
Aaron telah kembali pulang, beberapa teman nathan pun sudah kembali. Hanya tersisa Raffa yang menemani Nathan di desa itu. Sementara Aurel dan Siska, sebagai bentuk tanggung jawab sesama teman. Mereka turut menemani Marsha.
"Gimana ini Rel, gue gak mau tidur bareng dia hiks. .. gue mau pulang hiks ... gue kangen kasur gue hiks ...." Isak Marsha.
Aurel hanya bisa mengelus bahu Marsha pelan, dia menatap Siska dengan bingung.
"Apa perlu kita kasih bukti, kalau lo itu masih perawan?" Tanya Siska.
"Eh iya, kita kasih bukti aja kalau lo tuh masih Virgin. Alias, masih perawan ting-ting," ujar Aurel membenarkan perkataan SIska.
Marsha menghela nafa kesal, temannya ini pintar atau b0doh sih?
"Gimana caranya gue melalukan tes itu? sementara gue gak boleh keluar dari desa ini!" Kesal Marsha.
Aurel mengerutkan keningnya, berusaha berpikir keras. Hingga sebuah ide terlintas di otaknya.
"Ahaa!! gue ada ide!" Seru Aurel.
Aurel membisikkan sesuatu pada Marsha, Siska pun turut nimbrung pada bisikan mereka.
"LO G1LAAA!!!" Pekik Marsha.
"Enggak! enggak! gil4 aja lo! ya kali gue serahin cuma-cuma,"
"Lo mau pulang kan? gimana kalau udah tiga hari terus mereka manfaatin yang aneh-aneh lagi?"
"Betul tuh!" Sahut Siska.
Marsha menutup wajahnya, pikirannya buntu. Dia tak tahu harus bagaimana.
"Menurut gue, ini cara yang paling cepat. Gue yakin deh, besok pagi. Kita sudah pulang," ujar Aurel.
"Iya Sha, bener. Lagian, udah sah ini." Sahut Siska.
"Masalah yang lain, pikirkan nanti. Sekarang, pikirkan bagaimana caranya kita bisa pergi dari desa ini."
Entahlah, Marsha tak yakin dengan ide temannya. Bagaimana caranya dia membicarakan hal ini pada Nathan.
.
.
.
Malam hari, Nathan pergi ke kamar Marsha. Sesuai dengan perintah kepala desa, dia pun menuruti semua yang di titah.
Cklek!
Netra Nathan menangkap sosok Marsha yang sedang duduk di pinggir ranjang, setelah menutup pintu dia lun bergegas menghampiri Marsha.
"Ekhem!"
Marsha terkejut, lantas dia langsung berdiri dengan perasaan canggung.
"L-lo udah disini?"
Nathan menatap Marsha dengan satu alis yang terangkat, seakan bertanya.
"Gu-gue belum tau nama lo." Cicit Marsha.
Nathan menghela nafas pelan, dia duduk di tepi ranjang dan menatap Marsha dari sana.
"Duduk."
Suara berat Nathan mamou memporak-porandakan hati Marsha.
"S3ksi banget suaranya." Batin Marsha.
"Ck, duduk!" Titah Nathan kembali.
Tersadar, Marsha menuruti Nathan. Dia kembali duduk di sebelah pria itu.
"Lo sekolah kelas berapa?" Tanya Nathan.
Marsha mengerutkan keningnya, "Sekolah? gue udah lulus sekolah, bahkan gue udah lulus S1. Umur gue itu, udah dua puluh dua tahun,"
Perkataan Marsha mampu membuat Nathan terkejut. Pasalnya, Wajah Marsha terlihat sangat baby face. Dia pikir, umur wanita di sebelahnya sama sepertinya.
"Nama gue Nathaniel Oliver Alvarendra, panggil aja ...,"
"Niel, gue boleh manggil lo Niel?" Tanya Marsha menatap lekat pemuda yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
Deghh!!
Nathan terdiam, dia berat mengiyakan apa yang Marsha inginkan.
"Jangan, panggil gue Nathan aja."
"Kenapa?" Tanya Marsha.
"Gue gak suka panggilan itu." Jawab Nathan dan membuang wajahnya, dirinya gugup di tatap Marsha seperti itu.
Marsha mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian dia berdehem untuk menetralkan degupan jantungnya.
"Nathan, gue ada cara supaya kita bisa keluar dari desa ini besok pagi," ujar MArsha tanpa menatap Nathan.
"Caranya?" Tanya Nathan menatap lekat ke arah Marsha. Entah mengapa, Nathan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita yang kini berstatus sebagai istrinya.
"Eum itu ...." Marsha mendekatkan bibirnya pada telinga Nathan, dia berbisik pada pria itu.
Seketika Nathan terkejut setelah tahu apa yang Marsha maksudkan. Netranya melotot ke Marsha yang kini tertunduk.
"Otak lo eror apa gimana?" Tanya Nathan dengan bingung.
"Gue mau pulang, dengan begitu mereka pasti pada percaya kalau gue masih virgin." Lirih Marsha.
Nathan menghela nafas pelan, dia menatap Marsha lebih dekat. Membuat wanita itu semakin gugup tak karuan.
"Yaudah, ayo. Tapi, gue harap ... setelah ini, lo jangan menyesal." Bisik Nathan dengan suara beratnya.
