Find Me Daddy

Find Me Daddy
Perhatian Nathan(S2)



"Apa kau sudah makan?"


"Sudah,"


"Sudah minum susu?"


Marsha saat ini sedang melakukan video call dengan Nathan, suaminya. Aaron dan Kenan sepakat, jika keduanya akan menyembunyikan status sampai Nathan lulus ujian yang akan di laksanakan sebulan lagi. Selain itu, Aaron belum memberi syarat agar Marsha tetap tinggal di rumahnya sampai resepsi itu di adakan.


Awalnya Nathan tak setuju, dia ingin segera mempublikasi tentang pernikahannya dan membawa istrinya. Namun, statusnya yang masih mahasiswa membuatnya urung. Ujiannya sudah di depan mata, sebentar lagi dia akan lulus.


"Susu? aku tidak meminumnya, apakah perlu? aku bukan Javier," ujar Marsha.


Terlihat di layar, Nathan sudah tak tampak lagi. Video pun terlihat tak jelas karena mengarah ke sembarang arah.


"Nathan, kau sedang aap?" Heran Marsha.


"Nanti aku telpon lagi,"


Tutt!!


Marsha menganga tak percaya, dia menutup ponselnya dengan kesal. Entah mengapa, sikap Nathan membuatnya sangat kesal.


"Aku masih ingin melihat wajahnya." Lirih Marsha, dan menelungkupkan wajahnya pada bantal.


Sementara di kediaman Alvarendra, terlihat Nathan buru-buru memakai jaketnya. Dia bergegas menuruni tangga, membuat Claudia yang baru saja datang mengernyit heran.


"Nathan, kau mau kemana?" Tanya Claudia saat melihat adiknya terlihat sangat buru-buru.


"Keluar." Jawab Nathan dengan cuek.


"Nathan! kakakmu baru saja sampai! Temani dia dulu! Sery Sofia.


" Aku mau ke rumah om Aaron!!" Seru Nathan dan berlanjut pergi.


Sofia menghela nafas pelan, dia menaruh dua cangkir teh di meja ruang tengah. Claudia menghampiri sofia dengan tatapan bingung.


"Siapa itu om Aaron?" Bingung Claudia.


Sofia menghela nafas pelan, dia menarik Claudia untuk duduk di sebelahnya. Dia belum menceritakan tentang Marsha pada Sofia, karena Nathan melarangnya. Putranya itu ingin memberitahu semua keluarga saat di adakan resepsi yang di gelar setelah dirinya lulus ujian.


"Teman papi mu," Jawab Sofia.


"Ha? untuk apa Nathan kesana?" Bingung Claudia.


Sofia bingung ingin menjawabnya, kenapa lah putranya ingin merahasiakan ini dari Claudia. Bahkan, kakek neneknya pun tidak boleh tahu.


"Itu ...."


"Ehh, Claudia. Kau disini?"


Claudia dan Sofia tersentak kaget saat mendengar suara bariton yang berasal dari tangga. Ternyata Kenan datang menghampiri mereka dan menyapanya.


"Papi." Claudia tersenyum, dia memeluk Kenan yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri.


"Putri papi, gimana dengan kandungan mu?"


"Baik, sangat baik." Sahut Claudia.


Claudia kembali duduk, begitu pun dengan Kenan. Beruntunglah suaminya datang, jadi Sofia tak lagi menjawab pertanyaan Claudia.


"Nyaman di rumah barunya?" Tanya Kenan, pasalnya baru dua minggu yang lalu Claudia membeli rumah bersama suaminya.


"Nyaman, tapi jauh dengan rumah ini." Kesal Claudia.


"Tak masalah, mami dan papi akan tetap mengunjungimu. Iya kan pi?" Sahut Sofia, tak ingin anak perempuannya sedih.


"Hm benar," ujar Kenan.


Mereka pun berbincang mengenai kehidupan baru Claudia, tanpa membicarakan tentang Nathan. Sepertinya, Claudia lupa menanyakannya kembali.


.


.


.


"Eunghh!!"


Setelah melakukan video call dengan Nathan tadi, Marsha tak sengaja ketiduran. Saat asik menyelam di alam mimpi, dirinya merasakan ada yang mengelus rambutnya.


"Javier, diam lah. Jangan usik kakak, kakak mengantuk sekali." MArsha menyingkirkan tangan yang mengusap rambutnya. Dia berbalik dan memunggungi orang itu.


Tak kunjung bangun, orang tersebut tak kehabisan akal. Dia meniup telinga Marsha yang membuat wanita itu merinding.


"Javier, jangan main-main. Akan kakak buang susumu, gak akan kakak suruh bibi buatkan lagi!" Ujar Marsha yang sudah terlanjur kesal.


