
Happy Reading 😊
Keyla bangkit dari ranjangnya dan berlari menuju kamar mandi. Perutnya yang terasa mual membuatnya ingin menumpahkan isi perutnya.
"Huwek ... huwek."
"Kau kenapa sayang, sakit?" Alvin yang ikut terjaga melihat Keyla yang buru-buru ke kamar mandi mengekor di belakang Keyla.
"Perutku mual sekali mungkin masuk angin." Keyla mengelap mulutnya dengan tisu lalu kembali ke ranjangnya. Selain mual kepalanya juga kliyengan.
"Jangan-jangan kau hamil?" tebak Alvin.
"Hamil?" Keyla kembali mengingat kapan terakhir kali datang bulan. Keyla memeriksa ponselnya membuka aplikasi jadwal menstruasinya yang seharusnya awal bulan Ia datang bulan dan ini sudah akhir bulan berarti Ia sudah telat selama sebulan.
"Bagaimana?" tanya Alvin antusias.
"Kau benar aku sudah terlambat biarkan aku berbaring sebentar baru kita ke dokter." Keyla menarik selimut namun dengan cepat ditarik Alvin.
"Sekarang saja, kau lihat!" Alvin membuka laci nakasnya yang berisi testpack berbagai merk dari yang mahal sampai yang murah.
Keyla terbelalak dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka CEO yang super sibuk seperti suaminya masih sempat mempersiapkan semuanya bahkan Ia sendiri tidak kepikiran. "Kapan kau membelinya?"
"Sejak kau menerima lamaranku aku sudah mempersiapkan ini, bahkan ini." Alvin berjalan ke lemari membuka satu lemari yang penuh dengan susu hamil berbagai rasa.
"Astaga kau." Keyla begitu terharu sampai menitikkan air mata. Suaminya begitu menginginkan anak namun sekalipun Ia tidak pernah memaksanya untuk cepat hamil.
"Jangan menangis, sebaiknya kita tes sekarang." Alvin menyeka air mata Keyla lalu membopongnya menuju kamar mandi.
"Berikan padaku." Alvin meminta air seni Keyla yang sudah selesai berada diambil Keyla.
"Biarkan aku saja, kau memangnya tau bagaimana cara melakukannya?" Keyla bangkit hendak mengetes namun Alvin kembali menyuruhnya duduk.
"Selain membeli aku juga sudah mempelajari caranya."
Alvin mungkin kau satu-satunya suami di dunia ini yang melakukan sendiri tes kehamilan istrinya karena biasanya suami tidak peduli hanya ingin hasilnya, tapi kau berbeda," gumam Keyla. Ia tersenyum senang mendapat suami seperti Alvin.
"Yes ... yes ... yes.
Alvin berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Bagaimana hasilnya?" Keyla antusias menghentikan Alvin hendak melihat beberapa testpack di tangannya.
Keyla ternganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rasanya seperti mimpi melihat testpack bergaris dua itu yang mengartikan ada kehidupan di rahimnya.
Alvin menarik tangan Keyla membuatnya berdiri dengan cepat menyibak bajunya hingga menampakkan bagian perutnya.
"Sayang, muach muach." Alvin menciumi perut Keyla yang masih rata membuat Keyla menggeliat geli.
"Hentikan!" Keyla mendorong Alvin menjauh dari perutnya.
"Hiks ... hiks. Kau tidak memperbolehkan baku mencium putraku!" Miris Alvin dengan sikap Keyla.
"Putra, kau gila bahkan dia belum terbentuk jenis kelaminnya." Keyla menggeleng tidak mengerti.
Alvin tersenyum nyengir dengan ucapannya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku yakin dia itu putra."
"Baiklah terserah." Keyla beranjak pergi meninggalkan Alvin.
.
.
Setelah memeriksakan ke dokter. Alvin mengajak Keyla pergi ke mansion orang tuanya untuk memberitahukan kabar bahagia ini. Kedua orang tuanya pasti akan senang sekali mendengar kabar baik ini.
Alvin menggandeng tangan Keyla melangkah menuju mansion. Sesuai pesan dokter, Alvin harus menjaga Keyla baik fisik maupun hatinya karena di trimester awal ini kandungan Keyla masih rentan.
"Hati-hati sayang." Kevin menuntun Keyla perlahan menaiki tangga memasuki mansionnya.
"Kalian." Kanaya terbelalak melihat kebersamaan Alvin dan Keyla karena sesuai ucapan Alvin, adiknya itu akan menetap di Surabaya.
Alvin tersenyum sinis. "Tidak aku sangka kau melakukan semuanya Kak!" ucap Alvin dengan suara lantang meluapkan kekecewaannya. Bagaimana tidak kakak yang begitu disayanginya tega merusak rumah tangganya.
"Selama ini Alvin diam bukan tidak tahu tapi Alvin memberikan Kakak kesempatan tapi di detik akhir pun Kakak tidak menyesali dan malah semakin ingin menghancurkan rumah tanggaku," imbuh Alvin masih dengan emosi yang sama.
"Sayang sudah jangan membuat masalah lagi." Keyla berusaha menengahi.
"Masuk ke kamarmu karena ada yang harus aku selesaikan dengan Kak Kanaya!" perintah Alvin.
Keyla pun mengangguk karena saat itu Alvin begitu marah hingga tidak ingin memperparah keadaan.