
16 tahun berlalu.
Di sebuah kamar, tampak seorang gadis cantik tengah tertidur dengan lelap. Padahal, cahaya matahari sudah sangat terik hingga memasuki kamar gadis itu. Namun, tak membuat gadis itu terbangun. Hingga, bunyi alarm membuatnya membuka matanya.
"Kenapa berisik sekali." Gumamnya. Tangan putih bersih miliknya meraih ponselnya, dia mematikan alarm di ponselnya itu. Lalu, melanjutkan tidurnya.
Cklek!
Seorang wanita berumur 42 tahun menghela nafas kesal saat melihat gadis itu tertidur kembali.
"ASTAGAAAA!! AIZHAAAA!!"
Gadis bernama Aizha itu sontak langsung terbangun, matanya menatap ke arah pintu dimana sosok wanita berdiri.
"Mama." Pekik Aizha.
Wanita yang berdiri di ambang pintu, yang tak lain dan tak bukan adalah Marsha. Marsha berjalan mendekat ke arah putrinya dengan berjalan cepat. Lalu, tanpa rasa kasihan dia menjewer telinga putrinya.
"AAAA!!! SAKIT SAKIT MAAA!!" Pekik Aizha.
"Ini jam berapa hah?! Mama sudah bilang, jangan begadang Aizha! Selalu saja bangun telat! Lihat, ini jam berapa?!" Omel Marsha sembari melepas jewerannya. Dia sudah terlanjur kesal dengan putrinya yang sulit sekali di atur.
Aizha menguap, dia mengambil ponselnya. Dengan santai, Aizha melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Sakit tau. Lagian ini pasti masih pa ...." Aizha seketika melototkan matanya.
"APA?! JAM SEPULUH?!" Pekik Aizha.
Marsha menghela nafas pelan, "Kamu selalu bertanya kenapa kamu jomblo kan? Ini lah alasannya. Jodoh kamu sudah di patok ayam." Ujar MArsha yang mana membuat Aizha menutup wajahnya dengan bantal.
"MAAAA!!! CUDAAAHHH!!!"
Teriakan seorang bocah membuat Marsha mengalihkan atensinya pada Aizha. "Sudah yah, cepat mandi. Mama mau samperin adikmu itu." Ujar Marsha sebelum akhirnya pergi menemui anaknya.
Saat keluar dari kamar, Marsha berpapasan dengan suaminya. Ya, Nathan. Pria itu tak jauh beda dari 16 tahun lalu. Nathan masih sangat tampan, apalagi kini dirinya baru berusia 38 tahun. Namun, Marsha tak mengalahkan usia muda suaminya itu. Justru, wajah baby face Marsha selalu membuat orang-orang mengira jika umur Marsha masihlah tiga puluh tahun.
"Aizha sudah bangun Sweety?" Tanya Nathan dengan melengkungkan senyumnya.
"Sudah, anak kamu itu yang. Selalu buat kesal." Ujar Marsha dengan wajah tertekuk.
"Namanya juga anak muda, biarkan saja. Jangan kesal-kesal, nanti wajahmu jadi bertambah cantik. Membuatku ingin selalu mengurungmu di kamar." Bisik Nathan yang mana membuat pipi Marsha bersemu merah.
Pernikahan mereka sudah lebih dari dua puluh tahun lamanya, tapi Nathan tetap menjadi laki-laki romantis di matanya. Pria itu tak pernah berubah, selalu mencintainya.
"Sayang lagi gombal yah?" Kata Marsha. Nathan tersenyum, dia meraih pinggang Marsha untuk mendekat.
"Mana ada gombal, kamu tuh wanita yang ...."
"MAAAAA!!! BELAKNA KELING INIII!!!"
Raut wajah Nathan berubah masam saat melihat mendengar teriakan seorang bocah.
"Gak bisa apa mama nya di pinjem bentar." Kesal Nathan.
"Astaga! aku lupa!" Marsha buru-buru berlari menjauh dari sana menuju kamar mereka. Dia hampir melupakan anaknya yang dirinya tinggal tadi.
