
Nathan benar-benar mengurusi ketiga bayinya, dia membiarkan Marsha melakukan hal yang ia mau. Bukannya bersantai, Marsha malah mengikuti Nathan karena perasaan nya was-was.
"Udah sana kamu! Tiduran kek, nonton kek! Mau ke mall? Bawa kartuku." Titah Nathan.
Marsha menggeleng, "Gak lah, aku gak tenang ninggalin mereka di rumah.
Nathan yang sedang memegang kedua botol susu milik Aizha dan Nadia pun mendongakkan kepalanya. Bisa-bisanya Marsha berkata demikian, padahal dia sudah mengorbankan waktunya.
"Sayang dengar, lakukan apa yang kamu suka dari dulu. Aku yang akan membantu kita menjaga bayi jita." Titah NAthan.
"Aku suka jaga bayi kita," ujar Marsha dengan polosnya.
Ingin rasanya ia menangis saat ini karena jawaban MArsha, akhirnya dia berteriak memanggil sang mami agar membawa Marsha bersamanya.
"MAAAAAMM!! MAMIIII!!"
Tak lama, datanglah Sofia dengan tatapan kesal. "Apa sih! kerjaannya cuman teriak aja!" Ketus Sofia.
"Mam, liat mantunya. Ajakin ke mall gih, bawa kartuku. Terserah kalian mau belanja apapun,"
Rait wajah kesal Sofia berubah terang, dia menatap Marsha dan bergegas menghampirinya.
"Ayo, kita ke salon langganan mami." Seru Sofia.
"Tapi ... kalau mereka haus gimana?" Tanya Marsha.
"Kamu kan sudah pompa asi, cukup itu sampai malam," ujar Sofia.
"Udah ayo, kamu harus memperhatikan penampilan juga. Untuk suami kamu, iya kan thaann."
Marsha memegang pipi nya yang memang lebih gembil dari sebelum dia hamil dan melahirkan. Tatapannya beralih pada perutnya yang masih terlihat sedikit buncit.
"Apa aku selama ini lupa penampilan?" Batin Marsha.
"Udah ayo, siap-siap sana! Mami akan ajak kamu ke salon langganan mami, kita treatment di sana. Biar kamu makin caaaannntiiikk!!" Seru Sofis.
Akhirnya Marsha mengangguk, dia mengambil tasnya dan juga kartu yang Nathan maksud. Dia memiliki uang, dari kiriman sang daddy. Hanya saja, dia ingin menghargai Nathan sebagai suaminya.
"Nathan, aku pergi dulu. Kalau mereka rewel, telpon aku." Pamit Marsha.
"aiya! iya!" Seru Nathan.
Akhirnya, Marsha pun pergi. Nathan yang melihat kepergian istrinya sekali lagi memastikan agar istrinya itu benar-benar pergi ke mall bersama maminya.
"Haaah, sudah pergi dia." Gumam Nathan saat mengintip di balik jendela, mobil yang istri dan maminya pakai keluar dari gerbang rumah mereka.
Nathan bergegas mengambil ponselnya, dia lalu menghubungi seseorang.
"Ya halo, saya butuh tiga orang jasa perawat bayi. Ya, yang professional pokoknya. Saya mau mereka datang setengah jam ke depan, ke kediaman Alvarendra. Saya tunggu."
Tuutt!!
Nathan tersenyum cerah, "MArsha pulang, di bilang suami hebat aku nantinya!" Pekiknya dengan tersenyum cerah.
.
.
.
Sehabis Javier menangis dan mengadu pada Aaron, dia tengah duduk anteng dengan ketoprak yang ada di pangkuannya. Matanya memerah sembab, butuh perjuangan untuk mendapat ketoprak itu.
"Nangis ... nangis terus!" Sindir Varo.
Javier yang sedang makan pun tersentak kala mendengar ledekan abangnya. Dia melengkungkan bibirnya ke bawah bersiap akan menangis.
"hiks hiks. .. HUAAA!!"
Tangisan keras Javier membuat Aaron yang sedang menemani istrinya memandikan si kembar pun akhirnya keluar untuk melihat keberadaan putranya itu.
"Apa ini Varo? Adiknya di nangisin lagi." Tegur Aaron.
Aaron menghampiri Javier, dia mengusap wajahnya putranya yang masih menangis. Di mulutnya masih terdapat lontong yang belum anak itu kunyah.
"Dih enggak, anak daddy aja yang lebay. Mau ketoprak aja harus nangis." Sewot Varo.
Aaron menghela nafas pelan, pusing sudah kalau Javier menangis.
"Kenapa lagi mas?" Zeva datang dengan tergesa-gesa, dia meninggalkan si kembar sebentar untuk melihat keadaan Javier.
