
Aaron menatap tajam keluarga besar Nathan, tatapannya tak berubah hingga tepukan di pahanya membuat dirinya tersentak kaget.
"Cepet ngomong!" Desis Zeva menatap tajam suaminya.
Aaron masih diam, dia sepertinya enggan untuk menuruti keinginan istrinya itu. Sementara Marsha, dia sudah duduk di samling sang ibu sambil memeluk lengannya erat.
"Satu ... dua ...,"
"IYA! Nathan gak akan bercerai dengan putri saya. Saya memutuskan untuk memberi restu pada mereka."
Raut wajah keluarga Nathan tersenyum sumringah, terlebih Andre. Karena saat Marsha kecil, Andre begitu gemas dengannya. Bahkan, dia ingin memiliki cucu seperti Marsha. Namun sayangnya, cucu dia semuanya laki-laki. Dan tidak ada perempuannya, bahkan satu pun.
"Eits! tapi jangan senang dulu, saya sebagai ayah Marsha ingin mengajukan beberapa syarat."
"Mas!"
"Dad!!"
"Apa?! daddy berhak memberi syaratkan?" Cetus Aaron menatap istri dan putrinya secara bergantian.
"Syarat apa yang ingin kamu ajukan?" Tanya tuan Alvarendra, yaitu Delvin Gerald Alvarendra, pemilik perusahaan Alvarendra yang kini sudah di kelola oleh putranya.
Aaron menatap Delvin dengan senyuman tipis, senyum yang memberi isyarat yang akan membuat mereka terkejut.
"Pertama, saya ingin resepsi pernikahan mereka di umumkan setelah Nathan lulus sekolah. Yang kedua, Nathan wajib memiliki pekerjaan. Jika tidak, mau di kasih makan apa putriku olehnya? walaupun keluarga kalian kaya, saya butuh seorang menantu yang bertanggung jawab dengan istrinya. Yang ketiga, saya mau putri saya di izinkan bekerja. Karena salah satu perusahaan milik saya, akan saya serahkan padanya."
"Dad! Marsha gak mau bekerja! Marsha kan pernah bikang, kalau Marsha gak suka bisnis! Marsha lebih senang menjadi guru, kenapa daddy tetap meminta Marsha untuk bekerja di perusahaan!" Kesalnya.
Marsha memasuki jurusan bisnis atas permintaan Aaron, sedangkan dirinya tak menyukai itu. Dia lebih senang menjadi guru taman kanak-kanak yang sampai saat ini belum terpenuhi keinginannya itu.
"Siapa yang akan membantu daddy jika bukan kamu? Varo masih sekolah,"
"Bentar lagi kan dia lulus! aku gak suka di kantor!" Pekik Marsha.
Aaron menghela nafas pelan, jika sudah begini. Dia akan menuruti keinginan putrinya.
"Baiklah, persyaratan ke empat. Pernikahan putri saya harus mewah."
"Dad!"
"Eits ... protes, batal perjanjian kita."
Marsha mengerucutkan bibirnya, dia malu pada keluarga Nathan. Daddy nya sangat matre sekali.
"Yang terakhir, jika sekali saja saya tahu Nathan bermain tangan pada putri saya. Maka detik itu juga, saya akan membawa pulang putri saya. Tidak ada kesempatan lagi untuk nya, sampai kapanpun." Wajah Aaron terlihat sangat serius, kali ini dia yakin dengan perkataannya. Selama ini, dia tak pernah bermain fisik dengan putrinya, dia berharap Nathan pun akan sama.
Andre dan Delvin mengangguk setuju atas permintaan Aaron.
"Syarat yang mudah, ada lagi?"
Zeva dan Marsha melongo di buatnya, bisa-bisanya syarat yang Aaron ajukan di sebit mudah bagi mereka.
"Saya ingin, pernikahan Nathan dan Marsha di ulang. Dengan mahar yang pantas. Awal menikah, maharnya hanya lima puluh ribu. Bahkan isi bensin dengan uang segitu aja gak cukup."
"Anda meminta mahar berapa?" Delvin pun angkat bicara.
Seketika, Aaron mengangkat satu sudut bibirnya. MArsha sudah ketar-ketir, dia takut Aaron akan meminta hal yang tidak-tidak.
"Hanya tanah 10 hektar saja, itu sudah cukup."
"DADDY!!" Pekik Marsha, bukan hanya Marsha saja yang kaget. Bahkan, Laras dan suaminya pun sama halnya. Terlebih Adinda, dia bahkan sampai menghitung harga tanah sepuluh hektar itu.
"Oke, Deal!" Seru Delvin tanpa banyak berkata.
.
.
.
Kediaman Kenan.
Keadaan kamar Nathan, kini hanya terdapat kegelapan. Nathan tak menyalakan lampunya, bahkan gorden kamarnya pun tertutup rapat. Dia hanya tidur di tempat tidur tanpa mau melalukan apapun.
