
Happy Reading 😊
Sejak perjalanan dari rumah sampai di Bandara Keyla terus saja terisak dengan tangisnya. Semalam bahkan Keyla terus saja berbicara dan tidak mau tidur hanya untuk membujuk Kayla untuk tidak pergi.
"Kak, Key mohon jangan pergi ya?" bujuk Keyla. Ia bahkan tidak mau melepas dekapannya.
"Kau ini kapan kau akan tumbuh dewasa, Kakak kan pergi untuk belajar. Kakak janji akan sering menghubungimu." Kayla berusaha mengurai dekapan Keyla namun tetap tidak dilepaskan Keyla.
"Key biarkan kakakmu pergi nanti bisa ketinggalan pesawat." Jeni menarik tubuh Keyla agar melepaskan Kayla. Mau tidak mau Keyla akhirnya melepas Kayla.
Kayla mengusap wajah Keyla sekilas lalu melambaikan tangannya melangkah pergi.
Keyla merasa separuh hatinya menghilang. Selangkah demi selangkah, akhirnya Kayla hilang dari pandangannya. Setelah sekian tahun baru bertemu dan bersama, kini Keyla harus mengikhlaskan kepergian saudara kembarnya itu. Seperti halya dirinya, Kayla pun ingin menempuh pendidikan yang lebih baik di negeri Paman Sam itu.
Hari- hari berlalu Keyla jalani tanpa Kayla dan Alvin. Semangat hidupnya seperti menghilang, entah sampai kapan rasa sepi ini terobati.
"Nona bersiaplah 15 menit lagi kita akan ada rapat dengan para pemegang saham, mengingat ini acara yang sangat penting saya mohon anda lebih fokus." Antoni memberitahu. Bukan Ia lancang sebagai bawahan namun akhir-akhir ini Antoni mendapatkan banyak komplain dari pemegang saham Brawijaya Group tentang kinerja Keyla yang menurun sebagai CEO.
"Baiklah aku mengerti, aku akan bersiap keluarlah dulu!"
Antoni menunduk lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Keyla memperbaiki penampilannya dan touch up bedak wajahnya yang sedikit memudar. Melihat pantulan dirinya di cermin membuat Keyla mengingat Alvin yang selalu mengatainya wanita jadi-jadian.
"Alvin," gumamnya dalam hati. Dulu sebelum Ia menikah bahkan lebih sering bersenang-senang tapi setelah menikah kenapa selalu saja ada masalah yang membuat keduanya saling menjauh.
Keyla memegang ponselnya Ia berpikir untuk mengirimkan pesan singkat.
"Ah konyol sekali, dia pasti langsung menghapus pesanku. Aku yakin dia sangat membenciku jika tidak pasti sudah meneleponku." Keyla berdecak kesal lalu menghapus pesan yang sudah ditulisnya itu.
Sementara di sebuah kantor tepatnya di jantung kota Surabaya seorang pria menatap ke jendela dari ruangannya. Pria itu adalah Alvin. Sudah seminggu ini Ia berada di kota itu namun tidak sempat baginya untuk menikmati kota yang dijuluki kota pahlawan itu.
Tok ... tok.
Seorang pria masuk yang tidak lain Hans Asisten Alvin yang turut serta mengikuti kemana tuannya pergi.
"Tuan sudah waktunya meninjau lokasi proyek pembangunan hotel." Hans memberitahu.
Jadwal Alvin benar-benar padat dari pagi hingga malam. Demi cepat bisa kembali ke Ibukota Ia melakukan pekerjaannya lebih cepat. Ya kerinduannya yang sudah seminggu ini semakin lama semakin tidak bisa terbendung lagi meski Keyla sendiri tidak menghubunginya namun Alvin yakin jika Ia merasakan hal sama sepertinya.
.
.
"Tuan, anda bekerja terlalu keras, anda bisa sedikit beristirahat menikmati kota ini." Cetus Hans. Ia benar-benar merasa kasian pada tuannya itu. Bagaimana tidak jika waktu menunjukkan pukul 10 malam mereka baru kembali ke hotel.
"Kau boleh ambil cuti besok Hans tapi aku akan tetap pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku, secepatnya aku ingin cepat kembali."
Drt ... drt.
Ponsel Alvin bergetar menandakan notifikasi masuk. Segera Alvin memeriksanya.
Di tempat lain tepatnya di ibukota Keyla tengah memandangi ponselnya. Ya setelah seharian berpikir akan mengirim pesan singkat atau tidak akhirnya Ia memutuskan mengirimkan pesan singkat itu.
"Bulshit bisa gila aku!" Keyla berdecak kesal menunggu pesannya dibaca atau malah diabaikan dan dihapus sebelum dibaca.
"Omg dia sudah membuka pesanku." Keyla berdecak tidak percaya, Ia langsung berjingkrak senang. Bagaimana pun juga pikirannya salah tentang Alvin yang sudah melupakannya, nyatanya Ia masih membaca pesannya.
Drt ... drt.
Ponsel Keyla bergetar, jelas nama yang tertera di ponselnya adalah My Ice yang tidak lain adalah Alvin.
"Bagaimana ini, aku jawab atau tidak?" panik Keyla. Bagaimana Ia harus berbicara jika menjawabnya tapi jika Ia menolak bisa saja Alvin akan kembali salah paham atau jangan-jangan menelepon untuk memarahinya, pikiran-pikiran itu yang kini memenuhi otak Keyla.
"Ah jawab saja biar saja mau dia memarahi aku atau lainnya aku tidak peduli," monolog Keyla pada dirinya sendiri.
Keyla ingin menggeser panel hijau tapi tiba-tiba Ia kembali mengurungkan.
"Tidak aku tidak siap jika dia ingin mengatakan untuk tidak mengganggunya lagi. Jelas-jelas ****** itu mengatakan Alvin pindah ke Surabaya. Terserah lah jika itu memang keinginannya." Keyla menonaktifkan ponselnya lalu menaruhnya d bawah bantal.
Kembali ke Alvin yang sudah sampai di hotel tepatnya di kamarnya hanya diam tertegun karena Keyla tidak mau menjawab teleponnya dan setelah itu nomernya malah tidak aktif.
"Padahal aku sangat ingin mendengar suaramu tapi sepertinya kau tidak ingin berbicara padaku." Alvin melempar ponselnya ke ranjang dengan perasaan kecewanya. Ia bergegas membersihkan diri sebelum akhirnya beristirahat.