Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 112. Demi Ayah ( BTS 2 )



Happy Reading 😊


"Kayla cepat tolong ayahmu." Teriakan langsung menyambut Kayla begitu memasuki ruangan.


"Ayah." Kayla yang panik langsung berlari ke arah ayahnya yang posisinya tergeletak di lantai dengan kepala dipangkuan Jeni.


"Cepat panggil ambulans," teriak Jeni pada ART nya.


"Ambulans terlalu lama, ayah harus segera ...." Belum selesai bicara Kayla sudah berlari keluar. Saat itu mobil Ricky baru saja keluar dari gerbang rumahnya.


"Ricky, Ricky tunggu!" pekik Kayla mengejar mobil Ricky. Disaat yang bersamaan Ricky melihat spion mobilnya dan mengetahui jika Kayla mengejarnya membuatnya mengehentikan laju mobilnya.


"Ada apa?" Ricky membuka kaca jendelanya.


"Ayahku, ayahku Anfal," ucap Kayla dengan nafas terengah-engah.


.


.


Sesampainya di rumah sakit Arman langsung ditangani Dokter sementara Jeni masih berada di bahu bundanya. Ya, selama ini Kayla selalu menyalakan dirinya jika ayahnya tiba-tiba anfal.


"Bunda," ucap Kayla dengan nada rendah dan hampir tidak terdengar. Gadis yang setiap harinya itu terlihat tegas juga berwibawa terlihat begitu rapuh dari nada bicaranya. Melihat itu Ricky mengepal erat karena tidak bisa melakukan sesuatu selain hanya menatap hal begitu menyedihkan itu.


"Bunda, Kakak." Keyla yang baru saja tiba langsung memeluk Kayla juga Jeni. Lagi-lagi drama yang begitu menyedihkan itu hanya bisa disaksikan Ricky juga Alvin. Pria memang lebih terlihat tegar dan tidak menunjukkan kesedihan berbeda dengan wanita.


"Keluarga Tuan Arman." Panggil seorang perawat membuat fokus orang yang menunggu didepan UGD itu tertuju pada Dokter dan perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana suami saya Dokter?" Jeni bertanya dengan nada bergetar seakan tidak siap jika hal buruk terjadi pada suaminya. Keadaan Arman yang semakin memburuk hingga dalam satu bulan ini Ia sudah dilarikan ke rumah sakit sampai 3 kali.


"Tuan Arman ingin bicara, silahkan ikut kami!" perintah perawat.


Keluarga itu memasuki ruangan itu namun Ricky memilih menunggu di luar karena Ia bukan dari keluarga itu.


"Kay...Kayla sini Na...k." Melambai ke arah Kayla.


"Ayah Kayla disini jangan pikirkan lainnya, ayah harus segera melakukan transplantasi di Singapura," bujuk Kayla.


Arman menggeleng sambil menitikkan air mata.


"Dengarkan Ayah, Sebelum Ayah pergi A...Ayah ingin melihatmu me...menikah."


"Tapi Ayah." Kayla menangis sejadinya dengan permintaan ayahnya begitu juga dengan Keyla juga Jeni.


"Ayah mohon." Arman menatap Kayla dengan air mata berlinang seakan ini adalah permintaan terakhirnya.


"Kay, Kak," ucap Jeni juga Keyla serempak menatap Kayla penuh harap.


"Bukan ini yang aku harapkan tapi aku tidak punya pilihan lain. Maafkan aku ayah karena membohongimu disaat terakhirmu demi mewujudkan keinginanmu," gumam Kayla.


Kayla pun mengangguk sebagai jawaban atas keinginan ayahnya.


Setelah semua setuju Kayla menemui Ricky untuk mengatakan keinginan ayahnya ini bukan hanya keinginan namun lebih pada perintah.


"Bagaimana Ricky kau bersedia tapi jika kau tidak bersedia aku tetap akan memaksamu!" Kayla yang sudah tidak bisa mengendalikan diri mencengkram kerah kemeja Ricky.


"Bagaimana aku bisa menolakmu, karena inilah yang aku inginkan." Kalimat terakhir Ricky ucapkan dalam hati.


Persiapan yang singkat itu tidak membutuhkan waktu lama karena Kayla tidak mau ayahnya menunggu terlalu lama.


Tidak ada pelaminan, baju pengantin maupun cincin kawin. Ya itu lah yang terjadi di pernikahan Kayla. Pernikahan yang harus disegerakan demi menuruti permintaan ayah Kayla.


Jeni menitikkan air mata melihat Arman kaku berpindah ke Kayla. "Maaf Nak pernikahanmu harus dilakukan secepat ini bahkan di ruangan rumah sakit seperti ini." Jeni merasa tidak tega namun inilah keinginan suaminya yang tidak bisa ditolak.


"Tidak apa Bunda demi ayah apapun itu." Kayla memaksa tersenyum padahal hatinya saat ini menangis sejadi-jadinya hanya demi membuat ayahnya bahagia disaat terakhir Kayla menekan semua perasaannya.