
HAPPY READING 😊
...----------------...
Sementara di kediaman milik keluarga Brawijaya. Jeni tengah bersitegang dengan Hendra.
Kedatangan Arman ke acara pernikahan Keyla pasti ada campur tangan ayahnya itu.
"Sudah ayah jelaskan, kedatangan pria tidak berguna itu hanya untuk memberikan hak walinya itu saja!" kukuh Hendra dengan penjelasannya.
"Kau jangan berpikir aku akan membiarkan pria itu kembali mencampuri hidupmu lagi! Jika kau ingin menikah, menikah lah lagi tapi jangan dengan pria itu!" tegas Hendra. Hendra tahu pernikahan Keyla secara tidak langsung mempengaruhi psikis putrinya meski Keyla tidak meninggalkan keluarga itu namun berpindah tempat tinggal membuat putrinya itu akan kesepian.
"Menikah, apa Ayah sudah tidak waras! secara hukum aku masih istri sah Arman Erlangga, Ayah!" ucap Jeni dengan emosi dengan ucapan ayahnya yang beberapa tahun terus saja diucapkannya.
"Kau masih saja membela pria tidak berguna itu, kau lihat hidupnya tetap miskin walaupun sudah seumur hidupnya bekerja!"
"Cukup Ayah selama ini Jeni diam bukan karena Jeni mendukung tindakan Ayah tapi satu fakta yang Ayah lupakan dari pria tidak berguna itu. Pria itu tetaplah ayah dari cucumu!"
"Kali ini Jeni akan melakukan apapun sesuai keinginan Jeni, tidak lagi Jeni menuruti Ayah. Dua puluh dua tahun sudah cukup membuat Jeni mengalah namun sekarang tidak lagi!" imbuh Jeni dengan penuh penekanan membuat Hendra hanya menggeleng. Jeni yang terlihat marah langsung meninggalkan pria tua itu begitu saja.
Keesokan paginya Jeni bergegas pergi menuju rumah sakit tempat Arman dirawat. Kali ini Ia benar-benar tidak memperdulikan ancaman dari ayahnya. Beberapa hari sebelum pernikahan Keyla, Jeni bertemu Devi teman lamanya. Devi menceritakan tentang Keyla yang berusaha mencari jejaknya dan Arman. Saat itu Devi juga menceritakan bagaimana Keyla sangat ingin menyatukan keluarganya namun sejak pertemuan terakhirnya Ia tidak pernah lagi melihat Keyla, Devi berpikir Ia sudah berhasil menyatukan keluarganya. Ironisnya, Keyla terhenti karena ancaman dari Hendra yang sampai mencelakai Arman dengan sengaja menyuruh pria bayaran untuk mencelakai Arman.
Jeni hendak masuk ke sebuah ruangan. Saat itu Kayla yang baru saja dari luar melihat kedatangan wanita yang tidak lain adalah bundanya.
"Bunda." Kayla menepuk bahu Jeni membuat Jeni tersentak.
"Kayla." Mantap nanar wajah Kayla. Putri yang selama puluhan tahun ditelantarkan nya itu memanggilnya dengan sebutan bunda. Tanpa sadar air mata Jeni menitik dengan segera Kayla menyeka air mata wanita di depannya itu.
"Jangan menangis Bunda, air mata bunda begitu berharga."
Jeni langsung menarik tubuh Kayla masuk kedalam pelukannya. Momen haru itu begitu menyesakkan siapapun yang melihat keduanya. Selama bertahun-tahun Jeni selalu ingin memeluk tubuh putrinya itu namun semua ditahannya demi melindungi kedua orang yang disayanginya itu.
"Maafkan Bunda, Nak. Seharusnya kau tidak memanggilku dengan sebutan Bunda karena aku memang tidak pantas mendapat sebutan itu." Membelai rambut Kayla sekilas lalu menunduk sedih.
"Mau bagaimana pun Kay tidak bisa mengabaikan fakta, Bunda akan selamanya menjadi Bunda Kayla." Kembali memeluk tubuh Jeni dengan erat.
Sungguh Jeni bersyukur Kayla menerimanya dengan keikhlasan walaupun Ia tidak pantas mendapatkan kasih sayang itu dari Kayla.
"Bunda ingin melihat ayah kan? masuk Bunda." Kayla menarik tangan Jeni masuk. Jeni segera menyeka air matanya dengan tangan kiri.
Jeni memasuki ruang perawatan itu. Terlihat Arman tengah tertidur di tangannya. Matanya kembali mengembun menatap pria yang masih berstatus suaminya itu. Dari balik kaca luar Keyla mengintip keadaan dalam ruangan itu.