Find Me Daddy

Find Me Daddy
Abang ketoplak(S2)



"Kau, apa kabar?!" Seru Mario dengan senyum menghiasi wajah tampannya.


"Aku baik." Sahut Marsha.


"Kau ... sendiri?" Tanya Mario sembari menatap sekeliling.


"Tidak, aku bersama dengan para temanku." Jawab Marsha.


Mario mengangguk, senyumnya tak pernah luntur.


"Oh ya, selama atas pernikahannya pak Mario. Maaf, aku tidak bisa datang. Karena saat itu, aku tengah berlibur bersama teman teman ku," ujar Marsha.


Mario adalah dosen Marsha, keduanya cukup dekat dulu. Hingga banyak rumor yang mengatakan jika keduanya memiliki hubungan. Namun, semuanya di patahkan ketika Mario menyebarkan undangan.


"Tidak apa-apa, datanglah setelah istriku melahirkan." Sahut Mario.


"Wah, selamat pak. Anda akan menjadi seorang ayah."


Mario dan Marsha saling melempar senyum, keduanya tak memperdulikan pemuda yang menatap mereka dengan sorot mata yang kesal.


.


.


.


Javier memasuki rumah sembari mengelus perut buncitnya, matanya mencari keberadaan sang daddy. Namun, dirinya hanya melihat sang abang yang sedang bermain ponsel di ruang tengah.


Tak menunggu lama, Javier pun menghampiri abangnya itu.


"Abang." Panggil JAvier.


"Hm." Sahut Varo tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Di cali cama abang ketoplak,"


"Ha?" Tentu saja, Varo bingung dengan pemberitahuan Javier.


"Ngapain?!" Pekik Varo, perasaan dirinya tak kenal dengan tukang penjual ketoprak langganan sang adik.


"Ya nda tau, campelin aja cana!" Titah Javier dengan ketus.


Dan parahnya lagi, Varo menuruti permintaan sang adik. Dia lalu keluar menghampiri tukang ketoprak itu.


Setelah kakaknya pergi menjumpai tukan ketoprak, Javier pergi ke kamar orang tuanya dengan senyum mengembang.


Cklek!


"Bundaaa!! cucu!" Pinta Javier pada Zeva yang sedang selonjoran di ranjang sembari memangku kepala suaminya.


"Tadikan baru aja minum susu, nanti malam lagi yah." Bujuk Zeva.


"Pelit kali loh! daddy udah mickin yah!" Pekik Javier menatap kesal ke arah Aaron.


"Eh nih anak yah, miskin ... miskin. Susu kamu itu mahal loh! lebih mahal dari kopi daddy. Mau di kasih susu kental manis kamu hah?! Susu terus kerjanya, badan udah segede gentong begitu. sama tikus aja takut,"


Hidung Javier kembang kempis, dia merasa sangat kesal. Apalagi, mendengar perkataan Aaron yang menyebutnya gentong. Dia paling tidak suka di bilang gentong, maupun gendut.


"Daddy tu ..,"


Brak!


Varo datang dengan wajah kesal, membuat ketiganya terlonjak kaget. Melihat Varo yang datang, Javier buru-buru berlari ke arah sang bunda.


"He! Anak pungut! bener-bener lo yah! lo yang makan, gue yang di suruh bayar." Omel Varo menatap kesal kearah Javier yang bersembunyi di belakang tubuh sang ibu.


"Ada apa ini Varo?" Bingung Zeva.


"Dia noh! abis tiga piring ketoprak, mana belum bayar lagi! dia bilangnya Varo di cari tukang ketoprak Ternyata suruh bayar punya dia!"


Aaron sontak langsung terduduk, dia dan istrinya menatap putra bungsu mereka dengan tatapan melotot.


"Calah bunda, nda kacih Viel cucu. Tau lapel, duga." Cicit Varo.


.


.


Marsha berada, wanita itu tengah uring-uringan. Sebab, dua hari Nathan tidak bisa di hubungi. Bahkan, suaminya itu sama sekali tak mengunjunginya.


"Nathan kemana sih? Apa dia marah yah karena perkataan ku pas di toilet." Gumam Marsha.


Marsha mendadak murung, dia duduk di tepi ranjang sembari menatap ponselnya.


"Sha."


Marsha menoleh, di lihatnya Zeva datang menghampirinya dengan senyuman lembut.


Dengan lesu, Marsha menggeleng. Boro-boro bilang, menjawab telponnya saja tidak.


