan lengannya.


"Mas, kamu pasti capek kan? haus kan? ayo masuk, aku buatkan kopi." Ajak Zeva dengan paksa.


Aaron mengerutkan keningnya, tingkah istrinya sangat lah aneh. Dia melepas tangan Zeva yang melilit di tangannya.


Kemudian, Aaron berkacak pinggang menatap istrinya dengan senyuman sumbang.


"Kamu kenapa sih? kok kayak orang ketakutan gitu?" Heran Aaron.


Zeva semakin gugup, dia menatap sekilas sampah yang ia bakar. Khawatir masih ada kepingan foto yang tersisa.


"Kamu masuk aja dulu, mas mau siram api nya. Udah tau lagi hamil malah bakar-bakaran begini."


Aaron melangkahkan kakinya, dia bergerak mengambil selang air dan menyalakannya. Seketika, api itu padam. Setelah padam, Aaron kembali menaruh selang itu dan melangkah mendekati bekas bakaran tersebut.


"Kamu bakar apa sih?" Tanya Aaron menatap potongan foto terbakar di sana.


Aaron berjongkok, dia mengambil potongan foto yang terbakar setengahnya.


Zeva meremas ujung bajunya, dia takut Aaron tahu dan marah besar padanya.


"Kenapa fotonya di bakar? bukankah di foto ini kamu begitu terlihat sangat bahagia?"


DEGHH!!!


______


Waduh, Zeva ... Zeva. Tinggal jujur aja susah banget sih🥱🥱


Kalau jujur, alurnya cepet tamat dong😭. Nanti tamat cepet, pada demo kok pendek banget😭😭 masih belum move on sama Marsha😆


Sabar-sabar, ada kejutan di balik alur ini. Mau tau apa? Tunggu uodate selanjutnya.