Find Me Daddy

Find Me Daddy
Kabar buruk(S2)



Semua pasang mata menatap ke arah Claudia yang tertunduk, mereka syok dengan apa yang Nathan katakan tadi.


"Nathan, sebenarnya ada apa? kenapa kamu memarahi kakakmu?" Bingung Sofia.


Aaron malah menatap Mario dengan kening mengerut, dia mendekati Mario dan beralih menatap Nathan.


"Kamu kenal dengannya?" Tanya Aaron.


"Aaron, dia suami putriku. Dan wanita di sebelahnya adalah putriku,"


Aaron mengangguk paham, dia lalu menatap Mario dengan tatapan tajam. Nyali Mario menciut takut, sebab aura yang Aaron keluarkan membuat bulu kuduknya merinding.


"Bisa jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi pada kami?" Tanya Aaron dengan nada datar.


Mario menatap istrinya, Claudia malah tak beani menatap yang lain. Dia terlalu takut saat ini.


"Apa mulut mu terkunci?" Tanya Aaron dengan sebelah alisnya yang terangkat. Namun Mario, tak kunjung buka suara.


"JELASKAN! JANGAN DIAM SAJA SEPERTI ORANG B0DOH!" Sentak Aaron dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


Semua orang Syok dengan bentakan Aaron, terlebih Claudia yang tak percaya jika suaminya di bentak oleh seseorang.


"Ta-tadi kami tak sengaja bertemu di restoran yang sama dan ...." Mario menjelaskan secara lengkap, tanpa dia tambahi dan kurangi sedikit pun.


Semua orang menatap pada Claudia, terlebih Aaron. Rahangnya bahkan sampai mengetat, matanya memerah menahan amarah.


"Apa dia belum tahu tentang pernikahan adiknya?" Tanya Aaron pada Kenan tanpa mengalihkan tatapannya dari Claudia.


"Belum, Nathan meminta di rahasiakan sampai penentuan tanggal resepsi." Jawab Sofia.


Claudia mengangkat kepalanya, dia memberanikan diri menatap Aaron yang nasih menatap tajam dirinya.


"Saya tidak tahu jika Marsha sudah menikah dengan adik saya, saya kesal saat melihat mereka. Sebab, suami saya masih menyimpan fotonya. APakah salah jika saya menuduh mereka berselingkuh, apalagi setelah saya tahu jika suami saya pernah mencintai putri anda? bahkan hingga sampai detik ini."


Raut wajah Nathan berubah, dia beralih menatap Mario yang kini berwajah tegang.


"Ap-apaan ini maksudnya?" Seru Nathan tak terima.


Aaron menghalangi Nathan untuk mencerca Mario, dia ingin melanjutkan perkataannya.


"Apakah putri saya membantah ketika dia di tuduh wanita selingkuhan suamimu?" Tanya Aaron dengan tatapan tajam.


Claudia mengangguk, Marsha memang membantah tuduhan Claudia. Tapi Claudia tak percaya, dia malah semakin menuduh Marsha semakin jauh.


"Putri saya sudah membantah tuduhan mu, bahkan dia tak ingin berurusan denganmu. Mengapa kamu terus menuduhnya, dan bahkan mendorongnya?" Tanya Aaron, membuat Claudia menangis seketika.


"Aaron, ini hanya kesalahpahaman. Claudia tidak tahu jika Marsha adalah istri Nathan, dia tidak sepenuhnya salah." Bela Kenan, dia merasa kasihan melihat Claudia yang tertekan.


Aaron beralih menatap Kenan dengan tatapannya yang masih tajam.


"Lalu kamu pikir, putriku juga salah hah?! putrimu terlalu bertindak gegabah! jika dia laki-laki, sudah ku balas sekarang juga kesakitan yang putriku rasakan!" Gertak Aaron.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putri saya dan kandungannya, saya akan mengusut kasus ini ke kepolisian." Ujar Aaron pada Claudia yang mana membuat semua orang di sana menatap tak percaya padanya.


Cklek!


Dokter keluar, bergegas Nathan san Aaron menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? janinnya bagaimana?" Nathan sungguh khawatir saat ini, dia tak bisa mengingat apapun selain keadaan istri dan anaknya.


"Anda, suaminya?" Tanya dokter, dan langsung mendapat anggukan dari Nathan.


"Bisa ikut saya ke ruangan saya? akan saya jelaskan di sana." Permintaan dokter, membuat jantung Nathan seakan terlepas dari tempatnya. Perasaan nya sudah tidak enak, dia beralih menatap Aaron yang juga syok di buatnya.


Nathan akhirnya mengikuti dokter itu, sementara Aaron masih stay di sana. Putrinya di pindahkan ke ruang rawat, semuanya pun menyusulnya.


