
Sementara Keyla yang sudah bersiap tidur di ranjangnya, masih terpikirkan oleh Alvin.Entah mengapa kali ini ia ikut merasakan kesakitan yang dirasakan pria itu.Sebelum tahu semua, Ia bahkan sering menghinanya pria lemah karena terjebak cinta di masa lalu hingga sulit lepas dari semua itu.Rupanya cinta memang rumit tidak semudah matematika yang jelas ada rumusnya.
"Jika dia bukan sahabatku pasti aku sudah menculiknya untukmu, Alvin.Aku janji mulai sekarang akan memperlakukan kamu dengan baik.Pria malang," gumam Keyla.
Keyla pun akhirnya tertidur dengan sendirinya.
***
Keesokan paginya.
Keyla berkutat di dapur bersama ART-nya, Mbok Yem.Wanita itu sangat sibuk mempersiapkan berbagai masakan yang dimasukan ke dalam kotak bekal.
"Non, makan sebanyak ini?" tanya Mbok Yem merasa aneh karena bekal itu untuk beberapa orang.
"Aku akan memakannya bersama temanku Mbok, tenang saja," entengnya.Keyla meninggalkan kotak bekal itu di dapur.Setelah itu Ia bergegas mandi.
.
.
Jeni yang hendak ke kantor tidak sengaja melihat bekal yang dipersiapkannya di atas meja ruang tamunya.
"Punya siapa ini, Santi?" Jeni menatap Santi yang saat itu sedang menyapu lantai.
"Punya Non Keyla, Nyonya," jawab Santi.
Si empunya pun terlihat menuruni tangga membuat fokus Jeni beralih ke putrinya itu.
"Kau mau camping kemana Key?" Jeni merasa aneh karena ada 2 kotak bekal bertingkat di meja itu.
"Keyla mau ke kantor Bunda," jelasnya memasukan kotak-kotak itu ke dalam tas jinjing.
"Kau makan sebanyak itu?"
"Tentu tidak Bunda, aku ingin makan bersama Kinara dan yang lainnya," jelas Keyla.
"Oh iya, Ziva berada di Jakarta ya.Suruh main kesini, Bunda pengen lihat cucu Bunda." Jeni berucap antusias.Seperti Keyla, Jeni menganggap sahabat Keyla seperti anaknya sendiri.Jeni tahu betul ketiga sahabat Keyla karena mereka begitu akrab sejak SMA.
"Bunda bilang cucu tapi nggak pernah nengokkin kesana," protes Keyla dengan pengakuan Bundanya.
"Kau tahu bunda sangat sibuk.Kau belanjakan baju buat cucu Bunda ya, nanti Bunda ganti.Hari ini Bunda ada rapat penting." Pesan jeni yang langsung diangguki Keyla.
Jeni pun melangkah keluar bersama Keyla.
"Dimana Alvin, kenapa belum datang?" tanya Jeni saat tidak melihat kedatangan Alvin ke kediamannya.
"Sakit paling Bunda, karena semalam terlihat pucat," ceplos Keyla agar Bundanya tidak bertanya lebih jauh.
"Kau telepon dia, ya," pekik Jeni melongok keluar jendela mobilnya.Keyla mengacungkan jempolnya sesaat sebelum mobil bundanya tancap gas.
Keyla pun bergegas pergi namun tidak ke kantornya tapi ke kantor Alvin memastikan apakah pria itu benar-benar tidak ke kantor karena jika ke apartemennya ia tidak mengetahui alamatnya.
Mobil Keyla terus membelah jalanan padat pagi itu.Sekitar 30 menit akhirnya Ia sampai.Langkahnya terayun masuk lobby kantor itu.Keyla mempercepat langkahnya saat terlihat lift terbuka ia segera masuk sesaat sebelum lift tertutup.
"Untung aku cepat tadi," ucapnya lega.
Ehem
Suara wanita berdeham di dalam lift itu membuat Keyla fokus kebelakang.
"Kau rupanya." Keyla menyadari wanita yang berdeham itu adalah Kayla.
"Pintu lift terus terbuka karena aku yang menahannya tadi." Kayla berucap dengan ekspresi datarnya.
"Jadi karena elo, terima kasih," balas Keyla dengan ekspresi sama datarnya dengan Kayla.
"Tumben elo pagi-pagi sudah kesini?" Kayla menatap wanita yang berdiri selangkah di depannya itu.Ia fokus ke tas jinjing yang dibawa keyla yang terlihat penuh.
"Seperhatian itu Ia dengan Alvin sampai membawakan bekal segala.Ada hubungan apa mereka?" gumam Kayla.
