
"Kapan pulang naaaaa ... kapan pulangnaaaa ... lama kali hiks ... hugh! Bunda hiks ... mau bunda ...."
Aaron tengah di buat frustasi dengan kerewelan putranya itu. Yah, putranya di rawat di rumah sakit. Setelah Jacob memeriksanya, ternyata anak itu terkena tipes bukan gejala lagi.
Javier sudah rewel ingin pulang, dia sudah bosan berada di rumah sakit. Dia sudah merindukan sang bunda yang hanya datang ketiga pagi hari hingga menjelang siang.
"Iya, sabar yah. Tunggu infusnya habis dulu," ujar Aaron menenangkan putranya.
Javier kesal, dia menggaruk kesal kepalanya. Dia sudah bosan berada di rumah sakit dan tak melalukan apapun. Melihat putranya yang seperti itu, Aaron bergegas menggendong nya. Dia khawatir selang infus putranya tak sengaja tercabut.
"Gimana bica infucna habis! Olang habis ici balu lagi, kayak galon ici ulang aja!" Kesal Javier.
"Besok Daddy minta sama om Jacob agar Vier di izinkan pulang yah," ujar Aaron.
"Olang mauna cekalang kok ya!! Napa halus becok, napa nda cekalang. Ekhee!!"
Cklek!
Senyum Aaron mengembang saat melihat siapa yang datang, ternyata Varo telah kembali dari jadwal kuliahnya. Dia menaruh tasnya di sofa dan berjalan mendekati Aaron.
"Untung kamu kesini, gantian jaga adek yah. Daddy mau pulang dulu sebentar jemput bunda." Pinta Aaron.
Varo mengangguk, dia mengambil alih Javier dari gendongan Aaron. Namun, sepertinya Javier enggan dengannya, membuat anak itu tak mau melepas pelukannya dari leher sang daddy.
"Nda mau cama Abang! Nda mauuu!! Ledek telus nanti!!" Rengek Javier.
"Loh, abang punya ketoprak. Yakin gak mau?"
Seketika, raut wajah Javier berubah. Dia menatap Varo dengan senyuman lebar.
"Viel tadi calah bicala, kepelecet lidahna. Ayo abang, gendong Viel. Cama abang campe malem pun nda papa." Seru Javier sembari merentangkan tangannya.
Varo terkekeh, dia mengambil Javier dari gendongan Aaron.
"Yang lain pada lomba habisin kerupuk, kamu malah ngabisin infus. Hahaha,"
Mendengar ledekan Varo, seketika Javier menatap datar padanya. Lalu, dia menghela nafas berat sembari mengelus d4danya.
"Cabaall Cabaal, kalau nda ada ketoplakna udah Viel gigit hidungna." Batin Javier.
"Yasudah, daddy pulang dulu yah." Pamit Aaron.
Selepas kepergian Aaron, Varo menurunkan Javier di brankar. Bocah itu berpikir, jika Varo akan menyiapkan ketoprak miliknya.
Namun, di luar dugaan. Varo malah membuka bungkusan yang mana isinya adalah salad sayur. Seketika mata Javier melotot tak terima.
"KOK CALAD?! MANA KETOPLAKNAAA!!" Seru Javier dengan kesal.
"Loh, ini ketoprak. Cuman versi sehat aja." Tunjuk Varo.
Javier menatap lekat salad itu, tak seperti ketoprak. Apakah dia di tipu oleh abangnya itu.
"Hiks ... ini mah calad mana ada ketoplakna. Lontong na nda ada, kelupuk na nda ada. Mana ada ketoplak pakena caos bukan bumbu kacang na. Hiks .. nda cuka! nda cuka!" Rengek Javier.
"Loh, ini loh ada toge nya. Ketoprak pake toge kan?" Unjuk Varo.
Javier memperhatikan toge itu, tetapi ada yang aneh. Ada kol berwarna ungu yang tidak ada dalam ketoprak.
"Mana ada ini ketoplak hiks ... ini tuh calaaaddd. Belapa kali halus Viel bilang, ini calaaad. Ketoplak nda ada kol na," ujar Vier dengan kesal.
"Loh, ini Ketoprak versi sehat. Gak percaya? Buka mulut!"
Di luar dugaan, Javier malah membuka mulutnya. Dia juga penasaran dengan ketoprak versi sehat menurut sang abang.
Dengan semangat, Varo menyuapi adiknya itu. "Gimana? Enakkan?"
Baru sekali mengunyah, Javier sudah merasakan mual. "HWEEKK!! HWEEKK!!"
"E-eh." Varo panik, dia segera memberikan plastik pada Javier.
"Nda enak, caosna bau. Nda cukaaa hiks ... nda cukaaa!! HWEK!! BAUUU!!"
"Eh masa sih? mana ada bau, mahal loh ini." Vari pun mencicipinya sedikit, menyadari satu hal. Seketika dia terkekeh di buatnya.
"ABANG!! HIKS ... TEGA KALI!!"
.
.
