
Pagi-pagi sekali Alvin sudah tiba di kediaman Keyla.Pria itu seperti tidak mau ketinggalan karena Keyla seperti menjauh saat ia mendekat.Keyla selalu menghindari dan menolak saat ingin mengantar dan menjemputnya.Alvin melakukannya demi menjaga martabat keluarganya karena hubungan baik antara keluarganya dan keluarga Keyla tidak boleh ternoda dengan sikapnya yang memperlakukan wanita itu dengan buruk.
Alvin adalah tipikal orang yang bertanggung jawab.Hubungannya dengan Keyla atas permintaannya sendiri.Sebaik mungkin Ia akan memperlakukan Keyla walaupun kenyataannya Ia malah memperlakukan Keyla dengan buruk.
Tok ....
Tok ....
Jeni mengetuk pintu kemudian langsung masuk begitu saja.Saat itu Keyla tengah bersiap.
"Key, ada Alvin di bawah," ucap Jeni, duduk di tepi ranjang.
"Bunda, bisakah Bunda tolak perjodohan kami?" Keyla duduk berjongkok di depan Jeni dengan aksi memohonnya.
"Bicara apa kau, ini demi masa depanmu dan juga masa depan perusahaan.Kau tahu jika kau menikah dengan Alvin perusahaan kita akan semakin besar.Dua perusahaan bergabung menjadikan perusahaan kita tidak terkalahkan," jelas Jeni.
Lagi-lagi Keyla menghela napas panjang ketika membahas tentang dirinya yang berujung pada uang, kekayaan.Ya, itulah yang selalu ada dalam pikiran Bundanya, menilai sesuatu dari untung dan ruginya.Bahkan dirinya dijadikan tangga untuk mencapai puncak kejayaan perusahaannya.
"Apa kekurangan Alvin hingga kau sama sekali tidak tertarik padanya?" Jeni merasa aneh karena menurutnya Alvin pria yang sangat tampan dan penuh kharisma.Ia menatap punggung Keyla yang saat itu terlihat kesal.Keyla kembali ke depan cermin.Ia terus bersiap, tidak ingin membahas lebih jauh mengenai Alvin karena semua sia-sia karena Bundanya lebih memikirkan uang daripada dirinya.
"Key pergi dulu Bunda." Keyla mencium pipi Jeni lalu perlahan melangkah pergi.Masih terlihat raut kesal di wajah putrinya itu namun Jeni tahu lambat laun Keyla akan menyadari semua dilakukannya demi kebaikannya juga.
Keyla melewatkan Alvin begitu saja yang saat itu duduk di sofa menunggunya.
"Woi tunggu, udang cacingan!" pekik Alvin langsung mengejar Keyla yang berlalu begitu saja.Keyla langsung masuk ke dalam mobil Alvin membuat Alvin ikut masuk.Alvin sedikit heran, pagi ini Keyla masuk dengan sendiri ke mobilnya karena biasanya ia harus memaksanya dulu.
"Kenapa loe?" tanya Alvin saat Keyla hanya diam tidak seperti biasanya.Saat itu mobil Alvin sudah melaju membelah jalanan padat di pagi itu.
Keyla tampak acuh tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya membuat Alvin merasa bersalah.
"Maaf jika gue ngelakuin kesalahan," ucap Alvin.
Keyla langsung terbelalak dengan kata maaf yang keluar dari mulut pria itu, seakan itu sebuah keajaiban.Seorang Alvin bisa mengatakan kata maaf sungguh itu luar binasa, eh biasa.
"Kau bilang apa?" Keyla sengaja menggoda Alvin, dengan pura-pura tidak mendengar, membuatnya mendekatkan telinganya ke Alvin.
"Maaf." Alvin kembali mengulangi ucapannya namun dengan ekspresi datarnya.
"Hahahaha." Keyla tertawa lebar mendengar kata ajaib yang keluar dari mulut pria itu.Benar-benar tidak terduga olehnya.
Sekitar 20 menit akhirnya mereka sampai.Keyla langsung turun dari mobil Alvin lalu melangkah pergi, tanpa disadarinya Alvin mengekor di belakangnya.
"Apa yang loe lakuin, kenapa ngikutin gue!" kesal Keyla, mendelik ke Alvin.
"Gue harus pastikan, apakah calon bini gue kerja dengan baik," jelas Alvin.Ia memampang wajah berkelasnya di hadapan Keyla.Seorang Alvin yang biasa bersikap dingin pada semua wanita entah mengapa saat di depan Keyla, Ia ingin terlihat berkelas.
Lagi-lagi Keyla dibuat pusing akan tingkah Alvin padahal biasanya dia yang selalu membuat orang lain pusing akan tingkahnya, mungkinkah ini karma?
Keyla melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Alvin karena jika dilarang pun tidak akan berguna.Pria keras kepala itu selalu saja melakukan apapun sesuai keinginannya.
