Find Me Daddy

Find Me Daddy
Sama-sama tersakiti



Di dalam pesawat, Marsha merasa kesulitan bernafas. Dia mengambil pena dengan susah payah dan di arahkan ke resleting sehingga resleting tas milik Raihan jebol karenanya.


"Hah! cucah cekali Malcha belnapas." Pekik Marsha.


Marsha melihat ke sekitar, sepertinya dia ada di kursi paling belakang karena tertutup tirai.


"Rai, ambil laptopmu. Kita harus sampai di pulau itu dalam 3 menit."


Netra Marsha terbelalak, dia bergegas keluar dari tas milik Raihan dan bersembunyi di barisan kursi paling belakang.


"Mana tas gue yah." Gumam Raihan sembari melihat banyaknya tas di sana.


"Nah, tuh tas gue!" Raihan meraih tasnya yang sudah kosong itu.


"Eh? kok ringan?" Gumam Raihan, "Loh loh loh, kok kosong?! masa di pesawat ada tuyul sih? lagian, apa emang mereka ngerti laptop sama kamera gue mahal kalau di jual?"


Raihan tak menyerah, dia melihat-lihat ke sekitar tas nya tadi. Tapi, benar saja. Laptopnya tidak ada.


"Lama banget sih!" Kesal Jacob yang menunggu lama.


"Laptop gue hilang bang, tadi ada di tas. Gue bawa berat kok tas nya, tapi nyampe sini gak ada. Malah rusak lagi resletingnya." Gerutu Raihan.


"Mana coba, sini abang liat." Jacob menarik tas yang Raihan pegang. Sementara, Raihan masih mencari keberadaan laptop dan kamera miliknya.


Jacob memasukkan tangannya, dia mengobrak abrik dalam tas adiknya itu. Namun, bukannya laptop yang ia temukan melainkan jepitan rambut.


"Ngapain kamu bawa jepitan rambut anak? ini pasti punya Marsha kan?"


"Eh, enggak loh! kok bisa ada jepitan rambut tuh gendut." Seru Raihan.


Raihan mengambil jepitan rambut itu, kening mengerut sembari berpikir.


Sedangkan Marsha yang berada di kursi barisan belakang, segera memegang kepalanya. Memeriksa apakah jepitannya masih ada di kepalanya.


"Iya, itu punya Malcha." Lirih Marsha.


Karena lama tak kunjung kembali, Aaron menyusul adik dan abang itu.


"Mana?" Tanya Aaron.


"Laptop gue hilang bang, cuman ada jepitan rambut anak lo aja." Ujar Raihan sembari menunjukkan jepitan itu.


Aaron mengambil jepitan tersebut, dia ingat betul pagi tadi putrinya memakai jepitan itu.


"Terus gimana?" Tanya Aaron dan mengantongkan jepitan itu di saku jaketnya.


"Gue minta ke tim IT dulu, tadi kan pake laptop mereka juga," ujar Jacob dan kembali ke depan.


Raihan juga turut mengikuti Jacob, sementara Aaron masih memperhatikan tas Raihan yang kosong.


Di kursi belakang, Marsha ingin bersin. Wajahnya sudah tak tahan menahan bersin yang akan dia keluarkan.


"Bagaiman bisa hilang." Gumam Aaron dan berniat akan beranjak pergi.


"HACHU!"


Langkah Aaron terhenti, dia mendengar seorang anak bersin. Netranya langsung tertuju ke arah barisan kursi belakang.


"Suara bersin siapa itu?" Batin Aaron. Saat dirinya akan beranjak, suara Jacob mengejutkannya.


"AAAR!! KITA MAU SAMPAI! PASANG SABUK PENGAMAN!"


Terpaksa, Aaron pun segera kembali ke tempat duduknya. Sementara Marsha, dia memeluk erat sabuk pengaman karena tak mengerti cara pakainya.


"Kayak maling cembako aja Malcha." Cicit anak itu.


.


.


.


Rio mendekati Zeva yang berusaha menghindarinya, tatapan pria itu sangat menakutkan.


"Sini kamu!! berani kamu bohongin aku hah?! SINI! CEPAT! KITA NIKAH SEKARANG!" Sentak RIo.


Pembantu Rio pun turun tangan, dia berusaha melindungi Zeva dari amukan RIo.


"Mas, sabar dulu! non Zeva nih lagi hamil, kasihan toh bayinya." Ujarnya dengan panik.


"Bibi jangan ikut campur urusanku!" Sentak RIo menarik kasar pembantu itu hingga terjatuh.


Rio berhasil menangkap Zeva, dia menyeretnya keluar dengan tidak berperasaan.


Bahkan saat menuruni tangga, Rio tak peduli dengan keadaan Zeva yang beberapa kali hampir terjatuh.


"Rio, aku mohon jangan seperti ini. Aku sudah menikah Rio, jangan begini." Isak Zeva.


