
Aizha dan kedua kembarannya berangkat sekolah tanpa di antar sang papa, karena Nathan yang masih sakit. Akibatnya, ketiganya di antar oleh Varo yang kebetulan mampir ke rumah.
Ketiganya kini menaiki mobil Varo, anehnya mobil sang om terlihat sangat aneh di mata mereka. Mobil Alphard sebelumnya belum pernah mereka naiki, oleh sebab itu ketiganya merasa aneh.
"Yala, kayak naik mobil ketling nda cih?" Seru Aizha pada kembarannya.
"Heh! Cembalangan!" Seru Nayara dengan mata melotot.
Varo yang duduk di kursi tengah tentu saja mendengarnya, apalagi Aizha dan Nayara berada di belakang. Sementara Varo dan Nadira berada di tengah.
"Kenapa Aizha?" Tanya Varo.
"Eh nda, mobil om kayak mobil ketling." Celetuk Aizha dengan jujur.
Varo terkekeh, keponakannya ini ada-ada saja. "Memang mirip, Aizha kok pintar sih." Seru Varo.
Mendengar hal itu, Aizha menatap Nayara dengan senyum mengembang.
"Tuh dengal Yala kata om, aku pintal." Pekik Aizha.
"Heleh, celanamu tuh pintal. Otakmu kecil juga." Celetuk Nayara membuat Aizha sontak melototkan matanya.
"APAAAA!!"
"Hei! sudah-sudah, mau sampai ini." Seru Varo menengahi.
Kebetulan, mobil Varo terhenti di belakang mobil keluarganya. Dia bisa menebak, jika itu adalah mobil sang daddy. Dan benar saja, tak lama Aaron turun sembari menggendong Ezkiel.
"Eh ada Loni cama Kiel." Celetuk Izha, buru-buru dia pindah ketengah untuk membuka pintu.
"CABAAAALL!!" Kesal Nadira dengan mata melotot.
"Cepetan! cepetan!! Kebulu opa pulang!!" Histeris Aizha.
Varo pun membukakan pintu, keponakannya itu langsung buru-buru berlari ke arah Aaron. Lalu, tatapannya beralih pada kedua keponakannya yang belum kunjung turun.
"Itu ... gak di susul?" Tanya Varo dengan bingung.
"Minta duit opa lah itu." Cetus Nayara.
"Emang papa kalian gak ngasih duit?" Tanya Varo.
"Nda, cama papa nda boleh jajan. Katana bial nda kayak om Viel. Ketoplak telus." Terang Nadira.
Varo menganggukkan kepalanya, jika mengingat Javier dia jadi merindukan adiknya saat kecil dulu. Dimana dia sering menjaili Javier karena ketoprak.
"Yacudah, ayo Yala tulun." Ajak Nadira.
"Makacih om." Seru Nayara dan meng3cup pipi Varo, begitu pun dengan Nadira.
Senyum Varo mengembang, keponakannya memang begitu manis.
Sedangkan Aizha, sudah berada di gendongan Aaron. Tidak usah kaget lagi. Aizha adalah cucu kesayangan Aaron, bahkan Aaron akan rela menukar putranya demi cucu perempuannya itu.
"Papa mana? Kok di antar sama om Varo?" Tanya Aaron, melirik ke arah mobil putranya.
"Papa lagi demam, camalem dedek Nau juga demam. Mama campe nanis telus kalna dedek Nau nanis." Celetuk Aizha.
"Oh ya? Terus sekarang papa yang sakit?" Tanya Aaron.
Aizha mengangguk cepat, "Papa cakit, katana mala lindu."
TRIIINGGG!!!
Bel sekolah berbunyi, dengan panik Sziha menepuk bahu Aaron. "OPAA!! BELNA BUNYII!!" PEkik Aizha.
Aaron menurunkan cucunya itu, dia melambaikan tangannya pada anak dan cucunya yang berlari memasuki sekolah. Namun, keningnya mengerut kala melihat Aizha yang kembali padanya.
"Kenapa?" Tanya Aaron.
Aizha menyengir, dia mengadahkan tangannya. Dan menatap Aaron dengan mata bulatnya.
"Bial hali opa celah, minta dulu lima puluh,"
"Ck, kamu Ini!" Aaron mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada Aizha.
Aizha menerimanya, dia menghirup aroma uang yang sangat dia rindukan.
"Haaahh wanginaaa. Telimakacih opa! Celing-celing yah nanti." Celetuk Aizha sebelum dirinya kembali masuk ke dalam sekolah.
Aaron hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah cucunya yang satu itu.
"Cucu sama anak, sama-sama umurnya. Hais ...,"
.
.
.
Marsha sedang menyuapkan bubur bayi pada putranya, bocah gembul itu tengah asik duduk di kursi makannya sembari memandang ke arah sang mama. Keduanya tengah berada di ruang bermain, dengan karpet bulu sebagai alasan.
"Makan yang banyak yah, biar cepat aktif lagi."Ujar Marsha sembari mengusap bibir putranya yang terdapat noda bubur.
"Mam ... mam ... mam." Sery Naufan dengan tidak sabaran.
"Iya, mam. Ini mam." Marsha kembali menyuapkan bubur itu pada putranya.
Naufan makan dengan lahap, walau sehabis sakit. Marsha belum merasakan bagaimana Naufan GTM, karena sejak pertama kali bayi itu makan. Tak pernah ada yang namanya sulit, mungkin belum fasenya. Dan fase itu yang Marsha takutkan.
"Sayang."
Marsha menoleh, dirinya terkejut melihat Nathan yang datang menghampirinya. Padahal, sebelumnya dia memastikan suaminya tidur sebelum dirinya menyuapi Naufan.
"Nathan, kok bangun?" Heran Marsha.
