
"Mungkin kamu buang air nya belum semua kali, bunda kasih obat pelancar buang air yah. Sebentar, bunda ambilkan."
Zeva buru-buru pergi ke dapur, sementara Marsha. Dia masih mematung di tempat. Tangannya mengelus perutnya yang memang sedikit menonjol.
"Apa bunda akan curiga?" Gumam Marsha.
.
.
.
Sementara di kediaman Alvarendra, Nathan baru saja memarkirkan motornya. Lalu dia membuka helmnya dan mengecek ponselnya.
"Dia belum memberi kabar." Gumam Nathan.
"Jika sampai besok dia belum memberi kabar juga, gue akan datang ke rumahnya." Gumam Nathan.
Nathan bergegas masuk ke dalam rumahnya, dan saat masuk. Terdengar gelak tawa dari ruang tengah, Nathan pun tak memusingkan hal itu.
"Eh, Nathan!"
Nathan yang akan menaiki tangga pun seketika mengurungkan niatnya, dia lalu menoleh menatap keluarganya yang sedang berkumpul. Termasuk, suami dari Claudia juga ada di sana.
"Kemari Nath, kita kumpul sama kakak ipar kamu." Ajak Sofia.
Nathan bergeming, netranya menatap suami Claudia yang duduk di sebelah istrinya itu. Suami Claudia sangat dewasa, wajar saja karena sudah berumur dua puluh tujuh tahun.
"Aku lelah, ingin istirahat," ujar Nathan dan berbalik kembali.
"Nathan, tunggu!"
Lagi-lagi Nathan mengurungkan niatnya, dia berbalik dan menatap sang kakak yang berjalan menghampirinya.
"Apa kamu tidak mau mengucapkan selamat untukku?" Tanya Claudia dengan tatapan penuh harapan.
Nathan tak membuka suara, dia hanya menaikkan satu alisnya seakan bertanya.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang paman Nath." Seru Sofia dengan raut wajah yang ceria.
Mendengar perkataan Sofia, membuat Nathan terdiam. Pandangannya kini tertuju pada perut sang kakak.
Sementara Claudia, dia menunggu Nathan membuka suara.
"Oh, selamat." Ujar Nathan dengan singkat.
"Kamu tidak bahagia dengan kabar kehamilanku." Lirih Claudia.
Nathan menghela nafas pelan, dia menatap wanita yang entah apakah sampai sat ini dirinya masih menyukai wanita itu.
"Aku harus apa? aku harus jingkrak-jingkrak? melompat-lompat seperti orang gil4? Seharusnya yang kamu tanyakan seperti itu adalah suamimu, bukan aku. Karena aku, bukan suamimu. Aku adikmu, kakak!" Seru Nathan dengan penuh penekanan.
"Nathan! apa-apaan kamu berbicara seperti itu pada kakakmu!" Seru Kenan menatap tajam putranya.
Nathan memutar bola matanya malas, dia lalu bergegas pergi menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Claudia, dia masih mematung di tempat.
Melihat istrinya yang terdiam, membuat suami dari Claudia itu menghampirinya dan langsung merangkul sang istri.
"Jangan di pikirkan, mungkin adikmu sedang ada masalah dengan temannya. Biasa, anak remaja kadang terlalu kekanak-kanakan."
Claudia mengangguk paham, dia pun di bawa sang suami untuk duduk kembali.
"Mario, lebih baik kamu ajak Claudia istirahat. Hamil muda masih sangat rentan, jangan biarkan dia kelelahan." Titah sofia.
"Iya mom,"
"Ayo sayang." Ajak Mario.
Mario Evan Mahendra, seorang dosen di salah satu kampus ternama di Jakarta. Selain sebagai dosen, Mario jiga membuka beberapa cabang kafe yang kini sangat ramai pengunjungnya.
Melihat kepergian Claudia dan suaminya, Sofia menghela nafas sejenak.
"Aku heran sama Nathan pi, semenjak satu tahun belakangan. Dia menjadi dingin pada Claudia, kamu tau sendirikan gimana antusiasnya dia pada Claudia. Bahkan, di saat Claudia sakit. Malah Nathan yang nangis. Tapi lihat sekarang, mereka seperti orang asing." Keluh Sofia.
Kenan merangkul pundak istrinya, dia mengelus bahu sang istri untuk menenangkannya.
"Kita gak perlu ikut campur urusan mereka, mungkin karena Nathan sudah beranjak dewasa. Dia jadi tidak mau lagi bermain dengan perempuan, apalagi kakaknya sudah menikah," ujar Kenan.
"Tapi enggak gitu juga cueknya." Kesal Sofia.
"Syutt, udah. Gak usah di pikirin, mending kita istirahat aja. Aku juga capek." Keluh Kenan.
Walau masih merengut, Sofia tetap mengantar suaminya itu ke kamar.
