
Nathan dan Marsha melihat-lihat mobil yang akan Nathan beli, sesekali pria itu mencoba nya. Sementara, Marsha menunggu sembari mendorong stroller ketiga bayinya.
"Ekhee!!"
Marsha melirik ke dalam Stroller, rupanya Nadia terbangun. Bergegas, Marsha mengambil botol susu yang berisi Asinya dan memberikannya pada Nadia.
"Sweety, kalau ini bagaimana?" Tanya Nathan menunjuk mobil sedan berwarna putih.
"Bagus, yang penting kamu suka. Aku suka," ujar Marsha.
Jawaban MArsha tak membuat Nathan puas, dia kembali mencari mobil apa yang cocok dengannya dan juga istrinya. Saat asik memilih, bahu Nathan di tepuk oleh seseorang.
"Nathan!" Seru seorang wanita paruh baya.
"Eh tante, apa kabar?"
"Baik-baik, oh ya. Tante kesini juga sama Vica, sebentar tante panggil. Vica!!"
Nathan menggaruk tengkuknya, ibu dari Vica itu sangat mengenalnya. Karena, sering kali Vica menceritakan tentang Nathan. Hingga saat pria itu datang ke rumah Vica, ibu Vica sangat mengenal baik dirinya.
"Apa sih ma!!" Kesal Vica, terlihat bahwa dirinya sedang tidak mood.
"Ini, ada Nathan!" Seru mama Vica yang bernama Melinda.
Vica menoleh, dia baru menyadari Nathan ada di sana. Seketika, raut wajahnya terlihat datar. Dia melipat tangannya di depan dada. Lalu, membuang wajahnya. Enggan menatap pria itu.
"Vica! Is, maafin anak tante yah. Biasa, lagi badmood." Canda Melinda.
"Iya tante, gak papa," ujar Nathan.
"Oh ya, kamu kesini ngapain?" Tanya Melinda.
"Saya sedang membeli mobil tante. Bosen pake motor terus," ujar Nathan.
Rait wajah Melinda terlihat berbinar, dia menarik Nathan ke sebuah mobil berwarna hitam dengan body sedikit besar.
"Ini aja, enak mobilnya. Gak bakal nyesel deh kamu. Kalau nanti kamu punya anak, di belakang ini bisa di pake buat anak kamu. Di jamin, tidurnya empuk. Biar gak boros beli mobil dua kali." Terang Melinda dengan antusias.
"Oh, gitu tante?!" Seru Nathan dengan raut wajah terlihat bahagia.
"Iya, nih liat. Luas, aman juga buat anak. Liat depannya, nanti kalau bawa istri kamu. Nyaman dia, kamu juga nyetirnya nyaman." Seru Melinda sembari memberi kode pada putrinya.
"Apaan sih, si mama." Gerutu Vica dalam hatinya.
Saat Nathan asik melihat keadaan mobil itu, telinganya mendengar suara tangisan putrinya. Nathan pun menjauh, sembari mencari-cari keberadaan istri dan anak-anaknya.
"Eh, Nathan! mau kemana!!" Panggil Melinda.
Nathan terhenti, "Sebentar tan." Sahut Nathan.
Nathan menemukan keberadaan Marsha, istrinya itu tengah repot menimang Nadia yang sepertinya sedang rewel. Berkali-kali Marsha memberikannya susu, tapi bayi itu justru menolaknya.
"Nadia rewel Sweety?" Tanya Nathan.
"Iya, Nadia gak nyaman mungkin sama tempat ini. Kamu udah selesai belum milih mobilnya? Kita pulang aja yuk," ujar Marsha sembari menimang Nadia.
Nathan mengambil Nadia dari MArsha, ajaibnya. Bayi itu langsung berhenti menangis. Mungkin, Nadia khawatir papanya hilang lagi dari pandangan nya.
"Oh, kangen kali dia sama papa nya." Seru MArsha.
"Iya lah, anak papa yah nak." Seru NAthan sembari menc1um kening putrinya.
Saat asik menimang putrinya, Melinda dan Vica datang menghampirinya. Pipi Nadia, langsung di cubit kecil oleh Melinda.
"Cantik sekali, apa dia ponakan kamu Nathan?" Tanya Melinda.
Nathan menatap istrinya, terlihat Marsha yang tadinya tersenyum. Seketika senyum itu luntur saat Melinda menganggap putrinya adalah ponakan Nathan.
