
Setelah bertemu klien di sebuah kafe, Ziva langsung menghubungi Kayla juga Keyla dan memintanya datang karena hari sudah sore, mereka pasti sudah pulang kerja.
Kayla lebih dulu sampai karena jarak kantor Kayla dengan cafe itu tidak terlalu jauh.Keduanya berpelukan erat melampiaskan kerinduan yang beberapa bulan dibendungnya.Kayla sibuk bekerja sehingga jarang main ke Bandung sementara Ziva juga sibuk bekerja sebagai lawyer juga harus mengurus kedua buah hatinya Axel dan Alexa membuatnya tidak punya waktu untuk bermain-main seperti ini.
"Cantik sekali Bu lawyer ini, aku jadi iri."
Kayla menatap sepasang bola mata cantik milik Ziva.Tentu saja hal itu disepakati oleh pria yang mengawasi keduanya dari jarak aman hingga leluasa baginya melihat wanita yang dicintainya itu.Kayla yang sedang berbicara di telepon terdengar nama Ziva dari pembicaraannya membuat Alvin mengikuti sekretarisnya itu.Benar saja dugaannya, Ziva berada di Jakarta.
Ziva hanya tersenyum mendengar pujian dari sahabatnya itu. "Apa kau sudah memenangkan hati pria berhati baja itu?" telisik Ziva.
Beberapa minggu ini bahkan sahabatnya itu tidak lagi menceritakan tentang Alvin padanya.
"Sudah jangan bahas pangeran baja itu lagi!" ketus Kayla.
Ziva menangkap sinyal kemarahan di hati Kayla."Apa kau ditolak?"
Kayla semakin kesal karena bukannya menghibur sahabatnya itu malah menggoda dengan pertanyaan konyolnya.
Keyla yang ternyata sudah datang menatap kesal keduanya.Sedari tadi, Keyla mengamati keakraban keduanya membuatnya menggeram cemburu.
"Bagus, kau bahkan sudah melupakanku!" Keyla berdiri dengan tatapan kesalnya menatap Ziva.
"Uluh-uluh, sayangku." Ziva bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Keyla yang masih berdiri di tempatnya.
Kayla menatap Keyla dengan tatapan kesalnya. "Baru datang saja sudah membuat drama murahan seperti itu," gumam Kayla.
Ziva menatap kedua sahabatnya bergantian.Keyla yang tepat duduk berhadapan dengan Kayla membuat Ziva leluasa menatap kedua sahabat baiknya itu.Kedua wanita itu tampak acuh membuat Ziva menatap penuh tanya, namun ada yang lebih mengganjal pikirannya.
"Kalian benar-benar mirip, apa jangan-jangan kalian saudara kembar?"
Bukannya jawaban yang di dapat Ziva namun keduanya sama-sama membuang muka dengan pertanyaannya.
"Kalian sudah saling kenal atau kalian sedang berebut ikan asin?" seloroh Ziva.
"Ziva!" geram keduanya.Seketika keduanya gemas, menjewer telinganya.
Kelucuan itu spontan membuat Alvin yang terus memantau ketiganya menahan tawa.Hal yang sangat jarang ia lakukan beberapa tahun terakhir ini walaupun hanya sebuah senyuman.Alvin berpikir untuk ikut bergabung namun baru selangkah berjalan, ia kembali duduk di kursinya.
"Aku tidak mau kedua gadis itu merusak fokusku," gumam Alvin.
Kembali ke meja ketiga sahabat itu.
"Jangan samakan aku dengan wanita ular itu," tukas Kayla.
"Ular?maksud loe, apa?" Keyla bangkit dari duduknya begitu emosi namun Ziva segera menariknya untuk duduk.
"Jika kalian terus seperti ini, sebaiknya aku kembali ke hotel, aku lelah." Ziva bangkit dari duduknya namun dengan cepat keduanya menahan pergelangan tangannya membuatnya kembali duduk.
"Kalian adalah sahabat baikku jadi aku ingin kalian bersahabat," tutur Ziva.
Spontan keduanya saling membuang muka namun sesaat keduanya langsung menyetujui."Baiklah, teman." Keduanya saling berjabat tangan membuat Ziva tersenyum senang akhirnya mereka bisa saling bersahabat.
"Nah gitu dong." Ziva merangkul kedua sahabatnya itu.
Cukup lama mereka berbincang hingga lupa untuk memesan minum segera Ziva memesankan kedua sahabatnya itu makanan dan minuman.Ketiganya nampak menikmati makanan mereka hingga membuat suasana itu kembali hangat.
"Jadi apa masalah kalian?" Ziva melirik kedua sahabatnya.
"Kamu!"Tunjuk keduanya bersamaan membuat kening Ziva berkerut.
"Kok gue." Ziva menunjuk dirinya sendiri seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.
Ziva berpikir sesaat. "Jangan katakan kalian sama-sama menyukai Alvin, oh my good." Ziva memegang kepalanya yang seketika terasa pening.
"Ziva, kau harus membuat pangeran baja itu lunak!Semua gara-gara loe!" tukas Kayla.
"Loe harus buat Alvin melirikku, Va." Tak mau kalah dari Kayla, Keyla menatap penuh harap sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.Keduanya menatapnya penuh harap membuat Ziva seketika pusing.
"Ok, gue ke toilet dulu." Ziva langsung bangkit melangkah menuju toilet.Beberapa menit kemudian Ziva keluar dari toilet namun tiba-tiba tangannya ditarik seorang pria.
"Lepaskan!" pekik Ziva.
Seketika mata Ziva terbelalak melihat siapa pria yang menarik tangannya. "Alvin."
Alvin tak bergeming dan terus menarik tangan Ziva masuk ke dalam mobilnya.