
"Aizha, jelaskan!" Seru Nathan sembari menatap tajam ke arah Aizha.
Aizha bingung, tatapan sang Papa benar-benar membuatnya tersudut. Ide Azhha pin muncul, dia bergegas mendekati Ervin. Lalu, menggandeng tangannya.
"Aku cinta dia Pa, Aizha cinta sama Ervin." Seru Aizha sembari mengeratkan gandengannya pada tangan Ervin.
Deghh!!
Jantung Ervin berdegup kencang, dia beralih menatap Aizha dengan mata mengerjap pelan. Wajah cantik yang beberapa jam ini selalu menghantui pikirannya, kini menyatakan cinta padanya.
"Sejak kapan kamu bertemu dengan putriku?!" Sentak Nathan pada Ervin.
"Sejak ...,"
"Tiga bulan yang lalu!" Aizha menyela perkataan Ervin, yang mana membuat Nathan menatap tajam ke arahnya.
"Papa bertanya padanya, bukan padamu!" Sinis Nathan.
Aizha mengerucutkan bibirnya sebal. Melihat kekesalan Aizha, membuat Ervin tertawa kecil. Dia begitu mengagumi kecantikan Aizha, wajah Aizha tak hanya cantik. Tapi juga imut di matanya. Membuatnya betah terus lama-lama menatap wajah itu.
"Sejak tiga bulan lalu om, di taman kota. Tepatnya, saat Aizha membeli sebuah es krim dan di situlah awal pertemuan kami." Ujar Ervin dengan tatapan tak lepas dari Aizha.
Nathan menangkap tatapan Ervin pada putrinya, dia bisa melihat ketulusan Ervin ketika pria itu menatap Aizha. Nathan mulai goyah, dia menatap lekat mata putrinya yang tengah menatap ke arahnya.
"Aizha, Papa kenal kamu bagaimana. Kamu anak yang banyak cerita di antara saudaramu yang lain, bahkan semut mati pun kamu cerita kan sama Papa. Tapi, tentang dia ... kamu gak ada cerita sama papa. Tunjukkan pada papa suatu hal, agar Papa percaya kamu dan dia benar-benar saling mencintai." Ujar Nathan dengan tegas.
Mata Aizha membulat, jantungnya berdegup kencang. Bagaimana cara dia membuktikannya, sementara dirinya dan Ervin baru saja bertemu dua hari.
"Pa, aku ...."
"Secepatnya, aku akan menikahi Aizha om. Apa itu sudah cukup bukti untuk mengatakan jika aku mencintai putri om?" Sela Ervin dengan raut wajah yang terlihat tegas.
"Kapan kamu akan menikahi putriku?" Tanya Nathan tak kalah serius.
"Besok." Jawab Ervin dengan enteng, membuat Aizha seketika membelalakkan matanya.
"Ervin!" Bisik Aizha penuh penekanan.
Nathan menatap tajam mata Ervin, begitu pun dengan Ervin. Satu hal yang baru Nathan sadari, warna mata Ervin sangatlah langka. Biasanya akan banyak di jumpai di utara eropa. Nathan berpikir, mungkin dia harus mencari tahu tentang Ervin.
"Baiklah, saya tunggu kedatangan mu tiga hari lagi. Kamu lamar putri saya, jika memang kamu serius. Dengan mahar, Tanah 200 hektar beserta rumah. Jika kamu sanggup, tiga hari lagi temui saya."
"Dua ratus hektar." Gumam Aizha.
"PAAA!!" pekik Aizha setelah tersadar akan permintaan sang Papa yang sangat tidak wajar menurutnya.
Nathan tak menghiraukan perkataan putrinya, dia memandang ke arah Ervin yang tak terkejut sama sekali dengan permintaannya. Raut wajah pria itu masihlah datar, satu hal tambahan yang membuat Nathan cukup takjub dengan keberanian pria di hadapannya.
"Ayo Aizha, ikut Papa pulang!" Ajak Nathan dengan paksa.
"Ta-tapi ...." Aizha menatap ke arah Ervin, dia ragu jika Ervin akan menyetujui permintaan Nathan. Apalagi, pria itu mengalami amnesia. Dari mana mereka dapat uang untuk membeli tanah sebanyak itu
Nathan berhasil membawa Aizha keluar, setelah pintu tertutup. Ervin baru mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Matanya menatap kepergian Aizha dan Nathan dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Loh, Sayang!" Seru Marsha pada Nathan.
