
Di rumah sakit, Aaron tengah menggendong seorang bayi sambil memasang wajah masam. Dirinya sedang di tertawai oleh Jacob dan Raihan.
"HAHAHAH!! BUATNYA ELIT, TAPI TEMPAT LAHIRNYA SULIT! CHUAKS! HAHAHAH!!"
Kedua pria itu tertawa bahwa sampai pukul memukul.
Kejadian beberapa jam lalu, membuat berita baru dalam keluarga Smith. Saat Zeva akan melahirkan, Aaron buru-buru menggiringnya ke mobil. Setidaknya, bayinya lahir di mobil, bukan di lapas. Namun sayang, di teras gedung lapas. Zeva sudah melahirkan sembari memegangi bayinya yang sudah keluar.
Tentu saja Aaron dan orang sekitar sangat syok, mereka buru-buru memanggil dokter agar Zeva segera di tangani.
Begini lah wajah Aaron sekarang, sembari memegangi bayinya. Dia masih merasa kesal dengan kejadian tadi.
"Lagian yah bang, bini lagi hamil gede malah di ajak ke lapas. Jadi brojol kan, hahahah!!"
"Iya, aturan kayak abang dong. Bawa istri Cappadocia, brojol di sana istri abang. Bukan di lapas, hahahah!!" Timpal Jacob.
"Raihan, Jacob. Diamlah! memangnya kalian pikir, kalian lahir dimana hah?"
Sontak Jacob dan Raihan menghentikan tawanya, wajah mereka mendadak bingung.
"Jacob, kamu itu lahirnya di kamar mandi umum! dan kamu Raihan, kamu yang lebih parah. Kamu lahirnya di kuburan! lahirnya kamu tuh bertepatan sama nenekmu meninggal."
"HAHAHAHA!!!"
Kini tawa Aaron meledak, dia mendekati kedua saudaranya yang berwajah masam.
"Di anatara kalian, aku yang tempat lahirnya paling normal." Ledek Aaron dan beranjak menuju istrinya.
Aaron menyerahkan bayinya yang lahir beberapa jam lalu, bayi mungil yang sangat tampan. Benar-benar copy-an dirinya, tidak ada sedikit pun gen Zeva yang bayi itu bawa.
"Waduh, ini mah mirip banget sama bapaknya." Cetus Adinda menoel pipi bayi yang sedang terlelap itu.
"Sengaja kak, pas hamil liatin fotonya mas Aaron terus. Soalnya Marsha sudah mirip aku, harus ada salah satu yang mirip bapaknya." Sahut Zeva dengan bahagia.
Adinda mendekatkan Vero pada bayi baru itu, terlihat Vero menatap bingung. Bayi yang baru berumur 1 bulan itu menatap lekat sepupunya.
"Dih, ngeliatin dia. Bisa kayak si kembar yah, gak jauh beda umurnya," ujar Adinda.
"Oh ya, udah di kasih nama?" Tanya Laras pada putranya.
Aaron menggaruk kepalanya, dia belum sempat mencari nama untuk bayinya.
"Belum mah, niatnya mau cari nama pas Zeva lagi proses lahiran. Biar lebih bagus dapet namanya," ujar Aaron.
"Kalau pas ngeden baru nyari mah yang ada ngasal!" Kesal Laras.
"Udah, biar mamah yang kasih nama aja." Seru Laras. Lalu, dia mengambil cucunya dari sang menantu. Di c1uminya pipi bulat cucunya.
"Ya jangan dong mah! itu kan anak Aaron! Aaron yang mau kasih nama. Pas lahir Marsha, Aaron gak kasih nama loh." Seru Aaron keberatan.
Laras memutar bola matanya malas, dia menatap kesal pada putranya itu.
"Terus mau di namain siapa?" Tanya Laras.
Senyum Aaron terbit, dia akan mengatakan tentang naka yang tercetus di benaknya.
"PUTRA LAPAS!" Seru Raihan membuat Aaron menatap datar padanya.
"Haha jangan gitu Rai, bisa jadi anaknya Aaron besar nanti jadi hakim. Atau enggak jadi polisi," ujar Jacob.
"Ya enggak masalah sih bang, yang penting gak jadi penghuninya aja."
Aaron meraih apel di atas nakas dan melemparkan ke arah Raihan.
BUGH!
"ARGH!! MASA DEPAN GUE!!" Pekik Raihan memegangi masa depannya.
cklek!
Haikal kembali membawa Marsha dan si kembar, masing-masing dari mereka.membawa jajan dari luar.
"Dih, beli apa tuh?" Cetus Raihan menatap ponakannya.
"Batagol doongg!!" Seru Marsha dengan wajah tengilnya.
"Aa gak di kasih?" Tanya Raihan.
Marsha mendelik menatap Raihan, begitu pun dengan si kembar.
