
HAPPY READING 😊
...----------------...
Brakkkk
Keyla menendang pintu ruangan kerja Hendra saat sudah berada di depan ruangan itu. Seketika ulahnya ditatap sengit oleh Hendra.
"Apa yang kau lakukan, kau ingin kakek mati kena serangan jantung!" sentak Hendra penuh emosi dengan ulah Keyla.
Keyla melangkah masuk saat itu tatapannya tidak lepas dari Hendra. Tatapan penuh amarah juga kebencian.
"Lebih baik Kakek kena serangan jantung daripada hidup cuma membuat putri Kakek sendiri tidak bahagia!" ucap Keyla dengan lantang.
"Berani kau berkata seperti itu pada Kakek, kau lupa tumbuh sebesar ini karena siapa." Hendra menggebrak meja.
Keyla tersenyum sinis. "Jika Keyla tahu aku tumbuh dari tangan kejam Kakek lebih baik Keyla hidup di jalanan menjadi gelandangan."
"Kau!" Hendra emosi hampir saja tangannya menampar wajah Keyla jika tidak ditahan Jeni.
"Lepaskan, aku ingin membangunkan putrimu yang selalu kau manjakan itu. Berani-beraninya berteriak kepadaku." Hendra meronta dari cekalan tangan Jeni.
"Key pergilah aku akan menenangkan Kakek, cepat pergi!" sentak Jeni.
Keyla segera pergi sesuai perintah bundanya. Tangannya mengepal erat saat sudah berada di luar ruangan itu. Saat itu terdengar tangisan bundanya yang tidak begitu jelas namun Keyla bisa mendengarnya.
Pertama kalinya Keyla terang-terangan melakukan pembangkangan. Entah kekuatan dari mana tapi Keyla benar-benar lelah dengan semuanya. Kenapa begitu susah menyatukan orang-orang yang hanya ingin bersama karena ego seorang pria tua.
"Kau baik-baik saja." Cemas seorang pria yang tidak lain Alvin. Saat itu Keyla terpaku di tempatnya membuat Alvin cemas.
"Aku baik-baik saja sebaiknya kita pergi." Keyla menarik tangan Alvin melangkah pergi. Ia tidak mau Alvin mendengar pertengkaran kakek juga bundanya.
"Kau bisa tahu aku disini?" tanya Keyla saat sudah berada di dalam mobil. Alvin hanya tersenyum Ia lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Saat di mobil Keyla terlihat murung Ia hanya menatap jendela. Tidak ada pembicaraan disana.
"Kau benar-benar larut dalam kesedihanmu Keyla, haruskah aku melenyapkan pria tua itu agar kau bisa bahagia. Aku benar-benar merindukan wanitaku yang selalu ceria bahkan kita tidak pernah lagi berdebat dan aku sangat merindukan saat-saat itu," ucap Alvin yang hanya mampu diucapkannya dalam hati.
"Maafkan aku Alvin seharusnya kita berbahagia sebagai pengantin baru tapi aku hanya memberimu wajah murung seperti ini," batin Keyla.
"Tidak apa aku mencintai dalam suka maupun duka, apa perlu aku turun tangan menyelesaikan masalah keluargamu?" ucap Alvin tiba-tiba.
Keyla tertegun menatap pria disampingnya itu entah kenapa seperti menjawab ucapannya dalam hati. Mobil kembali melaju setelah lampu berubah hijau.
"Kenapa kau terus menatapku, apa kau baru menyadari kalau aku sangat tampan." Kevin berucap dengan bangga.
Keyla langsung mengalihkan pandangannya begitu mendengar ucapan penuh kebanggaan dari suaminya itu.
"Hei kau marah, apa salahnya mengagumi ketampanan suami sendiri."
"Yah kau benar kau memang tampan." Keyla menatap puja tapi terlihat jelas pujian itu tidak tulus.
"Oh iya jadi siapa semalam yang begitu bersemangat jika tidak kau sangat menginginkan aku." Alvin sengaja memancing istrinya itu bereaksi agar sedikit membuatnya melupakan masalah keluarganya.
Keyla kembali mengingat kejadian semalam Ia begitu malu tapi entah mengapa tiba-tiba menjadi tidak tahu malu.
"Jangan membahas itu lagi kalau tidak ingin aku turun dari mobilmu!" ancam Keyla.
"Kenapa bukannya sah-sah saja suami istri membahas masalah ranjang jika tidak bahagia ranjang kita akan selalu hangat."
"Berhenti!" pekik Keyla emosi.
"Baik-baik aku tidak akan membahasnya lagi," ucap Alvin dengan terpaksa.
Tidak ada lagi obrolan yang terjadi di dalam mobil itu hingga akhirnya mobil terhenti tepat di depan gedung apartemen miliknya.
"Sebaiknya kau balik ke kantor, aku ingin istirahat!" ucap Keyla dengan ekspresi dingin. Terlihat jelas wanitanya itu tidak ingin di ganggu.
"Baiklah aku ...." Belum juga menyelesaikan ucapannya Keyla keluar dari mobil itu. Ia melangkah pergi begitu saja membuat Alvin hanya menghela nafas.
"Sejak awal kau tahu wanitamu seperti itu Alvin jadi terima saja, untuk apa kau banyak berpikir sekarang." Ingatnya pada dirinya sendiri dengan sikap Keyla.