Tatapan Marsha beralih pada Aizha, terlihat anak gadisnya itu pulang dengan raut wajah terlihat sendu.
"Ada apa? Papa mu pasti marah lagi yah karena kejadian tadi? Mama kan sudah bilang, ikutin apa mau papa mu dulu. Nanti urusan cocok atau tidaknya kita pikirkan belakangan. Papa seperti itu karena ada alasannya sayang," ujar MArsha dengan lembut.
Aizha menatap Marsha dengan tatapan berkaca-kaca "Aizha belum siap nikah ma." Lirih Aizha.
"Mama ngerti, papa mu memang keras. Tapi, di balik itu semua. Ada alsan yang kuat kenapa dia keras padamu. Sudah, istirahat di kamar. Mama akan coba bicara pada Papa." Marsha mengelus rambut Aizha, dia membiarkan Aizha beristirahat. Sementara dirinya kembali menyuapi Mylo makan.
"Papa lagi keculupan yah mama?" Tanya Mylo dengan tatapan polosnya.
"Hush! Bukan!" Seru MArsha sembari menahan tawanya.
"Kayak Olang keculupan, mukana begitu. Melaaahh!!" Seru Mylo dengan menggemaskan.
"Sudah, ayo makan lagi." Ajak Marsha.
"Mau nonton." Ujar Mylo tanpa membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Marsha.
Mendengar itu, Marsha menghela nafas pelan. Dia sengaja mengurangi jadwal menonton bagi anak-anaknya, termasuk Mylo. Dia tak membiasakan Mylo menonton, karena khawatir anaknya itu akan candu dengan tontonan.
"Sebentar aja tapi yah, lima belas menit oke?" Marsha mencoba bernegoisasi agar putranya bisa bekerja sama dengan waktu.
"Heum, nda papa." Sahut Mylo dengan lemas.
Akhirnya, Marsha membawa Mylo ke ruang keluarga. Dia menyetel acara tayangan anak-anak di kotak persegi panjang itu. Mylo dengan anteng duduk di sofa sembari melihat kartun kesukaannya.
"Ganti Mama." Celetuk Mylo.
Marsha memberikan remote nya pada Mylo, Mylo pun maju melangkah mendekat pada layar besar itu.
"Pilem Joko t1ngkil!" Seru Mylo di pencarian suara.
Senyum Mylo surut ketika layar itu bukan menampilkan tayangan yang ia inginkan. Melainkan masakan yang sebelumnya belum pernah Mylo lihat.
"JOOOKOOO T1NGKIIILL!!" Teriak Mylo, berharap kali ini layar itu kembali mendengarnya.
"Ekheee!! Kenapa jadi Coto k1kil, ciapa yang mau makan lupana." Rengek Mylo ketika lagi-lagi pemberiannya terhenti di soto kikil.
Melihat Mylo yang merengek, membuat Marsha terkekeh pelan. Ini lah hiburan dia setiap hari, melihat putra kecilnya yang cadel selalu membuatnya tertawa dengan segala tingkah lucunya.
"JOOOOOKOOO T1NGKIIILL!! JOKO T1NGKIL!! Seru Mylo dengan segenap emosi yang membara.
"Hiiihh Coto k1kil lagii!! Kau lapal hah?! Makananmu lictlik! Bukan coto! Gaya kali kau ini, cetles kali." Gerutu Mylo dengan kesal.
Marsha meraih remot yang putranya pegang, lalu dia mengetik sendiri apa yang putranya ingin tonton. Sebuah kartun yang menayangkan sebuah legenda jaman dulu.
"Nanti kita les bicara lagi yah, biar bisa ngomong R. Kasihan tv nya di salahin terus, padahal kamu yang ngomongnya gak jelas," ujat Marsha yang mana membuat Mylo menatap sinis ke arah sang mama.
"Mama nda tau yah, body ceming itu nda boleh. Bial pun Mylo nda bica ngomong L, tapi bica cali duit. Tinggal cenyum depan camela, duit na cegepok udah di pelukan na Mylo. Kelen kali kan Mylo," Celoteh Mylo.