Find Me Daddy

Find Me Daddy
S1 End



Hari demi hari, bulan demi bulan. Sejak kejadian penculikan. hari itu, Jacob dan Aaron benar-benar menjaga ketat anak mereka. Bahkan, ketiganya memiliki bodyguard yang berjaga di saat mereka di luar.


Varo dan Vero, bayi mungil itu kini sudah bisa merangkak. Membuat semua orang pusing dengan tingkah keduanya yang begitu aktif.


"Marsha!!"


Marsha yang sedang belajar menghela nafas kasar, dia meletakkan pensilnya dengan sedikit kasar.


"Valo lagi ... Valo lagi." Gerutu Marsha.


Marsha keluar dari kamarnya, dia menghampiri sang bunda yang sepertinya sibuk mencari sesuatu.


"Marsha, sayang. Tolong di carikan adiknya yah, bunda dari tadi cari gak nemu. Adik Marsha belum makan nak." Bujuk Zeva.


Marsha mengangguk, dia kembali ke kamarnya dan keluar membawa sebungkus jelly. Lalu, dia membuat suara dari plastik jelly itu.


KRESEK! KRESEK!


"Enakna jelly naaa ... hm. .. nda ada Valo, makan lah. Nda ucah bagi." Seru Marsha dengan suara keras.


Satu detik


dua detik


Mereka berdua tengah menunggu sosok yang ia cari. Marsha pun mencoba membunyikannya lagi.


SREK!!


"WAAAHH!! BANAKNA PELMEN!!"


"Eheee!! hoayaa!!"


Marsha dan Zeva mendekati asal suara, keduanya melihat sebuah kaki dari samping lemari pajangan. Sontak keduanya langsung bergegas menuju kaki tersebut.


"BAAA!!!"


"Eheee!! Hoayaa!!" Teriak VAro sembari menepuk tangannya.


Zeva menghela nafas pelan, dia mengangkat Varo ke gendongannya dan membersihkan mulut anak itu yang baru saja memakan coklat.


"Mulai nakal sekarang yah hm, anak bunda mulai nakal yah." Zeva menciumi pipi gembul Varo, membuat bayi itu memekik geli.


"Dah kan bunda? Malcha mau belajal lagi," ujar Marsha dan kembali ke kamarnya.


Sekarang, di kediaman Smith. Marsha sudah memiliki kamar sendiri atas permintaannya Tentunya, Aaron mengabulkannya asal. Anak nya itu tak kembali berulah.


"DADDY PULANG!!" Seru Aaron.


Mendengar suara Aaron, Varo berjingkrak senang. Dia menghentakkan kakinya di pelukan sang bunda, karena ingin segera menghampiri sang daddy.


"Waahh si mbul, anak gantengnya daddy." Seru Aaron menghampiri dua kesayangannya.


Varo merentangkan tangannya pada sang daddy, berharap daddynya membawanya ke gendongannya.


Namun, dia salah. Aaron malah mengerjainya dan balik memeluk Zeva. Membuat senyuman Varo luntur seketika.


"Sayang bunda, mwah!" Aaron mengecup pipi Zeva, sembari memperhatikan wajah sang daddy dengan tatapan serius.


"Bunda nya punya daddy, bundanya punya ...,"


BUGH!


Varo menendang wajah Aaron dengan kekuatan yang dia punya, membuat sang daddy meringis kesakitan.


"Duh! kok daddy nya di pukul? Hmm mulai berani yah, sini." Aaron mengambil paksa Varo, lalu dia turunkan di lantai.


"AAAA!!! EKHEE!! EKHEE!!" Varo mulai menangis, tapi hal itu tak membuat Aaron melepaskan pelukannya dari Zeva.


"Mas." Tegur Zeva, merasa kasihan dengan putranya.


Namun, Aaron tak peduli. DIa malah meletakkan kepalanya di d4da sang istri, membuat Varo berteriak keras.


"AAAA!! NDA! NDA!!" Varo bergegas mendekati kaki Zeva, dia berdiri dengan berpegangan dengan kaki sang ibu.


"Ndaa!! nen! nen! aaa!! ekhee!! HUAAA!!"


Zeva melepas paksa pelukan suaminya, lalu dia mengambil putranya yang sudah menangis.


"Cup! cup! daddy nakal yah? nanti bunda pukul yah, cup ... jangan nangis." Zeva berlaku pergi, karena dia ingin menyusui Varo di kamarnya.


Aaron tersenyum, hidupnya kini lebih berwarna. Dia sudah tak lagi sama seperti dulu, dia lebih banyak tersenyum dan bercanda.


Pria itu memutuskan untuk masuk ke kamar putrinya, terlihat Marsha sedang fokus membaca sesuatu.


"Lagi belajar apa princess daddy, hm?"


Marsha tersentak kaget, dia menoleh dan mendapati daddy nya sudah berada du belakangnya.


"Kaget Malcha!" Pekik Marsha sembari memegangi d4danya.


Aaron tersenyum, dia mengecup puncak kepala sang putri. Marsha akan menjadi anak kesayangannya, Aaron sudah meyakinkan hal itu dalam hatinya.


"Wah, rajin sekali putri daddy. Memang, saat besar nanti .... Marsha mau jadi apa?" Tanya Aaron.