Para tamu yang hadir di sana, yang tak lain adalah bawahan Rio. Seorang penghulu pun juga sudah hadir di sana.


"Nikahkan kami sekarang pak!" Seru RIo setelah duduk di samping Zeva.


Zeva menggeleng, dirinya menatap penghulu itu dengan air mata.


"Pak! kami tidak bisa menikah, saya masih menjadi istri orang!" Sentak Zeva.


Penghulu pun terlihat terkejut, dia menatap Rio yang tangah menatap tajam Zeva.


"Tuan, kalian tidak bisa menikah. Nona ini masih menjadi istri orang lain, anda tidak bisa menikahinya." Tegas penghulu itu.


Rio bangkit dan mengeluarkan pistol dari jas putihnya, dia mengarahkan pistol itu tepat di kening penghulu tersebut.


"Nikahkan kami, atau ku tembakkan isi kepalamu?"


Siapa yang tidak takut di ancam seperti itu, tentu saja penghulu itu langsung mengangguk. Dia menatap bersalah pada Zeva yang kini hanya bisa pasrah.


"Ba-baik, ki-kita mulai ...,"


DORRR!!


DORR!!


Baru juga Rio berjabat tangan, dia langsung melepaskan tangannya. Lalu, dia berbalik menatap salah seorang anak buahnya yang berlari menghampirinya.


"Tuan! ada pesawat dan beberapa helikopter yang mendarat, mereka semua mencari nyonya Zeva!"


Tangan Rio terkepal erat, matanya memerah menahan amarah. Dia menatap ke arah Zeva yang beringsut mundur darinya.


SET!


Rio menarik tangan Zeva, "LANCANG SEKALI KAMU MEMBERITAHU MEREKA POSISIMU HAH?!" Teriak Rio. Dia sudah tahu bahwa kedatangan Aaron pasti ulang dari Zeva.


Zeva hanya bisa menggeleng. Lalu, tangannya di tarik Rio menuju lantai atas. Zeva berusaha melepaskan cengkraman Rio, karena itu terasa sangat menyakitkan.


"ZEVA!!"


Saat sampai di tangga atas, ada seseorang yang meneriakinya. Zeva menoleh dan ternyata suaminya sudah berada di ambang pintu.


"MAS!! MAASS!! TOLONG AKU!!" Teriak Zeva.


cklek!


Rio mendorong kasar Zeva masuk ke dalam kamar, lalu dia mengunci kamar itu.


TOK!


TOK!


TOK!!


"RIO!! BUKAN PINTUNYA!! AKU MAU KEMBALI PADA SUAMIKU!! RIOO!!"


Rio bergegas turun ke bawah, anak buahnya sangatlah banyak dan menyerang orang-orang yang di bawa oleh Aaron.


Gencatan senjata, telah terjadi di pulau itu. Hanya beberapa menit saja, malu membuat banyak orang tumbang.


"Mana istriku!" Sentak Aaron setelah sampai di hadapan Rio.


Rio tersenyum, dia menatap santai lada Aaron yang kini tengah menahan emosinya.


"Gue pikir, lo tidak akan datang. Rupanya, lo berani datang untuk mengantarkan nyawa lo sendiri."


"Jangan main-main Rio! cepat hentikan semuanya dan kembalikan istriku! kau sudah kelewat batas!" Geram Aaron.


Rio tersenyum, senyuman menyeringai. Dia menatap penuh kebencian ke arah mantan sahabatnya itu.


"Gue sangat benci sama lo Aaron, gue benci lo! lo yang udah merebut dia dari gue!" Sentak Rio.


"Merebut? siapa? Zeva istriku, kenapa kamu menunjukkan seakan-akan dirimu adalah korban?!" Balas Aaron.


"ZEVA ADALAH ANYA GUE! DIA ANYA GUE! WANITA YANG GUE CINTAI! TAPI LO ... LO NGEREBUTNYA DARI GUE!"


Degh!!


Aaron terdiam, dia kembali mengingat ceritanya dengan RIo. Menang benar, Rio mengatakan bahwa pria itu mencintai Anya. Dia tak tahu jiak Anya yang Rio maksud adalah Zeva.


"Lo lamar dia, lo nikahin dia di depan mata gue sendiri. Saat itu, gue bisa ikhlas terima semuanya. Tapi setelah kalian nikah, Anya gue gak bahagia! Gue udah janjiin pada diri gue sendiri, gue bakal rebut dia dari lo kalau lo buat dia nangis!"


"Berapa bulan dalam setahun lo ada di rumah hah? BERAPA?! Lo selalu ninggalin dia dengan tugas kerjaan lo itu, lo gak ada di saat waktu terpuruknya."


"Gue, gue yang selalu ada buat dia. Bahkan, lo gak ada di saat ... dia keguguran saat hamil pertamanya!"


Deghh!!


"A-apa?!"