Find Me Daddy

Find Me Daddy
Kedatangan Ervin



Sudah tiga hari Nathan tak mengizinkan Aizha keluar rumah. Maka dari itu, sejak kemarin Aizha hanya berada di kamarnya. Membaca buku ataupun bermain ponsel. Dirinya benar-benar bosan tak ada kegiatan. Namun, Nathan tetap tak mengizinkan putrinya keluar. Khawatir Aizha akan ke rumah sakit untuk menemui Ervin.


Di kamar, Aizha tak sendiri. Kali ini dia di temani oleh Mylo yang sedang memainkan kereta mainannya di karpet bulu, yang ada di kamar Aizha.


"Naik keleta api tuuutt tuut tuut, ciapa hendak tulun. Bayal dulu kalau mau tulun, enak kali nda bayal. Emang kau pikil ini keletamu." Celoteh Mylo sembari menggerakkan keretanya.


Mendengar celotehan adiknya, Aizha yang sedang memainkan ponsel dengan telungkup di atas ranjang pun mendelik sinis.


"Kamu yang nyuruh, kamu juga yang jawab. Heran sama dunia bocil. Berasa milik sendiri." Gumam Aizha sembari menggelengkan kepalanya.


Tampaknya, Mylo mendengar gumaman kakaknya itu. Matanya langsung menatap sinis Aizha hingga membuat Aizha terkejut karena tatapan adiknya.


"Apa?" Sewot Aizha.


"Citu cilik? Iya? Tinggal main, apa cucahna. Lewel kali jadi olang. Helan, cilik kali ngelihat olang bahagia."


Aizha langsung membulatkan matanya, "Heh! Kamu itu baru tiga tahun! Tapi bahasamu itu udah kayak tujuh tahun! Anak jadi-jadian kamu yah!" Sewot Aizha tak terima di bilang rewel.


Mendengar sindiran sang kakak, Mylo pun berdiri. Tangannya berkacak pinggang dengan matanya yang masih menatap tajam pada Aozha.


"Nda cadal catu bapak apa?!Anak jadi-jadian katana. Citu nda cadal dili yah! cetles kali lacana." Omel Mylo yang tak terima dengan perkataan Aizha.


TING TONG!


TING TONG!


Terdengar suara bell, membuat kedua adik kakak itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Saat Mylo akan beranjak berdiri, Aizha justru malah menyuruhnya.


"Sana liat siapa yang datang, kakak males gerak." Ujar Aizha dengan santai sembari memainkan ponselnya kembali.


Mendengar itu, seketika Mylo mendelik, "Nda ucah culuh, ini juga mau liat. Peculuh dacal!" Kesal Mylo.


Mylo meraih gagang pintu Aizha dengan menjijitkan kakinya, sebab tubuh kecilnya sulit menggapai gagang pintu Aizha yang lumayan tunggi untuknya. Setelah pintu itu terbuka, barulah Mylo keluar dari kamar Aizha.


Dengan langkah kecilnya, dia berjalan menuruni tangga dengan berhati-hati. Lalu, dia berlari menuju ke arah pintu utama. Ternyata, seorang maid sudah membukakan pintu untuk tamu itu.


"Silahkan masuk tuan, saya akan memanggil nyonya lebih dulu." Ujar maid itu mempersilahkan tamu itu masuk.


Mylo menghentikan langkahnya, matanya mengerjakan pelan saat melihat seorang pria tampan dengan mata berwarna biru tengah berdiri di ambang pintu. Anak itu terpukau dengan ketampanan pria itu.


"Hai, apa kamu adik dari ehm ... Aizha?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Ervin


Mylo mengangguk cepat, membuat pipi gembulnya bergerak naik turun. Mata bulatnya menatap Ervin dengan terkagum.


"Woaaahh!! Abang ganteng ini ciapa? Kok bica kenal cama kakak jelekna Mylo?" Tanya Mylo yang mana membuat Ervin mengerutkan keningnya.


"Kakak jelek? Kau tidak sadar jika kakakmu cantik?" Heran Ervin dengan terkekeh kecil.


Mylo menggelengkan kepalanya lucu, "Ndaa!! Kakak ijah jelek, molol telus keljana! Cuka makan, males gelak, cuka lebahan, cuka pamel, malas mandi, jolok. Macih bilang kakak ijah tantik? Cepeltina, mata abang halus di cuci."


Perkataan Mylo membuat Ervin membulatkan mulutnya tak percaya, bagaimana bisa seorang adik membongkar keburukan kakaknya sendiri di hadapan seorang pria tampan. Jujur saja, Ervin syok dengan perkataan anak kecil itu.


"Bukankah ... itu aib kakakmu?" Ringis Ervin.


Mylo menggelengkan kepalanya, "Balu cebagian. Kakak na ganteng, janan campe jadi kolban. Kakak ijah tuh jee ...,"


"Loh, siapa ini?"