"Malcha mau nikah cama olang danteng," ujar Marsha dengan senyuman yang kebar.


Aaron tertawa kecil, dia membawa Marsha ke gendongannya dan mencium pipinya.


"Itu bukan cita-cita sayang, itu namanya harapan." Ujar Aaron tersenyum gemas.


"Kalau halapan, halapan na Malcha. Bunda cama daddy celalu bahagia, celalu cama-cama. Celalu belcama Malcha,"


Senyuman Aaron luntur, dia merasa begitu tersentuh dengan ucapan putrinya.


"Besar nanti, Marsha akan menikah dengan pria yang Marsha cintai," ujar Aaron.


"Daddy olangna, Malcha lop lop daddy!" Seru Marsha.


"Daddy juga mencintaimu nak. Tapi, kau pasti akan menjadi milik orang lain," Lirih Aaron laku menc1um kening putrinya.


Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Perlakuan ayah terhadap putrinya, akan menentukan bagaimana mental sang putri. Apakah ayah akan menjadi cinta anak perempuannya, ataukah justru penyebab trauma sang anak.


...


Aaron mengajaknya anaknya bermain di taman, bersama dengan si kembar. Varo dan Vero, tengah merangkak di rerumputan. Keduanya di biar kan bermain dengan bebas.


"Culang! mainna janan begitu!" Kesal Marsha, karena Ariel curang bermain.


"Malcha hitung campe tiga, kalau ngumpetna culang lagi. Malcha nda mau main cama Alil!" Pekik Marsha.


"Iya-iya!" Dengus Ariel.


Marsha kembali menutup matanya, Azka dan Ariel bergegas kembali bersembunyi. Marsha mulai menghitung, tepat di hitungan sepuluh. Saat berbalik, dia melihat sang daddy memegang sebuah boneka untuk nya.


"Daddy." Cicit Marsha.


Aaron tersenyum, dia memberikan boneka beruang itu pada Marsha.


"Marsha sudah menjadi anak baik selama ini, jadi daddy membelikan Marsha mainan." terang Aaron.


Marsha menatap boneka itu dengan tatapan berkaca-kaca, itu adalah boneka yang dia inginkan saat di mall. Namun, karena boneka itu hanya sebagai pajangan dan tak di jual, membuat Marsha kecewa.


Namun, kini ayahnya memberikannya boneka yang dia impikan. Boneka beruang putih dengan memegang sebuah madu. Sangat lucu.


"Hug me." Pinta Aaron sembari merentangkan tangannya.


Marsha meletakkan bonekanya, lalu dia masuk ke dalam pelukan sang daddy.


"Lop lop daddy, cayang daddy. Thank you daddy," ujar Marsha dengan lirih.


"Sama-sama sayang," ujar Aaron.


Zeva menatap haru kearah ayah dan anak itu. Kini, dia bahagia dengan kehidupan nya saat inu. Suami dan anak-anaknya, sudah cukup bagi dia.


"Beruntungnya kalian memiliki seorang putri," ujar Adinda.


Zeva tersenyum, "Setelah Veri, kakak pasti akan memiliki anak perempuan," ujar Zeva.


Adinda menggeleng, "Jacob tidak memperbolehkan aku hamil lagi, katanya tiga anak cukup. Dia tak ingin melihatku kembali tersiksa," ujar Adinda dengan sedikit tertawa.


"Kalau mas Aaron, dia tidak ada pembicaraan serius ingin memiliki anak lagi. Hanya saja, aku masih ingin memberikan Varo adik. Agar suasana rumah ramai," ujar Zeva.


Aaron berjalan mendekati Zeva, dia membawa istrinya masuk karena ingin menunjukkan sesuatu.


Aaron mengeluarkan sebuah kotak bludru dari kantong celananya, dia membukanya. Terlihatlah, cincin dengan batu berlian yang begitu mengkilau.


"Mas-mas." Zeva benar-benar gugup, saat suaminya mengambil tangannya dan memasang cincin itu.


"Aku belum jadi memberikanmu cincin pernikahan setelah kita rujuk, dan cincin ini ... akan membawa pernikahan kita sampai kita tua nanti. I love you, my wife." Bisik Aaron.


Air mata Zeva terjatuh, dia sangat amat merasa bahagia saat ini.


"I love you to, my husband." Lirih Zeva


Aaron merengkuh erat istrinya dalam pelukannya, begitu pun dengan Zeva. Keduanya menumpahkan rasa cinta, kasih dan sayang.


"Daddy!!"


Sontak, pelukan keduanya terlepas ketika mendengar panggilan putrinya.


"FIND ME DADDY!" Teriak Marsha.


Aaron tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, Marsha ingin dia ikut bermain dengannya.


"Temukan putrimu," ujar Zeva.


"Aku sudah menemukannya," ujar Aaron dengan mengedipkan sebelah matanya.


"DADDY DATANG!" Seru Aaron sembari berjalan kembali ke taman.


Zeva melihat suami dan putrinya dari jauh, dimana keduanya berpelukan dengan tawa lepas.


"Mudah-mudahan, kebahagiaan ini akan terus berjalan." Batin Zeva.


_____