Tangan Nathan meraih saklar lampu yang berada di sebelah kepala ranjang. Sementara tangan yang lain, menyanggah tubuhnya. Sehingga Marsha di bawah kungkungannya.
Tak!
.
.
.
Marsha terbangun di pagi hari, dia mengerjapkan matanya dan merasakan sebuah tangan yang melilit pinggangnya.
"Eungh ...." Marsha beranjak duduk, membuat selimutnya melorot.
"Astaga!" Lekik Marsha ketika sadar dirinya tanpa busana.
Marsha bergegas memakai pakaiannya kembali, lalu dia menatap Nathan yang masih tertidur.
"Nathan! Nathan! bangun! geser dulu!" Pekik Marsha.
Nathan bergegas bangun, dia menatap bingung ke arah Marsha. Wajahnya terlihat masih sangat mengantuk.
"Astaga, bangun tidur aja ganteng. Benar-benar pahatan yang sempurna." Batin Marsha, terpaku pada wajah Nathan.
"Apaan sih?" Suara serak Nathan kembali menyadarkan Marsha.
"Lo minggir dulu, gue mau lihat darahnya." Linta Marsha.
Mengerti, Nathan segera menyingkir. Dia memakai kembali pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Melihat ada bercak darah, membuat senyuman Marsha mengembang.
"Yes! jadi pulang!!" Pekiknya senang.
TOK!
TOK!
"Sha! ini gue!" Panggil Aurel.
Marsha membukakan pintu, wajah wanita itu terlihat sangat ceria. Tak seperti hari kemarin.
"Gimana-gimana?" Tanya Aurel.
"Ada, noh." Tunjuk MArsha.
"Tapi gue nalu." Cicit Marsha.
"Halah, ngapain malu. Hebat juga lo, buat dia langsung mau," ujar Aurel.
Siska memegang lengan Marsha, dia menatap lekat raut wajah Marsha yang terlihat bahagia.
"Are you okay bestie?" Tanya Siska.
"Hem, gue baik kok. Kenapa?" Tanya MArsha.
Siska menggeleng. Tak berselang lama oak kepala desa datang untuk memastikan keadaan mereka berdua.
"Lihat pak! ada darah di sana, itu bukti kalau teman saya masih virgin! kalian yang fitnah teman saya, bisa di tindak pidana! orang tua teman saya sebentar lagi akan bawa polisi kesini, siap-siap kalian masuk jeruji besi!" Sentak Aurel menatap pak kepala desa dan beberapa warga yang turut ikut.
Melihatnya, pak kepala desa menganggukkan kepalanya. Beberapa warga terlihat ketakutan dan memilih pergi.
"Baiklah, kalian boleh pulang."
Marsha Terlihat senang, dia sangat gembira. Tanpa tahu apa konsekuensi kedepannya.
"Nah! Dari kemarin kek! masa di tunjukin gini dulu baru percaya!" Kesal Aurel.
Melihat pak kepala desa dan warga yang akhirnya pergi, membuat Siska menatap Aurel.
"Emangnya mereka gak curiga yah kalau itu darah asli atau palsu?" Tanya Siska.
"Kita kan gak bohong," ujar Aurel.
"Iya, maksud gue. Kalau tau gitu, kenapa harus nyaranin hal itu pada Marsha. Kenapa gak kita kasih obat merah aja, atau tinta merah. Kan kita bawa, kenapa ngorbanin masa depannya?"
Perkataan Siska membuat keduanya menegang, Aurel segera memegang lengan Marsha karena temannya itu mendadak lemas.
"Ko-kok lo pinternya telat sih Sis." Gumam Aurel dengan suara bergetar.
"Masa depan gue gimana Rel." Lirih Marsha.
Marsha menatap pintu kamar mandi yang masib tertutup, dia bergegas meraih koper Marsha dan memasukkan barang-barangnya.
"Kita pulang sekarang, gue gak mau tanggung jawab sama tuh cowo." Pekik Marsha.
Aurel dan Siska sampai menganga melihat kepanikan Marsha.
"Tunggu apalagi?! Ayo siap! siap!!" Pekik Marsha.
Aurel dan Siska bergegas menyiapkan narang mereka. Sama seperti Marsha.
Tak!
Karena tak hati-hati, Marsha tak sengaja menyenggol dompet milik Nathan. Dia bergegas mengambil, tetapi dirinya tak sengaja membuka dompet itu dan melihat identitas Nathan.
"Kelahiran ... What!! umurnya baru delapan belas tahun dong?! Apa?! Enggak! gue gak mau tanggung jawab!!" Pekik Marsha dan kembali menyimpan dompet itu. Dan segera bergegas pergi.
Cklek!
Nathan keluar dengan kondisi yang jauh lebih segar, dia menatap kamar yang ternyata sudah kosong.
"Kemana dia." Gumam Nathan.
Melihat seprai yang terdapat bercak darah itu masih ada, membuat sudut bibir Nathan terangkat.
"Lo pikir, bakalan lepas dari gue setelah apa yang terjadi semalam? Jangan harap." Lirih Nathan dengan seringai di bibirnya.
______
Mau lagi gak nih? jadi crazy up yah😂😂