
Keyla tengah bersiap untuk pergi ke kantor.Ia melihat pantulannya di cermin membuatnya mengingat kata-kata Kinara kemarin yang menyatakan, Kayla sangat cantik tidak seperti dirinya.
"Memang wanita itu jauh lebih cantik daripada aku." Keyla mengakui kebenarannya setelah membandingkan dirinya dengan Kayla saat bercermin.Dilihatnya bajunya yang selalu memakai baju ala cowok dan terkesan jauh dari kata feminim.
Keyla berpikir untuk mencari baju yang lebih feminim di lemarinya namun Ia tidak menemukan karena semua bajunya sama membuatnya tampak seperti wanita jadi-jadian.
"Aku harus mengganti seluruh pakaianku," gumamnya.
Tok ... tok
"Masuk," sahut Keyla.
Terlihat Bundanya memasuki kamarnya.
"Kau sudah siap Keyla?" tanya Jeni duduk ditepi ranjang.
"Menurut Bunda?" Bukannya menjawab Keyla malah melontarkan pertanyaan.
"Jangan menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan, kenapa kau selalu membuat Bunda kesal?"
"Jangan Bunda." Keyla melindungi telinganya dengan telapak tangan saat Bundanya mengulurkan tangan kearahnya berpikir Bundanya ingin menjewer telinganya.Namun Ia salah, Bundanya malah mengelus wajahnya sambil melempar senyumannya.Keyla menatap Bundanya dengan tatapan aneh karena biasanya Bundanya selalu kesal dengan kekonyolannya namun kali ini Bundanya tersenyum menandakan sedang bahagia.
"Apa Bunda salah minum obat?"
Spontan pertanyaan Keyla membuat Jeni kesal karena merusak momen bahagia pagi ini.Bukannya meminta maaf Keyla malah meringis menertawakan kekesalan Bundanya.
"Nanti malam jam 7 temui seseorang di cafe Bulan," ucap Jeni tiba-tiba.
Cafe bulan adalah cafe dimana Ia dan sahabatnya menghabiskan waktu.Cafe itu memang tempat muda-mudi menghabiskan waktu, pantas Bundanya memesan meja di cafe itu.
"Untuk apa, Bunda?"
"Ada seseorang yang ingin menemuimu," jelas Jeni.
"Siapa Bunda?"
"Kau lihat sendiri nanti, kalau kau suka bilang sama Bunda tapi kau pasti suka karena dia sangat tampan juga kaya." Jeni antusias.
"Suka, pemuda, tampan.Apa maksud Bunda, apa Bunda berniat menjodohkan aku!" pekik Keyla tidak terima.
"Bunda tidak memaksamu tapi Bunda yakin kau akan menyukai pemuda itu.Oh iya pemuda itu adalah pria yang membawamu ke rumah sakit." Jeni mengingat Ia pernah bertemu jodoh pilihannya itu adalah pria yang bertemu saat di rumah sakit namun saat itu Jeni tidak mengetahui pria itu CEO Agung Handoyo.
Keyla mengingat-ingat pria yang diceritakan bundanya itu namun bukan di rumah sakit melainkan di sebuah perkantoran. "Keyla menolak Bunda.Tahun 2022 bukan jamannya Siti Nurbaya, kenapa harus di jodohkan!"
"Pria itu, Oh no." Keyla teringat pria yang diceritakan Bundanya itu, namun Ia malah bergidik ngeri dengan pria sombong dan dingin itu.Ia pun berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bundanya.
Saat di perjalanan Keyla terus mengumpat dengan rencana Bundanya yang ingin menjodohkannya padahal ia tidak tahu bahkan mengenal saja tidak namun Ia tahu pria itu bukan idamannya.Bagaimana Ia bisa hidup dengan pria seperti itu.
"Beruntung Ziva dijodohkan dengan Kak Arsha yang sejak kecil di kenalnya, jelas-jelas ia kenal betul pria yang dijodohkannya.Sedangkan aku ..." Monolog Keyla membandingkan dirinya dengan nasib Ziva yang sama-sama di jodohkan namun Ziva lebih beruntung daripada dirinya.
Saat di kantor pun Keyla tidak fokus bekerja.Seharian itu dihabiskannya dengan terus mengumpat tanpa henti.Kinara dan Antoni bahkan jadi pelampiasan kekesalannya.
"Sudah loe nggak usah datang, biarin aja pria itu menunggu dan akhirnya pulang karena loe nggak dateng." Kinara berkata dengan enteng seakan semudah itu menjadi dirinya.
"Loe nggak tahu nyokap gue, bisa digantung gue."
