
"MOMMY!! ANAK TAMPANMU PULAANGG!!"
Laras yang sedang melakukan perawatan wajah bergegas keluar, netranya membulat sempurna saat melihat siapa yang datang.
"KALIAN!!" Pekik Laras dengan heboh.
Pria yang berteriak tadi segera merentangkan tangannya, Laras pun berlari menghampirinya. Namun, dia malah mendorong pria itu hingga jatuh.
BUGH!!
"Loh? cucu mommy mana?!"
"Awshh!! yang bener aja dong mom! gak inget apa kalau aku anakmu." Pekik pria tampan itu.
Laras hanya melirik sekilas, dia beralih menatap mobil. Keluar lah sosok yang ia tunggu-tunggu.
"Kamu mah sudah kadaluarsa! mommy kangen sama cucu mommy!" Pekik Laras.
"AKASH!!"
Laras bergegas menghampiri Akash yang berada di gendongan sang abang, wajahnya terlihat bingung saat tubuhnya beralih pada gendongan Laras.
"Cucu tampan nenek, capek yah sayang? istirahat yuk di kamar nenek!"
Pria tampan itu melongo, melihat kepergian sang ibu dari pandangannya.
"Eh, Raihan, kalian udah sampai?"
Pria tampan itu adalah Raihan, dia datang bersama istri dan anaknya. Ayla, istri Raihan. Mereka menikah sudah belasan tahun, tetapi putra mereka masih berumur sembilan dan empat tahun.
"Haechan, wah ... kau sudah besar." Sery Adinda, menatap keponakan tampannya itu.
"Halo aunty." Anak bernama Haechan itu, segera mendekati Adinda.
Haechan King Smith, Raihan lah yang memberikannya nama berdasarkan usulan sang istri yang terlalu menyukai pria asal korea itu.
"Ante, bunda mana? ketoplakna belum bayal."
Raihan dan Ayla bergegas menoleh ke asal suara, terlihat Javier datang dengan piring ketoprak di tangannya.
"Eh, Vier ...."
"Anak siapa kak? anak pembantu? atau kakak, bunting lagi?" Tanya Raihan dengan polosnya.
Adinda bergegas menepuk belakang leher adiknya itu.
"Sembarangan! dia ponakanmu tau!" Pekik Adinda.
"APA?! SIAPA?! SIAPA YANG BUAT!!" Pekik Raihan.
"ABANG! KENAPA?"
Semua pasang kata menatap ke arah pintu utama, di sana Aaron telah berdiri dengan tatapan tajam memandang kearah Raihan.
"Dih! Kak Zeva kapan buntingnya?!" Pekik Raihan tak percaya.
Pasalnya, dia tidak tahu apa yang terjadi selama ini. Karena dia sibuk mengurus bisnisnya di luar negri. Jarang sekali dia bertelepon dengan keluarga disini, kecuali karena hal penting.
Aaron menghiraukannya, dia malah mendekati Javier dan mengambil piring ketoprak itu.
"DADDY!!!" Pekik Javier.
"Sudah ketoprak nya! ini piring ketiga yang kamu makan, lihat perutmu! sudah kau meledak! sudah siang, ayo tidur." Aaron langsung menarik tangan Javier.
"EKHEEE!! HUAAA!!" Javier menangis kencang di gandengan Aaron, batal sudah ketopraknya.
Raihan menatap keponakannya dengan wajah melongo.
"Eh iya, itu mah mix antara bang Aaron sama kak Zeva. Pantes aja mukanya neda." Gumam Raihan.
Sedangkan Aaron, dia membawa Javier ke kamarnya. Di lihat, istrinya baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe di tubuhnya.
"Loh, Vier kenapa nangis mas?" Zeva terkejut saat melihat putranya yang nangis.
"Bunda." Javier melepaskan genggaman tangan Aaron dan berlari menuju sang bunda.
Zeva mengangkat tubuh sang putra, sembari mendekati suaminya yang baru saja menutup pintu.
"Dia baru beli ketoprak lagi, dokter nya kan sudah bilang suruh dia diet. Gemuk banget loh, gak sehat." Tegur Aaron.
Zeva menatap putranya, memang susah jika anak sudah mengerti jajan. Harus ada penjagaan ketat, tapi Javier sangat banyak akal.
"Makan ketopraknya seminggu sekali yah, jangan setiap hari." Bujuk Zeva.
"Nda bica hiks ... ketop ... uhuk! ketoplak hidupna Viel, nda bica libul." Seru Javier dengan suara bergetar.
Aaron yang mendengarnya mendelik sebal, dia berkacak pinggang dan menatap tajam putranya itu.
"Pilih susu atau ketoprak? kalau mau makan ketoprak tiap hari, daddy gak akan kasih susu."
