
Nathan tengah memperhatikan luka bekas gigitan di tangan putrinya. Dia ingin marah, dan kesal. Tapi, sudah terlanjur terjadi. Andre sudah meminta maaf pada Nathan, karena sudah lengah menjaga Aizha.
Andre dan Nathan kini sedang duduk di sofa ruang tengah, sedangkan Aizha berada di pangkuan Nathan. Bocah gembul itu tengah memakan cemilannya.
"Kok bisa di gigit si?" Tanya Nathan pada sang opa.
"Iya, opa gak tau kalau anak teman opa ini autis" ujar Andre.
"Kok bisa opa gak tau?" Bingung NAthan yang Nathan tahu. Anak autis terlihat dari ciri fisiknya.
"Cucu teman opa ini anaknya kelihatan normal, malah ganteng banget lagi. Tapi, dia autis. Opa juga kurang tahu. Memang pas di ajak ngobrol anak itu gak bisa fokus dengan lawan bicaranya." Terang Andre.
Saat asik berbincang, Marsha datang membawakan teh hangat untuk keduanya.
"Gak papa than, udah terlanjur juga. Kakeknya juga udah minta maaf," ujar Marsha menangani kekesalan Nathan.
"Ya tapi tetep aja aku gak terima! Nih kulit dia, aku kasih perawatan yang bagus dan mahal. Biar apa? Biar mulus, udah mulus ... eh malah di gigit. Sedih kali hatiku loh."
Andre memutar bola matanya malas, drama sekali papa muda satu di depannya ini.
"Lebay! Anakmu aja di gigit gak nangis kok!" Kesal Andre.
MArsha duduk di samping suaminya, dia meraih Aizha dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Aizha memang jarang nangis, opa. Dia menangis kalau perutnya lapar saja," ujar Marsha.
"Oohh begitu?"
Marsha mengangguk, "Beda lagi kalau Nadira sama Nayara, di tinggal sendiri aja nangis." Jelas Marsha.
"Tukang molor mereka berdua mah." Sahut Nathan.
"Kayak kamu." Seru Andre.
"Mana ada!!" Pekik Nathan tak terima.
Andre mengambil cangkir teh nya, dia menyesap sedikit dan kembali menaruhnya keatas tatakan.
"Oh ya, Nathan. Besok opa pulang, sekalian bawa Marsha dan si kembar." Ujar Andre membuat Nathan melotot seketika.
"Aku udah bilang kakek, kalau istriku gak boleh pulang kok ya!!" Kekeuh Nathan.
"Ck, anak ini ... mertuamu itu si Aaron, sudah ribuuuttt saja karena Marsha gak balik balik," ujar Andre dengan kesal.
Marsha mengerutkan keningnya, "Loh, daddy malah yang suruh aku disini."
"Eh?!" Raut wajah Andre berubah, dia melirik takut ke arah Nathan yang menatapnya tajam.
"Opa ngada-ngada kan?!" Pekik Nathan dengan kesal.
"Apa salahnya? Karena kamu sengaja buat Cicit opa jauh!" KEsal Andre.
Marsha terkekeh, dia menatap putrinya. Cemilan yang ada di genggaman Aizha sudah habis. Kini, anak itu menggosok hidung mungilnya, yang menandakan jika dirinya mengantuk.
"Minggu depan Marsha pulang kok kek," ujar Marsha membuat Nathan seketika melototkan matanya.
"SWEETYYY!!" Rengek Nathan.
"Loh, kamu lupa? Minggu depan kan acara lamarannya Bang Azka sama Azura,"
Nathan mengerjapkan matanya, dia berusaha mengingat undangan itu.
"Azura baru lulus SMA itu kan?" Tanya Nathan mencoba mengingat tentang Azura yang pernah datang ketika acara penyambutan kelahiran si kembar.
"Iya, udah kuliah dia sekarang. Bang Azka kayaknya udah kebelet nikah, takut Azura di ambil orang. Karena om Rio belum kasih izin, jadi lamaran dulu. Biar di ikat katanya." Terang Marsha.
"Bagus itu, gercep. Takut di ambil orang." Sahut Andre.
"Kayak aku kan opa?" Ujar Nathan sembari menyisir rambutnya ke belakang.
"Kamu mah, di paksa warga. Kalau engga, Marsha mau opa jodohin sama sepupumu." Celetuk Andre membuat raut wajah Nathan berubah datar.
.
