Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 58. Hanya Settingan



Arsha dan Ziva sudah kembali ke kamar mereka setelah memindah Twins ke kamarnya. Kini mereka sudah berbaring di ranjang dengan posisi sama menatap langit-langit kamar.


"Kita harus datang ke acara pernikahan Keyla." Arsha mengawali percakapan memecah keheningan di kamar itu.


"Aku tidak bisa."


Arsha langsung memiringkan tubuhnya menatap tidak mengerti. Bagaimana di momen penting itu istrinya yang sebagai sahabat baik dari Keyla bisa mengatakan hal itu atau mungkin bukan karena Keyla melainkan Alvin. Pikiran-pikiran itu memenuhi kepala Arsha. Namun Ia memberi Ziva untuk menjelaskan semuanya daripada memotong ucapannya.


"Aku tidak bisa melihat salah seorang diantara mereka terluka," sambung Ziva.


Arsha tidak mengerti arah pembicaraan Ziva karena bagaimana bisa pernikahan yang sama-sama diinginkan membuat diantaranya terluka. Arsha kembali mengingat ucapannya beberapa bulan lalu dimana Ia meminta Keyla untuk merebut hati Alvin. Setelah sekian purnama akhirnya Keyla bisa mencairkan hati beku Alvin tapi mungkinkah Keyla melakukan semua hanya untuknya.


"Mungkinkah," decak Arsha tiba-tiba membuat Ziva menatap bingung.


"Ada apa Kak?" tanyanya setelah Arsha bangkit dari ranjangnya lalu mengambil ponselnya di nakas. Pria itu melangkah keluar menuju balkon. Ziva mengekor di belakangnya karena Ia benar-benar penasaran apa yang ingin dilakukan suaminya.


"Angkat Keyla," lirihnya saat panggilan teleponnya hanya berdengung tanpa di jawab.


"Iya Oppa ganteng ada apa, tumben malam-malam telepon?" jawab Keyla.


Akhirnya arsha bernapas lega saat suara Keyla terdengar di ponselnya sementara Ziva hanya mendengar keduanya berbicara tanpa bertanya lebih jauh lagi.


"Mengenai pernikahanmu, apa kau lakukan semua karena aku? aku tidak ingin kau menyesal jadi batalkan semua."~ Arsha.


"Hahaha. Oppa ini ngomong apa, semua tidak ada kaitannya dengan Kakak. Selain di jodohkan sama Bundaku, Keyla dan Alvin sama-sama suka, Kak."~ Keyla.


"Benarkah, syukurlah aku lega. Aku dan Ziva pasti datang. Sudah ya aku tutup teleponnya."~ Arsha.


Arsha memasukan ponselnya ke sakunya sementara Ziva tidak melepas tatapannya sejak tadi pada pria di sampingnya itu.


"Tidak sayang, tidak ada apapun."


"Kau masih saja tidak mengatakan semua setelah aku mendengarnya langsung dari mulut Kakak!" sentak Ziva melangkah masuk. Ia benar-benar kecewa karena suami yang begitu di percaya menyembunyikan sesuatu di belakangnya.


"Sayang maafkan aku, aku hanya ...," sergah Arsha. Tangannya sigap menahan tubuh Ziva.


"Hanya apa?" desak Ziva saat suaminya menunduk tidak meneruskan ucapannya.


"Sebenarnya saat Keyla kemari beberapa bulan lalu aku meminta Keyla untuk mengambil hati Alvin," ungkap Arsha.


"Apa, Kakak gila demi memenuhi keinginan Kakak sendiri lalu meminta orang lain mengabulkannya. Bagaimana bisa lalu jika Keyla tidak bahagia bagaimana, kau juga tahu Alvin sudah mengorbankan semuanya demi kita bersama!" Air mata Ziva menitik dengan semua sikap keterlaluan suaminya.


"Ziva kau mau kemana?" Arsha mengejar Ziva yang sudah berganti pakaian dan membawa tas nya. Dengan cepat Arsha juga segera mengganti pakaiannya karena sama halnya dengan Ziva, Ia hanya memakai piyama.


Arsha mencari ke seluruh ruangan Ia terlihat keluar dari kamar Twins.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Arsha kembali menahan tangan Ziva saat hendak masuk ke lift.


"Aku akan menyelamatkan hidup Keyla, aku tidak ingin orang-orang baik itu menjadi korban keegoisan Kakak." Menepis tangan Arsha lalu masuk ke lift.


"Aku ikut." Arsha mengekor di belakangnya Ziva. Semua yang terjadi adalah kesalahannya, Ia juga harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.


Mobil Arsha melaju dengan kecepatan tinggi. Waktu tiga setengah jam akan mereka tempuh untuk sampai di Jakarta.


Suasana di mobil tampak hening. Arsha lebih memilih fokus ke jalanan karena cuaca gerimis membuat Ia harus waspada sementara Ziva hanyut dalam pikirannya. Kembali Ia mengingat terakhir kali Ia bertemu Keyla di acara pernikahan Medina dimana Ia begitu bahagia dengan kedekatan sahabat baiknya Keyla dengan Alvin. Ziva merasa itu adalah hal baik namun siapa sangka semua itu hanya settingan suaminya. Ia tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi karena Ia tidak ingin baik Keyla maupun Alvin menyesal seumur hidup dengan pernikahan yang dipaksakan ini.