Find Me Daddy

Find Me Daddy
Apa ada salah yang ku lakukan?



Zeva bungkam, dia malah menunduk. Tatapan Aaron seakan mengintimidasi nya. Dia tak tau harus mengatakan apa, bibirnya mendadak kelu untuk berkata.


Tak kunjung mendapat jawaban, Aaron justru bangkit dan berjalan menghampiri sang istri. Tangannya membawa sepotong foto yang terbakar itu.


"Lihat, kamu tersenyum lebar. Kenapa harus di bakar? kamu terlihat sangat cantik disini." Unjuk Aaron sembari menyodorkan potongan foto itu.


Saat melihat foto yang Zeva maksud, seketika wanita itu bernafas lega. Itu adalah foto dirinya bersama Rio, ketika pria itu mencium pipinya. Namun, sepertinya. Foto Rio sudah terbakar, terus potongan foto dirinya saja.


Tangannya Zeva terulur, berniat mengambil foto itu.


"Enggak mas, aku hanya ...,"


"Hanya membuang kenangan lama?"


Uluran tangan Zeva terhenti, dia mendongak menatap Aaron yang kini menatap tajam padanya. Ya, tajam Tatapan yang sama di saat Zeva bertemu Aaron kembali.


Seketika Zeva mengepalkan tangannya, kecemasannya semakin bertambah.


"Ma-mas, kenapa kamu menatapku seperti itu? aku takut." Cici Zeva.


Raut wajah Aaron langsung berubah, dia tersenyum dan memasukkan foto itu ke dalam saku celananya.


"Kenangan lama kita akan menjadi sebuah pelajaran, kenapa harus di musnahkan? Sudahlah, ayo kita masuk." Ajak Aaron segera merangkul pinggang istrinya masuk ke dala. rumah.


Sebelum melangkah masuk, Zeva menyempatkan diri untuk menatap bekas bakaran itu.


"Ayo, lihat apa lagi? aoa hatimu tertinggal di sana hm?" Seru Aaron membuat Zeva kembali menatap suaminya.


"Enggak, hanya takut apinya masih tersisa." Jawab Zeva.


Keduanya kini masuk ke dala. rumah, Aaron menbawa istrinya itu ke kamar mereka.


"Tumben kamu pulangnya cepet mas?" Tanya Zeva sembari menatap suaminya yang malah berganti pakaian.


"Karena siang ini kita akan langsung pindah ke kediaman Smith, tadi mamah sudah menyuruhku agar segera kesana. Sepertinya dia sudah tidak sabar bermain dengan Marsha," ujar Aaron.


Aaron masuk ke ruang ganti, sedangkan Zeva. Dia memilih untuk membereskan baju-baju serta barang-barang lenting.


Di dalam ruang ganti, Aaron melepaskan kemejanya. Dia meletakkannya begitu saja di ranjang kotor dan beralih memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


Dia mengambil foto yang sempat ia simpan, dia menatap lama foto tersebut. Raut wajahnya terlihat sangat datar dan dingin.


Netranya beralih menatap sebuah kotak yang berada di pojokan, seperti sengaja di sembunyikan. Aaron menarik kotak itu, lalu membukanya.


Tampaklah banyak foto Zeva lainnya, dan dia taruh foto itu bersama dengan foto yang lain.


Tok!


Tok!


"Mas! masih lama gak?"


Aaron bergegas menyimpan kembali kotak itu, kemudian dia mengambil kaos dan jaket lalu memakainya dengan cepat.


Cklek!


"Ada apa?" Tanya Aaron.


"Tolong bangunkan Marsha, aku ke kamar mandi dulu." Pamit Zeva.


***


"Eh udah datang!" Sambut Laras melihat anak, memantu serta cucunya sudah sampai di kediamannya.


"MALCHAAAA!!!" Ariel berteriak keras, dia berlari kearah Marsha yang memang berjalan di gendong oleh Aaron.


Marsha menepuk bahu Aaron, sedangkan matanya masih melirik Ariel di bawah sana.


"Daddy, napa kita kecini?" Tanya Marsha.


"Kita kan akan tinggal di sini sayang, sampai adek lahir," ujar Aaron membuat Marsha melotot ke arahnya.


"TINDAL DI CINI?! BALENG CAPI INI?!" Tunjuk Marsha pada Ariel yang menatapnya dengan tatapan berbinar.


Zeva dan Aaron saling lirik, mereka belum mengabarkan hal ini pada anak mereka. Karena Aaron membawanya saat anak itu masih tidur, dan setelah bangun. Marsha sudah berada di mobil.


"Marsha gak kangen sama nenek?" Laras berusaha mendekati cucu perempuannya itu.


"Nda." Sahut anak itu dengan polos.


"Nenek sedih loh," ujar Laras menarik perhatian cucunya.


"Malcha nda cedih," ujar Marsha membalas perkataan neneknya.


Seketika Laras tertawa, dia mengusap rambut Marsha yang kini sudah terpotong pendek atas permintaan putrinya sendiri.


Laras mengajak mereka semua masuk, Adinda juga sudah menunggu di ruang tengah. Dia langsung menyambut Zeva dalam pelukannya.


"Syukurlah kalian tinggal disini, aku gak akan kesepian lagi," ujar Adinda.


"Tapi istriku jangan di suruh jaga si kembar yah kak!" Peringat Aaron.


Adinda memutar bola matanya malas, "Iya, bang Jacob sudah menyewa tiga baby sitter sekaligus buat si kembar. Tahu sendiri mereka aktifnya bagaimana." Terang Adinda.