"Noh, di ledek sama bujangmu." Ketus Aaron.
Zeva menatap Varo yang seakan tak peduli jika Javier menangis, pasti putra remajanya itu tengah badmood. Ketika badmood, Varo akan menjaili adiknya agar moodnya kembali baik.
"Yasudah, ayo Vier makannya di kamar bunda aja." Ajak Zeva.
Zeva pikir, Javier akan kembali menggenggam tangannya. Namun, putranya malah kembali ke ruang tengah sembari membawa mainannya itu.
"ABANG NDA ADA HATI DACAAAALL!!! LACAKAN!!!"
BRUAK!!
Javier melempar mobil-mobilannya tepat ke arah wajah Varo, membuat Aaron yang ada di sana pun turut terkejut. Perbuatan putranya itu sangat cepat hingga dia tidak bisa memcegahnya.
"VIEEERRR!!!"
Vier buru-buru berlari pergi, wajahnya terlihat panik. Takut sang abang mengejarnya. Sedangkan Zeva, dia melongo melihat putranya yang habis menimpuk abangnya itu.
Aaron melihat hidung anaknya yang mengeuarkan darah, dia buru-buru mengambil tisu dan meminta Varo untuk mendongak.
"Kenceng banget yah lemparnya sampai mimisan?" Ringis Aaron.
"Iya, gak sakit si. Cuman kena hidungnya aja tadi." Jawab Vari dengan enteng.
Zeva datang menghampiri Javier yang sudah berada di dalam kamarnya. Terlihat Javier tengah melihat adiknya lewat sela-sela box.
"Javier, kok kayak gitu sama abangnya?" Tanya Zeva sembari mendekat pada putranya.
Javier menatap Zeva sekilas, dan kembali menatap kedua adiknya yang sibuk memainkan tangan.
"Kecal kali hatina Viel, di ledekna abang telus. Bial tahu laca!" Kesan JAvier.
Zeva menarik tangan putranya itu, lalu dia membawa Javier untuk duduk di karpet. Dia menaruh piring ketoprak milik Javier di pangkuan anak itu.
"Dengar bunda, lain kali gak boleh seperti itu. ABangnya di sayang, jangan di pukul."
"Di cayang gimana? Mukana minta di pukul begitu." Kesal Javier.
"Vier ... astaga, dengerin bunda dulu. Jangan begitu sama abang, gak baik."
"Ledek Viel baik memangna? Nanti Viel ledek abang telus kalau gitu, kan kata bunda baik."
Zeva memejamkan matanya, ada saja jawaban putranya itu.
"Yasudah, habiskan ketopraknya. Habis ini minta maaf sama abang." Tegur Zeva.
Selera makan Javier hilang, dia menaruh piringnya begitu saja dan bergegas keluar dari kamar Zeva.
"JAVIER!! KAMU MAU KEMANA?! KETOPRAKNYA BELUM HABIS!!" Seru Zeva tapi Javier menggubrisnya.
"Hais, anak itu." Lirih Zeva.
Selang siang, Zeva, suami dan anaknya sudah ada di meja makan. Mereka akan makan siang, tapi Javier tak ada di sana.
"Javier mana yang?" Tanya Aaron.
"Gak tau, paling lagi di kamarnya sama di ruang bermain. Tadi dia ngambek, ketopraknya sampai gak di habisin."
"Ada-ada saja anak itu, biarkan saja! Nanti kalau lapar dia pasti menangis."
Belum juga Aaron makan, ponselnya berdering. Di lihat, nama sang mama tertera di sana. Tanpa berlama-lama, Aaron bergegas mengangkatnya.
"Halo kenapa mah?" Tanya Aaron.
"Aar! gak usah cari si Javier yah!" Sery LAras.
"Ha? memangnya kenapa mah? putraku ada di rumah, ngapain di cari?" Bingung Aaron.
" Putramu ada disini."
"HAH?!" Zeva fan Varo turut penasaran dengan apa yang Laras katakan pada pria itu.
"Gak mungkin ma, orang dia lagi main kok!" Seru Aaron.
"Lah gak percaya, dia kesini naik ojek. Katanya kamu gak kasih dia makan, makanya dia pergi ke rumah mamah. Udahlah! jangan kamu jemput!"
"Ta-tapi ...,"
Tuuutt!!
Sedangkan Javier, anak itu asik di pangkuan Adinda. Dia Tengah di suapi makan oleh wanita cantik itu.
"Jangan pulang, disini aja yah." Bujuk Adinda.
"Viel nda mau pulang, dicini aja cama onty tantik. Bial makan teous." Sahut Javier dengan senyum memgembang.
____
Jangan lupa like dan komennya🥳🥳