
HAPPY READING 😊
Sore hari setelah pulang kerja Keyla bersama Alvin bergegas menuju kontrakan milik ayahnya. Namun bukannya sambutan yang hangat, Arman malah bersikap cuek dengan kedatangannya.
"Ayah, aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu antara Ayah dan bunda tapi Key mohon jangan perlakukan Key seperti ini hanya karena Key tidak menuruti ayah untuk tinggal bersama Ayah," bujuk Keyla. Ia begitu sedih dengan perlakuan cuek ayahnya padahal Ia sangat bahagia akhirnya setelah sekian tahun Ia bisa mengetahui siapa ayah kandungnya walaupun bukan akhir membahagiakan.
"Benar-benar kelurga yang membingungkan," batin Alvin melihat keruwetan keluarga dari Keyla.
"Keyla benar Ayah untuk apalagi keegoisan Ayah dan bunda pertontonkan pada kami bukan kah selama ini kalian sudah cukup menderita apa salahnya menerima kekurangan masing-masing di masa lalu," sahut Kayla yang baru saja masuk rumah itu dan tidak sengaja mendengar pembicaraan Keyla dan ayahnya.
"Sudah lah jika kalian masih ingin melihat Ayah sebaiknya kalian diam-diam sudah lama ayah dan wanita itu berpisah dan itu kenyataan," tegas Arman penuh penekanan. Pria itu masuk ke kamarnya meninggalkan Keyla dan Kayla yang masih tertegun dengan kekukuhan hati ayahnya.
"Ayah bahkan tidak mau memanggil nama bunda, wanita itu apa itu?" Keyla tersenyum getir dengan kenyataan pahit yang harus di terimanya.
"Sudahlah jangan banyak berpikir lagi dalamnya hati seseorang kita tidak mengetahuinya, sudah cukup kita melakukan semua. Sekarang terserah mereka akan bagaimana." Kayla berusaha membesarkan hati saudara kembarnya itu.
"Oh iya kau dari mana, kenapa baru pulang? Alvin bilang kau sudah mengundurkan diri, ada apa sebenarnya?" Keyla menatap wajah lelah saudara kembarnya itu.
"Aku sudah bekerja di tempat Rendy, ia menawariku sebagai Sekertaris karena untuk posisi itu kosong jadi sementara waktu aku membantunya," kilah Kayla.
Kayla sengaja berbohong karena Ia tidak ingin dikasihani apalagi terlihat menyedihkan di depan Keyla dan Alvin.
"Sudah malam pulang lah, aku juga lelah. Mulai sekarang lepas kan bebanmu jangan lagi memikirkan ayah dan bunda berbahagialah," tutur Kayla menatap lekat wajah Keyla lalu berpindah ke Alvin. Kayla yakin karena memikirkan masalah orang tuanya bahkan aura bahagia pengantin baru tidak terasa.
Keyla mengangguk lalu memeluk erat tubuh Kayla. "Jika kau mau datang lah ke kantor, kita sama-sama menjalankan perusahaan." Keyla mengurai pelukannya.
Kayla hanya merespon tawaran Keyla dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.
"Dan satu lagi kunjungi bunda karena kedatanganmu pasti membuat bunda senang."
Saat di perjalanan Keyla tampak murung. Nyatanya realita tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin karena terlalu lama berpisah membuat kedua orangtuanya sulit bersatu atau sudah tidak ada cinta diantara satu sama lain.
"Sudah lah jangan bersedih lagi." Alvin menggenggam tangan Keyla sekilas berusaha menguatkan. Ya karena terus-terusan memikirkan masalah ini Ia bahkan melupakan statusnya sebagai istri bahkan Alvin selai memahaminya dan tidak protes dengan sikapnya.
"Alvin maafkan aku, sepertinya aku terlalu nyaman dengan masalah keluargaku hingga melupakanmu. Apa- "
Tiba-tiba ponsel Alvin bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"Iya Ma."
"Apa, kenapa tiba-tiba, baiklah Alvin sama Keyla akan ke mansion sekarang."
"Ada apa, apa terjadi sesuatu?" tanya Keyla setelah pembicaraan Alvin di telepon di akhiri. Ekspresi Alvin berubah ketika menerima telepon menandakan ada masalah.
"Bukan masalah hanya saja Kakakku tiba-tiba pulang dan meminta kita berdua cepat datang," jelas Alvin dengan ekspresi tersenyum yang terlihat dipaksakan.
"Kanaya, ****** itu lagi apa maunya!" gerutu Keyla dalam hati.
"Jangan menyebut Kakak iparmu dengan sebutan yang mengerikan seperti itu!" sentak Alvin tiba-tiba seakan menjawab gerutuan Keyla dalam hati.
"Kau ini sebenarnya, apa yang kau katakan! seolah-olah dia bisa mendengar batinku berbicara." Kalimat terakhir Keyla ucapkan dalam hati.
"Bukannya kau selalu mengatai kakakku dengan sebutan itu. Aku belum melupakan terakhir kali pertemuan dengan kakakku. Sekarang kau harus menjaga sikapmu karena dia kakakku dan otomatis juga menjadi kakakmu!" tegas Alvin. Ia tidak ingin istrinya itu mendapat masalah dengan sikapnya yang mungkin masih merasa kesal karena itu terakhir kali yang Ia lihat saat pertama kali bertemu dengan kakaknya.
"Baiklah aku akan bersikap sopan di depan kakak ipar, apa kau puas?" pasrah Keyla.
"Bagus." mengusap pucuk kepala Keyla.