Cklek!
"Sudah Mylo?"
Seorang bocah berumur tiga tahun tengah duduk di atas closet, wajahnya sudah memerah menahan tangis. Dia sudah lelah dengan posisinya, tapi sang mama tak kunjung datang.
Tiga tahun lalu, Marsha kembali melahirkan seorang putra. Setelah belasan tahun setelah kelahiran Naufan, Marsha akhirnya kembali melahirkan seorang putra. Dia dan suaminya memberi nama, Nevano Mylo Rafassyah. Bocah gembul menggemaskan yang kini sudah berusia tiga tahun.
"Dali tadi panggil mama mama mama. Campe belbuca mulutna, tapi lama kali datangna." Kesal anak itu dengan suara menahan tangis. Hidung mungilnya sudah terlihat kembang kempis.
Marsha memang memanggil nama tengah bocah itu, bukan hanya dia saja. Bahkan keluarga besar pun memanggil bocah menggemaskan itu dengan panggilan Mylo.
"Maaf yah." Marsha memencet tombol flash. Dia pikir masalah sudah selesai, tapi ternyata tidak. Mylo berteriak histeris saat flash itu menyala.
"Janan dulu Janan dulu hiks ... kenapa di cilaaamm!" Pekik Mylo dengan mata berkaca-kaca.
Marsha tentu bingung, dia mengerjapkan matanya pelan. Melihat putranya yang hampir menangis, Marsha akhirnya bertanya.
"Emang kenapa? Katanya tadi sudah." Ujar Marsha dengan bingung.
"Mylo belum d4da d4da cama belakna hiks ... kenapa di cilam duluaaann." Mylo akhirnya menangis.
Marsha menggaruk kepalanya yang tak gatal, perkara k0torannya saja Mylo permasalahkan. Kenapa harus lambaikan tangan? Kan hanya sekedar k0toran saja.
"Anakku ketuker kali yah pas di rumah sakit." Gumam Marsha.
.
.
.
Terlihat, Aizha sedang mengendarai motor maticnya. Dengan riang dia menikmati perjalanannya. Sesekali, Aizha melihat ke arah gerobak jajan yang ada di pinggir jalan.
"Nanti pulang beli deh." Gumam Aizha.
BRAK!!
"Waduh!" Aizha buru-buru melepas helmnya, dia bergegas turun dari motornya dan berlari menghampiri mobil hitam itu.
Mata Aizha membulat saat melihat asap yang ada keluar dari mesin mobil. Tanpa pikir panjang, Aizha membuka pintu pengemudi untuk menyelamatkan orang yang terjebak di sana.
Terlihat, seorang pria dengan keadaan kepala yang terluka parah karena terhantuk stir mobio. Bergegas, Aizha membantu pria itu keluar dari mobil dengan seluruh tenaganya.
"Berat banget. Makan apa sih ni orang." Gumam Aizha.
BUGH!!
DIAARRR!!
Aizha terjatuh ketika mendengar bunyi ledakan yang cukup keras, begitu pun orang yang Aizha tolong. Tubuh Aizha berada di atas tubuh pria itu, sehingga dia bisa melihat jelas bagaimana pahatan wajah tampan pria tersebut.
"Tampan sekali." Gumam Aizha.
Pria itu mengerjapkan matanya, dia menatap samar wajah Aizha. Namun, fokusnya ke arah kalung wanita yang menolongnya. Tak lama, pria itu kembali tak sadarkan diri.
.
.
.
Aizha membawa pria itu ke rumah sakit dengan mobil ambulans, bahkan dia rela meninggalkan motornya hanya untuk menemani oria yang tidak dirinya kenal. Jiwa sosial Aizha sangat lah tinggi, dia tak peduli dengan keadaan motornya yang tertinggal.
Cklek!
Dokter telah keluar dari ruang operasi, Aizha segera bergegas menghampirinya untuk menanyakan tentang kondisi pria yang di tolongnya.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Aizha.
