
"Lepaskan!" Keyla terus mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Alvin namun pria itu terus menarik tangannya memasuki gedung itu.Langkah Alvin terhenti saat sudah berada di sebuah ruangan yang nampak seperti gudang.Didorongnya tubuh Keyla masuk ke dalam gudang itu dan langsung menguncinya.
"Alvin keluarkan aku, aku takut," pekik Keyla terus menggedor pintu gudang itu.Berkali-kali Keyla berteriak sambil menggedor pintu gudang itu namun tidak ada yang menyahut apalagi membuka pintu untuknya.
Keyla benar-benar ketakutan karena gudang itu begitu gelap juga banyak tikus yang membuat suara-suara di dalam sana, membuat tempat itu semakin mengerikan untuknya.
"Bunda ... Bunda keluarin Key, Bunda." Keyla yang begitu ketakutan sampai menangis namun tidak ada siapapun yang membantunya.Ponsel yang seharusnya bisa membantunya tertinggal di mobil saat Alvin begitu paksa menarik tangannya.Berkali-kali Keyla berteriak meminta tolong namun tetap saja tidak ada yang datang membantunya, membuatnya lelah dan tertidur.
.
.
Sekitar pukul 4 sore, Alvin bergegas pulang setelah seharian bekerja.Alvin mengambil kunci mobilnya namun saat melihat dua kunci mobil mengingatkan sesuatu yang seharian ini dilupakannya.
"Keyla." Alvin mengingat telah mengunci wanita itu di gudang.Tadinya ia hanya ingin memberi pelajaran pada wanita itu karena terus saja mengikutinya namun karena hari ini begitu sibuk ia malah melupakannya.Entah apa yang terjadi padanya seharian di gudang yang gelap, pengap tanpa makan juga minum.
Alvin segera membuka kunci gudang itu karena begitu khawatir.Saat pintu terbuka tubuh Keyla tiba-tiba langsung jatuh, wanita itu duduk dan menyenderkan tubuhnya di pintu.
"Keyla bangun," pekik Alvin.
Tubuh Keyla mengeluarkan banyak keringat, tubuhnya juga lemah hingga tak sadarkan diri.
Alvin langsung mengangkat tubuh Keyla menuju mobilnya karena terlalu panik akhirnya dia membawa Keyla ke apartemennya.
"Bagaimana keadaan Keyla, Dok?" cemas Alvin saat Dokter yang dipanggilnya sudah selesai memeriksa Keyla.
"Dia sangat lemah, bajunya juga basah akan keringat, dia harus segera berganti pakaian," tutur Dokter Anita.
Dokter Anita adalah Dokter kepercayaan keluarganya.Dokter Anita pun sangat mengenal Alvin karena cukup lama dirinya bekerja di keluarga itu sejak Alvin masih kecil.
.
.
Alvin merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamunya karena Keyla berada di kamarnya.Entah kapan wanita itu akan sadar.Sesuai pesan Dokter Anita, Alvin harus segera memberinya makan setelah sadar supaya tenaganya cepat pulih.
Alvin menatap langit-langit apartemennya, Ia kembali mengingat terakhir kali bertemu dengan Ziva.Saat itu ia benar-benar hampir hilang kendali.
"Ziva, aku merindukanmu.Sampai kapan aku bisa menahan sakit ini, tak bisakah kau bersamaku dan meninggalkan pria itu," gumam Alvin.
Hatinya begitu terluka karena tidak bisa memiliki wanita itu.Hatinya semakin sakit ketika wanita itu bermesraan dengan pria itu di depannya, rasanya ia ingin berbuat nekat menjadi pangeran bertopeng untuk membawa kabur wanita itu namun ia berpikir beribu-ribu kali untuk melakukan hal gila itu.
"Ahhh," pekik Keyla.
Alvin segera bangkit dari sofa saat mendengar teriakkan dari dalam kamarnya.
Keyla begitu panik karena berada di suatu tempat yang ia tidak ketahui dengan pakaian pria yang kini membalut tubuhnya.
"Kau!" Keyla menatap tajam ke arah Alvin yang mencoba masuk.Ia tak menyangka pangeran es itu melakukannya saat tidak sadarkan diri.
"Tenang aku hanya ingin membantumu." Alvin mengangkat kedua tangannya keatas sebagai bukti ia tidak berniat jahat.
Saat itu Keyla menangis tersedu-sedu dengan apa yang dilakukan pria itu."Kau jahat!" Melempar bantal ke arah Alvin.
"Kenapa kau melakukannya padaku!" pekiknya sambil terisak.
Alvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Seharusnya tadi ia menahan Anita pergi sebelum wanita itu sadar karena sekarang ia mendapat masalah karena kesalahpahaman Keyla.
"Tenang, aku tidak melakukan apapun, kau pingsan di gudang kantor lalu aku membawamu kesini," jelasnya penuh kehati-hatian.
"Bohong kalau aku pingsan seharusnya kau membawaku ke rumah sakit bukan ke kamar apartemenmu, kau brengsek!" umpat Keyla.Melempar bantal untuk kedua kalinya arah Alvin yang masih berdiri pada satu titik tanpa bergeser sedikitpun.
"Aku tidak bohong, aku akan memanggil Dokter itu kembali kesini untuk menjelaskan semua.Dia juga yang membantumu mengganti baju karena bajumu basah keringat." Alvin merogoh ponsel di sakunya ingin menelepon Anita namun tiba-tiba Keyla menghentikannya.
"Tidak perlu." Keyla sudah mengingat semua, saat ia terkunci di gudang ia begitu ketakutan dan menangis namun tidak ada siapapun yang membantunya lalu setelah itu ia tidak mengingat lagi.
"Aku akan pergi." Keyla bangkit dari ranjang namun tiba-tiba kepalanya terasa berputar, badannya juga lemah membuatnya hampir saja jatuh namun tangan kekar Alvin langsung menahan tubuhnya.
"Lepas!" Keyla menepis tangan Alvin namun karena Alvin kurang keseimbangan , membuat keduanya jatuh di ranjang dengan posisi Alvin diatas Keyla.Sesaat keduanya begitu dekat namun Keyla langsung mendorongnya.
"Maaf." Alvin menunduk dengan kejadian yang tidak disengaja tadi.
"Sebaiknya kau makan dulu sebelum pergi." Alvin bergegas keluar dari kamar itu.5 menit kemudian kembali dengan membawa nampan berisi makanan.
"Makanlah dulu, aku akan mengantarmu pulang setelah makan." Alvin keluar dari kamar setelah menaruh nampan itu diatas nakas.
Keyla tidak menyangka dengan sikap Alvin yang begitu perhatian walaupun terkadang begitu kasar dan dingin.Ditatapnya punggung kekar itu hingga hilang di balik pintu.