Beberapa bodyguard membawa barang-barang Aaron dan Zeva ke kamar, hanya dua koper. Namun, yang banyak adalah mainan Marsha.


"Ya kak?" Sahut Zeva.


"Wajahmu pucat, apa kondisimu belum membaik pasca insiden itu?"


Seketika Aaron memperhatikan istrinya, dia segera menurunkan Marsha agar mudah mengecek kondisi Zeva.


"Iya, kamu pucat. Apa kamu merasa mual?" Tanya Aaron dengan khawatir.


"Aku gak dandan kak, mungkin keliatan pucat karena gak dandan." Tetang Zeva.


"Emang biasanya kamu gak dandan kan? tapi beneran loh, muka kami pucat." Ujar Adinda dengan yakin.


Zeva merasa biasa saja, dia merasa tubuhnya sehat-sehat aja.


"Nak, lebih baik bawa istrimu istirahat. Hamil muda gini lebih cepat lelah." Pinta Laras.


Aaron menurut, dia segera merangkul istrinya pergi ke kamarnya.


Cklek!


PErtama kalinya Zeva masuk ke dalam kamar Aaron yang berada di kediaman Smith. Kamar itu lebih bernuansa ala lelaki, dimana warna tembok yang di cat gelap dan barang-barang lainnya pun berwarna gelap. Namun, terlihat sangat aesthetic menurut Zeva.


"Kenapa? gak suka kamarnya yah?" Tanya Aaron.


"Bu-bukan, aku seperti merasa masuk ke kamar pria bujang." Sahut Zeva bercanda.


Aaron tersenyum, dia mendudukkan Zeva di ranjang empuknya.


"Sshh!!" Zeva kembali merasakan keram, seketika tangannya mencengkram erat lengan suaminya.


"Kenapa?" Aaron ikut duduk di samping istrinya, menatap Zeva yang tiba-tiba meringis menahan sakit.


"Perutku keram." Lirih Zeva.


Tak berselang lama, cengkraman Zeva melonggar. Perutnya sudah tidak sakit lagi. Aaron mencoba untuk mengambil minyak angin yang ada di nakas.


"Mas kasih minyak angin yah, kali aja rasa sakitnya reda." Izin Aaron.


Aaron mengoleskan minyak angin itu ke perut istrinya, Zeva tak lagi canggung ketika suaminya menyentuh perutnya tanpa penghalang apapun.


"Mas." Cicit Zeva.


"Hm." Sahut Aaron yang masih fokus mengusap perut Zeva di balik bajunya.


"Aku mau bilang kalau, tadi siang aku keluar flek." Ujar Zeva dengan nada suara yang sangat lirih.


Seketika geraman tangan Aaron terhenti, doa menatap istrinya dengan jarak dekat. Ibu jarinya masih setia mengusap perut Zeva, hingga membuat gelanyar aneh di hati Zeva.


Sebelum datang kesini, Zeva ingin memberitahu Aaron. Namun, karena buru-buru dia belum sempat mengatakannya.


"Kenapa bisa keluar flek?" Tanya Aaron dengan lembut, dia mencoba untuk tidak mendesak istrinya. Melihat mata istrinya yang sudah hampir menangis, Aaron tak tega.


Zeva menunduk, tak berani menatap wajah suaminya. Suaminya sangat baik, bahkan setelah dirinya melalukan kesalahan yang fatal. Suaminya masih bisa memperlakukannya dengan lembut.


"A-aku gak tau, perutku sakit. Lalu, keluar Flek." Jawab Zeva dengan suara bergetar.


Aaron menghela nafas kasar, dia menarik tangannya dari perut Zeva dan memandang istrinya itu dengan serius.


"Apa ada yang sedang kamu pikirkan? hingga membuat dirimu tertekan?"


"Apa?" Zeva justru terkejut dengan pertanyaan Aaron, bukankah pertanyaan Aaron hanyalah pertanyaan biasa? mengapa ia justru terkejut?


"Sejak kemarin aku perhatikan kamu lebih banyak diam dan menghindari tatapanku, apa ada salah yang ku lakukan?" Pertanyaan Aaron membuat Zeva terdiam cukup lama.


Sementara di tempat lain, terlihat Rio sedang menatap ke luar jendela. Di tangannya terdapat segelas minuman, dia menggoyangkan isi dalamnya.


Sebelah tangannya yang lain memegang foto pernikahan Zeva dan Aaron, dimana dirinya berada di samping Zeva lalu berfoto bersama.


Ketiga tersenyum lebar, layaknya pertemanan yang harmonis.


"Kamu telah merebut milikku, kan ku rebut kembali milikku dengan cara apapun." Lirih Rio dengan tatapan kosong.


PRANG!!


Rio kembali memecahkan gelas itu dengan tangannya, tangannya mengeluarkan darah segar.


Netra Rio beralih menatap foto yang berada di tangannya, lalu meneteskan darahnya


di foto pada bagian Aaron.


"Kamu pantas tiada Aaron. SEHARUSNYA AKU YANG BERSAMANYA, BUKAN KAMU!"


Rio terduduk di tempat tidurnya, dia masih menggenggam erat foto itu di tangannya.


"Sudah aku katakan, aku mencintai dia. Kenapa kamu malah merebut cintaku? kenapa?" Lirih Rio.


Rio merobek foto itu menjadi dua bagian, dimana dia menyingkirkan Aaron. Tersisa dirinya dan juga Zeva.


"Seharusnya, inilah yang benar. Rio dan Zeva."


****


Jangan lupa dukungannya. Besok tambah greget lagi, karema Rio bertemu dengan Aaron😆