"Anda istrinya?" Tanya dokter tersebut.
"Ehm bu ...."
"Kalau aku bilang bukan, dokter ini tidak akan memberitahukan padaku kabarnya. Lebih baik iyakan saja dulu, gak masalah bukan." Batin Aizha.
Aizha kembali menatap dokter itu dengan tersenyum, "Iya dok, saya istrinya. Bagaimana kabar suami saya?" Tanya Aizha.
"Pasien mengalami keretakan di tilang belakang kepalanya. Akibat benturan yang keras, membuat otak pasien mengalami pendarahan. Namun, kami berhasil menghentikan pendarahan itu. Kemungkinan, pasien akan sadar dalam beberapa jam ke depan." Ujar dokter itu.
Aizha mengangguk, setidaknya pria yang dia tolong selamat. Aizha menjadi tenang setelah mengetahui jika kondisi pria itu baik-baik saja.
"Oh ya, tolong isi data diri pasien. Sebab, kami tak menemukan adanya karti identitas apapun saat kecelakaan terjadi."
Raut wajah Aizha berubah pias, "Isi data?" Gumam Aizha.
Aizha menepuk keningnya, bagaimana dia mengisi data pria itu jika dia tidak mengetahui siapa namanya dan asal usulnya.
"B0doh sekali kamu ini." Batin Aizha.
Pria di tolongnya sudah di pindahkan ke ruang rawat, Aizha memilih kamar kelas satu sesuai dengan isi dompetnya. Sembari menunggu pria itu sadar, Aizha duduk di kursi samping brankar sembari mengisi data diri pria itu.
"AKu harus memberinya nama siapa? Bagaimana kalau dia bangun dan ternyata namanya salah? Mana dia juga gak bawa ponsel, dompet pun gak ada." Gumam Aizha sembari menggigit tutup pulpen yang dirinya pegang.
"Sudahlah, kasih dia nama Jono saja. Yang penting nama seorang pria, bukan markonah yang ku tulis." Oceh Aozha.
Saat Aizha akan menulis nama Jono di sana, tiba-tiba tangan pria itu bergerak. Aizha yang melihatnya terkejut, dia bergegas melihat ke arah mata pria itu yang mengerjap pelan.
"Waahh sadar dia!" Pekik Aizha.
mata pria itu terbuka, senyum Aizha seketika luntur. Mulutnya terbuka lebar saat melihat bola mata pria itu.
"Bola matanya ... cantik sekali." Gumam Aizha.
Mata biru pria itu menatap ke arah langit-langit ruangan. Matanya bergerak ke samping, dimana Aizha berdiri menatapnya dengan tatapan melongo.
"Eh, kau sudah sadar tuan?!" Pekik Aizha.
Pria itu masih mengerjapkan matanya, menatap Aizha dengan tatapan lekat. Aizha teringat dengan formulir yang harus dirinya isi, dia pun menyerahkan formulir itu ke tangan pria yang di tolongnya itu.
"Tuan, tolong isi data dirimu. Aku tidak tahu siapa nama mu." Seru Aizha.
Menyadari keb0dohannya, Aizha menepuk keningnya. "Astaga, aku lupa jika kamu baru saja sadar. Oke, baiklah. Kali ini, aku akan kembali membantumu. Cepat, sebutkan namamu. Dimana alamatmu, biar aku saja yang tulis." Seru Aizha sembari kembali mengambil kertas pengisian data itu.
Pria itu mengerjap pelan, keningnya mengerut dalam. "Nama? Namaku?" Tanya oria itu dengan tatapan bingungnya.
"Iya, namamu. Gak mungkin nama sapi kan." Ujar Aizha dengan senyum ramahnya.
"Namaku, siapa?"
Mata Aizha membulat, wajahnya berbah pias. "Siapa? Heh jamal! Mana gue tahu nama lo siapa! Makanya gue nanya! kok nanya balik sih!" Pekik Aizha dengan kesal.
"Aku ... tidak tahu namaku."
JDERR!!
"A-APA?!"