Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 89



Happy Reading 😊


Air mata Kayla menitik begitu Keyla mengganti lampu kamar menjadi lampu tidur. Sekuat tenaga Kayla menahan isak tangisnya agar tidak diketahui oleh Keyla.


"Aku tidak tahu akan sesakit ini melepaskan orang yang kita cintai demi orang yang juga aku cintai," gumam Kayla. Ia menyeka air matanya yang terus saja menitik. Alvin dan Keyla adalah dua orang yang berarti dan begitu Kayla cintai hingga merelakan kedua orang penting dalam hidupnya bahagia dan lebih memilih Ia yang terluka.


Bukan Kayla tidak ingin melupakan pria yang sudah berstatus sebagai adik iparnya itu namun nyatanya susah sekali melupakan cinta pertama. Alvin merupakan cinta pertama Kayla. Tidak ada pria yang sebaik Alvin di dunia ini hingga membuatnya jatuh cinta. Bukan salah Alvin yang tidak membalas cintanya namun salahnya tidak bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya.


***


Pagi-pagi sekali Kayla sudah meninggalkan rumahnya.


"Dimana Kak Kayla, Bunda?" telisik Keyla yang sedari tadi pagi tidak melihat keberadaan saudara kembarnya itu.


"Kayla berangkat pagi-pagi. Apa kalian sedang bertengkar, tadi Bunda lihat mata Kayla bengkak seperti habis menangis," ungkap Jeni.


Jeni yang tidak tahu jika Kayla juga pernah ada perasaan dengan Alvin merasa bingung karena semalam kedua putrinya itu tidur bersama.


"Mungkinkah?" Lirih Arman menduga-duga menatap Keyla begitu juga Keyla. Anak dan ayah itu saling menatap.


"Mungkin apa?" tanya Jeni menatap penuh tanya Arman.


"Mungkin iya mereka bertengkar," kilah Arman menutupi perasaan khawatirnya jika benar apa yang dipikirkannya benar.


Setelah sarapan Keyla memilih kembali ke kamarnya. Dugaan ayahnya membuatnya ikut berpikir, selama ini Ia terlalu nyaman dengan hidupnya hingga melupakan Kayla. Itulah hal yang membuat Keyla tidak menerima Alvin sepenuh hati karena rasa bersalahnya pada Kayla. Jika saja Ia bisa memilih Ia akan mundur dan membiarkan Kayla yang berada di posisinya saat ini.


Keyla merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia yang berada di tengah ranjang menarik bantal hingga menampakkan sesuatu yang tadinya berada di bawah bantal. Ya, sebuah buku dan lebih terlihat seperti buku harian.


"Buku ini pasti milik Kayla," gumam Keyla. Ia hendak membuka namun ada perasaan ragu namun juga ada keinginan kuat untuk mengetahui isi hati saudara perempuannya itu.


"Selama ini Kayla terlihat sangat baik hingga aku lupa, mungkin saja Ia menutupi semua dariku. Buka Key jangan egois hanya mementingkan dirimu sendiri," ingat Keyla pada dirinya sendiri.


Ya perlahan tapi pasti Keyla menyakinkan dirinya sendiri untuk membuka buku itu demi kebaikan mereka berdua. Sejak kecil mereka terpisah jika saat mereka bertemu saling menyakiti apa gunanya mereka dipersatukan kembali.


.


.


Hiks ... hiks.


Keyla terisak-isak membaca lembar demi lembar curahan hati Kayla yang tertuang di buku itu.


"Bodohnya aku kenapa selama ini aku begitu egois bahkan aku tidak pantas disebut saudara kembar," lirih Keyla. Ia menyesali keputusannya menikahi pria yang sudah lama dan sudah seharusnya Kayla yang berhak memilikinya namun kehadirannya mengalihkan semuanya. Perlahan-lahan Kayla merelakan pria itu dan pura-pura baik-baik. Ia lebih memilih melihat pria yang dicintainya bahagia bersama wanita yang dicintainya yang juga merupakan saudara kembarnya. Namun Ia bukanlah wonder women atau semacamnya yang pasti terluka dengan kebijaksanaannya itu.


"Seandainya aku tahu kau sesakit ini aku pasti ...." Keyla kembali terisak tidak bisa meneruskan kata-katanya membayangkan bagaimana perasaan Kayla setiap harinya melihatnya dan Alvin.


"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Keyla. Ia harus membuat Kayla dan Alvin bersatu karena hanya Kayla yang pantas untuk Alvin.


Drt ... drt.


Ponsel Keyla bergetar. Saat Ia memeriksa ponselnya nama Alvin yang tertera namun bukannya menjawab panggilan itu Keyla malah menolak panggilan itu lalu segera menonaktifkan ponselnya.