"Batagol ini haltana Malcha, janan pegang haltana Malcha. Doca!" Sewot Marsha dengan mata mendelik tajam.
"Kebanyakan anak kecil tuh kepengen nya balon, beda sama anak mu Aar. Maunya Batagor, Cimol, Cireng. Makanan yang si kenbar pun gak tau apa namanya. Heran," ujar Haikal dengan mada frustasi.
Ariel mulai memakan batagornya, seketika binar terang di matanya mengekpresikan betapa enaknya makanan itu.
"Enak bangeeett!! nanti beli lagi lah, mulah lagi." Cetus Ariel dengan senang.
Namun, sayangnya itu hanya sementara. Jacob datang dan mengambil bungkus batagor dari tangan si kembar. Bukan si kembar saja, batagor Marsha pun ikut di ambilnya.
"DADDY!"
"UNCLE!!"
Sentak ketiganya menatap tajam Jacob yang dengan santainya membuang batagor itu ke tempat sampah.
"HUAAA!! HALTANA MALCHA! HALTANA MALCHA!!" Pekik Marsha, anak itu berlari menuju tong sampah dan menggendong tong sampah itu.
"Daddy hiks ... batagolna Malcha, batagolna Malcha hiks ... huaa!!"
Aaron menghela nafas pelan, dia menghampiri putrinya dan mengambil tiog sampah itu. Lalu, mengembalikan pada tempatnya semula.
"Kalian masih kecil, makanan itu gak sehat buat kalian." Bujuk Aron dan beralih menggendong putrinya.
"Malcha dali olok makan batagol campe cekalang macih belnapas kok!" Pekik Marsha tak terima. Dia hanya bicara ngasal, biarpun dia tak memgingat masa kecilnya. Tapi, makanan favoritnya tetaplah batagor. SIapa lagi yang memgenalkan, kalau bukan Raihan.
Sedangkan Jacob, dia menatap tajam kedua putranya yang menundukkan kepalanya. Daddy mereka memang melarang keras mereka memakan makanan seperti itu, bahkan mereka tidak di perbolehkan memegang uang.
"Nanti abis ini kita beli yah, sekarang adik Marsha di kasih nama dulu." Bujuk Aaron.
"Benel yah!" Aaron mengangguk cepat, Marsha pun kembali tersenyum.
Aaron membawa putrinya mendekati adiknya, Mereka menatap bayi mungil yang berada di gendongan Laras.
"Jadi, mau kasih nama siapa?" Tanya Laras.
Aaron menatap bayinya itu dengan senyuman lembut,
"Aku akan beri dia nama, Alvaro Satria Alexander. Aku ingin, dia menjadi anak yang bijaksana dan pemberani." Saat Aaron memberi nama pada bayinya, matanya sampai berkaca-kaca.
"Alvaro, kita panggil Varo. Satunya Alvero Smith, udah kayak bayi kembar deh!" Seru Adinda.
Laras tersenyum tipis, marga yang di sematkan pada bayi di gendongannya itu tidak akan pernah bisa mengikuti marga Smith. Sebab, Aaron adalah anak dari mantan suaminya.
Varo terusik dalam tidurnya, dia menggerakkan tubuh mungilnya yang terbungkus bedong bayi. Marsha memperhatikan apa yang adiknya itu lakukan dengan kening mengerut
"Daddy, daddy?" Panggil Marsha sembari menepuk pundak sang daddy.
"Hm." Sahut Aaron.
"Adekna ngulet-ngulet kayak ulel." Perkataan Marsha membuat semuanya tertawa lepas.
***
3 hari telah berlalu, Mentari telah menyewa Apartemen untuk ia tempati sementara bersama putranya.
Pagi ini, Mentari telah memasakkan sarapan untuk putranya, dia membawa sarapan itu ke putranya yang sedang menonton acara televisi di ruang tengah.
"Makanannya sudah jadiii!" Seru Mentari dengan wajah riang.
Mentari menaruh piring sarapan di hadapan Raden, pria kecil itu kemudian memakan sarapannya dengan lahap.
"Mama ke dapur dulu yah, habis kan makanannya." Ujar Mentari sembari mengusap rambut putranya.
Mentari pergi ke dapur, berniat ingin membereskan dapurnya. Namun, baru saja akan menginjak lantai dapur. Langkahnya terhenti, mendadak kepalanya terasa pusing. Pandangannya menjadi abu-abu.
Tes!
Wanita itu mengadahkan tangannya di bawah wajah, darah baru saja menetes dari hidungnya.
BRUGH!
Mentari jatuh tak sadarkan diri. Suara jatuh, membuat Raden bergegas menghampiri sang ibu karena insting seorang anak.
"Mama." Lirih Raden suara bergetar, mata bocah itu berkaca-kaca. Menatap ibunya yang tak sadarkan diri, dengan darah di hidung dan tangannya.
****
Terima kasih yang sudah tandain typo😁
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA🥰🥰🥰