"HIKS ... HUAAAA!! KETOPLAK CAMA CUCU BUTAN PILIHAN LOOHH!! HIKS. ... MEMANGNA, DADDY BICA PILIH ANTALA BUNDA CAMA KANTOL?! NDA BICA CIHH!! CUCU CAMA KETOPLAK ITU HALTANA VIEL!!" pekik Javier dengan kesal.
Tentu saja, Aaron dan Zeva melotot mendengar perkataan putra mereka.
"Ya gak nyambung kamu tuh! Kalau daddy gak kerja, mau makan apa kamu? batu? kalau daddy gak sama bunda, gimana mau jadi kamu hah?!"
Javier tambah menangis, dia memeluk erat leher Zeva. "HUAAA!! GANTI DADDY BUNDA! CALI YANG BALU, NDA ADA GUNANA DIA JADI DADDY HIKS ...,"
Zeva menahan tawa saat melihat wajah Aaron yang merah padam menahan kekesalan.
"Gak ada modal bunda cari daddy baru," ujar Zeva.
Javier menghentikan tangisnya, wajahnya kini terlihat sangat menggemaskan.
"KAU!!!"
"Iya, nanti kita cari yang baru yah."
Mata Aaron seakan hampir terlepas di tempatnya saat mendengarnya perkataan sang istri.
"YAAANGG!!!" Rengek Aaron.
.
.
.
Semua orang fokus lada sarapannya, terlebih Marsha yang tengah sibuk menyuapi Nathan yang tengah bermanja ria padanya.
"EKHEM!"
Nathan yang tadinya fokus mengunyah seketika mengalihkan pandangannya.
"Lo ... Nathan?"
Nathan mengangguk cepat, kemudian dia menoleh pada Marsha dan membuka mulutnya.
"Sambelnya sweety."
Sungguh, Aaron geram dengan Nathan. Ingin sekali dia melempar sendok yang ada tangannya saat ini.
Marsha kembali menyuapkannya, lalu Nathan kembali menatap Raihan yang menatapnya dengan melongo.
"Bang! sopan banget sih dia!" Pekik Raihan tak terima.
"Lo yakin mau jadiin dia mantu?"
"Apa sih kamu Rai, kan mereka udah nikah." Seru Adinda dengan kesal.
"APA?! MA-MAKSUDNYA GIMANA INI BANG?!" Pekik Raihan.
"Hais, makanya kita telpon kamu karena mereka mau nikah ulang. Abisnya nikah pertama kamu gak ada, semuanya demi kamu," ujar Adinda. Membercandai Nathan.
"Jangan bercanda kak!" Pekik Raihan.
"Hais ... jadi gini ceritanya ....,"
Adinda menceritakan sesuai apa yang dia tahu, seketika netra Raihan terbelalak. Bahkan, matanya hampir terlepas dari tempatnya karena sangking melototnya dirinya.
"Lo ...." Raihan ingin sekali mengajar Nathan, walau dia tahu jika Marsha lah yang salah.
"Ponakan gue, LO MANFAATIN PONAKAN GUE KAN!! Ponakan ucul gue ...."
Nathan dan Marsha hanya menatapnya dengan landangan bingung.
"Mana ada manfaatin om, cuman minta hak aja. Salahnya dimana?"
"LOO!!"
"Hais, sudah-sudah. Kalian ini, lagi makan. Malah ribut aja!" Kesal Haikal, karena makannya terganggu.
"Gak ada niat buat lagi?"
Pertanyaan polos dari Raihan mampu membuat Aaron menatapnya kesal.
"RAIHAAANN!!"
Sedangkan kedua bocah yang duduk bersampingan, tengah sibuk memakan makanan mereka.
"Telolna habic." Gumam Akash.
Mata Akas melirik ke arah piring Javier, terlihat di sana masih ada satu telor puyuh yang tersisa.
Hap!
Akash mengambil telor itu, Javier yang sadar seketika merebutnya kembali.
"TELOL VIEL INIII!!"
"BAGI CATUUU!!"
"EKHEEE!! NDA MAU NDA MAUUU!!"
"LEPACIN NDAAAA!!!"
Zeva dan Ayla bergegas mendekati keduanya, berusaha untuk membuat keduanya mengalah.
"Telurnya kan masih ada, nih bunda ambilin lagi." Bujuk Zeva.
"TAPI INI PUNA VIEL!!"
"Akash, jangan rebut punya adiknya sayang." Bujuk Ayla.
"MAUNA INII!!!"
Sedangkan para bapak, hanya bisa menatap mereka dengan helaan nafas pasrah.
"Orang masih ada kok, kenapa lah mereka sukanya satu hal yang sama. Mudah-mudahan pas gede, gak ngerebut cewek yang sama." Cicit Raihan.
BRUGHH!!
Telor itu terjatuh ke bawah, bentuknya sudah tak karuan. Seketika, JAvier melengkingkan bibirnya.
"HUAAAA!!! DACAAALL!! CAMPAH MACALAKAT!!! CEDIH KALI LACANAA LOOHH!! TELOL VIEL HIKS ... GANTI POKONAAA!!"