
HAPPY READING 😊
......................
Disebuah ruangan kantor seorang pria menggebrak mejanya dengan kasar setelah membaca laporan yang baru saja di serahkan oleh Jeni.
"Ternyata calon menantumu itu berkhianat, Ia hanya ingin menguasai perusahaan kita!" Hendra berucap dengan wajah merah dan nada meninggi.
"Lalu bagaimana Ayah, aku kecolongan?" resah Jeni.
Tujuh puluh lima persen saham perusahaannya di kuasai perusahaan Handoyo Group itu membuat posisinya bisa di geser dengan mudah.
"Ayah harus lakukan sesuatu kalau perlu Jen akan bersujud di kaki Alvin Ayah, Keyla bagaimana nasibnya pernikahannya tinggal tiga hari lagi." Jeni benar-benar sudah hilang akal dengan semua masalah ini. Sementara Hendra juga tidak bisa berbuat banyak. Ia berpikir pernikahan Keyla dan pewaris Handoyo Group itu bisa menyelamatkan perusahaannya yang mengalami kebangkrutan namun saat ini malah saham perusahaannya di kuasai perusahaan itu menyisakan dua puluh lima persen sahamnya.
Keyla yang baru tiba di kantornya merasa aneh karena semua pegawai terlihat cemas akan nasib mereka di kantor yang selama beberapa tahun menjadi mata pencaharian mereka.
"Ada apa, apa yang terjadi?" tanya Keyla pada seorang karyawan yang mondar-mandir.
"Itu Bu, kantor dalam masalah besar." Penjelasan yang tidak menjelaskan sama sekali tentang apa yang terjadi membuat Keyla langsung melangkah nek ruangan Bundanya namun ruangan itu kosong. Keyla langsung menuju ke ruang kakeknya yang jarang di gunakan hanya saat Kakeknya berkunjung ke kantor.
Tangis Bundanya langsung menyambut Keyla yang baru saja masuk.
"Ada apa Bunda, Kakek?" Keyla masih tidak mengerti apa yang terjadi.
"Alvin, pria itu ternyata berkhianat," jelas Jeni di sela Isak tangisnya.
"Berkhianat bagaimana, baru saja Alvin mengantarku tadi. Baru juga pergi."
"Sadar Keyla sadar, Alvin hanya ingin mengambil perusahaan dengan mendekatimu." Jeni menghentak bahu Keyla yang duduk di sampingnya sementara Kakeknya hanya menunduk tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Tidak mungkin Bunda pasti Bunda salah paham," sangkal Keyla masih belum percaya Alvin dapat melakukan perbuatan sekeji itu.
Drt ... drt .... Ponsel Hendra bergetar dan Ia sedikit terperangah dengan siapa yang meneleponnya.
"Bajingan kau, iblis kau!" Hendra mengumpat pria di seberang telepon.
"Aku tidak sudi membuat kesepakatan itu lebih baik aku kehilangan perusahaan!"
Hendra berkata dengan nafas kembang kempis menahan amarahnya lalu mematikan panggilan itu karena tidak ingin berbicara lebih lanjut dengan Alvin.
Jeni dan Keyla yang terdiam mendengar percakapan Kakek tua di telepon langsung bersuara saat ponsel di letakkan dengan kasar ke meja.
"Bagaimana Ayah, apa katanya?" tanya Jeni antusias. Keyla juga antusias mendengar dengan lebih mendekat ke Bundanya yang duduk berdekatan dengan Kakeknya.
"Penghianat itu ingin membuat kesepakatan namun Ayah tidak mau karena pasti kesepakatan itu menguntungkan dirinya saja," jelas Hendra masih dengan raut kemarahan dan tangan mengepal.
"Biar Keyla saja yang bicara." Keyla bangkit.
"Tidak Key, biar Bunda." Jeni ikut bangkit.
"Duduk! kalian tidak mengerti tentang liciknya dunia ini, Kakek yang akan memberi pelajaran anak bau kencur itu. Tahu apa dia tentang dunia ini!" Hendra bangkit dari duduknya keluar ruangan itu diikuti Asistennya.
Sepeninggalan Hendra, Antoni masuk.
"Nyonya bagaimana ini?" resah Antoni.
"Diam kau lebih baik kau bawa kopi kesini!" sentak Jeni memegangi kepalanya yang pusing.
