
Marsha kembali dengan minuman coklat hangat di tangannya, dia datang menghampiri Nathan yang sedang menggendong Aizha. Sedangkan Nadia dan Nayara, tertidur dengan lelap di dalam box nya.
"Loh, Nayara sama Nadia tidur?" Tanya Marsha dengan heran.
"Iya, tadi nangis sebentar. Mungkin ngantuk, jadi aku tidurkan sebentar, kamu juga lama di dapur. Ngapain sih?"
Marsha mengangguk mengerti, "Tadi aku ke kamar mandi dulu, kebelet." Jawab Marsha sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang, sembari matanya menatap sang suami yang sedang menimang Aizha.
"Aku tidurkan Aizha dulu." Ucap Nathan dan berjalan menuju box Aizha.
Perlahan, Nathan menidurkan bayi bungsunya. Dia sedikit menepuk p4ha Aizha agar bayinya itu semakin lelap. Setelah nya, dia mengambil selimut kecil dan menyelimuti putrinya itu.
"Jadi, kamu mulai berangkat kapan?" Tanya Marsha setelah suaminya menyusul duduk di sampingnya.
"Dua minggu lagi," ujar Nathan dengan lesu.
MArsha mencoba untuk tersenyum, walau perasaannya juga tidak karuan. Dia menyerahkan segelas coklat hangat yang tadi dirinya buat pada Nathan.
"Berapa tahun?" Tanya Marsha.
"Dua sampai tiga tahun, lama yah? aku akan usahakan dua tahun saja," ujar Nathan ketika menangkap raut wajah istrinya yang menyendu.
Marsha menggeleng dengan tersenyum tipis, "Enggak kok, enggak lama. Sebentar itu, nanti kamu selesai jadi sarjana. Si triple sudah bisa jalan, bahkan berlari. Mereka pasti akan menyambut mu dengan seruan. Papa! papa! papa!"
Nathan meletakkan segelas coklat hangatnya, lalu dia beralih menangkup wajah istrinya. Matanya bisa melihat, jika mata jernih istrinya kini berkaca-kaca. Bawah matanya terlihat sembab, seperti habis menangis. Walau bibir Marsha tersenyum, Nathan bisa merasakan jika istrinya itu tengah bersedih.
"Kamu habis menangis hm? Kamu sedih aku pergi? Kalau begitu, aku tidak akan pergi. Aku tidak mau membuat bidadariku ini menangis."
Bugh!
"Lebay banget kamu ih! mana ada aku nangis!" Seru Marsha sembari menepis tangan Nathan dari wajahnya.
"Mulut kamu bisa bohong, tapi mata kamu tidak Sha. AKu bisa melihatnya, kamu sedih. Katakan lah, kamu tidak mau aku pergi. AKu akan bertahan disini bersamamu, aku bisa mengejar impianku disini. Tanpa jauh darimu. Sebab kamu dan anak-anak kita, tujuan hidup ku. Impianku bukanlah apa-apa di banding kamu dan anak-anak kita."
Narsha menghela nafas pelan, dia menormalkan detak jantungnya yang saat ini berdetak sangat cepat. Dia sudah menikah dengan Natah setahun lebih, tapi suami kecilnya itu bisa membuat hatinya meronta-ronta.
"Nathan, kalau aku meminta kamu disini. Aku yang egois. Aku ingin kamu benar-benar serius menjadi penerus Alvarendra. Selain berpikir sebagai seorang suami, kamu juga harus berpikir jika kamu adalah penerus Alvarendra. Kamu punya tanggung jawab, yang kamu pikul sejak kamu di lahirkan dalam keluarga ini. Bisnis Alvarendra, bukan hanya bisnis biasa. Bahkan mendunia, kamu tidak boleh menggampangkan dengan begitu mudah."
Nathan mengamati wajah Marsha, wanitanya itu selalu bisa membuat dirinya semakin jatuh hati terhadapnya. Tutur katanya, perilakunya, bahkan kelembutan Marsha. Nathan sangat mencintainya.
Marsha menggenggam tangan Nathan, matanya masih terus menatap mata suaminya dengan lekat.
"Tidak ada salahnya lamu pergi hanya sebentar, pesanku hanya satu. Jangan pernah bermain api, aku percaya padamu. Sesulit apapun kamu nantinya, aku tidak akan meninggalkan mu. kecuali, jika kamu mengkhianati pernikahan ini. Maka, jangan harap aku akan bertahan disisimu."
"Syutt, kamu ngomong apa sih?! Aku gak mungkin khianatin kamu! Dapetin kamu itu susah! masa aku sia-siain." Kesal Nathan.
"Aku kan hanya memperingati." Sahut Marsha.
"Emang mukaku kayak kang selingkuh apa!"
Nathan tak suka pembahasan yang istrinya bahas, dia menarik tangannya dan merangkak menaiki kasur. Lalu, dia meraih guling dan tidur membelakangi Marsha.