Di dalam ruangan, dokter menyerahkan hasil pemeriksaan. Nathan memegang sebuah foto USG yang dokter berikan.


"Rahim istri anda sudah bersih, kami sudah melakukan kuretase padanya."


"Maaf, ketika di bawa kesini. Janin istri anda sudah tidak lagi bisa di selamatkan, pendarahan yang di alami olehnya cukup banyak. akibat terjatuh terlalu keras, hingga membuat pendarahan ini terjadi. Saya terpaksa melakukan kuretase untuk menghentikan pendarahannya, demi menyelamatkan nyawa istri anda."


Air mata Nathan luruh, dia masih ingat bagaimana detak jantung janinnya. Tapi kini, janin itu sudah tidak ada.


Baru beberapa jam lalu dia menyapa calon anaknya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Calon anaknya sudah tidak ada, dan itu semua karena sang kakak.


Nathan keluar dari ruangan dokter dengan tatapan kosong, dia berjalan menuju ruang rawat istrinya.


Ternyata, Aaron sudah menunggunya di depan pintu. Saat melihat Nathan, dia bergegas menghampirinya.


"Bagaimana keadaan putriku?" Desak Aaron.


Nathan masih diam, tatapannya kosong. Seakan, jiwanya tidak ada dalam raganya. Berita ini, memukul berat dirinya.


"Nathan! jelaskan!!" Sentak Aaron.


Barulah Nathan menatap mata mertuanya, dia menyerahkan hasil pemeriksaan Marsha pada Aaron.


"Marsha sudah melakukan kuretase, janinnya tidak bisa di selamatkan." Lirih Nathan.


Seketika, perasaan Aaron hancur sejadi-jadinya. Dia bergegas membuka map yang Nathan berikan karena dirinya masih tidak percaya.


"Anakku sudah tidak ada, dia sudah tidak ada hiks ...." Nathan menempelkan punggungnya pada tembok, dan seketika itu. Tubuhnya merosot ke bawa.


Sama halnya dengan Nathan, Aaron harus menerima kenyataan jika putrinya kehilangan anaknya.


"Aaron, Nathan? kenapa kalian menangis?" Sofia yang baru saja keluar ikutan panik melihat kedua pria itu menangis.


Sofia berjongkok di samping Nathan, seketika itu pula Nathan memeluk sang ibu dengan erat. Dia menumpahkan segala tangisnya di bahu ibu yang melahirkannya.


"Bayiku sudah tidak ada, calon anakku sudah tidak ada hiks ... dia sudah tidak ada hiks ..."


"A-apa?!" Sofia sungguh syok, matanya berkaca-kaca bersiap untuk meluncurkan air matanya.


Aaron bergegas masuk ke kamar putrinya, di lihatnya sang putri masih tertidur dengan lelapnya.


"Kenapa kamu harus merasakan seperti ini? padahal, daddy sudah berjanji akan selalu membuatmu bahagia? Apakah keputusan daddy melepasmu pada orang lain, adalah keputusan yang salah? jika bersama daddy kamu selalu bahagia, maka daddy akan mengambilmu kembali darinya." Batin Aaron.


Selang dua jam, Marsha baru tersadar. Di sampingnya sudah ada Nathan yang setia memegang tangannya.


Sedangkan Sofia dan Kenan, dia menunggu di luar bersama anak dan menantunya. Di karenakan Aaron, tak ingin melihat Claudia dan Mario ada di kamar putrinya.


"Eungh!!"


"Om! Marsha sadar!" Seru Nathan, memanggil Aaron yang tengah menunggu di sofa.


Aaron dam Zeva tentu saja bergegas menghampiri Marsha, keduanya tampak begitu bahagia saat Marsha membuka matanya.


"Perutku tadi sakit sekali." Lirih Marsha.


"Janinku bagaimana? tadi, rasanya aku terjatuh terlalu keras. Apa dia baik-baik saja?"


Sontak, semua orang yang ada di sana bungkam. Marsha mengerutkan keningnya saat melihat respon orang-orang terhadap dirinya.


"Ada apa? Nathan, jangan membuatku takut. Bagaimana dengan calon anak kita? kau sudah berjanji kan, untuk memastikan nya baik-baik saja. Kau pasti akan menepati janjimu, kau ...,"


"Maaf."


Runtuh sudah dunia Marsha saat ini, air matanya luruh membasahi pipi putihnya. Dia tahu maksud suaminya berkata maaf padanya.


____


Maaf di luar ekspetasi kalian😅, author akan meluncurkan alur yang lebih wah lagi yang buat kalian greget parah dengan dua pasangan ini🥰


Untuk fans Javier sabar dulu yah, pemainnya masih tidur😂


Triple up hari ini yah, author nya belum bisa crazy up. Hari kerja soalnya gaes🥲