Find Me Daddy

Find Me Daddy
Ingin hamil lagi?



"Masih sakit than?" Tanya Sofia pada putranya yang turun dari kamarnya.


Nathan menggeleng, dengan santainya dia duduk di meja makan bergabung dengan sang mami yang tengah menyuapkan Naufan makan siangnya.


Nathan menuangkan air ke gelas dan meminumnya hingga kandas. Melihat apa yang putranya lakukan, Sofia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Pa! Papapa!" Celoteh Naufan saat melihat keberadaan sang papa.


Nathan menoleh pada putranya, ia tersenyum dan menggapai tangan bayinya.


"Marsha mana?" Tanya Sofia.


Nathan menatap sang mami yang sepertinya kepo, "Tidur." Jawab Nathan dengan singkat.


"Tidur? Perasaan udah jam makan siang, kok ti ...."


Sofia tersadar, dia mengerti maksud Nathan. Raut wajahnya berubah datar, dia menatap putranya yang tengah menjaili Naufan.


"Nathan, awas yah Marsha di buat hamil lagi!" Ancam Sofia.


Kening Nathan mengerut, "Emangnya kenapa?" Tanya Nathan dengan bingung.


"Kamu gak sadar kalau anakmu udah banyak hah?! Kasihan istrimu! Udah ada cewek dan cowok, cukuplah! Emangnya istrimu pencetak anak apa!" Omel Sofia.


"Orang niatnya mau punya anak sebelas juga." Cicit Nathan.


"APA?! MAU MAMI ADUKAN KE MERTUAMU HAH?!"


"Bercanda mi." Lirih Nathan.


Sofia menatap sinis putranya itu, jujur saja dia khawatir dengan menantunya. Mengurus anak banyak tak semudah yang di bayangkan. Apalagi menyewa baby sitter untuk anak. Anak akan lebih dekat dengan baby sitter di bandingkan dengan ibunya. Dan Sofia tidak mau Marsha merasakan itu.


"PAAAA!! PAAAA!!"


NAthan mengira putranya memanggil dirinya, ternyata dugaannya salah. Tatapannya putranya mengarah ke belakang Sofia.


"Papi." Celetuk Nathan membuat Sofia menoleh.


"Mas." Sambut Sofia.


"Cucu opaa!" Kenan datang, dia langsung meraih Naufan yang ada di kursi bayinya. Bayi itu tampak begitu antusias menyambut kedatangan sang opa.


Kenan menc1umi wajah cucunya, cucu laki-laki satu-satunya yang ia miliki saat ini. Naufan terlihat sangat senang, dia bahkan menghentakkan kakinya terus menerus.


"Pi, mau di bawa kemana Naufannya?!" Seru Sofia saat suaminya membawa Naufan pergi.


"Jalan-jalan." Jawab Kenan dengan cuek.


Sofia buru-buru mengambil mangkok bubur Naufan yang belum habis. Laku, dia menyusul suaminya yang sudah beranjak ke taman belakang.


Nathan menghiraukannya, dia malah untung saat kedua orang tuanya datang mengurus putranya. Dengan santainya, Nathan meraih piring. Dia mengambil nasi dan beberapa lauk dengan dua porsi.


Setelah itu, Nathan beranjak kembali ke kamarnya dengan membawa makanan untuknya dan juga sang istri.


Cklek!


Di lihatnya, istrinya tengah bercermin. Sepertinya Marsha baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang basah.


"Sayang, makan dulu." Ajak Nathan.


Marsha menoleh, dia terkejut dengan apa yang Nathan bawakan untuknya.


"Loh, emangnya kita gak makan sama mami?!" Pekik MArsha.


"Ada papi, mereka lagi ngurus Naufan makan. Kita makan berdua aja, biar gak ada yang ganggu. Aku kangen makan berduaan sama kamu." Terang Nathan.


Nathan duduk di sofa, tak lama Marsha datang menyusul. Melihat rambut istrinya yang basah, sontak Nathan angkat suara.


"Kamu mandi gak tunggu aku?" Tanya Nathan dengan tatapan kesal.


"Ngapain? Aku cuman mandi, gak jalan-jalan. Udah sini, mana piringnya." Marsha mengambil piring yang ada di tangan Nathan.


Nathan masih cemberut, hal itu membuat Marsha menggeleng gemas. Walau Nathan sudah memiliki empat anak, jiwa anak kecilnya belum juga terlepas dari pria itu.


"Udah ini A." Suruh Marsha.


Nathan membuka mulutnya, Marsha pun menyuapkan makanan itu pada Nathan. Namun, di luar dugaan. Nathan justru menggigit jarinya.


