
Aaron tampak buru-buru keluar rumahnya, di telinganya tertempel ponsel miliknya.
"Ya pak, kita akan bertemu di titik lokasi yang saya berikan. Ya, baik! saya akan ...."
Langkah kaki Aaron terhenti, tangannya yang tadi memegang ponsel pun dia turunkan saat melihat sebuah mobil terhenti di hadapannya.
Ketika pintu mobil itu terbuka, keluarlah Marsha dari dalam dengan raut wajah yang ceria.
"Daddy!" Pekik MArsha.
"Astaga, Marsha!" Aaron merentangkan tangannya, berniat menyambut putrinya.
Marsha tidak sabar memeluk sang daddy, sehingga dirinya berlari. Namun, baru berlari pelan. Dia merasakan sakit.
"Awss!!" Ringis MArsha.
Aaron tentunya panik, dia bergegas menghampiri putrinya dan membantunya berjalan.
"Ada apa? kenapa kau berjalan dengan benar? apakah kau habis terjatuh sayang?" Panik Aaron.
Marsha terdiam, bagaimana dia mengatakannya?
"Om! kita pamit yah!" Seru Aurel.
Aaron berbalik sebentar, "Ya! hati-hati, terima kasih sudah mengantar Marsha!" Serunya.
Barang-barang Marsha pun juga sudah di turunkan oleh Aurel, dan Aaron meminta bodyguard untuk membawa barang-barang putrinya masuk.
"Bagaimana kamu bisa kembali? padahal daddy belum ke sana menjemputmu,"
Pertanyaan Aaron membuat tubuh Marsha menegang, langkah tiba-tiba terhenti. Melihat gelagat aneh dari putrinya, Aaron menaruh rasa penasaran.
"Ada apa? apa kalian bisa kabur dari sana?" Tanya Aaron.
Marsha mengangguk pelan, hal itu membuat Aaron bernafas lega.
"Syukurlah," ujar Aaron.
"Apa bunda tahu?" Tanya Marsha.
Aaron lalu menggeleng, "Bunda sedang ada di kediaman Smith, dia menginap di sana karena menemani tantemu. karena om Jacob, sedang ada tugas di luar kota," ujar Aaron.
Marsha menghela nafas lega, dia tak ingin bundanya khawatir. Dia tak sanggup melihat raut wajah kecewa dari sang bunda.
Aaron membawa putrinya ke kamar untuk istirahat, dia juga turut membantu Marsha berjalan. Karena sepertinya putrinya terlihat susah sekali berjalan.
"Sekarang, istirahatlah. Mungkin kau lelah," ujar Aaron setelah menempatkan putrinya di tempat tidur.
"Dad." Marsha memegang tangan sang daddy dengan sorot mata yang sendu.
"Ada apa hm?" Tanya Aaron sembari menangkup wajah putrinya.
"Bagaimana dengan statusku? apa aku sudah menjadi seorang istri?" Tanya Marsha dengan suara bergetar.
Aaron menghela nafas pelan, "Pernikahanmu sah, tapi tidak secara hukum. Daddy akan cari tahu pria yang menikahimu dan menyuruhnya untuk mengucapkan cerai padamu. Lagian, pernikahan kalian tidak ada yang tahu. Jadi, statusmu akan aman."
Marsha terdiam, dia ragu untuk berkata jujur. Melihat putrinya yang terbengong, Aaron pikir putrinya masih memikirkan tentang statusnya.
"Jangan di pikirkan, pernikahan kalian tidak sah secara hukum. Akan lebih muda untuk bercerai, sudah! tidurlah! Daddy akan mengurus pembatalan laporan." Tegur Aaron.
"Oh ya, ngomong-ngomong. Pemuda itu, apakah dia masih ada di sana?" Marsha yang di tanya seperti itu hanya bisa menggeleng.
"Hem baiklah, tidurlah sayang. Kalau butuh apa-apa, daddy ada di ruang kerja." Sebelum beranjak pergi, Aaron lebih dulu mengelus rambut putrinya.
Marsha terdiam, dia meremas sisi ranjang. Tatapan matanya terlihat kosong.
"Kenapa aku begitu bodoh." Gumamnya.
.
.
.
1 bulan telah berlalu, Marsha lebih banyak diam sejak pulang dari acara berliburnya. Aaron belum juga menemukan pemuda yang telah menikahi putrinya, sebab yang dirinya tahu nama pemuda itu hanya Nathaniel Oliver.
"Mas." Zeva menatap suaminya yang sedang merenung di ruang kerja.
"Hm?" Lamunan Aaron buyar ketika merasakan tepukan lembut sang istri.
"Kamu ada merasa aneh gak dari Marsha?" Tanya Zeva.
Aaron terdiam, apakah ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya tentang kejadian yang menimpa sang putri.
"Semenjak pulang dari liburan sama teman-temannya, dia menjadi anak yang pendiam. Bahkan, beberapa kali Javier berbuat iseng padanya. Marsha tak menanggapinya, aku khawatir padanya mas," ujar Zeva dengan lirih.
"Mas juga, mungkin dia butuh waktu untuk menerima ini semua," ujar Aaron.
"Ya, semoga saja. Aku rindu putri kita yang dulu," ujar Zeva.
Sementara Marsha, dia sedang uring-uringan di kamar. Dia mengecek tanggal datang bulannya, yang seharusnya datang sepekan lalu.
"Sudah telat seminggu, baru kali ini aku telat. Apa jangan ... jangan. .. enggak! Aku gak yakin." Gumam Marsha.
