Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 94. Campur Tangan Jeni



Happy Reading 😊


Sepulang kerja Alvin memilih pulang ke mansion orang tuanya. Pulang ke apartemen hanya mengingatkannya pada Keyla. Setidaknya di mansion orang tuanya ia akan sedikit terhibur.


"Kau sudah makan, Nak?" Soraya mengelus kepala putranya yang berbaring di pangkuannya.


"Sudah lama putraku tidak bertingkah manja seperti ini mungkin kah sedang ada masalah dengan istrinya," gumam Soraya. Ia merasa tingkah Alvin berbeda dari biasanya dan bahkan tidak pernah bersikap manja seperti ini beberapa tahun ini.


"Kenapa kau tidak mengajak menantu Mama kemari?" telisik Soraya.


"Istriku, dia sibuk Ma jadi lain kali Alvin akan ajak kemari. Baik lah Alvin harus pergi sekarang, Keyla pasti sudah menunggu." Alvin bangkit mencium tangan Mamanya dan langsung bergegas pergi.


Ia terpaksa berbohong agar keluarganya tidak mencemaskannya jika tahu masalahnya. Saat Ia terpaksa mengikhlaskan Ziva untuk bersama pria yang dicintainya, Ia tidak serapuh sekarang karena meski sedih setidaknya Ziva tidak pernah menipu atau membohonginya. Alvin berpikir Keyla hanya memanfaatkan dan membohonginya.


***


Seminggu Kemudian.


Hubungan Alvin dan Keyla semakin jauh. Bahkan selama itu Keyla juga tidak pulang, Alvin hanya mengabaikannya karena Ia sudah tidak peduli Ia kembali atau tidak namun untuk menceraikan itu tidak akan pernah keluar dari mulutnya.


Sepulang kerja Alvin bergegas pulang karena pekerjaannya hari ini cukup padat membuatnya kelelahan.


Ting.


Lift terbuka menandakan Ia sudah sampai di lantai unit apartemennya. Ia melangkah keluar lalu melangkah menuju apartemennya. Dari kejauhan terlihat wanita setengah baya mondar-mandir di depan apartemennya yang tidak lain Jeni.


Alvin semakin dekat hingga Jeni menyadari menantunya itu sudah pulang.


"Bunda kesini kok nggak telepon dulu." Alvin tersenyum ramah, lalu mencium punggung tangan mertuanya.


"Bunda tidak ingin menganggu pekerjaanmu." Jeni mengusap lengan atas Alvin.


Alvin segera membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan masuk. Setelah mempersilahkan, Alvin meminta izin untuk berganti lebih dulu.


Sepeninggalan Alvin yang masuk ke kamarnya, Jeni menatap sekeliling ruangan itu yang tidak terawat. Sudah dipastikan, Alvin yang sibuk bekerja tidak punya waktu dan Keyla yang sudah seminggu lebih tinggal di rumahnya punya andil.


"Bunda mau minum apa?" tawar Alvin saat sudah keluar dari kamar dan berganti pakaian rumahan.


"Tidak usah Nak, duduklah!" perintah Jeni menatap harap Alvin.


"Begini Nak Alvin, Bunda tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Keyla tapi Bunda ingin kau menjemputnya dan selesaikan masalah kalian berdua," tutur Jeni.


"Jadi Keyla tidak mengatakan apapun dengan bunda, sebenarnya apa yang diinginkannya? Dia sangat ingin bercerai namun bunda bahkan tidak tahu apa yang terjadi," gumam Alvin.


"Tapi Bun- ."


"Bunda tahu Keyla itu keras kepala namun dia anak yang baik, jika kau mengenalnya lebih jauh kau pasti mengerti keinginannya," sergah Jeni memotong keraguan Alvin.


Alvin hanya menunduk. Setelah pembicaraan itu Alvin mengantar mertuanya pulang sekalian menjemput Keyla.


Alvin dan Jeni beriringan masuk ke kediaman milik Jeni. Namun langkah kedua terhenti saat sebuah mobil berhenti di depan rumah itu.


Terlihat Kayla keluar dari dalam mobil berbicara pada si empunya mobil yang ternyata Rendy. Tidak lama mobil itu kembali melaju pergi.


"Bunda," pekik Kayla berlari menuju Jeni yang berdiri menatapnya juga seorang pria yang ternyata Alvin. Kayla memeluk bundanya dengan manja sembari cipika-cipiki.


"Bagaimana kau akan hidup sendiri disana jika kau manja seperti ini," keluh Jeni dengan sikap manja Kayla.


"Hidup sendiri disana, apa maksud bunda," gumam Alvin.


"Alvin kau disini?" sapa Kayla. Ia fokus pada pria yang sedari tadi menatapnya itu.


Alvin hanya mengangguk merespon pertanyaan basa-basi Kayla.


"Ayo masuk!" Jeni menarik tangan Kayla juga Alvin masuk.


"Bunda aku ingin bicara sebentar dengan Kayla." Alvin meminta izin.


"Oh, bicaralah. Bunda masuk dulu." Jeni melangkah pergi meninggalkan keduanya.


"Bunda dari mana sih?" Sambut Keyla yang menuruni tangga rumahnya.


"Ada Alvin."


"Alvin." Sesaat Keyla terdiam mendengar suaminya datang. "Dimana?" Keyla menatap ruang tamunya kosong mencari keberadaan Alvin.


"Di luar, masih bicara dengan Kayla. Bunda masuk kamar dulu nanti kita makan malam bersama." Jeni melangkah pergi meninggalkan Keyla yang terdiam sesaat mendengar penjelasan bundanya tentang Alvin yang berbicara di luar berdua dengan Kayla.