Sedangkan di kamar Nathan, pria itu masih sibuk menunggu telepon dari Marsha. Jangankan menelponnya, wanita itu bahkan tak mengirimnya pesan.
"Ck, lebih baik aku yang minta nomor ponselnya aja tadi." Gerutu NAthan.
DERTT!!
DERTT!!
Ponsel Nathan berdering, membuat senyuman pemuda itu terbit. Namun, setelah melihat siapa yang menelponnya, seketika senyuman Nathan pun surut.
"Ck, gue kira Marsha." Gerutu Nathan, walau begitu dia tetap mengangkatnya.
"Halo." Ujar Nathan dengan lesu.
"Halo bos, gue liat cewek loh. Eh istri lo maksudnya, dia keluar dari rumah."
"Hah? ngapain?" Tanya Nathan.
"Dia pergi ke tukang buah, seperti nya dia membeli buah nanas," ujar sang penelpon.
Nathan mengerutkan keningnya, "Buah nanas." Gumamnya.
"Iya, banyak lagi bos belinya."
Nathan semakin bingung dengan apa yang suruhannya sampaikan. Memang, selama sebulan ini Nathan meminta salah satu anak buahnya untuk mengawasi Marsha.
Dirinya tahu alamat Marsha, karena marga wanita itu. Sehingga mudah baginya untuk mencari tahu tentang Marsha.
"Kira-kira buat apa yah." Gumam Nathan.
"Terus pantau dia kemanapun dia pergi," ujar Nathan.
Nathan mematikan sambungan itu, dia bergegas mencari tentang nanas di sebuah pencarian.
"Manfaat nanas, membantu .... hais, untuk kesehatan doang Kenapa gue khawatir." Decak Nathan.
Nathan pun kembali menaruh ponselnya, dia berniat akan memejamkan matanya sejenak. Namun, sebuah ketukan pintu membuat dirinya kembali membuka matanya.
Tok!
Tok!
"Nathan, bisa keluar sebentar?"
"Ck!" Nathan berdecak sebal, dia pun terpaksa beranjak dan membuka pintu kamarnya.
Cklek!
Terlihat Mario menatap Nathan dengan perasaan tak enak, apalagi melihat wajah lelah pemuda itu.
"Nathan, maafkan aku. Bisakah kau membelikan Claudia buah? dia sedang mual-mual, dan ingin memakan buah yang asam. Aku takut, saat aku keluar. Dia butuh sesuatu," ujar Mario.
"Ck, pembantu kan ada. Suruh aja mereka." Kesal Nathan.
"Mereka tidak ada di rumah, aku sudah mencarinya di dapur. Sepertinya mereka sedang belanja keluar," ujar Mario.
"Tolong Nath, aku gak bisa tinggalkan Claudia dengan kondisi seperti itu." Lirih MArio.
Nathan menatap kesal pada suami kakaknya yang telah menganggu istirahatnya itu.
"Oke! gue beli!" Putus Nathan.
"Terima kasih, ini uangnya." Nathan menatap uang yang Mario berikan.
"Simpan aja, gue punya uang."
"Tapi ...,"
"Lo mau gue jalan buat beli gak sih!"
"Eh, iya-iya."
Nathan lun bergegas keluar lagi menuju toko buah, dia memilih buah yang asam sesuai permintaan Mario.
"Nanasnya juga asam mas?" Tanya Nathan.
"Iya mas, yang itu nanasnya asam. Kalau mau yang manis, yang nanas kecil itu." Unjuk pedagang buah itu.
"Yang asam aja mas." Pinta Nathan.
"Totalnya jadi dua ratus ribu." Nathan memberikan uang merah dua lembar, dan langsung mengambil belanjaannya.
Sesampainya di rumah, Nathan bergegas ke kamar kakaknya. Dia mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.
Tok!
Tok!
Cklek!
"Eh, sudah kembali. Mana buahnya?"
"Nah." Nathan menyerahkan plastik buah itu pada Mario.
Mario tersenyum, dia melihat-lihat buah yang di beli Nathan.
"Kamu beli nanas juga?" Tanya Mario.
"Iya, katanya mau yang asam. Kata pedangnya, nanas itu asam." Cuek Nathan.
"Eum ... tapi nanas bahaya buat ibu hamil Nath, bisa menyebabkan keguguran. Apalagi hamil muda, karena mengandung Enzim bromelain. Tapi kalau cuman satu gak masalah sih, kalau 5-7 bisa membuat keguguran."
Degh!!
Perkataan Mario membuat Nathan teringat Marsha, wanita itu membeli banyak buah nanas.
"Dia beli banyak buah nanas,"
Nathan bergegas beranjak pergi, membuat Mario kebingungan melihat reaksi adik iparnya itu.
"Eh, kenapa dengan dia?" Gumam Mario.