Marsha bergegas mengambil tas dan dompetnya, tak lupa juga ponselnya. Dia segera beranjak keluar kamar dan pergi keluar rumah dengan buru-buru.
"Kak Marsha mau kemana? kok kelihatannya buru-buru." Gumam Varo, bahkan MArsha tak menyadari jika dirinya melewati Varo.
Marsha menghentikan mobilnya di depan sebuah apotik, dia memakai maskernya dan bergegas turun.
Marsha takut ada yang mengenalinya, sesekali dia mencuri pandang ke sekitar.
"Em mbak, saya mau beli pelancar datang bulan? soalnya saya telat datang bulan," ujar Marsha.
Terlihat, apoteker itu menatap Marsha dengan tatapan penuh selidik.
"Saya memang mengalami datang bulan yang tidak teratur mba, kalau gak percaya. Mbak bisa tanya sama dokter pribadi saya." Marsha pura-pura mencari nomor dokter, padahal dirinya tak punya. Hanya nomor om nya saja yang seorang dokter umum.
"Baiklah, mau merk apa?" Tanya apoteker itu.
"Yang cepet mbak, harga gak masalah," ujar Marsha.
"Ini, totalnya dua ratus lima puluh ribu."
Marsha mengeluarkan uang dan memberikannya ke apoteker itu. Netranya menatap obat yang berada di genggamannya.
"Semoga aja, habis ini gue datang bulan." Gumam Marsha.
Saat Marsha berbalik, dia tak sengaja menabrak seseorang hingga kepalanya membentur kuat dada seseorang itu.
"Awss!! kalau jalan matanya di pakai dong!" Pekik Marsha tanpa melihat orang itu.
"Obat apa yang lo beli?"
Degh!!
Jantung Marsha berdebar kencang, dia mengenali suara berat itu. Dengan perlahan, dia mengangkat wajahnya.
Terlihat tatapan Nathaniel menyorot tajam padanya, rahangnya terlihat sangat tegas. Pemuda itu, memakai seragam sekolah dengan jaket hitam khas geng nya yang menutupi baju seragam putihnya. Walau begitu, celana abu-abu miliknya masih di kenali jika dia adalah seorang pelajar SMA.
"Obat apa yang lo pegang?"
"I-ini ... bukan apa-apa kok." Marsha menyembunyikan obat itu di belakang tubuhnya.
Nathaniel berdecak keras, dia merebut obat itu dari Marsha. Tenaga Marsha kalah dengan Nathan, sehingga obat itu berhasil Nathan rebut.
"Nathan!" Pekik MArsha.
Nathan menulikan pendengarannya, dia berjalan mendekati apoteker yang menatap ke arah mereka.
"Mbak, tolong beritahu saya. Obat apa ini." Pinta Nathan menyerahkan obat itu.
"Ini pelancar datang bulan mas, biasanya di minum sama orang yang telat datang bulan nya. Katanya mbak nya telat datang bulan karena terbiasa, jadi saya pikir ...,"
"Tukar! ganti dengan tespack!"
"Nathan!" Pekik Marsha tak terima.
Apoteker itu terlihat bingung, apalagi saat melihat Nathan yang mengenakan seragam SMA. membuatnya sangat syok.
"Apa apaan sih kamu!" Bisik Marsha dengan penuh penekanan.
"Ngapain bengong mbak? dia istri saya, wajar jika kami beli testpack!"
"O-oh i-iya,"
Selama menunggu apoteker itu mengambil pesanan Nathan, pria itu mencengkram tangan Marsha agar wanita itu tidak kabur.
"Ini mas." Apoteker itu menyerahkan berbagai macam testpack.
"Pas?" Tanya Nathan yang di balas anggukan langsung olehnya.
"Terima kasih."
Selepas itu, Nathan bergegas membawa Marsha keluar.
"Lepas! kamu gila yah!" Sentak Marsha dengan sorot mata yang memerah.
Nathan menatap wanita di hadapannya dengan tatapan datar.
"Lo mau bunuh janin itu?" Tanya Nathan.
"Aku gak hamil!!!" Sentak Marsha.
"Gue yakin, lo hamil!" Sentaknya.
Marsha mengusap wajahnya, air matanya sudah jatuh. Dia tak sanggup melihat raut wajah kecewa dari orang tuanya.
"Ayo, gue antar lo pulang,"
"Kamu bener-bener gak waras!" Pekik Marsha.
"Gue waras, makanya gue mau tanggung jawab! jangan lo pikir, gue ngebiarin lo ngeluruhin calon anak gue. Enggak akan pernah gue biarin hal itu terjadi!" Sentak Nathan dengan sorot mata yang tajam.
"Gue emang jauh lebih muda dari lo, tapi jangan lo pikir gue gak pantes jadi seorang ayah. Gue udah pikirin konsekuensi yang akan gue dapet, makanya gue mau nurutin rencana yang lo mau saat itu."
Perkataan Nathan membuat Marsha tersentuh, tapi pikirannya membuatnya menolak.
"Nathan, masa depan kamu masih panjang." Lirih Marsha.
Nathan memegang kedua bahu Marsha, dia menatap dalam wanita yang telah berstatus sebagai istrinya.
"Gue gak peduli tentang masa depan gue, yang gue perduliin. Masa depan dia, kalau memang benar, dia sudah hadir di dalam sana." Bisik Nathan sembari menunjuk ke arah perut Marsha yang masih rata.
___
Stay halal bestiee. Nathan udah halal yee, gak masalah. Yang jadi masalah itu, kalau belum halal😪
Bagi para jomblo, jaga masa depan kalian😘