
Kayla menghempas Keyla dengan kuat membuat dekapan Keyla langsung terlepas.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah menggangguku juga Ayahku!" Kayla memperingatkan dengan suara lantangnya.
"Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Ayah dan saudara kembarku?" Keyla berucap dengan cepat membuat Kayla yang saat itu sudah membuka pintu mobil kembali ditutupnya.Tatapan tajam langsung terarah kepada Keyla."Kau senekat itu hingga kemiripan kita kau jadikan alat untuk memenuhi keinginanmu, kau-"
Keyla buru-buru mengambil sesuatu dari dalam tas nya membuat Kayla kembali ingin pergi namun Keyla langsung memberikan sebuah amplop yang bertuliskan sebuah rumah sakit.
"Itu alasanku ingin dekat dengan Ayahmu atau lebih jelasnya Ayah kita!" tegasnya."Selama ini dugaan semua orang yang mengira kita kembar itu adalah kebenaran."
Kayla langsung membuka amplop itu dan membaca isinya dengan seksama.
"Kau gila, mana mungkin kau anak dari Arman Sanjaya?kau merekayasa semua ini demi dekat dengan kami, bulshit!" Kayla benar-benar marah melempar kertas itu ke wajah Keyla.
Bukti yang sudah tertulis jelas itu pun tidak membuat Kayla langsung mempercayai karena Ia sudah terlalu berpikir jauh tentang Keyla.Saat pertama Ia datang kerumahnya, Ia dibawa oleh Ayahnya dengan alasan yang menurutnya sangat tidak masuk akal.Ia bahkan memeluk menatap Ayahnya penuh puja yang semakin meyakinkannya, Keyla ada rasa dengan Ayahnya.
"Terserah jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan langsung pada rumah sakit yang melakukan tes ini." Keyla yang sudah lelah akhirnya pasrah.Ia kembali melajukan mobilnya karena cukup lama mereka berdebat hingga melupakan arah tujuan mereka.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing hingga tidak terasa sudah berada tepat di depan kantor Kayla.
"Kau rahasiakan semua ini dari Ayah karena banyak hal yang tidak kau ketahui namun jika kau ingin mendengarnya langsung dariku aku siap memberitahumu." Keyla berucap sesaat sebelum Kayla turun dari mobilnya.
Kayla duduk termenung saat sudah berada di meja kerjanya.Tiba-tiba telepon intercom di mejanya berbunyi.Setelah menjawab panggilan dari atasannya, Kayla bergegas menuju ruang CEO-nya.
Kayla menunduk sesaat sebagai rasa hormatnya.
"Apa yang kau lakukan?" Alvin merasa aneh dengan sikap hormat Kayla karena sebelumnya mereka selalu terbiasa seperti seorang teman.
"Maaf Pak, seharusnya sudah dari dulu saya melakukannya karena anda adalah atasan saya," tegas Kayla.
"Aku lebih suka kita seperti teman."
Alvin memang meminta hubungan atasan dan bawahan itu seperti seorang teman, karena dulu Ziva memintanya untuk membantu Kayla sebagai teman membuat batasan atasan dan bawahan itu layaknya sahabat yang saling membantu.
"Tidak Pak Alvin, mulai sekarang hanya ada batasan atasan dan juga bawahan." Kayla kembali menunduk.
"Baiklah terserah kau saja, tapi jika kau membutuhkan bantuanku jangan segan-segan."
"Apa agendaku hari ini?" timpal Alvin.
Ia sebenarnya menyuruh Kayla ke ruangannya untuk menanyakan agendanya namun sikap Kayla yang aneh membuatnya bertanya lebih dulu.Alvin mendengarkan seksama Kayla yang membacakan agendanya dari awal hingga selesai setelah itu Kayla beranjak pergi.
"Tunggu Nona Kayla!" Kayla pun menghentikan langkahnya dan berputar kembali menghadap atasannya itu.
"Acara nanti malam, Anda ikut denganku?" titah Alvin yang langsung diangguki Kayla.
Akhir-akhir ini karena kesibukannya, ia mengabaikan sahabat juga sekretarisnya itu padahal dia sudah berjanji pada Ziva akan selalu menjaga Kayla sebagai seorang sahabat seperti halnya Kayla yang juga melakukan hal yang sama.