"Ba- baik Nyonya." Antoni meninggalkan ruangan itu.
Keyla segera menghubungi Alvin namun berkali-kali panggilannya tidak dijawab membuat Keyla yang tadinya ragu sedikit mengikis keraguannya menjadi kebenaran karena selama ini Alvin tidak pernah mengabaikan teleponnya.
"Sudah Keyla jangan buat Bunda semakin pusing bukan hanya pernikahanmu tapi juga kita bisa kehilangan seluruhnya perusahaan ini."
"Bunda tidak menyangka keluarga Handoyo yang kita kenal sejak dulu bisa menipu kita sampai titik terendah hidup kita. Aku sangat mempercayai keluarga itu karena sebentar lagi kita bukan lagi teman tapi keluarga. Bunda benar-benar hilang akal dengan semua ini," imbuh jeni mengusap wajahnya kasar.
Keyla terdiam sesaat. Di detik selanjutnya Ia sudah berdiri.
"Key akan bertanya langsung pada Alvin, Bunda." Keyla melangkah hendak pergi.
"Keyla tunggu, Kakek melarang mu!" pekik Jeni.
Keyla terus melangkah mengabaikan pekikan Bundanya.
.
.
Sementara disebuah ruangan kedua orang tengah bertatapan sengit. Pria tua vs pria muda.
"Apa maumu!" sentak Hendra. Walaupun berumur sudah lebih 70 tahun Hendra masih begitu sehat dengan suara dan tatapan membunuhnya. Mantan mafia bukan lawan yang akan mudah di taklukkan oleh Alvin.
"Tidak aku sangka Tuan Hendra Brawijaya anda pria yang kejam juga orang tua keji." Alvin menatap sinis.
"Tutup mulutmu!" Hendra benar-benar emosi dengan sikap tidak sopan dari pria muda itu.
Alvin malah tersenyum sinis dengan sikapnya itu.
"Aku bisa saja menghancurkan mu dengan keji namun aku masih punya hati!"
"Anda hanya perlu menyepakati keinginanku dan semua berjalan semestinya!" sambung Alvin masih dengan ekspresi yang sama.
"Apa maumu katakan!" sentak Hendra dengan nada meninggi.
Lagi-lagi Alvin tersenyum penuh arti.
"Aku ingin Keyla bersatu dengan keluarganya, Kayla dan Arman. Kau hanya perlu membiarkan mereka bahagia, dan yang terpenting aku ingin wali nikah Keyla hanya Ayah kandungnya!"
Deg
Hendra tertegun dengan maksud terselubung Alvin bukan untuk menguasai perusahaannya dengan keji namun permintaan yang menurutnya sangat konyol yang tidak sama sekali menguntungkannya.
"Tidak aku sangka niatmu itu ternyata konyol, apa untungnya. Jeni putriku jadi hak ku dengan siapa Ia harus hidup atau pun tidak sama sekali." Tolak Hendra.
"Rupanya anda ingin aku bongkar aib anda di depan para wartawan!" Alvin kembali mengancam pria itu karena tidak mau menuruti permintaannya dan malah meremehkan.
"Anda ingin aku membongkar scandal anda dengan Ibu dari menantumu lebih tepatnya selingkuh dengan mertua dari anakmu, benar-benar menjijikkan," sambung Alvin.
"Kau!" Hendra tidak menyangka scandal yang di tutupnya rapat-rapat kini di bongkar bocah ingusan di depannya.
"Bagaimana jika Jenita putri anda tahu tentang hal memalukan seperti ini?" lagi-lagi Alvin berkata dengan santai tapi tidak dengan Hendra yang wajahnya seperti udang dipanaskan.
"Tutup mulutmu!" sentak Hendra lagi namun kini Ia kembali duduk dengan lesu.
Tidak bisa dibayangkan Hendra jika Jeni putri satu-satunya mengetahui hak memalukan ini. Hendra benar-benar tidak ingin kehilangan Jeni.
Sementara Keyla yang ingin masuk ditahan Kayla yang baru saja kembali dari Luar. Saat Hendra masuk ke ruangan Alvin, Kayla tidak ada di tempatnya.
Kayla langsung menarik tangan Keyla menuju ruang rapat yang kosong.
"Kau kemana saja, aku benar-benar mencemaskan mu." Kayla memeluk Keyla dengan erat.