.
.
"Akhilnaaaa pulang dugaaa ... pacti numpuk kali pe el ku." Gumam Javier ketika masuk ke dalam mobil.
"Varo, pasangkan sabuk pengamanan Vier." Titah Aaron yang duduk di bangku supir.
Varo mengangguk, dia memasangkan sabuk pengaman Javier. Berguna juga, agar anak itu tidak riweh saat macet.
"Daddy, mampil beli ketoplak yah." Pinta Javier.
"Ketoprak terus. Baru sembuh juga." Sahut Varo yang kini duduk di sebelah Aaron. Jadi lah Javier duduk sendiri di belakang.
"Cilik aja cih! Kemalen minta ketoplak di kacihna calad, nda kacihan cama Viel yang cakit. Liat abang daddy! Maca kemalen Viel di kacih calad cayul. Nda lulus cekolahna ya, maca nda bica bedakan mana calad mana ketoplak."
"Heh anak kencur! masih untuk abang kasih makan salad. Dari pada kasih makanan burung, mau?!" Sewot Varo.
Aaron yang akan menjalani mobilnya pun tertunda karena perdebatan keduanya yang sangat menganggu dirinya.
"Bisa diam tidak? Mau jalan sekarang atau tahun depan?" Tegur Aaron, membuat keduanya merapatkan rapat-rapat bibirnya.
"Dan Vier, gak ada ketoprak sampai seminggu kedepan. Pulihkan dulu suaramu itu," ujar Aaron.
Suara Javier memang berbeda dari biasanya, karena sakit membuat suara JAvier bindeng. Namun, tak menghalangi anak itu untuk terus berceloteh.
Setelah keduanya tenang, Aaron pun menjalankan mobilnya. Awalnya, keadaan aman-aman saja. Sampai Javier melalukan satu hal yang membuat Aaron menginjak rem.
"DADDY!! CETOOOPP!!! CETOOPP!!"
Ckkiiitt!!
Aaron menghentikan mobilnya, membuat pengendara di belakangnya mengklakson dirinya.
"Apa sih Vierrr!!" Greget Aaron.
"Tadi ada toko ecklim balu, beli catu glatis catu. Ke sana yuk daddy."
Raut wajah Aaron berubah datar, Varo yang melihatnya pun pura-pura tak menyadari nya.
"Kalau istri baru, satu gratis satu daddy mau!" Sangking kesalnya, Aaron berkata seperti itu.
"Daddy!" Varo tak terima, dia tak ingin sang bunda di poligami. Matanya menatap tajam Aaron uang terkekeh di buatnya.
"Bercanda."
.
.
Setibanya di rumah, Javier langsung berlari ke kamarnya. Zeva yang mengetahui putranya sudah pulang, segera datang menghampirinya.
"Vier, sudah sembuh sayang?" Tanya Zeva, dia jiga mengecek suhu tubuh Javier dengan punggung tangannya.
"Cudah, Viel mau bobo." Ujar Vier sembari menaiki ranjangnya.
Zeva membenarkan posisi anaknya saat akan tidur, mungkin karena tubuh Javier belum fit benar. Sehingga, memutuskan untuk tidur. Selain itu, dia kesal dengan sang daddy.
Tak lupa, Zeva menarik selimut hingga bahu sang putra. Dan juga mengatur suhu AC agar putranya tidak kedinginan.
"SAYAAANGG!!"
Mendengar panggilan suaminya, Zeva bergegas menghampiri kamarnya. Dia melihat tempat tidur sudah penuh dengan kotak cel4na dalam.
"Kamu ngapain mas?" Bingung Zeva.
"Ini apa?" Tanya Aaron menunjuk celananya.
"Celana, kan kamu minta di belikan cel4na dalam si?" Bingung Zeva.
Aaron mengusap wajahnya, dia mengangkat satu kotak cel4na dalam yang masih tersimpan rapih.
"Yang, kamu belikan aku warna hitam semua?" Tanya Aaron dengan tatapan lesu.
"Ya emang kenapa?" Zeva belum mengerti maksud suaminya.
"Kenapa sama semua gitu lohhh, orang bakal mikirnya aku gak pernah ganti cel4na dalam." Greget Aaron. Perkataan Aaron, seketika membuat mata Zeva melotot. Menyadari apa yang Aaron ucapkan, pria itu pun panik.
"SIAPAAAA YANG MIKIR BEGITU HAAAH?!"