"Bu ...,"
"Ohh, ini kakaknya yah!" Melinda langsung mendekati Marsha, dia merangkul bahu Marsha dengan menyapa ramah padanya.
"Cantik, pantes aja adeknya juga ganteng. Saya ibu Vica, teman adik kamu. Mereka berdua akrab sekali di kampus, bahkan Nathan sering banget antar Vica pulang. Adikmu, baik sekali dengan putriku." Seru Melinda.
Marsha Lampung menatap Nathan dengan tatapan tajam. Nathan tak ada cerita dengannya mengenai Vica yang dekat dengan suaminya itu.
Sedangkan Vica, dia sangat malu saat ini. Ibunya terlalu memaksa untuk mendekatkan dia dengan Nathan.
"I-iya. " JAwab Marsha. Dia ingin cepat-cepat pulang untuk bicara pada suaminya.
tak lama, rengekan salah satu dari bayinya terdengar. Marsha bergegas menunduk, dia merauh anaknya yang menangis.
"PA! PA PA PA!!" Aizha, dia merenggangkan tangannya pada Nathan.
Nathan tersenyum, dia menyambut putrinya masuk ke dalam gendongannya juga. Sehingga, dia menggendong dua putrinya.
"Manggilnya kenapa enggak om atau paman, kenapa papa?" Tanya Melinda.
"Ma." Tegur Vica.
"Apa sih, mama cuman nanya doang kok!" Pekik Melinda.
Mendengar pertanyaan Melinda, membuat Marsha tersenyum. Dia memeluk pinggang suaminya sembari menatap Melinda dan juga Vica dengan senyuman tipis.
"Kan Nathan papa mereka tan, masa anak sendiri gak boleh manggil papa nya?"
Tentu saja, Melinda dan juga Vica menatap Nathan dengan tatapan tak percaya. Keduanya mencoba untuk tak percaya apa yang MArsha katakan.
"Haha, kakaknya seneng bercanda ya Than." Seru Melinda.
Raut wajah Nathan berubah, dia menatap datar Melinda yang tertawa padanya.
"Bercanda gimana yah tan maksudnya? Ketiga bayi kembar ini, anak saya dan wanita di samping saya ini adalah istri saya. Salah jika istri saya mengakui status kami?"
"A-apa?!"
.
.
.
Malam inj, tiba-tiba Javier demam. Mengetahui putranya yang demam, Zeva melarang Javier untuk mendekati si kembar. Karema khawatir sakit Javier akan mengenai kedua adiknya.
Sedari tadi, Javier tak mau lepas dari Aaron. Bahkan, dirinya tak ingin di tempatkan di kasur. Bocah itu, ingin selalu ingin di gendong oleh sang daddy.
Plester penurun demam sudah menempel cantik di keningnya, sementara matanya tertutup lantaran kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Cakit daddy." Lirih Javier.
"Iya, sakit. Daddy disini temanin Vier." Bisik Aaron.
Javier mulai tenang, kepalanya bersandar di bahu lebar sang daddy. Tubuh putranya ini sangat-sangat lemas, bahkan putranya tak sanggup untuk merangkul lehernya.
Cklek!
Varo memasuki kamar Javier dengan kantong kresek yang ada di tangannya. Lalu, dia berjalan mendekati Aaron yang masih menimang Javier.
"Ada obatnya?" Tanya Aaron.
"Ada, tapi antibiotiknya gak dapet. Katanya, harus ada resep dokternya. Mending daddy panggil om Jacob kesini. Biar sekalian di periksa," ujar Varo.
Aaron setuju, suhu tubuh putranya juga tak kunjung turun sejak tadi sore. Malah semakin naik, padahal sudah minum obat.
"Ya, coba kamu hubungi om mu suruh kesini." Titah Aaron.
Varo mengangguk, dia mengeluarkan ponselnya dan bergegas menelpon sang paman.
Aaron mendudukkan dirinya di tepi kasur dengan perlahan agar Javier tak terbangun. Lalu, dia melepas baju Javier. Kulit tangan Aaron yang dingin menyentuh kulit putranya yang terasa sangat panas.
"Daddy." Lirih Javier.
"Iya sayang,"
"Pucing kali, mutel-mutel duniana Viel."
Bisa- bisanya di saat lagi sakit seperti ini, anak itu bercanda dalam tidurnya.
___
Satunya semoga reviewnya cepet🥲