"AWW!! NATHAN!!" Pekik Marsha.


Marsha menghela nafasnya pelan, ada apa dengan suaminya ini. "Yaudah, iya sayang. Makannya pelan-pelan yah sayangku," ujar Marsha dengan lembut.


Senyum Nathan mengembang, dia kembali membuka mulutnya. Marsha pun menyuapinya, sesekali Marsha juga menyuapkan dirinya.


"Sayang, kalau aku minta kamu hamil lagi. Mau gak?" Tanya Nathan secara tiba-tiba.


Marsha terdiam, dia tak menjawab sepatah kata pun. Baginya, hamil kembali adalah hal yang masih dia pikirkan hingga saat ini. Apalagi mengenang sakitnya sehabis melahirkan. Hamil Naufan saja, Marsha butuh tiga tahun untuk memulihkan mentalnya.


"Maaf, aku gak maksa kok. Lupakan soal tadi, seharusnya aku pengertian dengan kamu. Tapi, akunya malah nuntut lebih." Sahut Nathan dengan cepat.


Setelah makanan itu habis, Marsha berniat ingin mengembalikan piring ke dapur. Namun, saat dia akan beranjak. Justru Nathan malah menahannya.


"Sweety tunggu!" Marsha menatap Nathan dengan kening mengerut.


"Tolong, jangan marah. Aku hanya bertanya saja, sungguh," ujar Nathan dengan sendu.


Mendengar itu, Marsha tersenyum. "Aku mengerti." Jawab Marsha.


Marsha pun pergi, meninggalkan Nathan yang merasa bersalah padanya. Nathan menyisir rambutnya dengan jari-jarinya.


"B0doh banget, kenapa malah tanya itu si than." Geramnya.


Sementara Marsha, dia menaruh piring bekas makan mereka ke wastafel. Dia mencucinya sejenak, karena hanya piring dia saja yang ada di sana. Sembari memikirkan perkataan Nathan tadi.


"Aku juga baru ingat, seharusnya aku datang bulan seminggu yang lalu. Tapi, kenapa sekarang belum? Apa ... aku hamil?" Keadaan hati Marsha tak menentu, dia belum siap hamil lagi.


"ENggak, aku pakai KB IUD. Gak mungkin juga hamil lagi." Batin Marsha.


PRANG!!


Karena ceroboh, Marsha tak sengaja menjatuhkan piring. Dia bergegas berjongkok untuk membersihkan pecahan itu.


"Sayang!"


Marsha tersentak kaget mendengar sentakan itu, tak sengaja tangannya tergores pecahan kaca yang akan dia ambil.


"Awsshh!!"


Nathan bergegas berjongkok, dia mengambil tangan istrinya dan melihat lukanya. Buru-buru, pria itu meminta Marsha untuk berdiri.


"Ayo, aku obati lukanya. Biarkan bibi yang bereskan." Titah Nathan.


"Than, sebentar aja. Aku bereskan dulu, ini hanya masalah sepele." Bantah Marsha.


"Sepele katamu? Lihat! Tanganmu berdarah!" Unjuk Nathan.


Marsha pun pasrah ketika suaminya pergi membawa dirinya, sementara pembantu yang bereskan kekacauan yang telah dirinya buat.


Nathan mengoleskan obat merah pada tangan Marsha, dia juga meniup kecil luka itu.


"Maaf soal tadi, aku gak bermaksud untuk membuatmu kecewa. Jujur saja, aku ingin memiliki banyak anak selagi aku masih muda. Tapi, jika kamu keberatan. Aku gak masalah," ujar Nathan.


Marsha hanya diam, dia memilih untuk menutup rapat mulutnya. Melihat hal itu, Nathan merengek. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak.


"Tolong, jangan diamkan aku seperti ini." Lirih Nathan dengan suara bergetar.


Marsha melirik suaminya, melihat Nathan yang memelas seperti itu dia pun tak tega.


"Aku bukan kepikiran soal pertanyaan kamu." Ujar Marsha, melirihkan suaranya.


"Terus apa?" Tanya Nathan dengan kening mengerut.


Marsha memainkan jari jemarinya, "Aku sudah telat satu minggu." Cicitnya.


"Telat? Telat bayar angsuran? Emangnya kamu beli apa? Kok di angsur? Kan aku udah kasih ATM aku sama kamu, kok ...,"


Bugh!!


Marsha memukul bahu suaminya dengan kesal, tatapannya terlihat tajam.


"Angsur anak kamu! Puas?!"


"Huh?"


___


Bocilnya setelah part ini yah, masih ada up sati lagi kok. Di tunggu 🥳🥳