Satu hal yang baru Nathan sadari, dia sudah mencintai Marsha. dia takut kehilangan wanita itu. Entah mengapa, bayangan Marsha tak bisa lepas dari pikirannya.
Dirinya kembali teringat, saat keluarganya tahu tentang pernikahannya dan Marsha.
"Aku telah menikahi Marsha, dengan keadaan sadar dan tanpa paksaan. Aku tertarik dengannya sejak pertama kali aku melihatnya."
"Marsha? Jangan bilang Marsha putri Aaron Alexander?"
"Dasar b0doh! dia itu cucu kesayangan opa kau tahu?! sayangnya kami sudah lama tidak bertemu, ternyata ... ternyata dia menjadi istrimu ya hahaha. Tenang, nanti opa usahakan agar istrimu kembali padamu,"
Natha menghela nafas pelan, dia beranjak dari tidurnya. Kepalanya pening, wajahnya pucat. Bahkan, kantung matanya terlihat hitam.
"Haish ... semoga yang opa katakan benar. Jika opa mengenal baik keluarga mereka, bukankah lebih mudah untuk membujuk singa garang itu." Gerutu Nathan.
"Siapa singa garang?"
Degh!!
Nathan terkejut saat mendengar suara wanita yang dia rindukan, bergegas dia beranjak dan berbalik menatap ke arah pintu.
"Marsha?" Gumam Nathan.
Dia tak menyadari jika Marsha sudah membuka pintu kamarnya. Istrinya itu berjalan mendekatinya dengan senyuman yang lembut.
"Kata mamah, kamu gak makan tiga hari. AKu pikir, kamu pingsan." Tangan Marsha terangkat, mengelus pipi Nathan dnegan lembut.
Wajah suaminya terlihat sayu dan tak terawat. Marsha merasa sedih melihat Nathan seperti ini.
"Kenapa enggak makan?" Tanya Marsha.
Mata Nathan menjadi berembun, dia ingin sekali menangis saat ini. Dia benar-benar tak menyangka jika Marsha berdiri di hadapannya, bahkan memegang wajahnya.
"Marsha." Nathan menahan sesak di dadanya.
"Iya, ini aku. Kenapa gak makan hm? kamu juga, gak ke urus begini." Marsha masih ingat, pakaian yang Nathan pakai adalah pakaian yang sama sejak terakhir mereka bertemu.
Grep!!
Natah memeluk erat Marsha, dia merasa jika ini benar-benar nyata. Marsha nya sudah kembali.
"Kau tahu, aku hampir gila jika kamu tidak kembali hiks ... kamu j4hat sekali. Aku takut menemuimu, aku tidak ingin daddy mu kembali memaksaku untuk menceraikan mu."
"Nathan! lepaskan!!" Pekik Marsha.
Nathan melepas pelukannya dengan terpaksa, netranya menatap aneh pada MArsha yang menutup hidungnya dan menahan mual.
"Kenapa? Kamu sakit juga?" Tanya Nathan dengan kening mengerut.
"Kamu bau!!" Pekik MArsha menutup hidungnya.
Nathan mengendus aroma tubuhnya, seketika dia menyengir lebar. "Hehe, iya. Aku belum mandi tiga hari, gimana mau mandi? pikiranku cuman kamu doang."
Marsha menggelengkan kepalanya, semalas-malasnya dia. Pasti akan mandi kalau pun cuman malam hari saja.
"Mandi sana!" Pinta Marsha.
"Mandiin." Rengek Nathan.
"Kamu kan masih hidup, kok mau di mandiin?!"
Seketika raut wajah Nathan berubah, dia menatap kesal ke arah Marsha.
"j4hat banget sih." Kesal Nathan.
"Udah sana kamu mandi! atau mau aku pulang?"
"Ya jangan!!" Pekik Nathan, bergegas memasuki kamar mandi.
Marsha hanya bisa menggelengkan kepalanya, menatap tingkah Nathan yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Bener kata orang yah, suami itu jiwa nya bayi. tapi raganya dewasa." Gerutu Marsha.
Marsha membuka gorden kamar Nathan, hari masih sore menjelang gelap. Sehingga masih ada cahaya yang masuk.
Karema tak terlalu terang, Marsha mencoba menyalakan lampu. Seketika netranya terbelalak saat melihat banyaknya puntung rokok dimana-mana.
"Nathan ngerokok." Gumam Marsha. Pantas saja, saat masuk ke kamar pria itu. Bau rokok menguar, menusuk hidungnya.
Marsha tidak menyukai pria perokok, apalagi dengan banyaknya puntung rokok. Marsha merasa, jika Nathan adalah perokok aktif.
Bukan hanya rokok saja, banyaknya minuman kaleng bersoda. Sudah membuat Marsha meringis saat melihatnya.
"Perutnya aman kah?" Gumam Marsha.
_____