Andre memberikan minyak zaitun pada tangan Aizha yang luka karena gigitan Valerio. Bayi gembul itu sudah tertidur, mungkin karena lelah. Dengan telaten, Andre mengoleskan minyak itu pada tangan cicitnya yang tidur di pangkuannya.
"Maafkan Valerio," ujar Erwin dengan tatapan bersalah.
Andre menatap sejenak Valerio yang bermain tak jauh dari mereka, anak itu asik menyusun mobilnya. Menghiraukan tatapan keduanya padanya.
"Dia seperti anak yang normal, rasanya aku masih tidak percaya jika dia autis." Sahut Andre.
"Dari segi fisik memang dia seperti anak pada umumnya, tetapi dari perilaku, kemampuan bahasa serta sosialnya menunjukkan jika dia autis. Dia belum pernah berbicara banyak, dia hanya berkata ya dan tidak. Lapar dan ngantuk, itu saja. Dia sulit fokus dengan orang yang mengajaknya bicara,"
"Ehm ... aku ada kenalan seorang dokter, dia menangani anak autis. Banyak anak autis yang sembuh dengannya, walau tidak sembuh seratus persen. Tapi, jika ada kemajuan yang lebih baik. Kenapa tidak di coba kan?" Ujar Andre membuat Erwin menatapnya dengan serius.
"Oh ya? Berikan kontaknya, aku ingin cucuku sembuh. Setidaknya, dia bisa hidup mandiri nantinya. Aku takut, setelah aku tiada, dia tidak bisa hidup mandiri. Karena saat ini, hanya akulah satu-satunya keluarga yang menerima kondisinya. Bahkan ... bahkan orang tuanya malu memiliki anak sepertinya."
Degh!!
Hati Andre ikut teriris, dia beralih menatap Valerio. Anak sekecil itu di benci hanya karena berbeda dari anak lainnya? Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Valerio anak yang tampan, orang yang tidak tau kalau anak itu autis pasti akan menyukainya.
"Putra ku seorang dokter spesialis jantung, sementara istrinya seorang dokter kandungan. Mereka memiliki tiga anak. Dua di antaranya perempuan, dan Valerio satu-satunya anak lelaki mereka. Namun, saat Valerio umur empat tahun. Dia di vonis autis oleh dokter. Membuat putraku tak lagi memperhatikannya, dia malu mengakui putranya seorang anak autis," Terang Erwin dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa harus malu? Dia anak yang istimewa," ujar Andre.
Erwin menatap Andre dengan tatapan sendu, "Kau tidak mengerti Andre, banyak orang memandang anak autis sebelah mata. Bahkan, tak jarang banyak yang meledeknya. Orang tuanya saja tidak terima dengan keadaannya, apalagi orang lain." Lirih Erwin.
"Karena orang tuanya tak peduli padanya, jadi aku merawatnya. Sudah beberapa dokter yang menangani autis nya, tapi tak kunjung ada perkembangan. Ketika marah, anak itu akan melukai dirinya sendiri bahkan orang sekitar." Lanjutnya.
Andre memberikan Aizha pada salah satu baby sitter, setelah Aizha berpindah. Andre mendekati Erwin untuk menenangkannya.
"Aku yakin, dia pasti akan sembuh suatu saat nanti. Aku akan berikan kontaknya, biar kamu langsung membawanya ke dokter tersebut." Terang Andre.
"Terima kasih," ujar Erwin dengan tulus.
Andre beranjak dari duduknya, dia berjalan mendekati Valerio yang sedang sibuk menyusun mainannya.
"Valerio." Panggil Andre.
Valerio tak melihatnya, dia masih saja fokus dengan mainannya. Dia sibuk menyusun mainannya dengan rapih.
Melihat itu, Andre mengambil sebuah mobil mainan yang sepertinya terjatuh. Lalu, memberikannya pada Valerio.
"Ada yang ketinggalan." Ucap Andre.
Valerio baru mengalihkan pandangannya, dia sempat menatap Andre sekilas dan berlanjut menatap mainannya.
"Ambil lah." Pinta Andre.
Valerio mengambil mainan itu pada tangan Andre, raut wajah anak itu terlihat bahagia. Andre pun mengusap rambut coklat milik Valerio dengan sayang.
"Menjadi autis, bukan pilihannya. Namun, dia harus menjalani alur kehidupan nya yang seperti ini." Batin Andre.
Andre memutuskan untuk kembali ke sofa, dia menatap Erwin yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Andre.
Erwin menghela nafas pelan, "Tidak papa," ujar Erwin.
Namun, Andre bisa membaca jika Erwin tengah memikirkan sesuatu hal yang berat. Satu hal yang dia khawatirkan, dia takut Erwin menyerah atas keadaan Valerio.
____
Niat mau bikin cerita s3 di karya baru, ternyata malah gak boleh kontrak karena masih lanjutan novel😫
Kalau ceritanya lebih dari 150 bab itu wajar gak si? takut pada gak suka😭😭
Maaf yah telat, ketiduran jam 9 tadi😭😭 padahal masih proses buat. Memang kalau ngantuk gak sadar tidurnya kapan😂