Find Me Daddy

Find Me Daddy
Aaron yang terpojokkan



"Saya istrinya, ada keperluan apa cari suami saya?" Tanya Zeva.


Wanita itu menatap Zeva dengan lekat, lalu dia tersenyum.


"Kamu Zeva?" Tanya Wanita itu.


Zeva langsung mengangguk, dia tidak tahu siapa wanita di hadapannya ini.


"Mama! mama! mana papa! katanya kita mau ketemu papa!" Rengek anak itu sembari menarik dress yang ibunya kenakan.


Degh!!


Kaki Zeva melemas, dadanya bergemuruh. Tatapannya menatap wanita itu dengan tatapan bertanya-tanya dan berharap jika apa yang dia pikirkan adalah salah.


"Iya sayang, nanti kita ketemu papah yah." Bujuk wanita itu sembari mengelus rambut putranya.


"Kalau gitu, saya permisi pulang dulu." Pamit wanita itu.


Setelah kepergian wanita itu, Zeva masih mematung. Matanya memerah, dadanya terasa sesak.


"Enggak, mas Aaron enggak mungkin memiliki anak dari wanita lain. Aku percaya suamiku, tapi ... anak tadi."


"Zeva."


Zeva tersentak kaget, dia berbalik dan mendapati Adinda yang datang menghampirinya sembari membawa bayinya.


"Katanya ada tamu, mana tamunya?" Tanya Adinda.


"Zev, ada apa?"


Zeva menggeleng, dia berbicara tanpa suara. Membuat Adinda pun merasa panik. Tiba-tiba, Zeva kehilangan kesadaran. Adinda hanya bisa memegang lengan Zeva agar perut wanita itu tak terbentur lantai.


"Zev, Zeva!! TOLONG!!! TOLOONGG!!" Teriak Adinda.


Kedua bodyguard yang sedang istirahat pun berlari menghampiri Adinda yang tengah berusaha untuk membangunkan Zeva.


"Non Zeva kenapa non?" Tanya seorang bodyguard.


"Gak tau, kalian tolong angkat dan bawa ke kamar." Titah Adinda.


Laras yabg sedang masak di dapur bergegas berlari, dia terkejut melihat menantunya di gotong ke kamar.


"Zeva kenapa Din!" Panik Laras.


"Enggak tau mom, tadi ada tamu. Zeva yang ketemu sama tamu nya, tapi setelah tamunya pergi dia pingsan." Terang Adinda.


Laras terdiam dengan kening mengerut, "Siapa tamunya?" Tanya Laras.


Adinda menggeleng, dia menimang putranya yang merengek karena tidurnya terganggu.


"Aku gak tau, pas aku samperin Zeva. Tamunya udah gak ada," ujar Adinda.


Laras segera menghubungi Aaron, tetapi ponsel pria itu tidak aktif. Sehingga Laras menghubungi putra sambungnya.


"Halo jacob, bisa ke rumah sebentar?"


"Ada apa mom?" Tanya Jacob yang sepertinya bingung


"Ini, Zeva tiba-tiba pingsan. Kamu bisa ke rumah gak? dari tadi mommy hubungin Aaron, tapi ponselnya gak aktif. Mommy takut dia kenapa-napa," ujar Laras dengan suara bergetar.


"Iya mom, Jacob pulang sekarang."


"Makasih yah nak, hati-hati." Sahut Karas dengan perasaan kega.


Tak sampai di situ, Laras kembali berusaha untuk menghubungi putranya. Namun, ponsel Aaron masih tidak aktif juga.


"Hii!! mana sih anak itu!! di butuhin malah ponselnya di matiin! udah tau istrinya lagi pingsan!" Greget Laras.


"Telpon daddy aja mom, kali aja daddy lagi di perusahaan Aaron." Saran Adinda.


"Bener juga kamu, coba deh." Sahut Laras dan menghubungi suaminya.


Namun, sama halnya dengan Aaron. Nomor ponsel suaminya tidak juga bisa di hubungi.


"Ck!! KENAPA PADA GAK BISA DI HUBUNGI SIIHH!!" Teriak Laras dengan kesal.


"EAAA ... EAA!! EAA!!"


Akibat teriakan Laras, Vero menangis kencang lantaran kaget. Adinda lalu, pergi ke kamarnya untuk menyusui putranya.


"Raihan." Gumam Laras dan mencari kontak putranya yang satu lagi.


"Ha ...,"


"Rai! samperin abangmu di kantornya! bilang sama dia, istrinya pingsan!" Sentak Laras memotong perkataan putranya.


"Loh, bukannya abang lagi ...,"


"Jangan banyak tanya, bilang sama abangmu! cepetan!!" Seru Laras dengan tidak sabaran.


"Iy-iya."


Tuutt!!


Laras mengusap keningnya, dia masih merasa kesal sama kedua orang itu.


"Awas aja kalau pulang." Gumam Laras, lalu masuk ke kamar putra serta menantunya.


***


Aaron dan Haikal sedang bermain golf, keduanya lebih memilih libur sejenak dari urusan kantor.


"Wah, kau melemparnya cukup jauh." ujar Haikal sembari mendekati Aaron.


