
HAPPY READING 😊
...----------------...
"Ayo jawab!" desak Alvin saat Keyla hanya tertegun menatapnya.
"Jika jawabannya tidak hanya satu apa kau akan marah?" Bukan jawaban yang di lontarkan Keyla namun sebuah pertanyaan.
"Jawab saja," desaknya lagi.
"Kau harus tahu aku bukan orang yang memaksakan kehendak," imbuh Alvin.
Perkataan Alvin memang benar adanya jika memang dia orang yang pemaksa mungkin beberapa tahun lalu dia sudah membawa lari Ziva daripada harus menahan patah hatinya selama bertahun-tahun.
"Aku ... aku mencintaimu Alvin tapi juga menyukai hartamu juga ingin menyelamatkan perusahaan." Keyla menjawab pertanyaan Alvin dengan kejujuran.
Seketika Alvin menanggapi jawaban dengan tertawa lebar. Sungguh gadis yang polos.
"Kau menertawakan aku!" Keyla memukul dada pria itu sebagai bentuk kemarahannya. Setengah mati Ia dibuat ketakutan hanya untuk menjawab pertanyaan konyol dari Alvin. Ia berpikir Alvin akan marah dengan jawabannya itu. Keyla melanjutkan langkahnya kemudian duduk di gazebo, Alvin mengekor di belakangnya.
"Masih marah?" tanya Alvin saat keduanya sudah duduk bersama memandangi ikan-ikan yang berenang kesana kemari.
"Nggak!" ketus Keyla.
"Nggak kok nadanya ketus begitu, bagiku cinta darimu sudah cukup karena apapun yang aku miliki tanpa kau minta akan aku kabulkan semua." Benar-benar kata azimat itu yang diutamakan Alvin.
Alvin kembali menggenggam dan mencium tangan Keyla membuat Keyla menatap kearahnya.
"Cukup mencintaiku, aku akan memberimu seluruh hidupku padamu. Percayalah aku akan membahagiakanmu Keyla Angelina," ucap Alvin sepenuh hati.
Keyla menitikkan air mata dengan ucapan dari Alvin sungguh walaupun pria itu tak berharta dan bertahta sekalipun Ia mau.
"Alvin kau tidak ingin pulang, bersabar Nak." Soraya dan Jeni menyusul putra putrinya yang masih betah lama-lama berdua walau saat itu sudah saatnya pulang.
Alvin hanya tersenyum mendengar ucapan Mamanya sementara Keyla hanya menunduk malu.
"Mama pulang dulu ya, Nak. Kita akan bertemu saat hari pernikahan kau juga Alvin." Soraya menatap Keyla sekilas lalu berpindah ke Alvin.
"Apa maksudnya Ma?" Alvin menatap tidak mengerti.
"Kau tidak boleh bertemu Keyla sampai hari pernikahanmu, seharusnya dari seminggu sebelumnya namun karena pernikahan ini mendadak jadi kita tunda masa pingitannya," jelas Soraya.
"Pingitan." Alvin dan Keyla berucap serempak membuat keduanya tampak kompak.
Soraya dan Jeni hanya tersenyum menatap pasangan yang sebentar lagi dipisahkan selama tiga hari itu.
Tanpa aba-aba Alvin langsung memeluk Keyla dengan erat seakan tidak ingin dipisahkan. Waktu tiga hari itu waktu yang cukup panjang bagi dua insan yang saling mencinta itu untuk dipisahkan.
Sesaat Soraya maupun Jeni membiarkan keduanya mengisi hati mereka dengan pelukan itu sebelum dipisahkan.
Lima menit berlalu tapi tidak ada tanda-tanda keduanya melepas satu sama lain.
"Alvin sudah, Papa sudah menunggu!" sentak Soraya menarik tubuh Alvin.
"Ma biarkan aku tidur disini," rengek Alvin seperti anak kecil yang tidak mau dipisahkan dari Ibunya.
Tidak ingin berlama-lama Soraya langsung menarik telinga putranya itu membuat Alvin langsung melepas dekapannya, berpindah mengusap telinganya yang memerah.
"Keyla kau jangan takut aku akan menyelamatkanmu dengan kudaku, Pangeran mu pasti datang untukmu'" pekik Alvin di sela tarikan tangan Mamanya. Baik Keyla maupun Jeni hanya bisa menahan tawa. Mereka tidak menyangka CEO yang penuh wibawa dan ditakuti musuhnya itu
bisa bersikap konyol seperti itu.