Ervin tersentak kaget, begitu pun dengan Mylo. Tatapan keduanya mengarah pada Marsha yang datang dengan senyuman hangatnya.


"Kamu siapa?" Tanya Marsha dengan mengerutkan keningnya, matanya tertuju pafa Ervin yang tersentak sejenak ketika melihat Marsha.


"Pantas Aizha cantik, mamanya saja masih terlihat sangat cantik." Batin Ervin.


"Halo ...." Seru Marsha sembari melambaikan tangannya.


"Eh iya tante, saya Ervin." Seru Ervin memperkenalkan diri.


"Ka-kamu Ervin calon Aizha?" Tanya Marsha dengan tatapan tak percaya.


"Eh?! Calon ... jadi, tante setuju saya menikah dengan Aizha?!" Seru Ervin dengan tatapan berbinar.


Mendengar itu, Marsha menganggukkan kepalanya, "Kalau orangnya setampan kamu mah tante setuju. Dengar, menikah dengan pria tampan itu sangat bagus. Buat memperbaiki keturunan. Lihat matamu, berwarna biru ... Seperti pria bule. Eh, apa kau memiliki keturunan bule?!" Seru Marsha dengan heboh.


Ervin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia merasa canggung dengan pujian Marsha.


"Aku tidak tahu tante, aku hanya seorang diri," ujar Ervin.


"Oh, begitu kah? Maaf yah, anggap saja tante seperti Mama kamu yah." Seru Marsha, dia berpikir jika Ervin hidup sebatang kara. Tak berpikir jika Ervin tak mengenal siapa dirinya.


Tatapan Marsha beralih menatap Mylo yang masih menatap ke arah Ervin dengan tatapan berbinar.


"Mama, calikan mata yang milip kayak abang ganteng." Seru Mylo dengan menarik dress sang mama sembari menunjuk ke arah Ervin.


"Eh, gak ada yang jual." Pekik Marsha.


"Ekheee!! mau beli pokokna! mau beliii!!" Rengek Mylo.


"Harus ada turunannya, mungkin abang ganteng ini papah nya punya mata biru. Kalau Papa Mylo kan enggak." Bujuk Marsha.


Mylo menghentikan rengekannya, keningnya mengerut. Otaknya tengah berpikir keras saat ini.


"Kalau papa na di ganti, mata Mylo juga belubah nda?" Tanya Mylo dengan polosnya.


Marsha menepuk keningnya, "Kalau bapakmu di ganti, ya gak akan jadi kamu nak ... nak. Sudah! Panghil kak Aizha, suruh siap-siap. Mama akan menelpon papa mu, menyuruhnya untuk segera pulang."


Mylo menurut, dia berlari ke arah kamar Aizha untuk menyuruh sang kakak bersiap. Sementara Marsha, dia mengajak Ervin untuk masuk ke ruang tamu.


"Ayo duduk dulu, sebentar lagi papa nya Aizha pulang." Ujar MArsha mempersilahkan Ervin duduk.


"Terima kasih tante." Sahut Ervin dengan sopan.


"Sama-sama, di minum itu kopinya. Kan bibi sudah bawakan tadi." Pinta Marsha kembali.


"Iya Tante." Jawab Ervin dengan gugup.


Marsha tersenyum lebar, "Punya mantu bule, mimpi apa aku semalem. Gak papa deh dulu aku nikah gak dapet bule, yang penting sekarang aku dapet mantu bule. Memang rezeki gak akan kemana." Gurau MArsha dalam hatinya.


Sementara di kamar Aizha, tampak Mylo mendatangi Aizha yang sedang memainkan ponselnya di kasur. Gadis itu belum mandi sejak tadi, penampilannya pun masih berantakan.


"Kakaaaakk!! Cepat mandiii!!" Pekik Mylo.


Aizha melirik sekilas, "Apaan sih! Nanti lah, ngapain mandi sekarang. Nanti mandinya di gabung aja sama malem." Jawab Aizha dengan santai..


"Ish!! Ada abang ganteng loh di bawah!! Culuh mama mandi cepetan!" Pekik Mylo.


"Semua abang pun kamu bilang ganteng, kucing pun kamu bilang ganteng. Apa lah yang enggak ganteng di matamu dek." Kesal Aizha.


Respon Aizha, membuat Mylo kesal. Wajah bulatnya kini sudah memerah menahan kekesalan dalam hatinya.


"Yacudah kalau kakak nda mau ketemu abang Elpin." Pasrah Mylo sembari berbalik, berniat beranjak pergi.


Mendengar nama Ervin, sontak Aizha melototkan katanya.


"Siapa tadi?!" Pekik Aizha.


Langkah Mylo terhenti, dia menoleh pada Aizha yang beranjak mendekatinya.


"Elpin." Cicit Mylo.


"Ervin?! Kenapa dia bisa ada di ...,"


"ASTAGAAA!! AKU LUPAAA!!"