Ting
Kayla memang cemburu dengan kedekatan Alvin dan Keyla namun Ia sadar apa haknya.Nyatanya Alvin hanya menganggapnya sahabat walaupun Kayla sudah menyatakan cinta.Kayla sendiri tidak yakin, Keyla bisa merebut cinta Alvin karena Ia tahu pria itu cinta mati dengan Ziva.
Drt ... drt ... drt
Ponsel Kayla bergetar.Fokusnya langsung tertuju pada pada ponselnya yang berada di dalam tas.
"Ziva," decak Kayla.
"Halo, sayang."~Kayla.
"Nanti siang bisa nggak loe makan siang bareng gue, gue di Jakarta?"~Ziva.
"Boleh."~Kayla.
"Gue akan ke kantor loe, sama suami dan twins."~Ziva.
"Ok, gue tunggu."
Tut .... Tut .... Sambung telepon langsung di putus oleh Ziva.Kayla pun langsung duduk di meja kerjanya.
Keyla yang memasuki ruangan itu melihat pria bernama Alvin itu duduk di kursinya namun menghadap kaca besar yang memperlihatkan Kita itu dari ketinggian.
Keyla mendekati Alvin hendak memberinya kejutan namun saat hendak ingin mengejutkan pria itu duduk dengan mata terpejam.
"Kau, tidur?" keluhnya sedikit kecewa.
Benar saja pria itu tertidur dan sepertinya sejak semalam karena ia masih memakai pakaian yang sama.Keyla merasa tidak enak membangunkannya.Ia menuju ruangan khusus CEO yang berisi perlengkapan pribadi pria itu.Ia mencari keberadaan selimut.Setelah ia menemukan Keyla berinisiatif untuk mempersiapkan baju untu Alvin.Setelah menemukan semua yang dicarinya, Keyla meletakkan semua di sofa tidak lupa ia meninggalkan tulisan di kertas agar dia mengetahui kedatangannya.
Sebelum pergi, diselimutinya tubuh Alvin dengan selimut yang diambilnya dari lemari tadi.
Keyla bergegas pergi, Ia menitipkan tas jinjingnya kepada Kayla. "Tolong jangan ada yang boleh masuk karena CEO sedang tidur.Makanan ini panaskan, setelah CEO bangun," pesan Keyla dengan sopan.Kayla pun langsung mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh lagi.
Keyla pun berlalu pergi karena Ia harus segera ke kantornya.
Kayla masih menatap kotak makanan di dalam tas itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Alvin tidur di kantor.Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kedatangan Ziva," gumam Kayla.
Satu jam berlalu, Alvin terlihat keluar dari ruangannya dengan wajah yang lebih fresh karena sudah mandi dan berganti pakaian.
"Apa ada yang ke ruanganku tadi?" tanya Alvin.
"Tidak ada.Aku sengaja melarang mereka masuk, sesuai pesan wanita itu, maksudku Keyla," jelas Kayla.
Alvin melangkah pergi setelah mendengar penjelasan dari sekretarisnya itu.
"Alvin tunggu!Apa kau ingin makan sekarang, tadi Keyla menitipkan ini," tawar Kayla.
Pria itu hanya mengangguk dengan ekspresi datarnya lalu kembali masuk ke ruangannya.
Beberapa menit berlalu Kayla masuk ke ruangan Alvin dengan membawa makanan yang sudah ia panaskan di microwave.Kayla membuka semua makan hingga terlihat seluruh isinya.Beberapa jenis masakan sudah tersaji di mejanya serta beberapa kotak potongan buah segar.
"Makanlah, aku akan pergi."
"Kau temani aku makan, rasanya aneh jika aku makan semua ini sendiri." Alvin setengah memohon.
"Tapi Vin, Keyla-"
"Sudah makan saja!" Alvin menarik tangannya hingga kini duduk di sampingnya.
Walaupun status mereka atasan dan bawahan namun mereka selalu bicara non formal karena persahabatan mereka namun saat ada karyawan lain mereka berbicara formal.Kayla pun bekerja layaknya seorang sekertaris walaupun atasannya adalah sahabatnya sendiri.
"Semalam kau tidur disini?" Kayla bertanya di sela waktu makan itu.
"Hm," jawab Alvin dengan gumaman.
Kayla kembali mengunyah makanannya.Sebenarnya Ia ingin mengatakan Ziva mengajaknya makan siang namun Ia tak cukup berani karena takut pria itu marah seperti terakhir kali.Disisi lain, Ia juga takut jika tidak memberi tahu pria itu juga akan marah.Batin Kayla saat ini seperti makan buah simalakama.