Beautiful Twins

Beautiful Twins
Bab 107. High Quality Jomblo (BTS 2)



Happy Reading 😊


7 Tahun Kemudian.


Langkah berburu-buru seorang gadis cantik menuju sebuah restoran tempat janjian.


"Aku sudah terlambat sepuluh menit aku berharap aku masih belum terlambat." Kayla mempercepat langkahnya. Ia memasuki restoran itu menuju meja 24.


"Ah disana." Kayla menunjuk meja yang akan ditujunya. Seorang pria dengan tampilan cool menunggu disana. Senyumnya langsung merekah begitu Kayla menghampiri mejanya namun berubah ketika mengetahui siapa gadis yang ditemuinya itu adalah seorang Kayla Angelica.


"Kau wanita yang sering muncul di tivi itu wanita yang memiliki IQ diatas rata-rata." Pria itu terbelalak, ternyata gadis yang dicomblangin temannya adalah seorang Kayla Angelica.


"Maaf sepertinya kita tidak bisa melanjutkan ini." Pria itu beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi padahal mereka belum juga berkenalan.


Kayla duduk lesu dengan sikap pria yang selalu saja menolaknya. Ya, Kayla merasa ditolak mentah-mentah oleh beberapa pria yang ditemuinya setiap kali melakukan kencan buta.


"Aku sudah terlalu tua untuk melakukan ini." Kayla bangkit dari duduknya dengan raut wajah kecewa karena Ia kembali gagal untuk mendapatkan pendamping hidup. Diusianya kini yang menginjak 30 tahun juga kesibukannya membuat Kayla bahkan sulit mencari waktu hanya untuk berhubungan dengan pria. Ia tidak ingin pacaran dan memutuskan untuk langsung menikah namun nyatanya mencari pendamping hidup susah bahkan sebelum memulai Ia sudah gagal.


Setelah kepulangan Kayla 2 tahun lalu, Kayla yang memegang Brawijaya Group di bawah kendalinya karena Keyla lebih fokus mengurus twins R. Dibawah kendali Kayla, Brawijaya Group semakin berkembang pesat. Kayla menjadi satu-satunya pebisnis wanita yang handal hingga ditakuti saingan bisnisnya. Walaupun seorang wanita namun Kayla cukup berani mengakuisisi beberapa perusahaan hingga kini menjadikan perusahaannya bersaingan dengan perusahaan lainnya hingga mencapai tingkat nomer 2 di Indonesia.


Kayla duduk termenung setelah kembali ke kantornya. Ya tadi dia menyempatkan makan siang sembari bertemu dengan pria kenalan sahabatnya namun karena tidak berhasil Kayla tidak berselera makan siang dan melewatkan makan siangnya.


Tok ... tok.


Sekertaris Kayla masuk. "Ibu Kayla ini laporan yang anda minta." Menyodorkan map ke tangan Kayla.


"Bagaimana Bu Kayla, apa Ibu berhasil?" telisik Sekertaris Kayla.


Kayla sering mencurahkan keluh kesahnya pada sekretarisnya itu sampai menceritakan bagaimana keluarga dan sahabatnya memaksanya untuk segera berkeluarga. Bukan Ia tidak ingin namun Ia belum menemukan yang cocok sampai melakukan kencan buta tapi itu pun tidak berhasil.


Kayla menggelengkan kepalanya sembari memeriksa laporan yang baru saja diberikan sekretarisnya itu.


"Pinka menurutmu apa aku ini jelek dan terlalu tua untuk mencari pasangan hidup?" Kayla mengutamakan pikirannya mengganjalnya. Ya selama ini itulah yang dipikirkan Kayla hingga ditolak mentah-mentah oleh beberapa pria.


"Ibu ini bagaimana bisa mempertanyakan hal itu." Pinka tersenyum geli dengan pertanyaan yang dilontarkan atasannya itu. Bagaimana mungkin pertanyaan itu bisa keluar dari wanita yang begitu cantik dan gemilang diusianya yan terbilang masih muda. Jika Ia mau seratus pria pun akan mengantri untuknya.


"Jawab saja," desak Kayla.


