
Naufansyah Alvarendra, bayi gembul yang baru saja terlahir ke dunia. Anak ke empat dari pasangan Nathan dan Marsha. Bayi laki-laki yang kini menjadi tontonan orang-orang.
Dua hari yang lalu, Marsha kembali pulang setelah di izinkan oleh dokter. Kini, dia tengah berada di kamarnya bersama Nathan. Sementara bayinya, sudah pasti menjadi bahan rebutan para kakek dan neneknya.
Nathan, dengan siaga menemani istrinya itu. Khawatir jika istrinya butuh sesuatu. Seperti saat ini, Nathan sedang membereskan selimut dan juga peralatan mandi Naufan.
"Nathan." Panghil Marsha.
"Hm?" Nathan meninggalkan kerjannya, dia mendekat pada sang istri yang tengah menyingkap selimut.
"Aku mau buang air kecil." Ringis Marsha.
"Yaudah, ayo." Ajak Nathan.
Nathan menggendong istrinya, sebab Marsha masih belum kuat berjalan. Lantaran jahitan yang masih belum kering, membuatnya selalu merasa kesakitan setiap kali berjalan.
Nathan mendudukkan Marsha di kloset, dia membantu istrinya itu dengan memegang dress nya ke atas.
"Nathan, sakit." Ringis Marsha.
Nathan hanya bisa mengusap punggung istrinya, dia juga tidak tega harus melihat Marsha yang kesakitan.
"Aku pikir melahirkan normal cepat sembuhnya, ternyata sama aja. Lama hiks ... sakit banget." Isak Marsha.
Nathan hanya diam, dia mendengarkan keluhan istrinya itu dengan sabar. Dia hanya bisa memeluk kepala Marsha, sembari memberinya k3cupan.
"Maaf yah, aku gak bisa gantiin sakit kamu," ujar Nathan dengan merasa bersalah.
Sofia sudah memberikan pelajaran padanya. Bahwa mungkin selama beberapa waktu, Marsha akan mengalami trauma ketika buang air karena harus mengalami sakit di jalan lahirnya.
"Sudah?" Tanya Nathan.
Marsha mengangguk, dia mulai membersihkan dirinya. Setelah itu, Nathan kembali membawa istrinya itu ke tempat tidur untuk beristirahat.
Nathan memposisikan Marsha di ranjang, dia juga menyelimuti tubuh Marsha. Setelah istrinya merasa nyaman, Nathan duduk di tepi ranjang. Menatap istrinya yang sedang mengusap air matanya itu.
"Masih sakit banget yah?" Tanya Nathan.
"Pakek nanya lagi!" Ketus Marsha dengan suara bergetar.
Nathan tak marah, dia justru membantu Marsha mengusap wajahnya. Tak hanya itu, dia mengambil air minum dan menyerahkannya pada istrinya.
"Maaf yah, aku gak bisa gantiin kamu. Janji deh, ini terakhir kalinya kamu melahirkan," ujar Nathan dengan sungguh-sungguh.
MArsha meminum air yang suaminya berikan, keadaannya sedikit tenang. Lalu, dia memberikan gelas minum itu pada sang suami.
"Ngomongnya doang, nanti kamu minta anak lagi," ujar Marsha dengan tatapan kesal.
"Engga Sweety, apa perlu aku steril biar kamu percaya?" Seru Nathan membuat Marsha seketika melototkan matanya.
"Ya jangan! Yasudah, percaya." Balas Marsha.
Sedangkan ketiga anak mereka, sedang berada di luar rumah. Ariel tengah mengajaknya berjalan-jalan, dengan mobil yang baru saja dia beli. Baru beberapa meter berjalan, ketiga anak kembar itu berteriak ingin meminta turun.
"TULUUUNN!!" Teriak Nayara sembari membekap mulutnya.
"BELHENTI NDAAA!!" Teriak Aizha.
Ariel yang kebingungan menepikan mobilnya. Sedangkan si kembar, buru-buru membuka mobil dan berjongkok di semak-semak.
"Heh! Ngapain kalian disitu?! Ayo masuk!" Seru Ariel, menarik Aizha yang tengah berjongkok itu kembali ke dalam mobilnya.
Namun, Aizha memberontak. Dia memegang pintu mobil, enggan untuk masuk ke dalam mobil baru milik sang paman.
"Ayo! Mobil mahal ini! Kau jual ginjalmu, enggak bakal dapet lah ni mobil." Seru Ariel menahan tawa nya.