Mengingat hal itu membuatnya sedikit terpikir Ziva namun entah mengapa saat ini Ia merasa biasa mengingat nama itu, padahal dulu saat terpikir nama itu Ia akan merasakan sakit yang amat luar biasa di hatinya.
"Apa mungkin aku sudah melupakan Ziva?" gumam Alvin.
Alvin pun mencoba menghubungi Keyla lewat sambungan telepon.
"Woi wanita jadi-jadian," ucap Alvin saat telepon sudah tersambung.
"Elo telepon gue cuma mau menghina gue!" ketus Keyla.
Hahaha
Suara tawa keras langsung memenuhi ponsel Keyla, membuatnya menjauhkan dari pendengarannya.
"Elo selalu bahagia saat berbicara dengan gue, apa mungkin pria kutub itu sudah meleleh?"
Alvin memang tidak menyadari selama ini begitu bahagia sampai Ia tidak menyadari akan hal itu.Senyum yang selama empat tahun lebih tidak pernah menghiasi wajahnya itu akhir-akhir ini selalu ditampakkannya.
"Makan siang, gue jemput loe di kantor." Alvin berucap cepat lalu memutus sambungan telepon.Pamornya sebagai pria dingin sudah jatuh karena ketawanya yang tidak di sengaja.Selain sering berdebat saat bersama Keyla, Alvin sering tertawa karena memang membuat Keyla marah menjadi hobi yang menyenangkan karena bisa membuatnya tersenyum tanpa menyadarinya.
.
.
Jam makan siang akhirnya tiba, Alvin bergegas pergi ke kantor Keyla namun saat keluar dari ruangannya , Keyla malah sudah berada di kantornya.Saat itu Ia sedang mengobrol dengan Kayla.
"Bukannya gue bilang, gue akan jemput loe!" Alvin mendekat membuat fokus kedua wanita itu tertuju padanya.Namun sekilas karena Kayla langsung mengalihkan pandangannya ke mejanya.
"Ayo!" Alvin menarik tangan Keyla namun tanpa disadari Alvin, Keyla juga menarik tangan Kayla.
"Ikut Kay, aku mohon."
Mendengar itu Alvin langsung menatap ke belakang karena Ia hanya ingin mengajak Keyla namun entah mengapa Keyla turut mengajak Kayla.
Kayla langsung menepis tangan Keyla karena sebenarnya Ia masih sangat kesal pada Keyla namun entah mengapa Ia mengiyakan pernyataan Keyla tadi pagi walaupun belum sepenuhnya mempercayai.
"Ayo!" Alvin kembali menarik tangan Keyla membuat Keyla akhirnya pasrah menuruti kemauan pria itu.
Sepeninggalan Keyla dan Alvin, Kayla kembali membaca surat keterangan dari rumah sakit yang menyatakan Keyla adalah putri kandung Arman Sanjaya.
"Apa ini Ayah, apa mungkin ini benar lalu siapa Ibu kandungku?Makam yang sering kita kunjungi itu makam siapa atau mungkin Keyla di adopsi atau bagaimana?" Semua pikiran itu berkecamuk di hati Kayla.
Sementara Alvin dan Keyla sudah berada di dalam restoran.Alvin terlihat lahap memakan makanannya sementara Keyla hanya mengaduk-aduk saja.
"Kenapa tidak dimakan atau elo pengen gue suapi?" tawar Alvin menyendok makanan di piringnya hendak menyuapi Keyla.Keyla tidak membuka mulutnya walaupun sendok berisi makanan itu sudah berada di depan mulutnya.
"Buka mulutmu atau elo ingin gue suapi pakai mulutku?" ancam Alvin.Keyla langsung membuka mulutnya karena tidak ingin Alvin melakukan ancamannya.
"Nah gitu dong," seru Alvin.Pria itu nampak bahagia melihat wajah Keyla yang memakan makanan dari suapannya dengan ancamannya.Walaupun terkadang pria itu sangat kasar, dingin namun terkadang Alvin juga sangat manis.
Alvin yang sudah menghabiskan makanannya lebih dulu menatap wajah wanita di depannya itu, entah sejak kapan Ia begitu mengagumi wajah yang biasa tanpa polesan make up namun sangat menggemaskan saat menatapnya.Puluhan wanita cantik dari anak presiden hingga model terkenal Ia tolak demi wanita yang selalu diumpatnya wanita jadi-jadian itu.