Find Me Daddy

Find Me Daddy
Drama berangkat sekolah



Seminggu sudah sejak pesta itu, saat ini semuanya kembali pada aktifitas awal. Dimana Zeva mengantarkan Aaron ke mobil, karena pria itu akan berangkat ke kantor.


"Kamu baik-baik di rumah yah, mas berangkat dulu. Kalau semisal perut kamu sakit, panggil mamah." Pinta Aaron sembari mengelus pipi istrinya.


"Iya mas." Sahut Zeva.


Aaron memeluk sejenak istrinya, dan menc1um kening serta pipinya. Tak lupa, Aaron memberikan k3cupan pada perut sang istri.


"MARSHA!! CEPETAN!! DADDY MAU BERANGKAT SAYANG!!" Teriak Zeva.


Marsha menghampiri mereka dengan wajah tertekuk sebal. Di umurnya yang sudah menginjak usia 4 tahun, bocah gembul itu kini sudah bersekolah di sebuah playgroup, yang terletak di samping TK si kembar.


"Kenapa manyun gitu?" Tanya Aaron dengan bingung.


Bukannya menjawab, Marsha malah memasang wajah sedih. Zeva segera merangkul putrinya dan mengelus pipi bulatnya.


"Dia pengennya bareng si kembar, cuman karena bangunnya kesiangan jadi di tinggal. Ngambek sekarang," ujar Zeva.


Aaron tersenyum, dia mengulurkan tangannya. "Ayo, nanti pulang sekolah, Daddy yang jemput." Ajak Aaron.


Akhirnya Marsha mau ke sekolah dengan suasana hati yang buruk, dia pun berangkat dengan sang daddy.


Sesampainya di sekolah, Aaron mengantar putrinya sampai ke kelas. Di depan kelas, mereka berdua berpapasan dengan guru Marsha yang kebetulan lewat.


"Tuan Aaron, Marsha." Panggil guru Marsha yang terlihat masih muda.


Aaron menoleh, begitu pun dengan Marsha. Marsha menatap tak suka pada gurunya itu.


"Ayo macuk aja daddy!" Marsha menarik tangan Aaron dengan sekuat tenaga.


Aaron pun bingung, dia menarik Marsha agar tak masuk ke dalam kelas lebih dulu.


"Sebentar sayang. Daddy mau bicara sama guru Marsha dulu." Bujuk Aaron dengan lembut.


Marsha merengut sebal, tapi matanya mendelik ke arah sang guru.


"Ada apa bu?" Tanya Aaron dengan datar.


Guru Marsha terlihat gugup, dia membenarkan blazernya yang sedari awal memang sudah rapih.


"Begini tuan, Marsha ini butuh seorang guru pembimbing. Sebab, dia kurang memperhatikan pelajaran. Jadi, saya menawarkan diri untuk menjadi guru pembimbing Marsha," ujar guru Marsha.


Kening Aaron mengerut, dia menatap putrinya yang menatap sinis gurunya.


"Betul apa yang guru Marsha katakan?" Tanya Aaron dengan lembut.


"Ehm, Marsha sangat jauh tertinggal dari teman-temannya. Dia kurang menanggapi apa yang saya jelaskan."


Aaron kembali menatap guru Marsha dengan tatapan datar. "Saya sedang bertanya pada putri saya, bukan pada anda." Dingin Aaron.


Guru Marsha terlihat salah tingkah, dia sungguh malu saat ini.


"Dia ngajalna nda benel, di culuh buang campah. Ngapuc papan tulis, di culuh nyapu. Apana yang belajal?" Kesal Marsha.


Aaron lagu-lagi di buat bingung, dia menatap guru Marsha yang kelabakan di buatnya.


"Memang itu masuk ke dalam pelajaran, sebab anak murid akan lebih konsentrasi dalam mengambil perintah. Tak hanya itu, saya juga mengajarkan Marsha membaca dan menulis. Tapi, anak anda sering sekali mengosongkan buku tulis nya." Terang guru tersebut.


Aaron menghela nafas pelan, "Pertama-tama, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada anda dan sekolah mengenai tingkah putri saya." Perkataan Aaron membuat guru Marsha tersenyum lebar.


"Tapi, ada yang ingin saya sampaikan. Saya menyekolahkan putri saya, bukan untuk di ajarkan sebagai pembantu. Dan untuk membaca, putri saya sudah bisa membaca. Mungkin hal yang anda ajarkan membuat dia bosan. Bahkan dia sudah bisa berhitung bilangan puluhan, dia tidak butuh guru pembimbing. Karena istri saya, selama ini yang mengajarinya."