"Javi ... Nathan?! kamu ngapain disini!!" MArsha terkejut melihat Nathan yang sudah ada di kamarnya.


Nathan tersenyum, dia membenarkan anakan rambut Marsha yang berantakan.


"Gue gak boleh ketemu istri?" Tanya Nathan dengan tatapan penuh kelembutan.


Marsha seperti tersihir dengan tatapan Nathan, degup jantungnya seperti tak normal.


Marsha melihat ke arah pintu, dia buru-buru turun dari ranjang dan menutup pintu yang masih terbuka itu.


Nathan melihat apa yang di lakukan Marsha dengan kening mengerut.


"Kenapa di tutup?" Heran Nathan.


Marsha naik kembali ke ranjang, tatapannya tak sengaja melihat gelas susu di atas nakas.


"Kamu nekat sekali, bagaimana jika daddy marah?" Tanya MArsha yang kini beralih menatap Nathan


"Marah? marah kenapa? gue suami lo, bukan pria asing yang menyusup. Bahkan, bunda yang menyuruh gue untuk masuk ke kamar lo." Santai Nathan.


Marsha memasang wajah kesal, setiap kali Nathan dan Aaron bertemu. Pasti kedua pria itu berdebat. Entah Aaron yang memulai duluan, ataupun Nathan.


"Sudahlah, minum susu hamil lo. Keburu dingin nanti." Nathan memberikan gelas susu yang sebelumnya sempat dia buat.


Marsha menatap susu itu dengan kening mengerut.


"Susu Javier?" Tanya Marsha.


Nathan tertawa kecil, "Bukanlah, gue beli susu hamil buat lo. Biar anak gue sehat." Terang Nathan.


Marsha merasa kagum dengan Nathan, suaminya masih sangat muda. Tapi, hal kecil seperti ini pun dia perhatikan.


"Ayo di minum, gue gak tau lo suka rasa apa. Tadi, gue beli banyak macam rasa biar bisa di coba sama lo," ujar Nathan dengan antusias.


Marsha mengambil gelas itu, perlahan dia mulai meminumnya. Rasanya aneh, dia tak terbiasa lagi meminum susu.


"Kenapa? gak enak yah?" Tanya Nathan.


"Mual." Cicit Marsha.


"Hwek!" Rasa amis susu masih terasa di lidahnya.


"Mau muntah?" Tanya Nathan berubah panik.


Marsha menggeleng, Nathan kembali menaruh susu itu dan memperhatikan Marsha.


"Maaf, gue buatkan lagi rasa lain? Gue gak tau lo gak suka rasa vanilla," ujar Nathan dengan rasa bersalah.


"Enggak usah, buat nanti malam aja."


Selepas minum susu itu, Marsha merasa perutnya tidak enak. Nathan yang peka, bergegas mengeluarkan minyak angin dari dalam jaketnya.


Melihat hal itu, Marsha menatap Nathan meminta penjelasan.


"Gue baca di internet, katanya perut ibu yang sedang hamil muda sering merasa gak enak. Minyak aroma terapi ini, bisa sedikit membantu." Terang Nathan.


Marsha menghela nafas pelan, dia menangkupkan tangannya pada wajah Nathan. Hingga membuat keduanya saling tatapan dalam jarak dekat.


"Kenapa kamu dewasa sekali? bahkan, aku tidak tahu hal-hal seperti ini? terima kasih, Maaf ... kau jadi tidak bisa menikmati masa remajamu."


Nathan tersenyum, dia memegang tangan Marsha dan menggenggamnya.


"Justru gue yang makasih, lo mau merelakan perut lo untuk tempat tinggal sementara untuk bayi kita sampai dia lahir ke dunia." Balas Nathan. Marsha lagi-lagi dibuat melelah dengan perkataan NAthan.


"Tidur lagi, gue temani." Nathan membantu Marsha merebahkan diri kembali, kali ini berbantalan lengan kekar pemuda itu.


Marsha menghadap ke arah dada bidang suaminya, dia bisa merasakan detakan jantung Nathan yang berirama indah.


"Mau di olesin minyaknya?" Tanya Nathan.


"Nanti aja, aku mengantuk." Lirih Marsha.


"Yasudah, tidurlah." Pinta Nathan.


"Heum." Marsha mulai menutup matanya, dan menyelami alam mimpi.


Nathan menatap wajah pukas istrinya, tangannya terangkat mengelus pelan pipi istrinya itu.


"Maaf, mungkin sekarang hati gue masih terdapat nama wanita lain. Semoga dengan menerima pernikahan ini, gue bisa mengeluarkan dia dari dalam hati gue. Dan menggantinya dengan nama lo." Lirih Nathan.


_____


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA🥳🥳🥳