"Emang aku cowok kayak apa hah! Selingkuh tuh sudah menjadi larangan bagi keluarga Alvarendra! Memangnya aku ini playboy apa!" Kesal Nathan.
Marsha tersenyum, bukannya membujuk Nathan dia malah menuju lemari. Mengambil sesuatu dan bergegas memasuki kamar mandi.
Cklek!
Suara pintu kamar mandi yang tertutup membuat Nathan menoleh, dia menatap kesal ke arah pintu kamar mandi tersebut.
"Apa-apaan sih dia?! Bukannya bujuk kek, atau apa kek! Malah di cuekin! di kiranya aku gak bisa marah apa yah!" Kesal Natha dan kembali memeluk gulingnya dengan erat.
"B0do lah, mau tidur aja." Kesalnya.
Selang beberapa menit, kasur bergerak. Sepertinya istrinya itu tengah menaiki ranjang, Nathan tak peduli soal itu. Dia berusaha secuek mungkin. Namun, hidungnya malah mencium wangi yang sangat familiar. Tak lama, sentuhan lembut di tangannya semakin naik hingga ke bahunya membuat bulu kuduk Nathan meremang.
"Nathan, sudah tiga bulan." Bisik Marsha di telinga Nathan membuat pria itu panas dingin di buatnya.
"Ohh, mau ngerayu rupanya." Batin Nathan, saat merasakan Marsha berusaha menggodanya.
"Dua minggu lagi kamu pergi, setelah itu puasa lagi. Kalau kamu gak mau, yasudah. Aku tidur yah."
Natha bergegas membuka matanya, dia langsung berbalik. Betapa terkejutnya dia melihat Marsha saat ini, bahkan matanya hampir keluar dari tempatnya.
"Ma-Marsha ...,"
"Suka enggak? Aku beli kemarin pas di mall, bagus enggak?"
Nathan terdiam, jakunnya bergerak naik-turun. Senyum lebar merekah di bibirnya.
"SUKA! SUKA!! AYO!!" Natha menarik Marsha masuk ke dalam selimut membuat Marsha terpekik kaget.
Akhirnya, selama beberapa bulan puasa. Nathan berbuka juga. Runtuh sudah pertahanan merajuknya setelah melihat usaha sang istri.
.
.
Aaron dan Zeva tengah uring-uringan di kamar mereka, sebab sudah satu jam Javier keluar dan belum juga kembali. Padahal, anak itu belum makan siang dan waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Mas! cari sana anaknya!!" Pekik Zeva.
"Nanti juga pulang sendiri, ini perumahan. Pak satpam perumahan juga nantinya ngabarin kalau Javier ke sana." Jawab Aaron mencoba untuk santai.
"Ya tapi ...,"
"BUNDAAAA!!! VIEL BAWA DADDY BALUUU!!"
Aaron dan Zeva saling pandang, nata keduanya melotot kaget. Tanpa menunggu lama lagi, mereka bergegas turun ke lantai dasar.
"Javier? kamu bawa siapa?" Tanya Aaron, ketika mendapati putranya tengah menggandeng seorang pria yang masih terlihat muda.
Javier menatap sang bunda, senyumnya merekah cerah. "Ini? abang ketoplak." Seru Javier sembari menunjuk pria yang ia bawa.
"Terus?! Kamu ngapain bawa ke rumaaaahh!!" Geram Aaron.
"Tadi kan Viel bilang mau cali daddy balu yang cuman buat Viel nanti. Nah ini, abang ketoplak. Daddy balu na Viel."
"APA?!" Pekik Aaron dan Zeva.
Keduanya menatap tukang ketoprak itu, mereka meneliti penampilan pria tersebut yang tak mencerminkan seorang penjual keliling. Sebab, wajah tampannya dan juga kulit putih terawatnya tak menunjukkan dia seorang tukang ketoprak.
"Maaf bu pak, anak kalian belum bayar ketoprak saya. Total lima ratus ribu, jadi saya hanya ingin menagihnya disini. Saya tidak tahu maksud anak kalian apa." Jawab tukang ketoprak itu.
"Ketoprak apaan lima ratus ribu! PAling juha lima puluh ribu!" Pekik Aaron dengan tatapan melotot tak terima.
"Saya pemilik Restoran blok D pak, sebelah blok rumah bapak ini."
Tataoan Aaron langsung menghunus tepat pada mata putranya. "JAVIEEEERRR!!"
"Apa? Viel benel loh cali daddy balu na. Danteng, macih muda, kaya duga. Bunda juga jadi punya cuami dua nantina, baik kali kan Viel? Pintel ci Viel nyali na. Telus, salahna Viel dimana?"
"KAMU!!! DADDY JUAL JUGA KAMU YAH!! MAS! SAYA GAK MAU BAYAR! AMBIL AJA NIH ANAK!" Seru Aaron dengan sedikit mendorong Javier pada pria itu.
"DADDY!!" Pekik Javier tak terima.