Guru Marsha tercengang, dia menatap Marsha yang menatapnya tajam.


"O-oh maaf, saya tidak tahu. Tapi, u-umurnya ...,"


"Umurnya memang masih empat tahun, tapi jangan remehkan dia. Saya sengaja menaruhnya disini, agar dia bisa bersosialisasi dengan yang lain dan bermain dengan anak yang seumuran dengannya." Tegas Aaron.


"Ehm ... maaf tuan, kalau begitu. Marsha anak yang cerdas, kecerdasannya harus di asah. Dia bisa melompat kelas dan mendapatkan kelulusan yang cepat. Saya bisa membimbing ...."


Aaron menggeleng-gelengkan kepalanya, "Enggak perlu! Saya bukan orang tua yang haus akan prestasi anak, biarkan putri saya menikmati masa bermainnya. Kalau kamu keberatan, saya tinggal memindahkan putri saya ke sekolah lain," ujar Aaron dengan dingin.


"Lihat dia, sepertinya dia ingin menarik perhatian tuan Aaron."


"Kau benar, istri tuan Aaron sangatlah cantik tida bisa di banding kan dengan bu melisa." Bisik-bisik terdengar sampai di telinga Bu guru Marsha yang bernama Melisa, hingga membuatnya kesal.


Marsha peka niatan bu guru nya, maka dari itu Marsha tak menyukainya.


"Namana Melica, tayak Meduca aja." Batin Marsha dengan kesal.


"Masuklah, nanti daddy jemput." Pinta Aaron sembari merendahkan sedikit tubuhnya.


"Bunda aja yang jemput, jangan daddy," ujar Marsha dengan pelan.


"Enggak bisa sayang, perut bunda udah besar. Kasihan bunda, capek bawa adek." Bujuk Aaron.


Marsha menghela nafas pelan, kalau daddy nya lagi yang jemput. Pasti dia akan kembali melihat bu gurunya mendekati sang daddy.


"Besok pindah aja ke cekolah ci kembal lah daddy!" Kesal Marsha sembari berlalu pergi.


"Eh?" Kaget Aaron karena ucapan putrinya.


Aaron kembali menegakkan tubuhnya, dia beralih menatap pada guru yang berada di belakang Melisa.


"Saya titip putri saya yah bu," ujar Aaron pada guru di samping Melisa.


"Boleh tuan, siapa yang tidak suka pada anak semenggemaskan Marsha. Kecuali si ...." Tatapan guru itu melirik sinis Melisa yang melototinya. "Hehe, aman kok Marsha disini. Dia anaknya cerdasnya pake banget, gak susah ngajar dia." Seru yang lain.


Aaron mengangguk, dia melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 8.


"Saya harus pamit ke kantor, Permisi." Pamit Aaron .


Para guru tersenyum, kecuali Melisa. Selepas kepergian Aaron, guru lain menatap melisa dengan tatapan kesal.


"Jaga etika kamu sebagai guru! Baru aja jadi guru, udah mau rebut suami orang!" Melisa yang mendengarnya pun jadi kesal.


"Kamu sama istri tuan Aaron tuh kayak bumi dan langit. Jaaauuhh banget, jadi ... nyerah aja deh." Ujar yang lain.


Kekesalan Melisa semakin menjadi, dia sangat malu karena penolakan Aaron tadi.


"Aku juga cantik kok!" Seru Melisa membuat salah satu guru membalas perkataannya.


"Cantik kalau di lihat dari ujung sedotan. HAHAHA!!"


***


Di rumah, Zeva sedang melipat baju bayinya yang sebentar lagi akan lahir. Dirinya Tak sabar, menanti kehadiran buah hatinya lagi.


Tok!


Tok!.


"Nyonya maaf, di depan ada yang sedang mencari tuan Aaron." Seorang pembantu masuk ke kamar Zeva yang sedang terbuka.


"Oh iya bi, saya akan ke sana." Balas Zeva.


Zeva jalan menuju pintu utama, dengan perut besarnya. Membuat, dia sedikit kesulitan bergerak.


Cklek!


Kening Zeva mengerut, kala melihat seorang wanita cantik dengan menggandeng seorang anak laki-laki seusia 2 tahun.


"Maaf, cari siapa?" Tanya Zeva dengan sopan.


Wanita itu menatap Zeva dengan tersenyum ramah, "Saya kesini ingin menemui Aaron, apa ...Aaronnya ada?" Tanya wanita itu.


_____


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA 🥰🥰


Mungkin 10 part lagi, tinggal lanjut Marsha besar kali yah😌