Keyla meletakkan tasnya dengan kasar setelah berada di ruangannya sementara Alvin ditinggalkannya begitu saja karena Alvin sempat berhenti melihat-lihat kantornya.Keyla sudah mengetahui hari ini, hari sialnya dibuntuti Alvin akan terjadi karena sebelumnya Ia sudah diberitahu Bundanya.
"Kenapa loe bete gitu?" tanya Kinara.Kinara mengekor saat atasannya itu masuk ke ruangannya.Belum juga pertanyaannya dijawab Keyla, Alvin memasuki ruangan itu membuat Kinara langsung meninggalkan ruangan itu.Kinara mengerti akan kekesalan yang di tampilkan sahabatnya itu karena prince ice itu.
Satu jam hanya duduk di sofa dengan memainkan gawainya membuat Alvin bosan sementara Keyla sibuk sendiri.
"Kau lebih baik pergi!" usir Keyla, setelah melihat wajah bosan Alvin.Beberapa kali Alvin mondar-mandir lalu kembali duduk.
"Aku lapar," keluh Alvin,memegang perutnya yang terus berbunyi.
"Lapar, makan!" jawab Keyla ketus.
Drt ... drt ... drt
Ponsel Keyla bergetar di atas meja membuat perhatian Keyla langsung tertuju pada ponselnya.
"Siapa?" gumam Keyla.
Nomer penelepon tidak tersimpan di kontak teleponnya membuatnya bertanya-tanya siapa orang yang meneleponnya.Keyla segera menjawab ternyata Dokter Arif, Dokter Forensik yang diceritakan Medina.Dokter itu memintanya untuk segera datang ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Selepas mengakhiri panggilan teleponnya, Keyla bergegas pergi hingga melupakan Alvin yang berada di ruangannya.
"Siapa, Arif?" gumam Alvin.
Alvin mendengar beberapa kali Keyla menyebut nama Dokter Arif saat di telepon tadi membuat Alvin bertanya-tanya, apalagi Keyla buru-buru pergi setelah mendapat telepon itu.Alvin segera mengejar Keyla karena tidak ingin melewatkan sesuatu.Mungkin saja itu pacar Keyla, pikir Alvin.
Akhir- akhir ini Keyla sering meninggalkan mobilnya di kantor karena Alvin sering mengantarnya pulang dari kantor sehingga Ia pergi dengan mobilnya sendiri.
Mobilnya memacu dengan kencang membuat Alvin hampir kehilangan jejaknya.
"Kemana dia akan pergi," gumam Alvin.Ia harus tetap fokus agar tidak kehilangan jejak mobil di depannya itu.
Keyla langsung memasuki lobby rumah sakit sesaat mobilnya terparkir.
Alvin yang ingin masuk ditahan oleh Security.Saat Security bertanya, Alvin terlihat bingung, tidak ada penjelasan yang keluar mulutnya.Jelas Alvin tidak bisa menjawab karena Ia hanya mengikuti Keyla yang Ia sendiri tidak tahu apa yang di perbuat Keyla di dalam sana.
"Sebaiknya anda pergi Pak, jika tidak ingin berobat atau pun menjenguk seseorang," usir satpam itu.Alvin masih celingak-celinguk akan keberadaan Keyla di dalam sana namun Security itu langsung menariknya untuk pergi.
Rumah sakit itu memang terkenal keamanan tingkat tinggi, hanya orang yang berkepentingan saja yang bisa memasuki rumah sakit itu.
Alvin akhirnya pasrah kembali menuju mobilnya dengan rasa penasarannya yang masih begitu besar memenuhi pikirannya.
Sementara Keyla langsung memasuki ruangan Dokter Arif sesudah berada di depan ruangan Dokter itu.Keyla menceritakan masalahnya.Sebenarnya Medina sudah menceritakan sedikit tentang masalah Keyla kepadanya namun diperjelas dengan cerita Keyla sendiri.
Setelah bercerita panjang lebar, Keyla memberikan sampel rambut pria yang diduga ayahnya juga sampel rambutnya.
"Apa bisa hanya dengan rambut ini aku mengetahui pria ini ayahku atau bukan?" Keyla sedikit ragu namun ia tetap berharap karena setahunya tes DNA yang lebih akurat menggunakan sampel darah.Keyla tidak mungkin menggunakan cara itu karena hal ini masih dugaannya saja.Ia tidak ingin sesuatu yang belum pasti itu menjadi besar.
"Tolong bantu saya, Dokter Arif," sambung Keyla setengah memohon.
Arif pun tersenyum dengan kecemasan di wajah Keyla."Tentu saja ini sangat bisa, kau hanya perlu tunggu hasilnya," ucap Arif.
Seketika Keyla merasa lega.Kembali Ia mengingat saat Ia mengambil sehelai rambut dari kemeja pria paruh baya itu saat memeluknya beberapa hari lalu.Keyla benar-benar cerdik memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.