"Kenapa?" Melihat raut wajah sedih putrinya, membuat Zeva heran.


"Kayaknya Nathan sibuk bun, mungkin dia lagi belajar atau kerja kelompok sama temannya." Cicit Marsha.


Mendengarnya, Zeva pun tersenyum tipis. Jadi, itu masalahnya. Yang membuat putrinya menjadi sedih seperti ini.


"Yasudah enggak papa, bunda temani. Ayo, mumpung daddy kamu lagi libur. Jadi, bisa jaga Javier di rumah." Ajak Zeva.


"Tunggu Nathan punya waktu luang aja bun," ujar Marsha.


"Eh, jangan dong. Kelamaan, nanti kita gak tau bagaimana kondisi kandungan kamu," ujar Zeva.


Akhirnya Marsha menurut. Dia dan Zeva sama-sama pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil dan juga supir yang mengantar mereka.


Sesampainya di rumah sakit, Marsha langsung mengambil nomor antrian. Tunggu menunggu, sebentar lagi namanya akan terpanggil.


"Hamil juga mbak?"


Seorang wanita hamil di sebelahnya menyapa Marsha, kandungan wanita itu sudah besar.


"Eh iya, lagi hamil muda." Sahut Marsha dengan ramah.


"Suaminya ... gak ikut?" Tanya wanita itu.


Marsha menggeleng kaku, kebanyakan ibu di sana membawa suaminya. Membuat Marsha pun merasa iri.


"Suaminya harusnya di suruh ikut mbak, biar dapat edukasi juga dari dokternya bagaimana menangani mood ibu hamil misalnya. Sesibuk-sibuknya, harus menyempatkan waktu," ujar Wanita itu.


"Suami saya lagi sibuk mbak, makanya sekarang di temani bunda saya dulu," ujar Marsha.


Wanita itu tak bicara lagi, hingga akhirnya nomor Marsha terpanggil. Dia bergegas beranjak menuju pintu ruangan dokter.


Cklek!


Saat Marsha ingin masuk, pintu terbuka lebih dulu dari dalam.


Degh!!


Marsha dan Zeva sama-sama terkejut melihat Nathan bersama seorang wanita keluar dari ruang dokter kandungan.


Bukan hanya keduanya saja yang terkejut, Nathan pun sama hal nya.


"Nathan, ayo. Aku sangat lemas sekali, ingin buru-buru pulang."


Marsha menatap wanita di sebelah Nathan dengan netra berkaca-kaca.


Nathan mengangguk kaku, dia sempatkan diri untuk menatap istrinya yang juga tengah menatapnya.


"Ayo."


Nathan pun pergi dengan wanita itu, yang tak lain adalah Claudia. Sedangkan Marsha dan Zeva, mereka masih diam di tempat karena masih syok bertemu NAthan.


"Dia ... dia Nathan kan?" Tanya Zeva pada putrinya.


Marsha hanya diam, dengan tatapan yang rumit.


Sedangkan Nathan, dia mengantar Claudia sampai ke dalam mobil. Hatinya sangat gelisah, apalagi melihat tatapan kaget Marsha terhadapnya.


"Nathan, kamu tidak ikut masuk?" Heran Claudia.


Nathan menggeleng, "Aku sudah mengantarkan kakak untuk periksa kandungan. Sekarang, pulanglah sendiri! seharusnya suamimu yang mengantarkan mu, kenapa kalian malah menyulitkan ku!" Kesal Nathan.


"Maaf." Lirih Claudia.


Nathan mengusap kasar wajahnya, dia menatap ke arah supir. "Jalan pak." Titah Nathan.


Nathan bergegas menjauh dari mobil, dia menatap kepergian mobil Claudia yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Marsha." Nathan bergegas kembali saat terlintas nama sang istri di benaknya.


Tanpa mengetuk pintu, Nathan langsung membuka ruangan dokter kandungan itu. Hingga membuat orang yang ada di dalamnya tersentak kaget.


"Marsha." Nathan tak menemukan Marsha di dalam ruangan dokter kandungan itu, dia ingat betul jika Marsha masuk ke dalamnya. Tak mungkin, secepat itu istrinya pulang.


"Maaf, anda cari siapa?" Tanya dokter itu dengan ramah.


"Dok, pasien atas nama Marsha?" Tanya Nathan.


"Oh, ibu yang sebelumnya. Dia gak jadi cek kandungan karena mendadak membatalkannya."


"Apa?!"