Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 13. Kemarahan Jeni



Keyla langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa saat sudah berada di kediamannya.Ia lalu mengambil ponselnya di dalam tasnya.


Keyla memandangi foto-fotonya bersama Ziva.


"Aku harus mengunggahnya ke media sosial Kinara sama Medina pasti iri," ucapnya lirih.


Sebetulnya Ziva juga menelepon Kinara namun karena ada urusan yang penting, Ia tidak bisa datang menemui Ziva.


Keyla tersenyum sendiri menatap foto-foto lucu dirinya dan Ziva.Ya bisa dipastikan kekonyolan keduanya namun ekspresi Keyla berubah saat menatap foto Kayla.


"Dasar!" umpat Keyla.


Sikap Keyla itu diperhatikan sejak tadi oleh Jeni karena terlewat serius menatap layar ponselnya, Keyla tidak menyadari kehadiran Bundanya.


"Apa ya kau lakukan Key?Bunda perhatian kau konyol sekali, sebentar tersenyum sebentar lagi kesel." Pertanyaan sekaligus protes dilayangkan langsung oleh Jeni.


"Key lagi seneng.Bunda tahu, hari ini aku bertemu Ziva," ceritanya antusias.


"Ziva main ke Jakarta, kapan?" Jeni sengaja memancing pertanyaan itu untuk memastikan sesuatu.


"Kemarin, tapi tadi langsung balik.Harusnya dari kemarin aku menemuinya.Gara-gara pangeran es itu." Kata-kata terakhirnya Keyla tahan dan ucapkan dalam hati.


Spontan Jeni menjewer telinga Keyla karena merasa telah dibohongi.


"Aduh ... sakit Bunda."


Walaupun sangat menyayangi putrinya itu tapi Jeni tidak segan-segan memberi Keyla hukuman saat melakukan kesalahan.Jeni sendiri dididik dengan keras oleh orang tuannya hingga membuatnya tumbuh menjadi wanita yang kuat dan berani menumbangkan siapapun saat ia direndahkan atau disakiti.


Jeni terlahir sebagai anak tunggal bagi keluarganya satu anak sudah cukup.Mereka berpikir jika ada dua anak berarti ada dua pewaris, itu membuat perebutan kekuasaan bahkan perselisihan di kemudian hari.Secara turun temurun keluarganya membolehkan hanya satu keturunan yang akan mewarisi kekayaan keluarganya.


"Kau membohongi Bunda!" tukas Jeni meradang.


"Bohong apa, Bunda?" Keyla menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tuduhan Bundanya itu.


"Kau lupa, kemarin mengatakan berkunjung ke tempat Ziva.Sekarang kau bilang Ziva sejak kemarin di Jakarta.Kau!" Jeni meluapkan kemarahannya karena telah dibohongi.


"Kau tahu berapa kali Bunda menelepon mu!kau bahkan melewatkan rapat pertamamu di kantor, rapat yang sangat penting!Kau meninggalnya begitu saja!" Jeni benar-benar marah sampai meluap-luap saat mengetahui putrinya membohonginya.Terlihat jelas raut kecewa di wajahnya hingga langsung bangkit meninggalkan Keyla begitu saja.


"Bunda, maafin Key." Keyla langsung mengejar dan bersujud di kaki Jeni.Tidak pernah ia melihat Bundanya semarah ini sebelumnya walaupun sering melakukan kesalahan.


Ya, menyangkut pekerjaan Jeni pantas melakukannya.Semua demi kebaikan Keyla, agar putrinya itu menyadari tanggung jawab besar yang akan dipikulnya nanti saat resmi menjadi Ceo Brawijaya Grup.


"Bunda, Key mohon, maafin Key." Keyla terus memohon hingga membuat Bundanya luluh.Segera Jeni menarik tubuh Keyla bangkit lalu memeluknya.


Jeni mengurai pelukannya. "Belajarlah untuk bertanggung jawab, Nak.Suatu saat kau akan menanggung beban berat dengan posisimu," tutur Jeni.Keyla mengangguk dan kembali memeluk Bundanya itu.


Sebagian orang menganggap posisi CEO adalah keberuntungan.Anggapan mereka yang tidak berada di posisi itu tidak sepenuhnya benar.Seorang CEO mempunyai tanggung jawab yang besar demi perusahaan yang dipimpinnya berkembang pesat.Tidak sedikit perusahaan menjadi bangkrut dan merugi saat pimpinannya tidak bertanggung jawab dengan posisinya.Akhirnya banyak yang gulung tikar.Jeni tidak ingin itu terjadi pada perusahaan keluarganya.


Perusahaan yang di bangun dari nol oleh kakek buyutnya secara turun temurun jatuh begitu saja karena kecerobohan keturunan mereka sendiri.


.


.


Keyla merebahkan tubuhnya saat sudah berada di kamarnya.Pikirannya masih tertuju pada Bundanya yang begitu marah.Selama ini ia selalu bermain-main saat bekerja dan menyepelekan pekerjaannya itu.Setelah kejadian ini Keyla berpikir bukan saatnya lagi untuk kekanak-kanakan karena betul apa yang dikatakan Bundanya, beban berat yang akan dipikulnya saat menjadi CEO.


Ya, kini Keyla berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah dan akan belajar serius menjadi CEO hebat seperti Bundanya.


***


Keesokan Pagi.


Pagi-pagi sekali Keyla sudah berada di kantornya.Keyla mempelajari seluruh berkas yang berada di mejanya. Walaupun sudah banyak belajar ilmu bisnis di negeri Paman Sam itu, tetap saja terjun langsung itu jauh lebih sulit daripada cuma teori.Namun sedikit banyak ilmunya membantunya untuk memahami.


Kinara yang melihat kedatangan Keyla lebih awal darinya di buat sedikit bingung karena biasanya atasan sekaligus sahabatnya itu selalu datang telat ditambah raut wajah serius membuatnya semakin bertanya-tanya.Gerangan apa yang terjadi pada Keyla?


Tok ... tok


Kinara mengetuk pintu dan langsung masuk.Ia terlihat menahan tawa saat melihat sahabatnya itu terlihat bekerja serius.


"Kesambet setan, apa loe?" Kinara merasa heran sahabatnya itu begitu serius hingga tidak menyadari ia masuk ke ruangannya.


"Diam loe!"


"Idih, galak amat Bu atasan ini." Kinara tersenyum getir menanggapi Keyla.


"Pokoknya mulai sekarang loe harus bantuin gue buat kerja serius.Kemarin gue diomeli nyokap, gara-gara nggak masuk kerja juga bolos rapat."


"Terang aja Key, nyokap loe marah.Loe tahu itu rapat penting, rapat perdana loe tapi loe!" Kinara juga tak habis pikir dengan sikap sahabat-sahabatnya itu.


"Gue, gue..." Keyla menghentikan ucapannya karena tidak ingin masalahnya saat di kurung di gudang makin panjang.Cerita ke Kinara, selain mulutnya ember juga otaknya lama memproses jadi ia harus menjelaskan panjang lebar dan itu membuatnya lelah.


"Mau ngomong apa loe?"


Keyla menggeleng lalu menunjuk arah pintu mengusir Kinara secara halus karena saat sahabatnya itu berada di ruangannya ia tidak fokus bekerja.