Haikal mengangguk, dia lanjut bermain. Sementara Aaron, dia menuju tempat peristirahatan untuk mengambil ponselnya.


"BAAAANGG!!!"


Haikal dan Aaron tersentak kaget saat mendengar suara yang sangat familiar menurut mereka.


"Raihan." Gumam Aaron.


Raihan menghampiri Aaron dengan nafas tersenggal-senggal, dia ingin berbicara tapi tak sanggup.


"Bang hah ... hah. .. bini lo ... hah ...,"


"Istri abang kenapa?" Tanya Aaron dengan kening mengerut.


Raihan menjeda apa yang akan dia sampaikan. Lalu, dia mengambil air minun Aaron yang terletak di meja dan meminum nya sampai habis.


"Haaahh segernya ...." Seru Raihan.


"Oh iya lupa, itu ... kata mommy. Bini lo pingsan!"


"APA?!" Kejut Aaron.


Aaron bergegas mengambil ponselnya, tapi sayangnya ponselnya mati karena kehabisan daya. Dia merasa kesal, kenapa ponselnya harus mati di saat yang tidak tepat.


"Ada apa?" Haikal datang menghampiri kedua putranya.


"Kak Zeva pingsan dad,"


"Apa? kok bisa?" Pekik Haikal dan langsung mengambil ponselnya.


Sama halnya dengan Aaron, ponselnya juga mati. Entah ayah dan anak ini, kompak sekali mematikan ponsel mereka.


"Ponsel doang mahal, tapi baterainya habis. Chuaks!" Sindir Raihan.


Aaron mengambil jasnya, dia berlari keluar menuju mobilnya. Sementara Haikal, dengan santainya dia memakai kembali jas nya.


"Daddy gak panik?" Tanya Raihan dengan bingung.


"Kan bukan istri daddy, lagian daddy mau belikan mommy kamu bunga dulu. Biar pulang nya gak di omelin, bisa seharian mommy kamu kalau udah ngomel." Jawab Haikal.


Raihan membulatkan mulutnya, memang kalau perempuan sudah mengomel. Tak akan ada habisnya, bahkan setahun kemudian masih saja di ungkit.


.


.


.


Aaron sampai di kediaman Smith, dia bergegas masuk tak peduli dengan mobil yang terparkir sembarangan.


"Ze ... va." Sesampainya di kamar, ucapan Aaron terhenti lantaran melihat Jacob, Adinda serta Laras menatapnya tajam.


Lalu, tatapannya beralih pada istrinya yang sama sekali tak mau menatapnya.


"Sayang, maafkan aku. Ponselku mati, aku tidak tahu kalau kamu pingsan. Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Aaron dengan lembut sembari mendekati Zeva.


Adinda maju, dia berdiri di hadapan Aaron dengan tatapan marah.


"Ponsel kamu mati, atau lagi ada jadwal sama istri lain?"


"Hah?" Jelas, Aaron yang di tuduh begitu menjadi bingung.


"Halah, gak usah pura-pura kamu! Kamu menikah diem-diem sama siapa lagi hah? JAWAB!!" Sentak Adinda.


Jacob berusaha menarik istrinya, agar tak semakin membuat suasana runyam.


"Lepasin bang! adik kamu nih butuh di kasih pelajaran!" Sentak Adinda.


"Nikah lagi sama siapa sih kak? aku cuman nikah sama Zeva!" Bingung Aaron.


Bukannya tenang, Zeva malah menangis. Laras memeluk menantunya itu, dia juga kecewa dengan putranya.


"Oohh jadi bukan nikah, tapi wanita simpanan iya? berbuat gituan sama siapa kamu!! Istri kamu hamil besar, malah punya anak sama yang lain." Omel Adinda.


"Hah? anak lain? kan anakku cuman Marsha sama yang masih di perut Zeva kak." Unjuk Aaron pada perut istrinya.


"Mukanya jangan kayak orang b0d0h bisa? Tadi Zeva ketemu sama wanita bawa anak, dia cari kamu. Anaknya bilang mau ketemu papah. siapa lagi disini yang namanya Aaron, kalau bukan kamu!"


"Hah? tunggu-tunggu ... wanita bawa anak? aku gak tau siapa dia, jujur! aku gak tau! sayang, please. Aku gak tau! mungkin aja dia tamu ...,"


"Tamu kok carinya suami orang!" Ketus Adinda.


Aaron mengacak rambutnya kasar, dia pulang karena khawatir dengan kondisi istrinya. Kenapa malah di tuduh seperti ini?


Tok!


tok!


"Maaf tuan, nyonya. Tamu yang tadi kembali, beliau menanyakan tentang tuan Aaron."


Semua orang menatap ke arah Aaron. Karena penasaran, Aaron pun bergegas menuju pintu. Di ikuti oleh Adinda dan yang lainnya. Termasuk Zeva, dia memaksa ingin melihat sendiri.


Sesampainya di pintu utama, langkah Aaron terhenti. Bola matanya terbelalak lebar, melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Mentari?"


____


Hayooo, ada yang ingat sama mentari gak?


JANGAN SKIP LIKE NYA YAH🥰🥰🥰