"NDA MAAAUU!! NDA MAAUU!! EKHEE!!"
"Kenapa enggak mau? Mobil mahal ini loh!" Seru Ariel yang masih menarik tangan Aizha.
Ariel menatap mobilnya, apa yang salah dari mobilnya? Dia melepas cekalan tangannya dari Aizha, lalu beralih masuk ke mobilnya. Sembari mencari hal yang membuat Aizha tak mau menaiki mobilnya.
"Apa nya yang kayak neraka, perasaan wangi nih mobil. Wangi jeruk yang lagi viral, masa bau api." Gumam Ariel.
.
.
.
Malam hari, semua anggota keluarga sudah kembali pulang. Tersisa, Sofia dan Kenan yang memilih menginap untuk menemani kedua anaknya. Bagaimana pun, sehabis melahirkan Marsha akan kesulitan mengurus anaknya. Disini lah peran sofia, dia yang akan membantu menantunya.
"Than, Marsha sudah sedot asi nya. Nanti, setiap dua jam sekali di susuin ke Naufan yah," ujar Sofia memberi pengertian pada putranya itu.
"Gak langsung aja Mi?" Tanya Nathan dengan bingung.
"Kamu gak Kasihan pada istrimu? Kamu tega bangunin dia yang udah tidur pules gitu?" Unjuk Sofia, pada menantunya yang tertidur setelah menyusui bayinya.
Nathan menatap istrinya sejenak, lalu beralih menatap Sofia sembari menganggukkan kepalanya.
"Yasudah, mami tinggal yah. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil mami aja." Pamit Sofia.
Selepas keluar dari kamar putranya, Sofia berniat ingin kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat melewati kamar si kembar. Sontak, dia mendekati pintu kamar mereka dan mengintip apa yang tengah mereka lakukan.
"Calna culit kali." Rengek Aizha.
"Nda culit, otakmu lah yang culit," ujar Nayara.
Ketiga tengah berada di meja belajar masing-masing, sembari mengerjakan pr yang mereka dapat dari sekolah.
"Haaahh ... capek na belajal. Nda cuka nda cuka!!" Rengek Aizha sembari menjatuhkan kepalanya di atas meja belajar.
"Mau jadi apa kalau becal, janan gitu. Nanti becalna gimana kalau nda belajal?" Seru Nadira, matanya masih fokus dengan pelajarannya.
"Mau jadi ictli olang kaya aja, Izha capek belajal. Mau nikah aja, becok minta papa culuh cali cuami buat Izha."
Sofia tertawa, hingga membuat ketiganya menyadari kehadiran dirinya. Karena sudah ketahuan, Sofia mendekati ketiga cucunya.
"Pintar sekali, tapi lebih pintar lagi kalau kita yang kaya. Aizha harus belajar yang benar, biar masa depannya cerah." Seru Sofia.
Aizha menghela nafas pelan, "Oma lupa, maca depan Izha dah celah. Ciapa yang mau habisin halta papa kalau bukan Izha?" Lirih Aizha.
Sofia tersenyum, cucunya yang satu itu memang berbeda. Tapi Sofia yakin, jika suatu saat Aizha akan menyadari bakatnya sendiri.
Esok paginya, Sofia berniat akan pergi ke pasar. Dia ingin membeli bahan masakan untuk menantunya, sekalian jalan-jalan. Saat akan pergi, Aizha tiba-tiba berteriak memanggilnya.
"OMAAAAA!!! IKUUUTT!!" teriak Aizha.
"Eh?" Sofia menatap cucunya itu.
"Aizha gak sekolah? Ini udah jam berapa?" Tanya Sofia.
Aizha melebarkan senyumannya, "Kata papa libul, tanggal melah," ujar Aizha.
Sofia menepuk keningnya, dia baru ingat jika sekarang tanggal merah. Pantas saja suaminya masih tidur, karena merasa ini adalah hari libur.
"Yasudah, ayo. Tapi ingat, jangan beli apa-apa selain makanan." Peringat Sofia sebelum mereka pergi.
Aizha mengangguk cepat, dia tak sahar akan pergi ke pasar. Dia merelakan jam tidurnya demi menemani sang nenek pergi ke pasar.
sementara Sofia, dia baru menyadari sesuatu. Tatapannya beralih pada cucunya yang masih memasang muka bahagia.
"Aizha kan gak suka sama pasar, tumben sekali anak ini mau ikut?" Gumam Sofia.
___
Semoga Review nya gak lama😪