Kinara malah tertawa mendengar ucapan Keyla yang sebenarnya dari umpatan juga keluhannya seharian ini tidak ada artinya karena ujung-ujungnya Ia harus pergi juga.
"Cepat pergi!" perintah Kinara saat melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul 7 malam.
Keyla bangkit saat itu ia tersenyum menatap lekat wajah Kinara.
"Ayo." Keyla menarik tangan sahabatnya itu pergi.
.
.
Keduanya kini sudah di cafe dimana tempat perjanjiannya dengan pria yang akan di jodohkan dengannya.
"Loe ngapain ngajak gue kesini, gue nggak mau ikut campur." Kinara hendak melangkah pergi namun ditahan oleh Keyla.
"Gue mohon, loe pura-pura jadi gue ya?" pintanya setengah memohon.
"Ogah kan loe yang dijodohin bukan gue!"
"Ra, gue mohon." Keyla memperlihatkan wajah memelasnya membuat Kinara tidak bisa menolak.
"Cuma sekali ini, lain kali ogah."
"Yes," seru Keyla.
Keduanya kini duduk di meja yang berbeda.5 menit ... 10 menit menunggu tapi pria itu tak kunjung datang membuat Kinara bangkit ingin kembali ke meja Keyla namun tiba-tiba seorang pria duduk di kursi tepat di depannya.
Mata Kinara seketika terbelalak pemuda tampan yang kini duduk di depannya.Kinara sampai ternganga cukup lama membuat Keyla yang mengawasi keduanya langsung dibuat emosi.
"Woi!" sentaknya menepuk bahu Kinara.Namun Keyla segera beralih menatap kesal pria yang tidak diinginkannya duduk di mejanya.
"Kau kenapa disini, sana pergi kau menganggu rencanaku!" Keyla menatap tajam pria itu yang tak lain adalah Alvin si pangeran es.
"Kau merencanakan sesuatu untukku!" Alvin turut menatap tajam Keyla.
"Untukmu, apa maksudmu?jangan katakan pria itu kau!" pekiknya.
Keyla merasa tidak yakin namun tidak ada pria lain yang datang ke meja yang sudah dipesan Bundanya selain Alvin.
Keyla langsung menghubungi Bundanya untuk menanyakan kebenaran itu dan benar saja pria yang di jodohkan dengannya adalah Alvin, CEO Agung Handoyo.
"Ahhh ...," pekiknya membuat fokus pengunjung di tempat itu tertuju padanya.
Keduanya tampak saling diam sesaat Kinara meninggalkan keduanya.Keyla benar-benar tidak habis pikir dari sekian juta pria di kota itu kenapa harus Alvin yang dijodohkan dengannya.
"Kau menerima perjodohan ini?" Setelah sekian menit saling terdiam dengan pikiran masing-masing akhirnya Keyla melontarkan pertanyaan yang menganggu pikirannya.
"Tentu saja karena aku yang mau." Alvin menjawab dengan ekspresi datarnya.
Keyla bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika menikah dengan pangeran es itu, lama-lama ia akan membeku dibuatnya.Ia ingin meraih hati Alvin namun tidak untuk menjadi pendamping hidupnya melainkan menjalankan misi yang diberikan Arsha.Namun kini nasibnya benar-benar tidak beruntung karena malah dijodohkan dengan pangeran es itu.
"Alvin, aku mohon batalkan perjodohan ini ya?kau tahu aku tidak ingin menjadi istrimu dan kau hanya mencintai Ziva, kan?"
"Tidak!" tegasnya.
"Kau!Pria macam apa kau, mau-maunya dijodohkan.Hello tahun 2022 masih dijodohkan, apa kata dunia." Keyla benar-benar dibuat kesal akan sikap pria itu yang kukuh pada pendiriannya.
"Seharusnya kau langsung menolak.Gara-gara keinginan konyolmu itu, aku harus berakhir denganmu!" timpalnya meluap-luap.Keyla benar-benar tidak habis pikir hingga seluruh isi otaknya yang tidak menerima perjodohan ini keluar begitu saja dari mulutnya.
"Cepat makan makananmu setelah itu aku antar pulang!" Alvin melahap makanan di mejanya setelah cukup lama diabaikannya karena wanita di depannya itu terus nyerocos tanpa henti seperti kereta Shinkansen.
Saat di perjalanan keduanya tampak saling diam tidak ada yang berbicara.Keyla sengaja diam karena ia sudah lelah berbicara dengan pangeran es itu sementara Alvin memang tidak banyak bicara.
Keyla langsung turun dari mobil Alvin saat suda berada di halaman rumahnya.Ia berlalu begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun pada Alvin membuat pria itu menggeleng heran.