"Jika aku seorang pria aku pun menginginkan Ibu tapi mungkin pria-pria yang menolak Ibu itu mereka minder dengan kesuksesan Ibu. Minder jika bersanding degan wanita sehebat Ibu," jelas Pinka. Pernah sekali Pinka menjodohkan sahabatnya dengan atasannya itu namun baru pertama bertemu Ia juga memutuskan tidak ingin melanjutkan alasannya karena Kayla wanita yang begitu cerdas dan hebat hingga tidak ingin memperistrinya.


"Jadi mereka menolakku karena minder, aku bahkan tidak mempermasalahkan itu jika Ia seorang supir sekalipun aku tidak masalah." Kayla menghela nafasnya setelah mengetahui alasan pria-pria yang menolaknya sungguh tidak masuk akal.


Sepeninggalan sekertarisnya, Kayla termenung dengan penuturannya. Ia mencari cara agar bisa dekat dengan seseorang tanpa melihat statusnya.


"Aunty!" sentak anak kecil yang tidak lain Razka. Sedari tadi memanggilnya namun tidak digubris.


"Aunty kenapa?" Rizki yang melihat ekspresi aneh Aunty nya merasa bingung.


Twins R itu mendekat memegangi tangan kanan kiri Kayla.


"Hahaha, Aunty cuma kaget." Kayla tersenyum nyengir dengan pertanyaan kedua keponakannya itu.


Sementara seseorang yang sedari tadi berdiri memperhatikannya hanya bisa menggeleng tidak percaya dengan ucapannya.


"Kak aku bawakan makan siang." Keyla menaruh kotak berisi makanan di meja ruangan itu.


Tok ... tok.


Seorang pria memasuki ruangan itu setelah sebelumnya menunduk dengan hormat. "Ibu ini data yang anda minta." Asisten Kayla bernama Ricky menyerahkan amplop coklat ke tangan Kayla.


"Terima kasih." Kayla mengambil amplop itu.


"Paman aku mau ice cream." Razka berlari ke arah Ricky begitu juga dengan Rizki. Ya setiap kali keponakan atasannya itu datang Ricky selalu mengajak mereka bermain-main hingga menjadi kebiasaan twins jika datang ke kantor Aunty nya meminta ice cream seperti biasanya.


"Hap." Ricky membopong twins di sisi kanan dan kiri tubuhnya. "Meluncur." Ricky bergerak maju.


"Ricky tunggu ambil uang ini!" Kayla menghentikan Ricky.


"Tidak perlu." Tolak Ricky melanjutkan langkahnya pergi bersama Twins.


Keyla terus saja menatap asisten kakaknya itu hingga hilang dibalik pintu. "Benar-benar pria idaman." Puji Keyla dengan tatapan penuh kekaguman.


"Kau ini, ingat suamimu!" protes Kayla. Bagaimana tidak jika adiknya itu berkunjung selalu menatap asistennya penuh puja.


"Alah Kak, Alvin juga tidak masalah aku kan hanya mengagumi sifatnya yang lembut dan sabar dengan twins," jelas Keyla.


Ucapan Keyla memang benar karena selama ini Ricky selalu bersikap lembut dan sabar pada twins. Twins yang terbilang sangat nakal bahkan luluh dan penurut dengan pria itu.


Kayla mendekat ke arah Keyla karena Ia sangat lapar.


"Kau bawa makanan apa?" Kayla membuka satu persatu kotak bekal yang dibawa Keyla.


"Kak apa kau tidak tertarik pada Ricky? Selama dua tahun ini Ia terus saja mendampingimu hingga perusahaan kita semakin besar jangan lupa itu juga berkat dia." Keyla mengingatkan.


"Aku tahu tapi dia mana mau sama wanita tua sepertiku, usianya 5 tahun Lebih muda dariku. Sudahlah kau ini bahas masalah itu lagi, tenanglah sebentar lagi Kakak akan segera mendapatkan calon." Kayla menepuk bahu adiknya sambil tersenyum. "Sudah jangan bicara lagi aku mau makan." Kayla melahap makanan yang kini sudah di depannya itu.


"Kau seperti ini gara-gara aku Kak jadi aku belum tenang jika Kakak tidak segera menemukan kebahagiaan Kakak," gumam Keyla menatap sedih kembarannya itu.