Nathan menghiraukannya, dia justru duduk di sebelah istrinya dan merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Marsha hanya diam mengamati apa yang suaminya lakukan.
"Iya-iya nak." Marsha kembali menyuapkan Naufan, lagi-lagi bayi itu makan dengan lahap.
Mata Marsha melirik ke arah suaminya, ternyata Nathan kembali tertidur dengan pulas. Ternyata, pria itu menghampirinya karena dirinya tak ada di samping oria itu.
"Haaahh. ... padahal enak istirahat di kamar, eh malah nyari istrinya." Gumam Marsha.
Marsha kembali fokus pada Naufan, sampai bubur itu habis. Setelah habis, Marsha memberikan Naufan air minum.
"Mam." Celoteh Naufan, sembari matanya melihat pada mangkok yang sudah habis.
"Habis sayang, nanti lagi yah." Jelas Marsha.
"Mam Ekheee!!" Tangan mungil Naufan masuk ke dalam mangkok dan meraba isi dalam mangkok itu. Memang makanannya sudah habis, tapi dia seolah tak percaya dengan apa yang mama nya ucapkan.
"Kamu makan udah banyak loh, nanti lagi yah." Ujar Marsha.
"Ekheee!!" Naufan mulai rewel, akhirnya Marsha memilih untuk mengambil biskuit bayi yang kebetulan ada di dekatnya.
"Nah, biskuit saja. Nanti baru nyusu yah," ujar Marsha.
Naufan menghentikan tangisnya, dia meraih biskuit yang Marsha berikan padanya. Naufan memakannya dengan lahap, bayi itu seperti tidak ada kenyang-kenyangnya.
Lalu, tatapan Marsha kembali pada suaminya. Dia ingin beranjak, tapi tak tega membangunkan sang suami. Akhirnya, Marsha memilih diam hingga Nathan bangun.
Dengan lembut, Marsha mengusap rambut pria itu. Dia menyisirnya pelan, sembari memperhatikan putranya.
Tok!
Tok!
Marsha menoleh, matanya membulat sempurna saat mendapati Sofia yang datang dengan senyum lebarnya.
"Mami." Lirih Marsha.
"Hei sayang, maaf yah mami masuk tanpa izin. Tadi bibi bilang kamu lagi suapin Naufan di ruang bermainnya, jadi mami samperin deh." Tetang Sofia.
"Eh, Nathan gak kerja?" Sofia baru menyadari keberadaan putranya.
Marsha menggeleng, dia masih mengelus kepala suaminya.
"Enggak mi, lagi sakit. Mungkin kecapean ngurusin Naufan yang demam, maafin Marsha yah mi."
Sofia duduk di sebelah putranya yang sedang tidur berbantalkan paha Marsha. Lalu, tangannya ia letakkan di atas kening Nathan.
"Anget doang ini mah, it's okay sayang. Namanya juga orang, kalau gak permah sakit itu malah bahaya." Canda Sofia.
Tatapan Sofia beralih pada cucunya yang masih sibuk memakan biskuitnya.
"Ihhh sayang nya omaa!!" Gemas Sofia. Sofia meraih Naufan dari dalam kursinya, dan memeluknya dengan erat.
"EKHEEE!!" Naufan merengek karena acara makannya terganggu.
"Si embul oma, embul oma ...,"
"Ma ... mamamama." Celoteh Naufan sembari merentangkan tangannya pada Marsha.
"Sana mi, bawa aja. AKu mau manja sama istriku." Marsha dan Sofia dama-sama terkejut dengan perkataan Nathan, berarti sejak tadi putranya itu menyadari kedatangannya.
"Dasar manja!" Cetus Sofia.
"Biarin, sama istri sendiri. Kalau sama istri orang ba ...,"
plak!
Sofia memukul mulut putranya dengan kesal, "Mulutnya. .. rasakan!" Pekik Sofia dan beranjak pergi membawa cucunya.
Marsha hanya terbengong melihat kepergian mertuanya, sementara Nathan mengusap bibirnya.
"Sakit Sweety." Cicit Nathan.
"Sakit yah?" Marsha mengusap bibir Nathan. Namun, tiba-tiba saja secara mengejutkan justru Nathan malah menggerakkan wajahnya.
Cup!
Marsha memegangi pipinya, dia menatap kesal suaminya yang terus modus terhadapnya.
"Nathaaannn!!" Kesal Marsha.
Cup!
Nathan meng3cup kembali istrinya, kali ini bibirnya. Pria itu menatap sang istri dengan tatapan lekat.
"Aku perhatikan, kamu jarang manggil aku sayang. Selalu Nathan, Nathan dan NAthan."
Marsha meneguk kasar lidahnya, bagaimana dia bisa fokus jika Nathan memperhatikannya dengan jarak sedekat ini.
"Coba panggil Nathan sayang, Honey, cintaku. Gitu, atau ...,"
"Mas Nathan ... Mas Nathan mau di panggil sayang hm?" Sela Marsha sembari mengusap Rahang suaminya.
Raut wajah Nathan berubah kesal, dia menegakkan duduknya sembari menatap tajam istrinya.
"Jangan samakan aku sama mas tukang bakso depan rumah yah Sweety!"
"Hahaha!!"
Nathan paling tidak suka di panggil Mas, katanya seperti kang jualan. Padahal, menurut Marsha itu adalah panggilan istri untuk suaminya yang sangat umum oada orang biasanya.
"Iya, Honey." Seru Marsha membuat senyum Nathan merekah.
"Nah gitu, elus lagi sayang. Aku mau tidur, kepalaku sakit." Rengek Nathan.
Marsha mendengus, "Si mas nya lagi mau di sayang,"
"SWEETYYY!!!"