***
Disela hiruk pikuk persiapan pernikahan Keyla, Kayla terus berusaha menemani Ayahnya untuk terapi sembari memulihkan kondisinya. Arman jauh lebih cepat melakukan terapi karena waktunya tidak banyak. Selama itu Rendy yang mulai akrab dengan Kayla, selalu menemaninya di rumah sakit.
"Kak, kau nggak usah repot-repot selalu datang kemari. Aku tahu Kak Rendy capek bekerja." Kayla merasa tidak enak karena Rendy selalu menyempatkan berkunjung ke rumah sakit setelah pulang kerja.
Kayla sendiri beberapa hari izin tidak ke kantor karena mendampingi Ayahnya terapi. Alvin sudah menjamin pengobatan tebaik di rumah sakit demi pemulihan calon mertuanya itu lebih cepat. Alvin bahkan memindahkan Arman ke rumah sakit terbaik di kota itu walaupun Ia harus menggelontorkan biaya yang tidak sedikit. Semua demi memberi kebahagiaan pada Keyla pujaan hatinya.
"Kay, aku ingin tanya sesuatu tapi jangan marah?" ucap Rendy dengan hati-hati Ia tidak ingin Kayla salah paham.
"Sebaiknya kita bicara di luar, biar Ayahku istirahat dengan tenang." Kayla merapikan selimut Ayahnya lalu melangkah keluar, Rendy mengekor dibelakangnya.
Kini keduanya sudah duduk di taman yang masih di area rumah sakit itu.
"Ada apa Kak, katakan!" Kayla sudah siap dengan pertanyaan serius yang ingin ditanyakan padanya.
"Sudah lama aku memikirkan ini bahkan dari pertama aku melihatmu di kampus beberapa tahun silam, aku mengira kau adalah Keyla-"
"Semua orang juga mengira begitu tidak hanya Kak Rendy," potong Kayla padahal Rendy belum selesai bicara.
"Jadi kau apakah saudara kembar Keyla?" sambung Rendy dengan ucapan sebelumnya.
Kayla mengangguk membenarkan pertanyaan Rendy.
"Kok bisa, bagaimana itu bisa terjadi karena setahuku sebagai Kakak kelas Keyla walaupun aku tak begitu mengenalnya setahuku Keyla hanya punya Bunda dan tidak memiliki saudara tapi aku tidak menyangka dia punya saudara kembar bahkan Ayah."
"Ceritanya panjang lebar Kak tapi cukup kau tahu aku dan Keyla kembar. Aku sendiri juga baru mengetahui kebenaran ini. Kau lihat Ayahku, orang yang sebenarnya mengetahui semuanya malah hilang ingatan," pasrah Kayla dengan keadaannya.
"Kau harus yakin suatu saat Ayahmu bisa sembuh dan menjelaskan semuanya." Rendy berusaha memberi semangat juga motivasi untuk Kayla.
"Lalu bagaimana dengan Ziva, kenapa Alvin bisa melupakan Ziva? setahuku dia berubah menjadi pria yang menutup diri dari wanita setelah melepaskan Ziva," telisik Rendy.
"Entah, tapi yang jelas Alvin sangat mencintai Keyla karena demi Keyla Ia menanggung biaya rumah sakit Ayahku. Kau tahu sendiri seberapa mahalnya biaya perawatan di rumah sakit ini."
Ya, Rendy tahu biaya cukup besar di rumah sakit ini tidak mustahil seorang Alvin di balik semuanya.
"Kak bisakah Kay meminta tolong Kakak," pinta Kayla dengan sangat.
"Apa katakan jika aku bisa pasti aku bantu."
"Kak Rendy, bisakah Kakak berpura-pura jadi pacarku di acara pernikahan Keyla?"
"Pacar." Rendy melongo dengan permintaan Kayla.
"Maaf Kak permintaanku pasti aneh banget apalagi aku tidak bertanya lebih dulu Kakak punya pacar atau tidak."
"Bukan itu Kay kau jangan salah paham hanya saja kenapa harus pura-pura." Rendy keceplosan dengan ucapannya sendiri. Ia menelan salivanya dengan susah payah karena mulutnya yang tiba-tiba bar-bar.
"Maksud Kak Rendy?" Keyla menatap tidak mengerti.